<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174</id><updated>2012-02-16T10:22:25.646-08:00</updated><title type='text'>rimba aksara</title><subtitle type='html'>berhilir pada CERITA berhulu pada BERITA</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-8681433002097207896</id><published>2010-04-25T20:41:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T20:44:17.422-07:00</updated><title type='text'>CANDOLENG-DOLENG (Tarian Striptis ala Kampung)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/S9UL_DXntyI/AAAAAAAAAds/Gkx5ppQOgrk/s1600/goyang+Bongkar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/S9UL_DXntyI/AAAAAAAAAds/Gkx5ppQOgrk/s320/goyang+Bongkar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464286900748007202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Temaram mulai turun menyelimuti kampung kami. Tersiar kabar ada pesta pernikahan malam nanti di kacamatan seberang. Warda, putri Pak Kades yang konon bunting bersamaan dengan sapi bapaknya itu akan dinikahkan dengan Ancu, putra tunggal juragan beras paling tersohor kaya raya di kacamatan kami, anak muda itulah yang membikin perut Warda buncit tanpa meminta izin terlebih dahulu pada kedua orangtua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Odding dan Oddang, saudara kembar berusia 12 tahun yang paling lebar senyumnya ketika telinga mereka disusupi kabar itu. Belakangan anak-anak muda di kampung kami mendadak girang dan selalu menunggu ada orang yang akan segera menikah.&lt;br /&gt;"Mudah-mudahan besok ada lagi gadis yang bunting di kampung kita" celetuk Odding yang siang itu membantu saya membetulkan kandang ayam peliharaan Ibuku.&lt;br /&gt;"Amin...." sambut Oddang yang sibuk memandikan ayam.&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa kalau ada gadis yang bunting?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Wah, Boraq.... makanya jangan merantau terus.... kita sekarang ada hiburan baru, penari telanjang. Namanya Candoleng-Doleng!" sambung Odding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candoleng-Doleng adalah istilah dalam bahasa bugis yang artinya menggelantung.&lt;br /&gt;"Apanya yang menggantung?" tanyaku.&lt;br /&gt;"P*Tin*nya!" jawab Odding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temaram dileburkan kegelapan. Ada yang berbeda kini dengan acara pesta pernikahan di kampung kami. Acara pernikahan sekarang dua jam lebih cepat dipadati pengunjung ketimbang beberapa tahun lalu. Suara para biduanita organ tunggal kini seperti mengandung sihir yang membuat para penonton betah duduk berlama-lama meski mereka masih membawakan lagu-lagu qasidah; Perdamaian, Di Balik Kerudung, Anak Bertanya Pada Bapaknya. Padahal dulunya, pada jam opening penyambutan para undangan yang diisi lagu-lagu islami macam itu biasanya tak menarik minat anak-anak muda. Tetapi sekarang mereka tampak rela jongkok berjam-jam dengan wajah khusyuk di sekitar panggung --Di sisi panggung, di bawah pohon pisang, dan di bawah pohon kakao. Sepertinya keram di lutut mereka tak menyurutkan semangat untuk menunggu aksi sporadik para biduanita di atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk di deretan kursi paling depan. Persis di muka panggung. Kebetulan Ibu saya mendapat undangan pernikahan anak Pak Kades malam itu. Jarum jam di pergelangan saya menunjuk angka 19.30. Para biduanita di atas panggung masih tampak anggun dibalut busana Muslimah menembangkan lagu-lagu penyejuk iman. Saya mulai jengah menunggu. Saya memutuskan keluar dari tribun pesta hendak membeli rokok. Setibanya saya di warung penjual rokok yang terletak di seberang jalan, si Bapak pemilik warung menolak lembaran uang Rp. 50.000 yang saya sodorkan.&lt;br /&gt;"Maaf tidak ada uang kembalian, uang seribuan saya habis ditukar sama anak-anak muda buat saweran nanti," kata si bapak itu. Saya lalu memutuskan mencari warung di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama saya menghabiskan berbatang-batang rokok di Pos Ronda, Subhanallah, Odding dan Oddang muncul di depan saya dengan nafas yang memburu akibat kelelahan mengayuh sepeda. Jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke pesta pernikahan ini kurang lebih 15 KM dari kampung kami.&lt;br /&gt;"Boraq, tadi kami mampir di rumahmu ternyata kau sudah ada di sini," sahut Oddang.&lt;br /&gt;"Ayo kita bareng masuk ke pesta," kataku.&lt;br /&gt;"Nanti sajalah, jam 11 Candoleng-Doleng dimulai, kita duduk di sini saja dulu," ujar Odding. Agaknya kedua sahabat kecil saya itu sudah hafal betul seluk beluk Candoleng-Doleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 23.00 saya masih di temani Odding dan Oddang duduk menikmati rokok di Pos Ronda itu. Sayup-sayup dari arah pesta pernikahan mulai terdengar hentakan musik House Music. Odding dan Oddang segera melompat turun dari Pos Ronda dan berlari menuju pesta tanpa memedulikan keselamatan sepedanya yang lupa mereka gembok di tiang Pos Ronda itu. Saya menyusul mereka. Setibanya di sana, saya mengamati para biduanita di atas panggung --yang tadi berbusana Muslimah-- kini mengenakan busana seraba minim, memamerkan pusar, belahan dada, dan semua lekuk tubuh mereka yang sebetulnya tak terlihat seksi karena perut yang bergelambir. Mereka menari-nari layaknya orang kesetananan terphipnotis alunan musik Disco yang tak putus-putus mendentum memekakkan telinga. Pemandangan di atas panggung berukuran 3x4 itu layaknya menayangkan cuplikan film bokep. Ada yang nungging bak anjing betina mengundang syahwat, ada yang berputar-putar serupa baling-baling helikopter, ada yang kayang seumpama penari balet tak lolos audisi, ada pula yang jungkir balik ke sembarang arah seperti kunfu amatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anak muda yang merubung panggung separuhnya berasal dari kampung kami. Odding dan Oddang duduk di deretan kursi paling belakang. Sementara deretan sofa paling depan yang tadi diisi para pejabat Kabupaten kini di duduki oleh para bapak-bapak yang sebagian kukenal sudah berstatus haji namun spesial malam itu songkok haji mereka di museumkan dulu di rak lemari. Mereka tampak terkekeh-kekeh tanpa rasa malu sedikitpun memamerkan gigi ompongnya menyaksikan gelora muda yang ditebarkan para biduanita di atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buka! Buka! Buka! Buka! Candoleng-doleng! Candoleng-doleng!" koor para penonton. Yang diteriaki mahfum, saatnya telah tiba untuk menyambut hujan duit. Ririn Safitri yang paling cantik diantara mereka mulai menanggalakan bajunya, disusul kutangnya. Kini ia hanya menggunakan kutang dari tangannya sendiri yang sesekali ia singkap sepersekian detik. Aksi Ririn itu berhasil membuat para kucing garong di depan panggung semakin keras ngeongnya....Ririn semakin binal ketika mulai rintik hujan duit seribuan dari arah depan dan samping. Biduanita yang lain tak mau tinggal diam. Mereka pun mulai beraksi yang tak biasa. Amanda Rahayu tak kalah panas, ia membuka resleting celana pendeknya yang ketat itu dan terlihatlah sesuatu yang mendebarkan jantung para penonton. Amanda memasukkan ujung microfon ke celah resleting celananya lantas menggesek-gesek keluar masuk, maka terdengarlah riuh suara para penonton layaknya lolongan srigala malam melihat hantu. Penonton semakin merengsek ke bibir panggung. Hujan duit seribuan makin deras malam itu mengguyur para biduanita yang kini setengah bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya suara para penyanyi itu tak merdu-merdu amat mirip bunyi kaleng susu yang diseret di jalanan beraspal. Dari pengakuan crew organ tunggal itu saya menemukan kenyataan bahwa gadis-gadis itu pada awalnya tidak memiliki keterampilan bernyanyi. "Sebagian dari mereka adalah PSK yang diberdayakan jadi biduan, Pak. Kami latih mereka bernyanyi, bisa sedikit saja maka dia kami ikutkan pentas," tutur crew itu kepada saya. "Sekarang suara bukan yang utama tapi goyangannya. Kita bakal gulung tikar kalau hanya menjual suara biduan saja," sambungnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis memang, honor Rp. 50.000 sekali manggung sangat bisa menjadi alasan bagi mereka untuk melakukan hal-hal ganjil di atas panggung. Pukul 01.00 aksi striptis ala kampung itu pun berakhir. Benar kata Bang Rhoma: Pesta Pasti Berakhir!&lt;br /&gt;Ketika saya pulang menunggangi motor, di tengah perjalanan saya melintasi Odding dan Oddang yang tengah berboncengan menggunakan sepeda.&lt;br /&gt;"Sampai jumpa besok di kandang ayam Ibumu, Boraaaaaaq........!" teriak Odding.&lt;br /&gt;Kedua sahabat kecil saya itu melambaikan tangan ke arah saya dengan senyum puas nan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PINRANG-SIDRAP 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-8681433002097207896?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/8681433002097207896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=8681433002097207896' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/8681433002097207896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/8681433002097207896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2010/04/candoleng-doleng-tarian-striptis-ala.html' title='CANDOLENG-DOLENG (Tarian Striptis ala Kampung)'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/S9UL_DXntyI/AAAAAAAAAds/Gkx5ppQOgrk/s72-c/goyang+Bongkar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-1701819410622768662</id><published>2010-04-25T20:37:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T20:40:54.351-07:00</updated><title type='text'>Kisah Jenaka Peliputan Karamnya KM Teratai Prima</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/S9ULOh7tffI/AAAAAAAAAdk/3pI_hy8npnE/s1600/Kapal+karam.+ibe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 202px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/S9ULOh7tffI/AAAAAAAAAdk/3pI_hy8npnE/s320/Kapal+karam.+ibe.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464286067138854386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tiga Jam Paling Mendebarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu awan hitam berarak di langit kota Pare-Pare. Pukul 11.30 wita, aku sedang sibuk menyiapkan naskah untuk live Kabar Siang tvOne. Seperti biasa.. Pastinya aku berkoordinasi dengan sejumlah kontributor di lapangan, dan juga salah satu teman di biro Makassar yang sedang piket, kebetulan hari itu adalah jadwal ka Budi. Sambil koordinasi mengenai content laporan dan up date terbaru informasi KM. Teratai Prima, ka Budi menyinggung mengenai salah satu kontributor “ajaib” kami, Pak Gusni, hehehehe...&lt;br /&gt;“Duhhh Ve.. Gawat nih! Pak Gusni!”&lt;br /&gt;“Pak Gusni kenapa Kak Bud?”&lt;br /&gt;“Sudah dua hari HPnya tidak aktif. Terakhir dia ikut KRI. Kakap melakukan penyisiran di laut Makassar bersama Tim SAR gabungan. Pak Gusni hanya berbekal sebungkus rokok. Duh, jangan-jangan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kalimat terakhir Ka Budi membuat aku ikutan risau. Bagaimana tidak, selain dikenal ramah, Pak Gusni salah satu aset berharga yang dimiliki Biro Makassar. Ia adalah kontributor tvOne untuk wilayah kabupaten Gowa. Usianya berkisar 40 tahun. Wajahnya jenaka namun tangkas. Kemanapun ia pergi, tas berukuran kecil selalu setia menggelayut di pingganggnya. Tas pinggang khas pendaki gunung itu memiliki kantung depan model jaring transparan. Disitulah Pak Gusni selalu menyelipkan ‘Rexona Power Man’ miliknya, seolah-olah benda ajaib pengusir bau badan itu memiliki nilai eksotis untuk dipamerkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik dan selalu aku ingat tentang Pak Gusni Kardi adalah motor bututnya. Kurang jelas mereknya apa dan diproduksi tahun berapa. Jika analoginya manusia, motor berkarat itu berwujud kakek-kakek berumur 80-an yang tinggal tunggu waktu malaikat maut datang menjemputnya. Ketika berjalan, motor tua itu seolah membawa kawanan anak tikus yang ribut kelaparan: cit…cit…cit…cit. Begitulah, konon satu-satunya perkakas motor itu yang tak mengeluarkan suara adalah klakson. Sungguh, motor antik itu bagai besi rongsokan yang diberi mesin serta dua roda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari rangkanya yang ringkih, maka bisa dipastikan sudah banyak bautnya yang menjanda bertahun-tahun lantaran mornya tanggal satu persatu, tercecer di jalanan dan hilang tak ketahuan rimbanya. Kadang kala kami sulit membedakan mana warna tanah mana warna asli motor itu. Saking tebalnya tanah yang menempel pada setiap sisinya, kalau ditaburi biji jagung akan berpotensi tumbuh subur di sana. Perkara kebersihan motor itu, agaknya sang tuan telah menyerahkan kuasa sepenuhnya pada alam dengan air hujan yang tercurah dari langit. Apabila musim kemarau tiba, percayalah motor itu tidak akan pernah bertemu dengan air. Motor yang malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyalakan mesinnya saja diperlukan kaki berkekuatan super ekstra yang tak akan cukup jika hanya tujuh atau sembilan kali hentakan. Brum…brum…brum… Ketika mesin menyala, suara motor itu bising bukan main menyerupai mesin parut yang keselek tempurung kelapa. Suaranya itu menghambur dari liang knalpot bersama percikan oil pekat. Meskipun sepintas terdengar garang, tetapi aku yakin kecepatan larinya hanya bisa diandalkan juara jika diadu pacu dengan bendi yang mengangkut lima orang. Karenanya, teman-teman di Biro selalu mengeluh dan mengusulkan Pak Gusni berangkat dari rumahnya dua jam lebih awal sebelum narasumber keburu kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang menderita gusi bengkak akan ngeri membayangkan dirinya dibonceng oleh Pak Gusni menuju klinik gigi paling terdekat sekalipun. Getaran yang ditimbulkan oleh mesin kuda besi itu memang luar biasa. Tak jarang kuseng jendela kantor kami ikut bergetar bagai dilanda gempa berkekuatan rendah jika motor Pak Gusni merayap masuk halaman. Demikianlah sosok Pak Gusni yang selalu mengunjungi kami dengan senyum khasnya yang senantiasa ia lontarkan sebelum membuka helm di kepalanya. Helm dengan model tak biasa yang menyerupai topi baja para tentara di medan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi selanjutnya bagaimana Ka Bud?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Kalau tidak ada kabarnya dalam tempo empat hari maka kami akan melaksanakan tahlilan di kantor Biro,” jawab Ka Budi dengan nada menahan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam berselang, Rusli, kontributor tvOne untuk Kotamadya Pare-pare datang membawa kabar gembira. Ia mengaku baru saja menerima telepon dari Pak Gusni yang meminta dijemput di pelabuhan Pare-Pare. Kabar itu kami sambut dengan suka cita. Aku langsung menghubungi Ka Budi melalui HP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, anak buah Ka Budi terdampar di pelabuhan Pare-Pare…”&lt;br /&gt;“Siapa? Pak Gusni? Alhamdulillah, cepat perintahkan teman-teman segera menjemput beliau. Tolong Ve jamu dia baik-baik, kasih makanan yang lembek, seperti bubur, kasih minum susu atau teh hangat. Pasti kondisinya lemah, tiga hari di laut hanya berbekal kamera dan sebungkus rokok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian, Pak Gusni muncul di lantai empat Perpustakaan Daerah Kotamadya Pare-Pare yang menjadi basecamp tim liputan tvOne. Ia diantar seorang angkatan laut menggunakan motor. Tampilan Pak Gusni sungguh jauh dari bayangan kami. Ia terlihat bugar penuh semangat. Tak sedikitpun kesan terbelit derita lantaran melawan lapar yang terpancar dari wajahnya. Di tangannya ada kantung plastik berisi lima bungkus biskuit. Pada sisi kemasan biskuit itu tertera: TIDAK UNTUK DIPERJUAL BELIKAN (MAKANAN KHUSUS TNI ANGKATAN LAUT). Salah seorang kontributor bernama Idul yang sudah sangat mengetahui rasa dan manfaat dari biskuit itu, memaparkan bahwa inilah rahasia kebugaran Pak Gusni meski tiga hari tiga malam terombang-ambing di tengah laut tanpa bekal makanan. Bekal sederhana dengan komposisi bahan GANDUM, TELUR, SUSU, TANPA PENGAWET.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, pantasan Pak Gusni tidak kelaparan, komposisinya komplit. Jangan-jangan biskut ini juga mengandung sate kambing,” celetuk Idul. Yap sedikit mengenai Idul, dia punya cita-cita menjadi salah satu anggota TNI, namun sayangnya postur tubuh yang dia miliki membuat dia hanya bisa foto bareng dengan anggota TNI, ikut dalam kegiatan mereka dengan status sebagai wartawan, atau bisa juga dengan mengetahui pasti makanan khas yang menjadi bekal para TNI saat terombang-ambing di perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Gusni tak acuh pada kami, di sudut ruang ia tampak asyik ngobrol dengan Angkatan Laut itu, kawan seperjuangannya di laut. Mereka terkesan sangat akrab. Dari percakapan itulah kami kemudian mengetahui bahwa Pak Gusni ternyata sama sekali tak menyangka KRI Kakap yang berangkat dari pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar akan meneruskan penyisiran sampai tiga hari lamanya lalu merapat di pelabuhan Pare-Pare, karenanya ia tak sempat mempesiapkan bekal apapun selain sebungkus rokok kretek dan kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ve, jangan-jangan kemarin Pak Gusni sudah dilantik juga jadi TNI Angkatan Laut. Lihat, dia cuma peduli sama teman barunya….” Bisik Idul sembari menggasak biskuit berwarna biru itu, oleh-oleh dari Pak Gusni. Selamat datang di kota Pare-Pare, Pak Gusni. I’m glad to see you in a healthy day!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-1701819410622768662?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/1701819410622768662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=1701819410622768662' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/1701819410622768662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/1701819410622768662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2010/04/kisah-jenaka-peliputan-karamnya-km.html' title='Kisah Jenaka Peliputan Karamnya KM Teratai Prima'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/S9ULOh7tffI/AAAAAAAAAdk/3pI_hy8npnE/s72-c/Kapal+karam.+ibe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-2544679011873486488</id><published>2008-11-09T06:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T06:55:13.605-08:00</updated><title type='text'>KOTA KELAMIN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SRb5UCnBlpI/AAAAAAAAAY0/nFseYjRnvn0/s1600-h/ada+kodok.copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SRb5UCnBlpI/AAAAAAAAAY0/nFseYjRnvn0/s320/ada+kodok.copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266670936949626514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Bagaimanakah Tuhan memaknai penis dan vagina? Kadangkala penis itu mengkerut layaknya kepala kura-kura yang terusik saat dingin datang menyergap. Tetapi ketika ia melihat seonggok tahi, kepala kura-kura itu mendadak nongol dari tempurungnya dengan mata menyala melawan lapar. Adakah tahi seperti vagina? Sebelum kau tersesat pada kesimpulan yang keliru, ada baiknya kau membaca cerita pendek ini yang ditulis entah siapa dan kutemukan entah kapan. Aku lupa. Maaf, usai membacanya aku hanya ingat penis dan vagina…. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; Kelamin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berenda-renda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan benda-benda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tiba-tiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini telanjang! Kelamin mereka megap-megap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Di sini!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kaukah itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. Kini kami bersenggama di tengah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong. Ia menggigit seluruh tubuhku. Seperti anak anjing, aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. Aku mengerti sekarang, kelamin pun punya hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TUNTAS&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-2544679011873486488?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/2544679011873486488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=2544679011873486488' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/2544679011873486488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/2544679011873486488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/11/kota-kelamin.html' title='KOTA KELAMIN'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SRb5UCnBlpI/AAAAAAAAAY0/nFseYjRnvn0/s72-c/ada+kodok.copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-5146499894959444397</id><published>2008-10-31T01:25:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T02:15:13.949-07:00</updated><title type='text'>Syamsul Bahri &amp; Datuk Maringgih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SQwd-gFQi6I/AAAAAAAAAYs/op4cgCzo2So/s1600-h/datuk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SQwd-gFQi6I/AAAAAAAAAYs/op4cgCzo2So/s200/datuk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263615024090352546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh: Sudirman JK&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Selain La Jenggo, aku punya satu kawan lagi, kami sering memanggilnya dengan sebutan &lt;i style=""&gt;Ibe&lt;/i&gt;. Kawanku ini mengidap penyakit narsis yang lumayan akut. Dia selalu merasa terlahir sebagai cowok paling cakep dan paling pintar di jagad raya ini. Ke mana pun kami berjalan dia selalu merasa gadis-gadis yang berpapasan dengan kami senang memerhatikan dirinya. Kalau sudah begitu, dia tak sungkan-sungkan berbisik di telingaku: “Mungkin seperti inilah nasib Nabi Yusuf, ke mana-mana selalu jadi pusat perhatian gadis-gadis cantik, susah juga ya jadi cowok cakep,” ujarnya tanpa beban. Parah bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Suatu siang di awal bulan September lalu, ponselku tiba-tiba menerima MMS berisi foto kawanku itu satu frame bersama HIM Damsyik, disertai teks: &lt;i style=""&gt;Syamsul Bahri dan Datuk Maringgih&lt;/i&gt;. Setelah kuamati dengan seksama, entah dari sudut mana ada kemiripan dirinya dengan Gusti Randa, pemeran Syamsul Bahri dalam film televisi &lt;i style=""&gt;Siti Nurbaya&lt;/i&gt;. Malah wajah kedua manusia dalam foto itu ada kesamaan bagai ayah dan anak. Sama-sama kurus dengan tengkorak muka yang meyakinkan seolah-olah mereka ada kaitan sel-sel DNA. Semestinya, teks yang menyertai foto itu berbunyi: &lt;i style=""&gt;Datuk Maringgih dan foto masa mudanya&lt;/i&gt;. Betul tidak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beberapa tahun yang lalu dia pergi meninggalkan kami (&lt;i style=""&gt;bukan wafat lho&lt;/i&gt;) tetapi dia memilih merantau ke Jakarta. Ada kegirangan sekaligus kepiluan saat dia memutuskan pergi mengais-ngais nasibnya di jauh sana. Kami senang karena merasa terbebas dari kejahilan dan kenarsisan dirinya tanpa ampun dan sedih karena dia pergi meninggalkan utang &lt;i style=""&gt;rokok + mie instant + telur + teh botol&lt;/i&gt; yang menumpuk di warung langganan kami di samping&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rumah kos. Dan tumpukan utang itu baru kami ketahui setelah dia hampir sebulan di perantauan. Aku membayangkan air mukanya membangun keceriaan lantaran berhasil membebaskan diri dari segala tagihan dengan mewariskannya pada kami –sahabat-sahabatnya. Kurang ajar!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kawanku ini kerap menulis cerita pendek di surat kabar dan skenario FTV dengan nama pena &lt;i style=""&gt;Boraq Cambuq. &lt;/i&gt;Dia salah satu penulis fiksi yang pernah dimiliki negeri ini dengan prestasi yang sama sekali tak pernah gemilang. &lt;i style=""&gt;Ibe&lt;/i&gt; pernah menjelaskan pada kami perihal namanya yang ganjil itu dan menyerupai nama sebuah maskapai penerbangan. Katanya, &lt;i style=""&gt;Boraq &lt;/i&gt;adalah nama masa kecilnya di kampung. Ibunya membekali nama itu dengan harapan kelak anak laki-lakinya itu menjadi seorang pilot yang bisa keliling dunia. Namu sayang, beranjak dewasa dia malah tergolong anak muda yang takut ketinggian, memanjat pohon mangga saja dia bakalan ngeri melongok ke bawah. Maka pupuslah harapan sang Bunda. Sedangkan &lt;i style=""&gt;Cambuq &lt;/i&gt;diambil dari nama ayahnya. Seorang ayah yang menyesal telah melahirkan anak lelaki yang saban hari hanya menghabiskan waktu melamun di toilet. Ayah yang malang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Soal perempuan dia termasuk penipu yang ulung. Janji sana janji sini tak satupun ditepati. Kelihaiannya mengibuli perempuan mana pun sudah teruji di mata kami. Kadangkala kami menjulukinya sebagai &lt;i style=""&gt;menteri memperdaya wanita&lt;/i&gt;. Entah apa yang menarik pada dirinya hingga dia begitu mudah meluluhkan hati seorang perempuan dari jarak jauh sekalipun, bahkan mampu melumpuhkan perempuan yang tidak pernah melihat wajahnya yang standar itu. Maka wajar saja ketika itu kami menyimpulkan dia telah mewarisi berbagai ilmu pelet dari sejumlah guru beraliran ilmu hitam. Semoga dia membaca tulisan ini, amin! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-5146499894959444397?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/5146499894959444397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=5146499894959444397' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5146499894959444397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5146499894959444397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/10/syamsul-bahri-datuk-maringgih.html' title='Syamsul Bahri &amp; Datuk Maringgih'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SQwd-gFQi6I/AAAAAAAAAYs/op4cgCzo2So/s72-c/datuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-9146325517645768210</id><published>2008-10-10T00:35:00.000-07:00</published><updated>2008-10-10T03:26:06.794-07:00</updated><title type='text'>Kisah Bulan Puasa Yang Tertinggal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SO8toBHPx6I/AAAAAAAAAVI/5q6ssD_fw0c/s1600-h/ftv.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SO8toBHPx6I/AAAAAAAAAVI/5q6ssD_fw0c/s200/ftv.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255469455681505186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Indahnya Ramad&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;an Bersama Fashion TV&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi ini kisah jenaka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; sahabat saya, La Jenggo. Bulan suci yang baru saja berlalu masih menyisakan kesedihan dan kekonyolan tiada tara bagi kami –anak-anak rantau yang tinggal di rumah kos di Jakarta. Betapa tidak, sahur menyantap &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;mie goreng + telur rebus&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, buka puasa makan itu-itu juga. Lemak dan karbohidrat yang terkandung pada makanan pokok kami itu pada akhirnya sukses menyuburkan jerawat tak hanya di pipi dan jidat kami, tapi juga di pantat, jenisnya pun telah menyerupai gumpalan-gumpalan bisul yang imut. Teori pasar La Jenggo mengatakan: siklus menu meja makan kami berputar ditempat, bermuara dari dapur minim asap, dan menghasilkan puluhan miniatur bisul yang menjengkelkan. Teori ekonomi yang membingungkan bukan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Larut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; malam, ketika saya tafakur mengaji dan berdoa berharap ketiban berkah Lailatul Qadar, La Jenggo malah asyik tiarap di depan tivi menikmati tayangan FTV (Fashion TV) yang dipancarkan dari negeri bidadari: Paris. Itu lho, sajian channel yang menyuguhkan berbagai rancang busana paling mutakhir dari penjuru kota mode di planet ini, dan peragaan busana  mulai yang berkain tebal sampai yang paling tipis. Bagaimana malaikat sudi mampir di kamar kos kami? Wah, setelah ini saya akan menemui Pak Haji, pemilik kos kami agar tak lagi berlangganan paket standar TV satelit Indovision. Ini soal moral! Tapi apa mungkin Pak Haji mau menerima saran saya itu, paling-paling ia malah balik menagih sewa kamar kos kami yang sudah menunggak sejak tiga bulan yang lewat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Entah apa menariknya program acara TV yang satu ini. Acaranya itu-itu melulu, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;selama 24 jam sepekan kita hanya disuguhi berbagai pemandangan model &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style=""&gt;wanita super cantik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; kelas dunia dalam untaian berbagai gaun yang menawan. Dari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style=""&gt;gaun malam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style=""&gt;gaun pesta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, bahkan sampai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;swimwear&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;lingerie&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Sepanjang acara nyaris tanpa dialog, yang terdengar hanya hentakan music &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;techno, disco remix, hip hop, dan R&amp;amp;B &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;silih berganti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kalaupun ada dialog, paling sepotong saja terlontar dari bibir seksi para model yang berteriak di moncong microfon menggunakan ragam bahasa dari belahan dunia. Misalnya: I like Fashion TV....I love Fashion TV....My name is Meling, chin chiolang from Hongkong, i like Fashion TV....Suzuki yamaha ajinomoto from Tokyo, I love Fashion TV....hanya itu! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Selain acara peragaan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;swimwear&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;lingerie&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, ada dua acara lagi di FTV yang paling digemari oleh La Jenggo selama bulan puasa: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Midnight Hot&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;F Hot&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kedua acara ini menyajikan pemandangan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style=""&gt;model-model berkaki jenjang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style=""&gt;busana super minim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; yang diperagakan di atas catwalk dan sesi pemotretan. Bahkan sesekali terlihat busana dengan pola yang sepertinya belum tuntas dijahit hingga dua onggok daging di dada sang model terlihat jelas menggelantung polos –Agaknya, di negeri itu buah dada wanita tak terlampau istimewa, berbeda dengan pria di negara kita yang hanya melihat belahan dada wanita, maka kedua biji matanya seakan ingin meloncat keluar dan menggelinding binal di tanah. Kalau sudah begitu, jangan coba-coba iseng memindahkan channel ke TV lokal yang lebih banyak menayangkan program sikir atau tayangan shalat tarawih langsung dari kota Mekkah, karena bisa-bisa terjadi kiamat kecil. Siapa sanggup menandingi kekuatan otot-otot La Jenggo yang mirip badan kekar H. Rhoma Irama ketika memerankan film &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Jaka Swara&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tanpa memiliki rasa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;malu sejumput pun, La jenggo mentasbihkan diri sebagai pemirsa setia FTV sejak dahulu kala. Menurutnya, dulu setiap ada kesempatan menginap di kamar hotel manapun, maka ia akan menyempatkan diri memutar tivi kesayangannya itu sampai beduk subuh ditabuh. Ia bahkan rajin berdoa agar kelak menerima beasiswa ke kota Paris dan tak lupa ia akan mengunjungi stasiun TV favoritnya itu, berfoto bersama para model dengan tangan yang melingkar di tubuh wanita cantik. Sungguh cita-cita yang tak luhur. Suatu malam, saya bersuara menayakan mengapa tak sekalipun saya melihat FTV memperagakan busana muslim sesuai moment bulan penuh berkah ini? Dengan lantang La Jenggo menjawab, “Kalo mau lihat peragaan busana muslim, sono noh, besok sore kamu ikut pengajian ibu-ibu yang diketuai istri Pak Haji....” Huh, dasar muslim abu-abu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Begitulah, La Jenggo saban malam melewati bulan Ramadan tahun ini. Menunggu waktu sahur dikumandangkan dari corong-corong pengeras suara di puncak menara Masjid sembari khusyuk menonton Fashion TV di dalam kamar kos kami. Tanpa sepotong pun lauk akan menjadi santapan sahur yang nikmat jika ia melahap semangkuk mie goreng sambil nonton FTV, katanya. Bahkan saat tiba waktu buka puasa, ia sanggup tak makan nasi sedikitpun dan hanya membatalkan puasa dengan menonton acara FTV. Trik berbuka puasa macam ini benar-benar tak patut ditiru. Terlalu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Bagimana &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;pun La jenggo berlaku anak setan, sahabat saya itu masih memiliki sisa-sisa kesadaran yang dibawahnya dari kampung. Sepersekian detik menjelang waktu Imsak, tangannya akan buru-buru memencet tombol remot tivi, berpindah ke acara reliji: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Tafsir Al Misbah &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;yang dibawakan Bapak Quraish Shihab di Metro TV. Alhamdulillah....! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-9146325517645768210?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/9146325517645768210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=9146325517645768210' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/9146325517645768210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/9146325517645768210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/10/kisah-bulan-puasa-yang-tertinggal.html' title='Kisah Bulan Puasa Yang Tertinggal'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SO8toBHPx6I/AAAAAAAAAVI/5q6ssD_fw0c/s72-c/ftv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-8043979917948753676</id><published>2008-10-01T04:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-01T05:56:23.611-07:00</updated><title type='text'>DERMAGA SUNYI 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SONmWcOTU7I/AAAAAAAAAUE/A3vJDvxxmEo/s1600-h/kenjeranzo1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SONmWcOTU7I/AAAAAAAAAUE/A3vJDvxxmEo/s200/kenjeranzo1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252154126163465138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:Trebuchet MS,sans-serif;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyanyian Duka Si Anak Rantau&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p  align="justify" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:verdana;"&gt;Lailaha illallahu, Allahu Akbar…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:verdana;"&gt;                                          Allahu Akbar, Walillahilhamd…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Apa kabar Ibu di sana? Malam ini aku melukis wajahmu ketika gema takbir membahana di merata waktu dan ruang. Orang-orang melantunkan nyanyian kemenangan yang mengandung kebahagiaan. Adakah frasa itu mewakili jiwamu seperti yang mereka rasa saat ini? Kutahu Ibu tak menginginkan apa-apa selain merindukan aku segera pulang. Tapi aku tak jua datang dan hanya mengirim nyanyian duka untukmu. Aku tak mau Ibu tahu, di tepian dermaga sunyi ini, aku duduk sendirian bertarung melawan rindu pada Ibu dan Ayah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  align="justify" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Di atas kanvas aku telah menyempurnakan wujud Ibu lengkap dengan warna-warni penderitaan. Kulihat usiamu semakin susut, tubuh renta, dan sisa kecantikanmu yang dipenuhi keriput. Bola matamu seperti cahanya lilin di sunyi malam yang diamuk badai topan. Di dalam dadamu kudengar erang ombak yang menggulung deras merajam karang. Suaramu masih berpusaran di telingaku lirih menyanyikan kidung lama “Ininnawa Sara Nyawa” yang selalu melenakan tidur masa kanakku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p face="verdana" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tubuhku bergetar membayangkan esok akan ada dua sungai kecil mengalir di pipimu yang tak lagi halus. Sungai kesedihan yang mengalirkan air yang memendam kerinduan yang sangat pada aku, anak lelakimu. Dan aku tahu apa di dalam hatimu: Ibu ingin aku pulang. Itu saja. Bila saat itu datang, Ibu akan tersenyum dan berlari kecil, dengan langkah terseok lelah menyambutku dengan dua tangan terbuka hendak mendekapku dalam pelukanmu yang hangat. Dekapan Ibu oase yang menenangkan, serupa malam yang basah oleh hujan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p face="verdana" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kesedihan ini menggigil bisu dalam keperihan hati membayangkan esok, Ibu duduk sendirian di beranda, menatap cakrawala di jauh sana yang dilintasi para tetangga berbondong-bondong bersama anak-anak mereka yang baru pulang dari perantauan. Anak-anak itu datang menemui Ibu dan Ayahnya untuk merayakan bersama hari lebaran tahun ini, dan berziarah ke makam keluarga mereka. Sementara Ibu bergeming di beranda itu dengan mata yang sembap berkawan sunyi. Menunggu dan terus menunggu. Aku rindu melihat rambut perak Ibu yang tergerai panjang disisir angin sore yang datang dari pegunungan dekat rumah kita. Doakan agar Tuhan membuka jalan untuk aku pulang mengusir rindumu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p face="verdana" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Apa kabar Ayah di sana? Lihatlah, kulukis juga wajahmu dan akan kusandingkan dengan Ibu. Aku tahu Ayah sangat mencintai Ibu, dan Ibu pun begitu. Lantaran itu, kudekatkan Ayah dan Ibu dalam lukisan. Sungguh, aku tidak pernah lupa cerita-cerita Ayah tentang masa kecilku yang melelahkan. Kata Ayah dulu, aku pernah mengencingi mulut Ayah ketika terlelap di tepi malam, aku pernah menyemplungkan kunci  motor Ayah di kloset rumah itu, aku pernah melukai jari kiri ayah dengan sebilah pisau dapur, aku senang menampar dan mencakar wajah Ayah. Dan Ayah hanya tersenyum menahan amarah sebab tak tega melihat aku yang masih dalam usaha belajar berjalan. Kata Ayah lagi, saat itu sebetulnya aku belum lahir. Benarkah? &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sungguh Ayah, kau kerap membingungkan aku dengan kalimat filosofi yang mungkin kau karang sendiri. Aku masih ingat, Ayah pernah mengatakan bahwa sesungguhnya aku dua kali lahir ke dunia. Pertama lahir dari kandunga ibu, dan kedua lahir dari rahim alam. Masa ketika kelakuanku masih sangat melahkan itu, Ayah bilang aku belum lahir untuk yang kedua kalinya sebab aku sama sekali tak menyadari apapun yang kuperbuat saat itu. Aku hanya bergerak mengikuti naluriku: mengencingi Ayah, membuang kunci motor, juga melukai kulit Ayah. Benarkah manusia sebenar-benarnya telah lahir ketika hari pertama ia mulai mengingat apa yang telah ia lakukan? Beranjak dewasa kutemukan jawaban teka-teki Ayah itu. Pada sebuah halaman buku yang menulis: AKU ADA KARENA AKU BERPIKIR. Seperti itukah yang ingin Ayah katakan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dari dermaga sunyi ini kukirim salam maaf lewat desau angin buat Ayah. Betapa dulu aku suka keliru memahami bahasa cinta yang sering kau tuturkan dengan caramu yang ganjil. Setiap kali mendengar bentakan kemarahan Ayah, aku seolah mendengar gelegar suara yang keluar dari mulut seorang lawan. Kau kuanggap musuh yang senantiasa berdiri angkuh di hadapanku setiap kali menebar nasehat, dulu. Maaf Ayah. Saat ini aku benar-benar berharap lagi akan mendengar nasehat-nasehatmu meski tak disertai senyuman.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Ibu, sampaikan salam rinduku pada Ayah, katakan berkali kali padanya, suatu hari nanti aku akan datang membasahi tanah makamnya denga air mata…..    &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;dermaga semakin sunyi saja malam ini&lt;/p&gt;   &lt;p  style="text-align: right;font-family:verdana;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: right;font-family:verdana;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;                                                          setahun sudah Ayah wafat: Jakarta, 30 Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-8043979917948753676?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/8043979917948753676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=8043979917948753676' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/8043979917948753676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/8043979917948753676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/10/dermaga-sunyi-2.html' title='DERMAGA SUNYI 2'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SONmWcOTU7I/AAAAAAAAAUE/A3vJDvxxmEo/s72-c/kenjeranzo1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-5087427159525532019</id><published>2008-09-27T11:05:00.000-07:00</published><updated>2008-09-29T01:56:26.305-07:00</updated><title type='text'>Film Laskar Pelangi: Mengejar Mimpi Berbingkai Pelangi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SN52k0vHJtI/AAAAAAAAATs/wcec7RbC0MI/s1600-h/laskarpelangi_image.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5250764590564189906" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SN52k0vHJtI/AAAAAAAAATs/wcec7RbC0MI/s200/laskarpelangi_image.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Laskar Pelangi mulanya adalah sebuah novel yang diadaptasi menjadi film. Novel memiliki pembaca dan film memiliki penonton. Roh keduanya dihidupkan oleh unsur yang berbeda, novel membangun dunia melalui rangkaian kata-kata sementara film membangun dunia dengan rangakaian gambar-gambar bergerak. Imaji linguistik vs imaji visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sutradara yang mengadaptasi novel menjadi film ibarat Dokter Mata yang melakukan operasi kornea mata pada seorang pasien yang bertahun-tahun mengalami kebutaan. Tentu setelah operasi dilakukan, si pasien yang selama ini hanya meraba-raba dunia sekitarnya dengan menggunakan imajinasi kini dapat menyaksikan dunia dengan penglihatan yang dimilikinya. Tentu apa yang ia saksikan kini tak semua sama dengan apa yang ia pikirkan selama ini. Begitu juga dengan pembaca yang kemudian datang ke bioskop untuk menonton sebuah film yang pernah ia baca dalam bentuk novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya kita mencoba memahami bahwa film dan novel mempunyai bahasa, aturan, ukuran, gaya, dan nilai tersendiri. Film mempunyai keterbatasan teknis, ruang gerak, dan waktu putar yang sangat terbatas, sementara novel memiliki kebebasan yang dengan leluasa dapat pengarang paparkan dengan kata-kata. Sebab itu, tidak mungkin memindahkan baris demi baris novel secara utuh ke dalam film. Adaptasi memungkinkan perubahan unsur-unsur cerita, plot, karakter, latar, suasana, gaya, dan tema novel di dalam film. &lt;em&gt;Karena demikian, maka tidak tepat jika para penonton datang ke bioskop untuk menyeragamkan film adaptasi dengan novelnya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lho, kok tumben aku serius berteori tentang film Indonesia? Masih ada Leila S. Chudory dan Ekky Imanjaya yang lebih intelek, pun Eric Sasono masih bugar, dan Bapak Yan Wijaya juga masih kuat. Mereka masih eksis bercuap-cuap tentang film dalam negeri sebagai kritikus film yang handal. Sementara aku? Hanya satu diantara penggemar film Indonesia yang bawel....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, seperti biasa aku akan memulai ceramah hari ini dengan metodeku sendiri, dari sudut pandang mata pisau, tanpa disertai teori akademik, kode etik apapun, dan bahasa sopan santun bergaya anggun:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berhilir Pada Andrea Hirata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu alasan yang membuat saya bertahan membaca novel Laskar Pelangi sebelum saya memutuskan berhenti pada halaman tengah –halaman selanjutnya sudah sangat menjemukan— karena Andrea Hirata pandai meramu tragedi menjadi situasi yang jenaka. Padahal novel ini masuk dalam kategori cerita dengan gaya penulisan: Plot Hole, alur cerita penuh lubang. Andrea gagal meyakinkan pembaca, darimana gerangan murid-murid sekolah “kelas kambing” itu belajar tentang peradaban moderen seperti; nama taksonomi tumbuhan, tontonan eksotis ala afrika, nama penyanyi dan dan ilmuan abad ke-17. Bagaimana Lintang belajar tentang; implikasi, biimplikasi, filosofi Pascal, binomial Newton, limit, integral, dan segudang lagi ilmu pengetahuan langka bagi “sekolah pinggiran” seperti tempat ia menimbah ilmu. Begitulah novel Laskar Pelangi menghina daya nalar pembacanya. Dan pada akhir paragraf ini aku hanya ingin mengatatakan: Andrea Hirata mungkin satu-satunya penulis novel paling hiperbolik di jagad raya ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berhulu Pada Riri Riza&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mira Lesmana selaku produser film Laskar Pelangi kepada majalah Tempo (edisi 22-28 September 2008) mengungkapkan keresahaannya pembaca fanatik novel Laskar Pelangi akan datang ke bioskop untuk membandingkan novel dengan filmnya. Padahal, menurutku pembaca sebuah novel yang diadaptasi menjadi film sah-sah saja datang ke bioskop untuk membandingkan novel dengan filmnya. Mengapa? Sebab novel dan film memiliki hakekat yang sama: menghibur. Publik berhak melakukan perbandingan (bukan penyeragaman) bagus mana atau menghibur mana novel atau filmnya. Lantaran, untuk menikmati sebuah novel dan film, publik harus mengeluarkan duit. Karena ada transaksi produsen dan konsumen maka hak membandingkan itu layak. Semacam hukum pasar. Wajar dong kita ngomel-ngomel kalo secangkir teh hangat yang kita beli di warung ternyata lupa dicampur gula oleh pembuatnya. Betul tidak? Hehehe, ini hanya manuver kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 45 menit film Laskar Pelangi berputar, yang terasa datar-datar saja serupa nene-nenek renta berjalan lamban di lajur penyeberangan, membuat kita gemes untuk segera menggendongnya melintas segegas mungkin. Sampai pada menit itu, tak ada letupan-letupan kecil yang membuat aku berkeinginan mengikuti scene-scene berikutnya. Jujur, hanya rasa penasaran yang membuat aku betah. Semua serba tanggung; termasuk lelucon-leluconnya. Tak ada kelakar yang membuat aku terbahak lepas. Tetapi ini bisa disanggah: film Laskar Pelangi memang bukan genre komedi. Lalu film ini genre apa? Ini juga terkesan tanggung. Film anak-anak? 50% plot tersita untuk menggambarkan perjuangan sejumlah anak yang berjuluk Laskar Pelangi dalam menggali ilmu, dan 50% plot digunakan untuk menceritakan seorang guru bernama Muslimah berjuang mempertahankan sebuah sekolah yang lebih layak jadi kandang kambing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengejar Mimpi Berbingkai Pelangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam film Laskar Pelangi ada dua jenis mimpi yang dibingkai pelangi: mimpi para laskarnya menjadi siswa yang pintar dan mimpi ibu gurunya mempertahankan sekolah yang didirikan oleh ayahnya. Ada dua premis berjalan pararel. Makanya, kita akan merasakan editing yang melaju cepat untuk penggambaran suasana; pagi, siang, malam, dan Riri Riza direpotkan untuk memperkanalkan karakter-karakter yang lumayan banyak. Saking banyaknya, tak ada satu karakter sentral yang betul-betul berhasil menyita emosi penonton. Terlihat Riri terlalu bernafsu menyelipkan beberapa hal yang dianggapnya menarik dari novel hingga menyebabkan durasi 125 menit tak cukup untuk dibagi-bagi. Akhirnya banyak hal yang hanya disampaikan secara verbal. Maka hambar jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat kemunculan si Pawang Buaya yang sebetulnya tak begitu penting, terkesan Riri sengaja menghindari kekecewaan pembaca novel itu yang terlanjur mengenal sosok sang pawang. Tengok juga sosok Flo yang hanya hadir sebagai tempelan belaka tanpa basic story yang kuat agar kita tak harus kembali membuka novelnya demi memahami perannya dalam film, begitupun ketika adegan ke pulau untuk bertemu dukun, sama sekali menjadi plot yang sia-sia, dipotong pun tak ada pengaruhnya pada alur cerita film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penonton film yang tidak pernah mengenal Andrea Hirata sebagai penulis novel, mengikuti film ini dari awal akan terasa seperti orang yang dibimbing menyusuri lorong goa yang gulita dan ia tak tahu akan berujung kemana pada akhirnya. Tak ada tujuan yang dijanjikan dengan jelas akan ke mana dan hendak apa para laskar ini nantinya. Kecuali berharap-harap cemas akankah sekolah itu runtuh diseruduk kambing yang hendak kawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian akting? Duet handal Riri dan Mira kali ini sepertinya tak mau menyepelekan pasar. Kupikir kehadiran aktor Alex Komang dan Tora Sudiro adalah pilihan yang tak begitu penting. Mungkin akan lebih hidup jika yang memerankan ayah Lintang bukan sosok yang begitu terkenal, jika perlu diambil juga dari penduduk Belitong. Kehadiran Tora yang sudah akrab dengan tampilannya yang genit dan ganjen (sepertinya sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa menjadi bintang komedi sex) di film ini tampil tak maksimal, bukan dari sisi kekonyolan Tora (karena disini Riri Riza jenius melebur karakter Tora yang sudah terlanjur terbentuk sebagai komedian). Riri tak mau latah dengan gaya lelucon murahan film-film kita belakangan, makanya Tora ditampilkan jenaka secukupnya saja. Riri memang tak pernah betah bermain-main dengan scene yang melodrama, meskipun ia sadar telah melawan arus selera penonton film Indonesia. Lihat saja ketika Ikal berlari mengejar Lintang yang pergi meninggalkan teman-temannya (padahal adegan ini berpotensi menguras air mata kita) tetapi, tanpa mau berlama-lama Riri menutup film ini dengan editing yang tegas. Akting duet aktor lawas Slamet Rahardjo dan Ikranagara tak perlu diragukan lagi. Sementara Cut Mini tampil payah. Akting kesemua anak-anak itu terlihat biasa, kecuali Verrys Yamarno yang berperan sebagai Mahar. Dua anak wanita yang berperan sebagai siswa sekolah miskin itu tampil buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riri Riza sukses mengikis penyakit Andrea Hirata yang doyan pada Hiperbolisme. Kecerdasan Lintang yang maha dahsyat disulap menjadi wajar. Hanya saja kesan hiperbolik itu masih tersisa ketika Riri memunculkan sosok Flo, anak sekolah SD Timah yang rela pindah ke sekolah SD Muhammadiyah hanya karena sekolah miskin itu menang karnaval? Kalo aku jadi ayah, sangat berat memilih memindahkan anakku ke sebuah sekolah yang tak jelas hanya karena siswanya pernah menang lomba tari-tarian dalam parade karnaval. Salman Aristo selaku penulis skenario mencoba menutupi keganjalan itu dengan dialog yang intinya seperti ini: “aku suka tarian kalian karena terlihat eksotis,” oya???? Semoga tidak hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kekurangan film ini ditutupi oleh penggarapan teknis yang rapi. Yadi Sugandhi sukses menghadirkan gambar-gambar indah, seakan melukis lanskap Belitong lengkap dengan pelanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, untuk membahas film teranyar Miles Films ini tak cukup waktu yang singkat. Tapi sudahlah, blog ini terlalu sempit untuk bercuap-cuap panjang lebar. Di penghujung tulisan ini, aku ingin mengajak kalian menonton film Laskar Pelangi setelah sekian lama paranoid datang ke bioskop untuk menonton film karya anak negeri. Film ini aku sematkan empat bintang dari lima bintang yang kucopot dari langit. Dan akhir kalimat: &lt;em&gt;kalau saja ada sepuluh Riri Riza di negeri ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-5087427159525532019?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/5087427159525532019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=5087427159525532019' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5087427159525532019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5087427159525532019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/09/film-laskar-pelangi.html' title='Film Laskar Pelangi: Mengejar Mimpi Berbingkai Pelangi'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SN52k0vHJtI/AAAAAAAAATs/wcec7RbC0MI/s72-c/laskarpelangi_image.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-3756108699887465124</id><published>2008-09-08T01:26:00.000-07:00</published><updated>2008-09-12T03:37:21.743-07:00</updated><title type='text'>CALON PRESIDEN GENERASI M-TV</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SMTjbJtLUQI/AAAAAAAAANo/8ftPfXL8sG4/s1600-h/foto1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SMTjbJtLUQI/AAAAAAAAANo/8ftPfXL8sG4/s200/foto1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243565921767477506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Berburu Dukungan Pemirsa Sampai ke Alam Kubur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pemilihan Presiden sebentar lagi digelar, mereka yang merasa memiliki kriteria untuk duduk di kursi singgasana istana itu bergerak maju ke barisan paling depan. Serupa kawanan pendekar yang turun gunung dan siap bertarung di gelanggang untuk dinobatkan sebagai Raja negeri ini. Jurus yang dilancarkan para kandidat Presiden itu nyaris seragam: menjual tampang pada publik layaknya kontestan foto model. Mendadak mereka gemar berpose di depan kamera dengan latar hamparan ladang dan sawah. Mereka tiba-tiba ramah, murah senyum, dan berlagak akrab dengan petani. Mengutip judul berita koran Tempo: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Semua Bergaya Peduli Lewat Padi.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Untuk menjadi selebritis panggung politik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; tentu bukan soal mudah dan murah. Tak cukup hanya mengandalkan isi celengan. Dibutuhkan fulus yang jumlahnya selangit. Beberapa diantara kandidat yang berprofesi sebagai pengusaha menganggap nilai puluhan miliar bukan hal yang sulit meski situsi penduduk bangsa ini sesungguhnya lagi rumit. Salah satu pendekar itu bernama Soetrisno Bachir. Ketua umum Partai Amanat Nasional ini dikenal sebagai pemain kawakan pasar modal, pebisnis minyak dan batu bara. Ia memiliki jaringan perusahaan Sabira dan Ika Muda. Uangnya seolah tak berseri. Tak heran jika diantara para kandidat lainnya, Soetrisno paling gencar muncul di layar kaca meneriakkan slogan: Hidup Adalah Perbuatan! Tak puas memajang wajahnya hanya di layar mungil, ia pun menyelusup masuk ke layar lebar bioskop. Konon, untuk bisa beken melalui media massa ia rela menggelontorkan duit Rp 40 miliar sebulan. Itu belum termasuk biaya produksi iklan visual tersebut. Nilai fantastis di tengah kubangan kemiskinan yang telah lama memerangkap rakyat negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pak Darman, tetangga saya yang sehari-hari berdagang gorengan tahu tempe di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, menuduh saya sedang membual ketika mencoba menjelaskan padanya jumlah biaya iklan Soetrisno di televisi. “Wah, ane kagak percaya itu. Mana ada orang mau buang-buang duit sebanyak itu cuma buat nongol tiga detik di tivi. Bener-bener bahlul tuh orang. Sampe kiamat ente jualan gorengan juga belum tentu bisa punya duit sebanyak itu, Mas. Kecuali ente ketiban Lailatul Qadar,” ujar Pak Darman dengan dialek mix Arab Betawi. Saya kemudian bertanya pada Pak Darman, apa ia mengenal Soetrisno Bachir? Jawabnya, “Itu kan yang pernah dituduh selingkuh sama artis istri Syamsul Bahri (red- Gusti Randa). Bener nggak, Mas? Bapak beranak tiga itu balik bertanya. Saya hanya menimpali dengan senyuman. Memang, beberapa waktu silam petarung kita ini sempat menghadapi masalah yang lumayan memalukan. Dan kasus itu sukses menbuat nama Soetrisno Bachir &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;ngetop &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;di infotainment tanpa harus susah payah mengeluarkan receh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tidak jauh beda para pesaingnya, Prabowo Subianto tak mau kalah lantang berteriak lewat iklan layar kaca dengan slogan: Membawa Suara Petani Indonesia! Nyaris setiap hari kita melihat wajah pengusaha pulp dan kertas ini muncul di televisi menggandeng Pak Tani dengan senyumnya yang khas. Ia salah satu pendekar politik dari “Padepokan Gerindra” yang rajin menebar pesona belakangan ini demi mendapat tiket menuju istana. Sejauh mana keampuhan iklan layanan masyarakat yang dibintangi Prabowo? Saya mencoba bertanya pada Bu Hasnah, seorang guru TK yang kebetulan tetangga kosan. Apa gerangan yang ia ketahui tentang pensiunan letnan jenderal itu? Katanya, “Yang saya tahu Pak Prabowo pernah dituduh mendalangi penculikan sejumlah aktivis tahun 1998, sampe dia diceraikan istrinya yak. Nggak tahu gimana kelanjutannya. Malang niang nasibnya yak. Padahal beliau cakep lho.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Nampaknya,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; masa lalu kelabu Prabowo dan Soetrisno Bachir masih dominan terekam di benak sebagian penduduk ketimbang kinerja mereka. Begitupun Wiranto yang diusung Partai Hanura, sosoknya sulit lepas dari bayang-bayang kelam beberapa peristiwa pelanggaran hak asasi manusia yang pernah dikaitkan dengan dirinya. Misalnya kasus kerusuhan pasca-jajak pendapat di Timor Timur 1999 serta penembakan mahasiswa Trisakti dan kerusuhan Mei tahun 1998.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Beberapa kontestan lain yang bakal meramaikan gelanggang: Rizal Mallarangeng, Kivlan Zen, Sutiyoso,  R&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;atna Sarumpaet, Fadjrul Rachman, dan Yusril Ihza Mahendra. Diantara daftar nama ini, Rizal Mallarangeng lumayan tampil lebih mencolok. Beberapa baliho raksasa yang menampilkan wajahnya berseliweran di setiap penjuru Ibu Kota. Jika berkeliling Jakarta, dijamin mata anda akan di hadang wajah-wajah para kontestan ini di setiap kelokan dengan rupa-rupa pose. Tentu dengan senyum yang dibikin agar muka tampak lebih arif nan bersahaja. Kini, Ibu Kota layaknya rimba papan reklame –dari iklan benda mati sampai iklan manusia. Jika baliho iklan operator telepon seluler sibuk perang tarif dan menawarkan diskon pulsa murah, tokoh-tokoh di atas tampil perang slogan dan menawarkan sejumput harapan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kivlan Zen &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nongol&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dengan strategi lebih ganjil. Seperti yang dilansir majalah Tempo, ia mengaku maju lantaran ketiban wansit usai melihat lintang kemukus berupa bola biru melesat ke angkasa –dalam tradisi Jawa diyakini sebagai pertanda bakal munculnya Satrio Piningit. Kala itu ia sedang melakukan ritual &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nyekar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; (semacam tarikat) di pusara Bung Karno. “Semoga Paduka Yang Mulia diberi kelapangan di alam kubur,” begitu kata Kivlan ketika menceritakan pengalaman gaibnya kepada majalah Tempo. “Sebulan kemudian, jam satu malam, saya bertemu lintang kemukus lagi ketika naik mobil di Bintaro, Jakarta Selatan,” ujarnya lagi. Maka bertambahlah keyakinan Kivlan bahwa dirinyalah jelmaan Satrio Piningit kali ini. Satu lagi senjata pamungkas Kivlan: keris tujuh lekuk setengah meter dari besi kuning. Konon, keris itu dinamai Satrio P. “Saya memang suka &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, sejak berlatih silat ketika kelas II SMA di Medan.” Strategi Kivlan memang agak sulit diamati dengan mata telanjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Keunikan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; pensiunan mayor jenderal ini tak tuntas sampai di situ. Agar lebih afdol, ramalan lawas juga dibuka. Menurut teropong Joyoboyo yang masyur, urut-urutan suku kata pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah “Notonogoro” –urut-urutan suku kata terakhir nama mereka. “No” untuk Soekarno dan Susilo Bambang Yudhoyono, “to” untuk Soeharto. Sementara B.J Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dianggap sebagai tokoh peralihan. Kini giliran nama yang punya “go” untuk memimpin. Buru-buru Kivlan Zen ganti nama: Sutiyogo, demi mengejar akhiran “go” yang diyakininya bakal membawa hoki.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Jika ramalan itu benar, La Jenggo sahabat saya kuatir kelak bangsa ini akan memiliki presiden dengan nama: Prayogo Sontoloyo Perkoso Wanito. Naudzubillah Mindzalik, semoga para politikus kita tak kehilangan akal sehatnya. Amin Yarobbal Alamin.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-3756108699887465124?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/3756108699887465124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=3756108699887465124' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/3756108699887465124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/3756108699887465124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/09/calon-presiden-generasi-m-tv.html' title='CALON PRESIDEN GENERASI M-TV'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SMTjbJtLUQI/AAAAAAAAANo/8ftPfXL8sG4/s72-c/foto1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-4496306342600253564</id><published>2008-09-01T00:42:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T06:25:53.986-07:00</updated><title type='text'>ARTIS INDONESIA MENDADAK RELIGIUS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SLutGpCVbiI/AAAAAAAAANY/eSwh0wdV8iY/s1600-h/jilbab.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SLutGpCVbiI/AAAAAAAAANY/eSwh0wdV8iY/s200/jilbab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240972920982171170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Bulan puasa telah tiba. Negeri ini mendadak menjelma dunia kecil yang seolah-olah hanya dihuni mahluk yang beragama Islam. Untuk sementara waktu agama lain ‘diam dulu’. Mulai stasiun televisi, radio, industri rekaman, operator telepon selular, majalah dan tabloid berlomba-lomba menyuguhkan paket bernuansa Ramadhan. Bahkan artis-artis kita yang kemarin doyan pamer paha, belahan dada, dan tato sikut-sikutan ingin tampil di hadapan public mengenakan busana Muslimah layaknya bidadari berkerudung dari surga. Kasihan. Bahkan saya sangat penasaran menuggu tampilan Julia Perez dan Dewi Persik yang selalu tak biasa di layar beling. Kupikir, anda pun menyimpan rasa penasaran yang sama dengan saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Karena ‘serbuan’ acara Islam ini, mau tak mau penganut agama lain ikut menikmati nuansa Ramadan. Tak punya pilihan lain, dari kokok pertama ayam jago hingga jarum jam kembali menunjuk titik nol, 80% saluran televisi menyuguhkan siaran yang dikemas dengan tema Islami. Di SCTV ada program spesial &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Ramadhan Untuk Semua, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;TV One menyuguhkan banyak materi acara serupa; Bintang Ramadhan, Santri Riders, Gado-Gado Sahur, Debat Spesial Ramadhan, Kabar Petang Spesial Ramadhan, dan masih banyak lagi. Tabloid Bintang juga tak mau kalah berebut kue Ramadan. Pada edisi khusus puasa (Agustus-September) buru-buru mereka memasang Cinta Laura dan Alyssa Soebandono) mengenakan busana Muslim di bagian cover.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sementata Trans TV dan Trans 7 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;entah punya acara Ramadan seperti apa –dua televisi ini mendapat julukan dari sahabat saya, La Jenggo, sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;televisi Kuliner, Ular, dan Kambing.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Ketika kutanyakan padanya, mengapa? La Jenggo menjelaskan tanpa teori akademik bahwa televisi ini dipenuhi informasi tentang makanan, berita ular, dan kambing berkaki lima misalnya. Ternyata sahabat saya itu tidak sedang berkelakar. Program berita kedua televisi ini memang kerap kutemukan memberitakan hal-hal yang mereka anggap unik, –sesungguhnya murahan dan tidak mencerdaskan bangsa– terutama disegment berita ringan, kerap ada berita yang itu-itu saja; kuliner dari berbagai daerah, makanan dari daging ular, minuman dari darah ular Cobra, penduduk yang menangkap ular, kambing berkaki lima, Kambing berkepala mirip manusia (padahal cacat) atau pohon kelapa bercabang dua. Hehehe. Wajar saja La Jenggo menamai Trans TV dan Trans 7 sebagai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;televisi Kuliner, Ular, dan Kambing. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Padahal menurut La Jenggo, ia ingat betul, di awal berdirinya pada tahun 2001, Ishadi SK sebagai orang nomor satu di Trans TV pernah berkata kepada PANTAU &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;soal pemberitaan Trans TV akan lebih banyak memilih pola investigative reporting dengan analisis berita yang mendalam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;“Seperti Tempo-lah!” tegasnya, menyebut nama sebuah majalah Jakarta. “Mungkin investigasi kambing dan selebritis maksud Ishadi kala itu,” celetuk La Jenggo sembari terbahak. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sinetron ‘konon’ Islami&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; juga menjejali televisi swasta negeri ini. Sebenarnya, jika ditelisik lebih jauh, luarnya saja yang Islam tetapi cerita yang dipaparkan sama saja yang sudah-sudah. Hanya para pelakonnya yang didandani agar tampil berkerudung atau berpeci sembari mengalungkan sehelai sajadah dan menggenggam tasbih. Dalam dialog sengaja diperbanyak ucapan; Assalamu Alaikum (adegan sapaan), Bismillahi Rohmani Rahim (adegan mulai makan) Alhamdulillah (adegan selesai makan), Astagfirullah (adegan saat kaget). Sementara isi kisahnya masih tetap cinta segi tiga atau mungkin segi empat. Ini hanya akal bulus para produser untuk mendulang fulus di bulan tak biasa ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Bagaimana dengan band-band tanah air? Aha, bahkan ST12 tak mau ketinggalan membuat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; lagu religius. Ada pula Ungu, Gigi, Vagetos, dan Radja ikut meramaikan pasar Ramadhan lewat jalur musik tentunya. Anak-anak muda ini yang biasa berjingkrat-jingkrat di atas pentas  dengan gaya khas generasi kini mendadak ingin ber-Qasidah. Judul-judul lagu yang mereka tawarkan sudah beraroma Islam dimulai dari kata pertama. Antara lain; Jalan Kebenaran-Mu (gigi) Surgamu, Para Pencarimu (Ungu). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Saat berjalan-jalan ke ruang public, pertokoan, mall, kafe, atau ke tolilet, telinga kita akan disusupi tembang-tembang religius dari sudut-sudutnya. Hidup kita seakan dibuntuti oleh penyanyi-penyanyi yang berkidung nafas Islami. Suka atau tidak suka, 30 hari kedepan telinga kita akan akrab oleh suara Pasha Ungu, Bimbo, Opick, Sulis, dan lainnya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Feno&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;mena lagu relegius ini membuahkan pertanyaan, apa perbedaan ketika kita mendengar lagu religi yang dilantunkan Bimbo, Emha Ainun Najib (Kyai Kanjeng), dibanding Pasha Ungu dan kawan-kawan? Jujur, ketika saya mendengar lagu Bimbo, Emha Ainun Najib, dan menonton film rekaman konser Kantata Takwa, dimana Iwan Fals (gondrong, telanjang dada tanpa jubah atau sorban putih) memuji-muji Sang Pemilik Alam dengan lirik-lirik yang memikat hingga membuat bulu kuduk ini meremang. Ada sensasi berbeda yang terasa menjalari tubuh ini ketika mendengar lagu-lagu mereka menyebut nama Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ketimbang mendengar &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;lagu religius Radja, Ungu, dan Vagetos, apa yang kita rasakan? Lirik tanpa kekuatan kata dan sempit makna. Yang tersisa hanya kepalsuan! “Menjual” nama Tuhan di pasaran sekadar memperkaya diri? Entahlah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-4496306342600253564?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/4496306342600253564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=4496306342600253564' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/4496306342600253564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/4496306342600253564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/09/artis-indonesia-mendadak-religius.html' title='ARTIS INDONESIA MENDADAK RELIGIUS'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SLutGpCVbiI/AAAAAAAAANY/eSwh0wdV8iY/s72-c/jilbab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-79705554202378224</id><published>2008-08-21T23:19:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T23:35:29.701-07:00</updated><title type='text'>Diary La Jenggo For Dian Sastro</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SK5dDdcVQ-I/AAAAAAAAAMg/X74X7S41FII/s1600-h/dian+s.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SK5dDdcVQ-I/AAAAAAAAAMg/X74X7S41FII/s200/dian+s.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237225730702918626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku ingin berkisah tentang catatan harian La Jenggo, sahabat seperjuangan yang hidupnya tak kalah melarat di Jakarta. Saking miskinnya, celana dalamnya yang ia bawa dari kampung kini bolong-bolong layaknya habis digerogoti kucing namun tak kuasa ia ganti dengan celana yang layak pakai. Yang membuatku salut padanya, meski hidupnya tergolong KDL (kasihan deh Lo), ia punya cita-cita mempersunting Dian Sastro.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Di bawah ini tulisan La Jenggo yang kucuri dari koper miliknya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;      Tujuh hari sudah kulewati bekerja sebagai tukang sapu di Rumah Produksi itu. Ini adalah saran sahabatku, Ibe. Katanya, lama kelamaan nanti aku bakal naik pangkat jadi crew seperti dia. Jika beruntung, jalan nasib ini bisa saja merubahku jadi bintang film laga Saur Sepuh misalnya. Karena Ibe yakin, setahun jadi tukang sapu akan membuat otot-otot lenganku bertambah kekar. Kupikir-pikir ada betulnya juga. Dan masih menurut Ibe, banyak bintang top di jagad ini yang diawali dari nasib payah seperti aku.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Di hari kedelapan, saat sedang membersihkan kaca jendela kantor, mataku terbelalak melihat seorang wanita cantik layaknya bidadari turun dari sedan kelabu dan melangkah anggun masuk ke dalam kantor. Ia melintasiku tanpa ada sapa. Hanya melempar senyum tipis sebagai ganti basa-basi. Aku mengenali bidadari itu. Aku pernah melihat ia menangis dan marah-marah di televisi. Ya, kalau tidak salah namanya Dian Sastro. Mendadak lututku serasa terkunci dan jantungku seperti dipukul palu. Bagai mimpi rasanya menyaksikan Dian Sastro nyata hadir di hadapanku. Kuperhatikan ia berjalan ke ruang tengah. Duduk sendiri di sofa sambil membuka majalah. Seperti sedang menanti seseorang. Lekas aku ke belakang menemui Ibe untuk meminjam ponselnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Aku mau berfoto bersama Dian Sastro dan mengirimnya buat ayah. Tetapi Ibe malu menolongku. Ibe berpikir sebentar, sebelum menemukan siasat yang gemilang. Ia menyuruhku berpura-pura menyapu di belakang sofa tempat Dian Sastro duduk lantas ia memotret kami diam-diam. Berhasil. Aku menyatu dengan Dian Sastro dalam foto. Aku terlihat berdiri di balik punggung wanita cantik itu sambil tersenyum ke arah Ibe dengan gaya menjulangkan jejari kananku membentuk simbol metal. Sementara Dian tetap fokus pada bacaannya tanpa menyadari dirinya sedang diintai paparazzi gadungan. Dalam foto, kami hampir mirip sepasang pengantin yang tengah berselisih. Tak apalah. Sungguh aku tak sabar mencetaknya lima lembar lalu mengirim foto itu ke kampung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Memang benar kata Ibe, berfoto bareng artis bisa membuat orang-orang di kampung menganggap kita sebagai perantau yang beruntung. Satu minggu setelah fotoku bersama Dian Sastro beredar di kampung, ponselku yang sudah layak jadi barang antik kebanjiran SMS dari keluarga dan teman-temanku. Semua SMS yang masuk dimulai dengan kalimat: Selamat untukmu! Sukses buatmu! Kami bangga Padamu! Menurut kakakku, kampung kami geger membicarakan aku dan foto itu. Saking girangnya, konon ayahku menjual beberapa liter kakao yang belum kering untuk membeli bingkai foto di pasar Pincara. Rata-rata kiriman pesan pendek itu berakhir dengan titipan salam buat Dian Sastro dan sebuah tanda tanya. Mereka meminta aku menceritakan pengalaman langka di dalam foto itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Berbohong demi kebaikan, supaya ayah bahagia, terpaksa aku mengarang cerita bahwa aku dan Dian Sastro pernah makan bersama di restoran mahal. Ayah membalas SMS dengan pertanyaan: apakah kau sudah bisa makan pakai bambu (red-sumpit) seperti orang kota? Perihal sumpit, aku dan ayah pernah berdebat tentang bagaimana menggunakannya untuk menyantap masakan berkuah. Dan dengan percaya diri ayah menerangkan padaku bahwa batang sumpit itu berlubang menyerupai sedotan untuk menyeruput kuah masakan. Aku percaya saja waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Ayah juga mengirim cerita buat Dian Sastro tetang kebun kelapa kami yang tengah berbuah banyak. Siapa tahu Dian Sastro mau ikut berlibur bersamamu ke kampung makan kelapa muda dicampur gula merah atau sirup Pisang Ambon, harap ayah dalam pesannya. Aku senang membaca surat-surat elektronik dari jauh itu sekaligus gelisah telah melakukan perbuatan yang mengundang dosa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Tibalah aku di penghujung bulan pertama bekerja sebagai tukang sapu. Hari itu aku menerima gaji yang jumlahnya senilai tiga karung padi: enam ratus ribu rupiah. Tapi sayang, aku tidak bisa menikamati hasil kerja kerasku itu. Baru saja Ibe menerima kabar Ayahnya sedang sakit keras dikampung. Ia diminta pulang dan uangnya kurang sebagai bekal. Ikhlas kuserahkan seperdua gajiku bulan ini pada sahabatku yang malang itu. Bagaimanapun, Ibe manusia terbaik yang pernah kutemui di kota ini. Tiba saatnya belajar membalas budi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Dan sore itu Ibe terbang ke Makassar menggunakan pesawat bertiket murah menemui ayahnya yang mungkin sudah sangat merindukan dirinya. Kini aku tinggal sendiri berjuang di belantara Ibu Kota dengan uang pas-pasan. Beruntung kantor tempatku bekerja bisa ditempuh jalan kaki. Jaraknya kurang lebih satu kilo meter. Lumayan bikin pantat berkeringat. Dan yang paling penting, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;teteh&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt; Nining, pemilik warung Sunda di belakang kos kami masih bermurah hati mau mengutangkan nasi dan lauk-pauknya. Seperti kemarin-kemarin. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Malam harinya, kutulis puisi sederhana untuk Dian Sastro:   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   …&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;kelak, kalau kau menjadi istriku. Tak akan kubiarkan zat kimia melunturkan kecantikan alami yang melekat pada tubuhmu. Di halaman rumah kita, segera kutanam pohon lidah buaya untuk kau jadikan shampoo supaya rambutmu yang hitam tumbuh subur dan berkilau indah. Juga kunyit dan bengkoang sebagai bedak agar wajahmu tetap halus memesona. Serta kubuatkan hand body dari minyak kelapa buat mengkilapkan kulit tangan dan betismu. Menjaga senyummu biar tetap cemerlang, aku akan selalu siaga setiap saat menumbuk halus batu merah seperti masa kakek dulu. Tidak lupa kusiapkan batu tawas yang ajaib menghilangkan bau badanmu kala berkeringat. Kurasa semua itu cukup sayang, bahkan lebih dari cukup. Demi cintaku padamu…&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;   &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-79705554202378224?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/79705554202378224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=79705554202378224' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/79705554202378224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/79705554202378224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/08/diary-la-jenggo-for-dian-sastro.html' title='Diary La Jenggo For Dian Sastro'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SK5dDdcVQ-I/AAAAAAAAAMg/X74X7S41FII/s72-c/dian+s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-6494993823408283825</id><published>2008-08-16T00:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T00:06:13.628-07:00</updated><title type='text'>Tuhan, Kerudung, dan Buah Dada Hawa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SK0Tx75pURI/AAAAAAAAAMY/wLns8mFHaZA/s1600-h/bk_kritik_jilbab.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SK0Tx75pURI/AAAAAAAAAMY/wLns8mFHaZA/s200/bk_kritik_jilbab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236863690315747602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tulisan ini untuk dia yang pernah berbisik: Bang, aku mau pake kerudung....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Serentang kain, entah putih, hitam, dan Jingga yang oleh kita –muslim– sebut kerudung, konon sebagai perisai untuk menepis segala dosa bagi wanita. Seolah dosa hanya berasal dari birahi. Dosa porno yang bengis yang ditebarkan dari mahluk yang disebut pria. Kerudung adalah sebuah ketakutan. Satu rasa yang menghantui kaum wanita muslim ketika tak berjarak dengan lawan jenisnya. Dengan kerudung ada semacam sugesti bahwa ancaman tak kasat mata itu akan berlalu dalam diam. Kerudung seperti sebuah pembelaan dan sekaligus sindiran bagi pria bahwa birahi yang menggelinjang gelisah dalam tubuh kekar itu mesti diredam dengan membungkus aurat lawan kelaminnya itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Seperti sebuah dongeng masa kanak tentang mula penciptaan manusia, Hawa berlakon turun ke surga tanpa ada serentang benang pun menggelayut di tubuh bugilnya. Dimana Adam masih dalam ke-tidaktahuan-nya mana gerangan lekuk tubuh Hawa yang menggairahkan. Ia mungkin tak pernah melirik dua onggok daging yang membusung kencang di dada Hawa dengan lidah yang menjulur buas. Apalagi bergejolak hendak meremasnya atau bahkan lebih ganas dari itu. Entah, kita tidak pernah dikisahkan lebih lanjut berapa lama waktu dibutuhkan Tuhan untuk mengajarkan Adam bahwa buah dada itu lebih nikmat dari buah qhuldi yang kelak mengutuknya hingga tergelinding ke bumi yang genit. Kita tidak akan pernah paham bagaimana Hawa dirayapi rasa malu akan tubuhnya yang telanjang lantas belajar menyembunyikan malu itu. Tentu dengan menutupinya dengan perisai berbahan dedaun kering yang polanya di kekinian kita sebut celana dalam atau kutang.    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kerudung tak lebih sehelai kain yang menutupi kepala dan bagian-bagian sekitarnya. Seperti sebuah isyarat bahwa liang telinga wanita juga menyimpan daya magnet yang menggetarkan birahi jika ditatap sesering mungkin. Benarkah? Pertanyaan ini bisa juga sebuah hina. Atau serupa penegasan bahwa tanpa kerudung dosa bisa saja hinggap dengan ringan di pundak si wanita apalagi si pria yang menyebabkan kerudung itu sendiri harus ada. Memang, di zaman ini kerudung seakan sebuah keharusan. Kita seperti percaya bahwa dosa bisa ditepis dengan enteng hanya dengan selembar kain. Seperti bentangan saring yang menghalau atau penawar rasa haus yang lain. Meski kita menghaluskannya dengan kalimat: kerudung sebuah simbol kesucian dan kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tuhan mungkin tak pernah bermaksud mengajarkan kita saling berselisih perihal birahi meski Ia sendiri tak memiliki kelamin sebagai jalan lahirnya tata simbolik yang salah satunya berwujud kerudung. Jadi, sejatinya kenapa harus ada kerudung?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-6494993823408283825?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/6494993823408283825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=6494993823408283825' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/6494993823408283825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/6494993823408283825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/08/tuhan-kerudung-dan-buah-dada-hawa.html' title='Tuhan, Kerudung, dan Buah Dada Hawa'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SK0Tx75pURI/AAAAAAAAAMY/wLns8mFHaZA/s72-c/bk_kritik_jilbab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-9208899088630578367</id><published>2008-08-04T22:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:23.728-08:00</updated><title type='text'>Film Oh, My God! Gariiiiiingnya…!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SJfj2DxGV_I/AAAAAAAAALI/iimliWZercM/s1600-h/film19081m.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SJfj2DxGV_I/AAAAAAAAALI/iimliWZercM/s200/film19081m.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230900010077804530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Menghibur, itu salah satu tujuan para sineas ketika memproduksi sebuah film. T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;api kenyataannya banyak film yang mereka suguhkan tidak cukup berkualitas dan malah membuat penonton merasa tak betah duduk di kursi bioskop. Pantat serasa tertusuk seribu jarum, konsentrasi buyar, dan mata tak fokus lagi ke layar lebar melainkan lebih tertuju pada paha pasangan nonton kita yang mungkin mengenakan rok pendek sembari sesekali menelan ludah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Begitulah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; situasi yang saya alami ketika menonton film produksi kedua Oreima Films, berjudul: Oh, My God! Bagaimana tidak, disebut genre komedi satire namun tidak ada kelucuan humanis yang mengharukan di alur film ini, disebut komedi romantis tetapi tiada kekonyolan romantisme percintaan yang berkesan pada bangunan plot ceritanya. Banyak adegan yang serasa menyerupai tambalan-tambalan yang dicomot dari film-film sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Grafik menurun untuk prestasi Oreima setelah menelorkan film Kamulah Satu-Satunya tahun lalu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Padahal, diawal kemunculan Oreima Film di dalam peta perfilman Indonesia, saya menaruh harapan besar akan perkembangan film dalam negeri mengingat nama-nama di dalam struktur Oreima Film adalah anak-anak muda dengan semangat kreatif yang membanggakan. Mereka antara lain; Daniel Rahmad, Reza Hidayat, dan Vena Annisa selaku produser.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Premis film Oh, My God! mirip PR pelajaran Bahasa Indonesia yang sering saya tulis untuk tugas mengarang ketika masih duduk di bangku kelas enam SD. Bercerita tentang cowok miskin nan culun yang jatuh hati pada seorang cewek cantik anak orang kaya yang kebetulan bertetangga. Perjuangan si cowok miskin untuk menggaet hati si cewek dihalang-halangi kekasih si cewek yang juga berasal dari orang gedongan. Cerita klasik macam ini sering kita temui pada film lepas cerita anak-anak di TVRI pertengahan tahun 80-an, juga buku cerita anak yang banyak diobral di pasar grosiran. Bahkan La Jenggo, sahabatku yang berlangganan dengan rangking buncit di sekolah kerap mendapat nilai 8 dalam pelajaran mengarang untuk cerita serupa ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Separoh adegan film ini berkutat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; di dalam area sekolah bernama “SMU MUTIARA BANGSA”. Sebuah sekolah yang tampaknya hanya memiliki satu guru. Bahkan tak seorangpun guru yang muncul ketika ada adegan penyiksaan si tokoh utama yang diikat dan ditelanjangi di halaman sekolah. Padahal aksi anarkis itu dikerubungi puluhan siswa. Bah, sekolah macam apa ini? Murid-muridnya pun rata-rata berwajah tua dan sepantasnya sudah memiliki tiga anak. Antara lain; Desta, Ringgo Agus Rahman, Revalina S Temat, dan Edric Tjandra. Seragam sekolah ajaib ini juga didesain supaya terkesan imut tetapi jatuhnya malah mirip seragam TK di kampung kami dekat kandang kambing milik La Jenggo.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Untuk sektor cast, pilihan pemain yang amburadul entah harus dibebankan pada siapa, Casting Direct? Rako Prijanto selaku sutradara? Produser? Atau Key Mangunsong dan Raditya sebagai penulis skenario yang sukses memadukan imajinasi Jujur Prananto saat menulis Ada Apa Dengan Cinta dan Musfar Yasin saat menggarap Get Married. Lihatlah beberapa adegan film ini seperti ingin meniru formula Basic Story kedua film yang saya sebutkan tadi. Hasilnya? Jauh bung! Ada kisah perebutan kursi ketua OSIS di sekolah dan adegan si cowok mengajak si cewek ke sebuah kafe mendengar live music yang khusus dipersembahkan buat si cewek. Lalu settingnya berada di sebuah perkampungan kumuh dimana disekitar tempat itu ada keluarga kaya yang mulanya terkesan angkuh lantas melunak di akhir film. Kalian masih ingat adegan-adegan itu berasal dari film mana bukan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Khusus penampilan Maia Estianty, mungkin ia &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;diikutkan dalam film ini memerankan ibu Revalina S Temat lantaran dalam skenario ada dialog yang memplesetkan nama Mulan Jameela menjadi “Mulan Jaimlah...” Dan Maia E didapuk melontarkan kalimat itu. Sungguh kejam, jika hanya karena alasan dialog tadi Maia diikutkan berlakon tanpa peduli umurnya pas atau tidak berperan sebagai ibu dari Revalina yang tak lama lagi Manopause. Tapi teori ini bisa dipatahkan kalau saja dalam cerita dijelaskan sang ibu dulunya kawin muda atau mungkin di masa muda sang ibu, metode pacaran yang diterapkan adalah: MD3B (makan dulu baru baca bismillah).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sungguh, melihat akting Maia Estianty di film ini masih jauh ketimbang jika ia berakting di depan kamera infotainment. Akting&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;nya sangat gemilang jika ia melenggang pada program-program gossip di TV. Hebatnya, chemistry-nya jauh lebih dapat saat bersiteru dengan Ahmad Dhani di TV ketimbang beradu akting dengan lawan mainnya di layar lebar. Hehehe.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sekali lagi, tak ada yang menarik dalam film ini. Diusung sebagai film bergenre komedi namun nyatanya Oh, My God! tak berhasil membuahkan adegan yang menggelikan. Kalaupun ada, banyolan-banyolan yang terlontar lewat dialog masih terasa garing kurang digoreng. Dialog-dialog humornya masih tipikal komedi khas Betawi kelas FTV yang banyak bertaburan di televisi. Contoh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dari penulis:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;EMAK: Jenggoooo....!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ANAK: Iye....Ny&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;aaaak.....!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;EMAK: mau makan ape lu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;ANAK: Makan ape aje dah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;EMAK: Minumnye?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;ANAK: Aqua gelas satu botol!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Film yang berdialog seperti contoh diatas seolah-olah dibikin hanya untuk dikonsumsi orang-orang Jakarta saja. Tanpa pernah hirau bahwa film mereka akan sampai di depan mata penonton di Kalimantan, Batak, Manado, Makassar, dll. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Agaknya, wajah bloon &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;pembawa hoki yang di anugerahkan Tuhan YME kepada Ringgo Agus Rahman dan Desta, tak cukup menyelamatkan film ini agar bisa dikategorikan sebagai film komedi yang lucu. Ada baiknya uang 15.000 yang semula ingin kita gunakan membeli tiket di bioskop, disumbangkan saja pada kaum duafah ketimbang menonton film ini. Itung-itung sedikit bisa menghindarkan kita dari sambitan cambuk api malaikat penunggu Neraka. Amin!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-9208899088630578367?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/9208899088630578367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=9208899088630578367' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/9208899088630578367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/9208899088630578367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/08/film-oh-my-god-gariiiiiingnya.html' title='Film Oh, My God! Gariiiiiingnya…!'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SJfj2DxGV_I/AAAAAAAAALI/iimliWZercM/s72-c/film19081m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-5008966319802697143</id><published>2008-07-25T21:06:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:23.817-08:00</updated><title type='text'>Balada Lagu Gaby &amp; Roy Suryo Memburu Sensasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SIqkWGGqEeI/AAAAAAAAAK0/33Dbr2s91tI/s1600-h/abe2t.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SIqkWGGqEeI/AAAAAAAAAK0/33Dbr2s91tI/s200/abe2t.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227171017019494882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Baru-baru ini nama Roy Suryo mencuat lagi dengan mengusung sensasi yang berbeda. Sebuah sensasi atau semacam keisengan yang sebetulnya tak begitu penting. Ia mengaku berhasil mengungkap asal-muasal lagu Gaby yang belakangan populer di internet. Roy menemukan fakta bahwa penyanyi asli lagu “keramat” tersebut bernama Andi B.C, seorang mahasiswi STIMIK Dipanegara, Makassar. Perburuan Roy menghasilkan barang bukti berupa VCD berisi rekaman Caramel yang melantunkan lagu itu di sebuah pentas musik. Roy menggunakan peranti lunak bernama Audio Spectrum Sofware untuk membandingkan rekaman lagu tersebut dengan lagu yang beredar di internet. Hasilnya, pemilik asli suara itu bernama Abe asal Makassar.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Agaknya, Roy benar-benar terampil memanfaatkan media untuk membesarkan namanya. Jika dipikir lebih jauh, Roy tentu tak memiliki keuntungan apa-apa setelah berhasli mengakhiri sengkarut lagu tersebut. Namun, di depan media Roy mengaku ketertarikannya pada lagu tersebut muncul setelah melihat kontroversi yang mulai tak sehat. Ia turun gunung sekedar ingin meluruskan gossip yang menyelimuti sebuah kidung cinta yang konon bermuara dari alam kubur.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Sejauh apakah keahlian Roy Suryo di bidang telematika? &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Sejak terkuaknya tragedi pesawat Adam Air yang dinyatakan hilang dalam penerbangan dari Bandara Djuanda Surabaya menuju Bandara Samratulangi Manadao, 1 Januari 2007, ada keraguan yang menjejali benak saya tentang kemampuan Roy Suryo dalam bidang multimedia. Saya ingat betul analisa yang dilontarkan Roy ketika Metro TV meminta komentarnya mengenai pesawat Adam Air, Boeing 737-400, dengan nomor penerbangan 574 &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;yang hari itu serpihannya berhasil ditemukan seorang nelayan bernama Bakrie di laut Maros, Sulawesi Selatan.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Asumsi Roy kala itu, pesawat Adam Air meledak di atas udara tak jauh dari lokasi (red- Maros) ditemukannya serpihan pasawat oleh si nelayan dan menyebabkan kepingannya berhamburan ke laut. Selang beberapa bulan kemudian, titik lokasi jatuhnya pesawat dipastikan terletak di perairan Majenne, Sulawesi Barat. Perlu dicatat, jarak antara Maros dan Majenne ratusan kilometer. Dan parahnya, hasil penelitian Kotak Hitam pesawat tersebut mengungkap bahwa badan pesawat hancur akibat terhempas di laut. Tentu kenyataan yang ada sama sekali tak mendekati hasil analisa pakar telematika kebanggaan kita itu.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Jika sudah begitu, saya menyimpulkan bahwa terkadang analisa Roy tak ubahnya ramalan-ramalan ala Mama Lauren, Ki Joko Bodo, dll tentang suatu peristiwa yang belum tentu kebenarannya. Orang-orang seperti mereka memang berpotensi hebat di hadapan public. Lantaran kita hanya akan mengingat mereka jika ramalannya kebetulan terjadi dan kita cenderung melupakan kesalahan analisa yang pernah mereka lontarkan jika kedepannya tidak terjadi apapun. Padahal, jika kita mau membuang-buang waktu sekedar mencatat apa saja ramalan-ramalan mereka ke depan, mungkin saja kita akan menemukan bahwa ramalan-ramalan itu lebih banyak yang meleset ketimbang yang kebetulan benar.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Dalam tulisan Ambar Sari Dewi yang berjudul “Roy Suryo, Sang Jagoan”, Sony Suryo, saudara laki-laki Roy Suryo, pernah juga mengunkapkan keraguaanya akan keterampilan yang dimiliki sang pakar telematika itu. Berikut kutipan tulisan tersebut:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;(Sebaliknya, di mata kakak laki-lakinya, Sony Suryo, Roy adalah orang yang suka mencari popularitas. "Lha kayak dia ikut tim (pelacakan) Tommy Soeharto itu, sebenarnya kan bukan (mencari) Tommy-nya yang penting, tapi .... popularitasnya," katanya di ruang kerjanya di Rumah Sakit Umum "Lokapala" Babarsari, Yogyakarta. Sony Suryo adalah seorang dokter spesialis kejiwaan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Roy dianggap hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memikirkan keluarga. Ini disebabkan karena Roy belum dikaruniai anak. Tapi apa hubungannya? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut Sony, pola pikir seseorang akan sangat berbeda kalau ia sudah memiliki anak. Segala tindak-tanduk akan memperhitungkan dan mempertimbangkan anak atau keluarga. "Nah, Roy ini sing penting mlebu koran (yang penting masuk koran). Nggak ada perhitungannya," kata Sony sambil tertawa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sony agak meragukan kemampuan Roy dalam bidang multimedia. Ia memberi contoh saat adiknya itu kehilangan laptop. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saat itu, 2 Maret 2001, Roy dan istrinya sedang menuju Bali untuk sebuah seminar. Keterangan versi Roy Suryo mengatakan, antara lain dimuat dalam bulanan Intisari, lpasangan suami istri ini menggunakan bus Safari Dharma Raya. Perjalanan lancar sampai di sebuah rumah makan di Ngawi saat bus berhenti untuk memberi kesempatan makan malam. Roy turun dari bus dengan membawa tas laptop dan tas tangan. Roy merasa seseorang menguntitnya ketika ia membeli air mineral. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesampai di Banyuwangi, Ririen Suryo terbangun dan ingin menelepon. Telepon selular yang berada di dalam tas tangannya hilang. Tak cuma itu, uang yang dimasukkan ke dalam amplop ikut amblas. Pasangan ini segera memeriksa barang bawaan mereka. Tas laptop telah berganti isi menjadi jenang dan air mineral. Laptop, handy talkie, dan alat lainnya hilang. Dari kondektur dan sopir bus diketahui pencuri laptop turun di Gempol. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesampai di Bali, telepon seluler Roy dihubungi oleh seseorang yang minta tebusan. Tawar-menawar pun terjadi. Uang tebusan harus dikirim ke sebuah nomor rekening bank BCA. Atas bantuan dari pihak BCA, Roy bisa mendapatkan nama pemilik rekening itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Roy juga menghubungi pihak PT Telkomsel untuk memantau aktivitas telepon selulernya. Melalui sistem pelacak call data record information lalu lintas percakapan sebuah telepon seluler bisa diketahui. Sayangnya kartu telepon yang dicuri adalah kartu pra bayar, sehingga aktivitas telepon seluler itu tak bisa dilacak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Naluri ingin tahu Roy terusik. Ia segera mencari celah. Sebuah cetak biru yang menjelaskan prinsip kerja kartu telepon seluler, termasuk sistem billing, mekanisme blokir, dan perekam dicatat dalam apa yang disebut block diagram. Dengan cara inilah Roy dan PT Telkomsel berhasil menemukan nomor telepon yang dihubungi dan menghubungi telepon seluler yang dicuri itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berkat posisinya sebagai narasumber dan konsultan di markas besar kepolisian Indonesia, Roy berhasil mendapatkan nama pemilik, alamat, dan aktivitas komunikasi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pelacakan laptopnya dilakukan Roy dengan menghubungi internet service provider untuk mengetahui aktivitas akses internet. Salah satu pencuri ternyata menggunakan laptop itu untuk mengakses internet dengan password dan login name milik Roy. Indonet, yang jadi langganan Roy, membantunya dengan memberikan login list. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah sebulan melacak, Roy mulai bertindak. Ternyata telepon selularnya telah berpindah tangan lagi. Pemilik yang baru seorang dosen. Pemilik baru ini mengaku membeli telepon itu dari sebuah dealer resmi di Yogyakarta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Roy dan polisi Yogyakarta bergerak. Pemilik toko itu mengaku memperolehnya dari orang yang bekerja di sebuah agen bus di terminal bus Umbulharjo, Yogyakarta. Kerja sama itu itu juga berhasil menemukan nama tersangka. Barang-barang Roy berhasil ditemukan walau data-data dalam laptop rusak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sony Suryo hanya tertawa mengingat peristiwa itu. Menurut Sony, pernyataan Roy bahwa laptop itu ditemukan berkat kecanggihan teknologi, adalah omong kosong. Yang sebenarnya terjadi adalah kerja keras polisi. Polisi berkepentingan dengan laptop itu karena di dalamnya terdapat data-data polisi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Lha wong pencurinya sudah ketangkep terus ditanyai polisi, siapa yang nggak ngaku? Nggak ada itu yang namanya kecanggihan teknologi. Notebook yang dipasangi pelacak itu nggak mungkin," ujar Sony.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;"Di Indonesia tidak ada yang satelit yang bisa memancarkan sinyal (sehingga) bisa melacak notebook (yang hilang itu)," kata Sony.) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Entah apa lagi sensasi berikutnya yang bakal dipersembahkan Roy Suryo pada publik. Mari kita tunggu meski itu mungkin lagi-lagi tak penting! Melacak saya misalnya? &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-5008966319802697143?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/5008966319802697143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=5008966319802697143' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5008966319802697143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5008966319802697143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/07/balada-lagu-gaby-roy-suryo-memburu.html' title='Balada Lagu Gaby &amp; Roy Suryo Memburu Sensasi'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SIqkWGGqEeI/AAAAAAAAAK0/33Dbr2s91tI/s72-c/abe2t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-7045658962491559026</id><published>2008-07-16T08:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:23.938-08:00</updated><title type='text'>La Jenggo: Ksatria Pulau Khayangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SISthiMPy5I/AAAAAAAAAKs/YaV4sJF85e4/s1600-h/labora.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SISthiMPy5I/AAAAAAAAAKs/YaV4sJF85e4/s200/labora.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225492259282078610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Musim Nyamuk, 2008.&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-weight: bold; text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini aku kedatangan tamu istimewa dari sebuah desa yang jauh. Kawan sepermainan. Semasa kecil, orang-orang di desa kami memanggilnya La Jenggo –julukan orang Bugis yang artinya jago. Sementara dikalangan teman sepermainan, kami menjuluki La Jenggo sebagai Ksatria Pulau Khayangan. Kami lahir dan besar di sebuah desa yang bernama Pulau Khayangan. Nama desaku terbilang ganjil karena secara historis letaknya tidak dikitari lautan luas. Malah desa kecil itu dibelah jalan trans provinsi Makassar – Polman.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Kami menjuluki La Jenggo sebagai ksatria lantaran semasa kecilnya ia tak pernah memiliki cita-cita apapun selain ingin menjadi Brama Kumbara, Satria Madangkara. Pulang sekolah, sebelum waktu mengaji tiba, kami selalu menemui La Jenggo bermain di kebun kakao milik ayahnya yang telah ia klaim sebagai kerajaanya. Di sudut kebun, di atas pohon kedondong yang tak begitu tinggi, La Jenggo mengikat sebuah kursi rotan bekas sebagai kursi singgasana. Dan setiap saat La Jenggo akan menghabiskan waktu duduk di atas singgasananya dengan kepala dililit daun kakao yang telah dianyam layaknya mahkota raja. Lengkap dengan pedang bambunya yang ia selipkan di sisi kanan kursi rotan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Tanpa pernah minta persetujuan dari kami, La Jenggo selalu menganggap kami sebagai senopati kerajaannya. Setiap kami –sahabatnya; aku, suherman, sudirman, dan masri– datang mencarinya ke kebun kakao itu, maka La Jenggo akan menyambut kami dengan teriakan dari atas singgana rotannnya: “Selamat datang di istanaku wahai para senopati Pulau Khayangan!” Setelah itu ia akan turun dengan cara melompat layaknya seorang pendekar yang turun dari kuda tunggangannya. Ketika melompat, dari mulutnya akan keluar suara: seeet……!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Setiap hari, La Jenggo nyaris tak punya kegemaran lain selain menguping di depan radio transistor milik ibunya jika jam pemutaran sandiwara radio “Saur Sepuh” telah tiba. Ia bahkan bisa membagi konsentrasinya saat mengaji sembari mendengar suara radio. Suatu hari aku terpingkal-pingkal melihat kebiasaannya itu. Sambil melafal ayat-ayat Alqur’an kadang ia berteriak: “Bismillahi Rah……ayo Brama keluarkan ilmu lampah lumpuhmu!….Rahmani Rohim….Mantili, mana pedang setanmu, hadapi Lasmini!” Cara mengaji paling aneh yang pernah kudengar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Setiap saat La Jenggo selalu membagi peran pada kami. Aku dan teman-teman yang lain masing-masing telah mendapat julukan sesui tokoh-tokoh Saur Sepuh. Bahkan anak gadis Kepala Sekolah kami yang baru duduk di bangku kelas lima SD disebutnya sebagai Dewi Harnum, permaisuri Brama Kumbara, lantaran dirinya menyukai gadis kecil yang seumuran dengan kami itu. Pun kakeknya sendiri tidak luput dari peran yang tentu saja tidak pernah lelaki tua itu sadari bahwa di dalam imajinasi cucunya ia kini telah menjelma sebagai Eyang Astagina, guru silat Brama Kumbara. Hingga suatu hari, si kakek menyuruh La Jenggo untuk memikul buah kakao dari kebun ke rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;KAKEK : Jenggo, sana bantu Bapakmu angkat kakao!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="western" style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -2.54cm; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;LA JENGGO : (membungkuk hormat ala pendekar) Baik, Eyang   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="western" style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -2.54cm; text-align: justify;"&gt;                    &lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Astagina!       &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Sang kakek tentu saja bingung mendengar cucunya itu. Setelah itu La Jenggo berlari menyusuri pematang sawah di belakang rumahnya menuju kebun kakao. Cara berlarinya pun melompat-lompat kecil seperti seekor kuda yang berlari kencang. Jika telah sampai ketujuan, kadang-kadang dari mulut La Jenggo keluar suara menyerupai bunyi kuda: Hie hiek hiek….. kalo sudah begitu, bapaknya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putranya yang ajaib itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Pagi ini La Jenggo menginjakkan kaki di Kota Jakarta untuk pertama kalinya setelah terbang kurang lebih dua jam dari Kota Makassar. Tiga tahun lamanya kami tak pernah bersua. Tubuhnya kini semakin kekar saja dengan kulit legam tersengat matahari. Rambutnya keriting kering seperti malas dicuci. Wajahnya masih tetap jelek. Tinggal tunggu jambangnya tumbuh, maka sepantasnya ia dijuluki "Ksatria Bergitar". Masih ingat kan filmnya Bang Rhoma? Selama ini La Jenggo menghabiskan waktunya dengan bekerja sebagai petani di desa. Tiba-tiba nongol di Jakarta dengan cita-cita yang menurutnya telah ia pikirkan matang-matang. La Jenggo ingin menjadi bintang film!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Siapa tahu saya bisa mendapat peran sebagai Brama Kumbara,” ujarnya mantap! &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Mendengarnya, aku hanya tersenyum dan langsung melirik jempol kakinya yang hanya mengenakan sendal jepit –tadi ia melepas sepatunya di bandara. Seingatku dulu kedua jempol kakinya bonyok lantaran keseringan terendam di lumpur sawah dan menebar aroma yang lumayan sadis menyerupai bau dari Neraka. Hmmm, tambah parah! Kuku jempol kakinya sisa separoh, selebihnya tanah. Malah aku tidak bisa membedakan lagi mana tanah mana kuku kaki. Aku sempat mencandai jempol kakinya itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Wah, kalo jempol kakimu itu ditaburi biji tomat, bisa tumbuh subur pohon tomatnya!” &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;La Jenggo tak menimpali. Ia hanya tersenyum sinis. Matanya tak lepas memandang keluar jendela mobil. Sesekali geleng-geleng kepala melongok gedung-gedung tinggi menuding langit. Itu lumrah, sebab aku pun bertingkah macam itu ketika pertama kali menginjak tanah Jakarta. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Di pangkuannya ia meletakkan kardus yang yang jauh-jauh ia bawa dari desa. Aku sudah bisa menebak isi kardus itu apa; ebi mentah 1 liter + ikan kering + ikan seribu yang sudah digoreng, plus buras. Bekal merantau hasil racitan tangan ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Sementara taksi yang kami tumpangi dari Bandara Sokerano - Hatta, terus merayap menyusuri kelokan-kelokan Ibu Kota menuju rumah kosanku di kawasan Cilandak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini cuplikan novel &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Boraq Cambuq &lt;/span&gt;yang masih dalam tahap perampungan...&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-7045658962491559026?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/7045658962491559026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=7045658962491559026' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/7045658962491559026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/7045658962491559026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/07/surat-misterius.html' title='La Jenggo: Ksatria Pulau Khayangan'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SISthiMPy5I/AAAAAAAAAKs/YaV4sJF85e4/s72-c/labora.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-305026530206072534</id><published>2008-07-07T05:14:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:24.114-08:00</updated><title type='text'>Pria Dijajah Wanita: Fenomena Lagu Pop Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SHIKfEv3k8I/AAAAAAAAAJc/sYCTvIirGFo/s1600-h/ibez.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SHIKfEv3k8I/AAAAAAAAAJc/sYCTvIirGFo/s200/ibez.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220246447042565058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Nonton film Indonesia di bioskop belakangan ini serasa terperangkap dalam toilet yang klosetnya buntu atau terkurung di dalam kelambu berisi kentut seorang kawan yang baru saja melahap telur rebus. Bikin mual dan puyeng. Lantaran itulah aku merasa jenuh menulis review film dalam negeri. Selain hanya akan menambah sesak daftar dosaku, aku juga takut dijadikan kayu bakar di Neraka karena celaanku itu. Tetapi aku juga tidak bisa diam untuk pindah mengomentari lagu-lagu Indonesia belakangan yang terus bermekaran layaknya Jamur tumbuh di musim kemarau. Ajaib!    &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Telinga melayu suka lagu mendayu-dayu. Ungkapan ini adalah sebuah realita di kekinian dalam industri musik Indonesia. Mendengar lagu-lagu yang menduduki tangga hits lagu mana pun selama ini, aku seperti dipaksa menguping album Rhoma Irama –Syahdu 1 hingga Syahdu 3– 24 jam nonstop. Lumayan bikin teler!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Coba kita tengok band-band baru yang kini menjamur dengan warna musik yang nyaris seragam. Digawangi oleh band fenomenal: Kangen Band (baca B. Inggris; Kenjen Band), ada juga Drive, Vagetoz, D’ Masiv, Republik, Juliette, Matta, ST 12, dll. Mereka hadir dengan lirik-lirik cerita cinta ala roman picisan. Lirik-lirik yang mengisahkan tentang pria yang bermuram durja karena ditinggal wanita. Karena kehilangan cinta, seolah-seolah para pria itu akan mati besok. Bahkan menangis dengan air mata darah lantaran ditinggalkan sang kekasih. Jika dulu kita sering mendengar curahan hati wanita yang mengancam ingin bunuh diri jika diputus cinta, kini terbalik. Cemen banget!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku curiga, kelak jika sepasang suami istri tengah bertengkar hebat, justru si suami yang akan menangis sesenggukan sembari berteriak: “Pulangkan aku pada orang tuaku!” (hue he he he, jangan sampe deh. Kalo emang ada diantara kalian yang kayak gitu, mendingan itu “burung” potong aja trus jadiin liontin kalung buat si Viko, kucingku)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ironisnya justru para wanita yang kini bernyayi lebih riang meski kisahnya diputus cinta. Seperti T2, Aura Kasih, Mely Goeslaw, Dewiq, dll. Lirik dan nada lagu-lagu yang dilantunkan para biduanita Indonesia kini terdengar lebih agresif, centil, fun, dan cuek ketimbang para penyanyi pria yang cenderung meraung-raung cengeng memohon cintanya tak ditepikan. Parahnya, tehnik bernyanyi para vokalis band pria itu tak bisa dibedakan lagi antara sedang menyanyi atau menangis pilu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lihatlah bagaimana Maya &amp;amp; Friend berjingkrat-jingkrat enerjik dengan judul lagunya: Emang Gue Pikirin. Sementara Dhani Ahmad &amp;amp; The Rock tampil dengan lagu yang melow memohon-mohon pada Tuhan agar diberi kekasih yang baik hati: Munajat Cinta. Berikut kutipan lirik lagu The Rock.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Malam ini kusendiri/ tak ada yang menemani/ seperti malam malam/ yang sudah sudah/ hati ini selalu sepi/ tak ada yang menghiasi/ seperti cinta ini/ yang selalu pupus/ &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Tuhan kirimkanlah aku/ kekasih yang baik hati/ yang mencintai aku/ apa adanya/&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika menyelami lebih dalam, mungkin juga fenomena lagu-lagu ini adalah gambaran kehidupan kita saat ini. Dimana wanita dikekinian tak mau kalah lagi oleh pria dalam segala hal dengan seringnya kita mendengar sebutan: Wanita Karir. Tentu hal itu menyebakan pihak wanita merasa lebih mandiri tanpa harus bersandar lagi pada mahluk yang bernama pria. Dan kini tiba giliran pria mengemis-ngemis pada wanita?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berbeda pada era 80-an ketika kita banyak mendengar lirik-lirik lagu yang dinyanyikan pria dengan menebar makna ego, keras hati, dan selalu ingin menjajah wanita. Dan kenyataannya pada masa itu pria memang lebih mendominasi daripada wanita dalam segala bidang. Sekarang tak ada lagi ruang pasung untuk wanita yang dulu hanya ditempatkan di sumur, di dapur, dan di kasur! Zaman dimana wanita hanya bisa menunggu belas kasih dari pria yang suara hati mereka diwakili oleh para penyanyi seperti Betharia Sonata, Hetty Koes Endang, dan Nia Daniati. Wanita-wanita yang hanya bungkam dan menangis ketika pipi mereka ‘merah bekas tampar tanganmu’. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Situasi sekarang bagaimana? Begini, ada baiknya aku menceritakan kisah percintaan tetangga kos-ku: Namanya Armin, bekerja sebagai pramusaji pada sebuah restoran cepat saji di Jakarta. Pacarnya bernama Wina bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta. Suatu pagi aku memergoki mereka sedang bertengkar entah masalah apa. Aku menemukan Armin dalam kondisi mimisan kena tonjokan kekasihnya. Selain medapat serangan jet kiri di hidung, rupanya Armin juga menerima kalkulasi biaya makan yang selama ini disubsidi oleh Wina. Parahnya, sebelum melenggang pergi, Wina tak hanya minta uang tetapi juga minta putus. Maka mampuslah Armin! Pasca perang, seharian Armin hanya meringkuk di kamar kosnya sembari mendengar lagu Republik secara berulang-ulang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di bawah ini adalah petikan lirik lagu Republik yang berjudul, Hanya Ingin Kau Tahu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kutlah miliki/ rasa indahnya perihku/ rasa hancurnya harapku/ kau lepas cintaku/ rasakan abadi/ sekalipun kau mengerti/ sekalipun kau pahami/ kupikir kusalah mengertimu/ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ho ho aku/ hanya ingin kau tahu/ besarnya cintaku/ tingginya khayalku bersamamu/ tuk lalui/ waktu yang tersisa kini/ disetiap hariku/ disisa akhir napas hidupku/ ho ho ho ho……….&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Begitulah Armin mewakili pria masa kini dan begitulah lagu Republik menyuarakan rengekan hati pria yang sedang dirundung patah hati. Andaikata aku diberi kesempatan menjadi sutradara video klip lagu tersebut, maka tak lupa aku mengajak Armin sebagai telentnya. Visualnya seperti ini: slow motion seorang wanita dengan rambut tergerai melangkah pergi meninggalkan Armin yang tangah duduk di tanah sambil menggelosor-gelosorkan kedua kakinya, tangan kirinya tiada henti menggosok-gosok matanya yang basah, sementara tangan kananya menunjuk lurus ke arah wanita yang semakin menjauh itu. Tragis bukan? (he he he iseng banget ya imajinasiku)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lain Republik lain pula ST 12 (singkatan dari: es teh manis 12 gelas), di album kedua band asal kota Kembang ini sebuah lagu bejudul Puspa (judul diilhami dari merek lotion anti nyamuk) mengalun syahdu diantara dua genre musik; slow rock Malaysia dan dangdut koplo Padang. Entah apa yang menjejali tempurung kepala pencipta lagu Puspa tersebut hingga sukses melahirkan lirik-lirik sampah ala puisi Aco (tetanggaku di kampung yang masih duduk di bangku kelas enam SD Pinrang) Herannya, lagu Puspa itu bertengger pada posisi puncak 12 Terlaris NSP Telkomsel. Huh, dasar wajah Indo telinga Melayu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertama kali aku melihat ST 12 beraksi di atas panggung (memperjelas: TV) sepasang anting yang menggelantung di daun telinga vokalisnya itu mengingatkan aku pada styl kondektur-kondektur bus antar kota di Kuala Lumpur (memperjelas: penulis pernah menetap di Malaysia sebagai buruh kebun kelapa sawit). Namun mendengar lagu-lagu yang ia dengdangkan, aku pun jadi mahfum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suatu sore, pertengahan tahun 2007, aku bersama seorang kawan pernah bertandang ke studio music milik Pay &amp;amp; Dewiq di kawasan cempaka putih. Seorang wartawan musik dari media dotcom kebetulan sedang menodongnya dengan pertanyaan mengenai parkembangan musik tanah air kini. Apa jawab gitaris dan pencipta lagu kondang itu? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara kuantitas menggembirakan, secara kualitas menyedihkan!” jawab Pay singkat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Agaknya lagu berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;No Woman No Cry&lt;/span&gt; yang dipopulerkan legendaris reggae Bob Marley tak patut lagi dinyanyikan di negeri ini. Kecuali liriknya diplesetkan menjadi :  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;No Man No Cry&lt;/span&gt;....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;     &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;     &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-305026530206072534?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/305026530206072534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=305026530206072534' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/305026530206072534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/305026530206072534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/07/pria-dijajah-wanita-fenomena-lagu-pop.html' title='Pria Dijajah Wanita: Fenomena Lagu Pop Indonesia'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SHIKfEv3k8I/AAAAAAAAAJc/sYCTvIirGFo/s72-c/ibez.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-7881607304799155912</id><published>2008-06-19T00:11:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:24.282-08:00</updated><title type='text'>SEKADAR MENGISI KEKOSONGAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SFoHYzSwxmI/AAAAAAAAAJM/KN2pxP6p10g/s1600-h/malamjumatkliwon1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SFoHYzSwxmI/AAAAAAAAAJM/KN2pxP6p10g/s200/malamjumatkliwon1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213487641301927522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Melihat fenomena perfilman Indonesia belakangan ini, dimana hantu-hantu menggelikan kembali gentayangan dan mengerubungi bioskop-bioskop tanah air, maka dengan sengaja dan dalam keadaan sesadar-sadarnya, tanpa ada tekanan oleh siapapun, saya menayangkan kembali "best review" Sinema Indonesia. Selamat membaca....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;SUATU HARI DI KANTOR SEORANG PRODUSER “KORROR”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Shanker Rs. berdiri memandangi sebuah plakat yang baru saja digantungnya di dinding, tepat di atas kursinya. Tertulis:&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;“BEST PRODUCER OF HORROR&lt;br /&gt;SHANKER Rs.”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Plakat itu ditandatangani oleh seseorang dengan nama “KHRESNA Sr.”. Shanker telah belajar dari seseorang yang telah jadi&lt;em&gt; long-time collaborator&lt;/em&gt;-nya bahwa &lt;em&gt;you can be as many people as you wanna be&lt;/em&gt;. Dan, kalau tidak ada yang mau memberi pujian atas film-filmnya, “&lt;em&gt;your other self&lt;/em&gt;” selalu bisa diandalkan untuk untuk membuatnya kembali ceria.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia kembali duduk dan membolak-balik tumpukan skenario siap bikin yang berserakan di atas mejanya. Beberapa judul terbaca: “&lt;em&gt;Setan Tuyul&lt;/em&gt;“, “&lt;em&gt;Nini Towok&lt;/em&gt;“, “&lt;em&gt;Nenek Gerondong&lt;/em&gt;“, “&lt;em&gt;Kolor Ijo&lt;/em&gt;“. Dia terlihat kesal dan menelpon sekretarisnya.&lt;br /&gt;“Ya, Pak?” jawab sekretarisnya.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;You&lt;/em&gt; janji bawa skrip yang judulnya nama tempat. Mana?” hardik Shanker.&lt;br /&gt;“Nama tempat-tempat yang berhantu udah habis, Pak. Terakhir &lt;em&gt;Terowongan Casablanca&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;“AHH..! Bukannya ada satu lagi tuh. Di dekat Menteng, ada jembatan. I sering liat hantu-hantu di situ.” kata Shanker.&lt;br /&gt;“Itu Taman Lawang, Pak. Dan itu bukan hantu,” kata sekretarisnya.&lt;br /&gt;“AH, &lt;em&gt;I&lt;/em&gt; tidak mau tau. &lt;em&gt;You&lt;/em&gt; cari nama tempat yang berhantu.” Shanker menutup telpon.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pintu dibuka dan seseorang melongokkan kepalanya ke dalam sambil tersenyum lebar.&lt;br /&gt;“KOYA MY BRODEEERRR…” seru Shanker. Koya Pagayo masuk dan memeluk Shanker. Keduanya semakin lama semakin akrab, terlebih-lebih setelah peristiwa FFI 2006 yang membuat keduanya dicemooh secara nasional. Untung masih ada Kompas yang memuat kisah hidup Koya di halaman satu dengan dramatis dan membuatnya terlihat sebagai korban, ketimbang penjahat hak cipta.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;You got something for me, Broder&lt;/em&gt;?” tanya Shanker.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Yes&lt;/em&gt;. Gue punya ide brilian, Bro. Ceritanya…” Belum selesai Koya berbicara, Shanker memotongnya.&lt;br /&gt;“Judul, judul, Broder. &lt;em&gt;You &lt;/em&gt;tau&lt;em&gt; I &lt;/em&gt;tidak peduli soal cerita. &lt;em&gt;Title! Title!&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;“Malam Jumat Kliwon.” Koya tersenyum.&lt;br /&gt;“Malam… Jumat… Kliwon.” Shanker manggut-manggut. “JENIUS! JENIUS, Broder!”&lt;br /&gt;Keduanya tertawa dan berpelukan. Shanker mencengkeram pantat Koya dengan gemas.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ouch. I love when you do that, Bro&lt;/em&gt;,” kata Koya.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;I’ll give you another one later. Tell me&lt;/em&gt;… setan-setan apa aja yang bisa kita masukin di sini?” tanya Shanker.&lt;br /&gt;“Semua, Broder! Malam Jumat Kliwon itu malam setan-setan pada gentayangan!” Senyum Koya tersenyum lebar. Shanker tertawa dan kembali memeluknya.&lt;br /&gt;“JENIUS! JENIUS, BRODER!” Shanker kembali meremas pantat Koya.&lt;br /&gt;“Ouch. I love when you do that, Bro,” kata Koya.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;I’ll give you another one later&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Now tell me&lt;/em&gt;… tiap berapa menit sekali kita bisa menampilkan setan-setannya?” tanya Shanker.&lt;br /&gt;“Setiap menit, Broder! Malam Jumat Kliwon itu malam setan-setan pada gentayangan sepanjang malam! Dan sebagai bonus, gue bakal masukin satu adegan dari &lt;em&gt;Silent Hill&lt;/em&gt;!” Senyum Koya semakin lebar. Shanker kembali memeluk Koya.&lt;br /&gt;“JENIUS! JENIUS, BRODER!” Shanker kembali meremas pantat Koya.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ouch. I love it when you do that, Bro&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;I’ll give you one squeeze at the premiere&lt;/em&gt; setiap kali hantunya muncul, Broder,” kata Shanker.&lt;br /&gt;Koya tersenyum sumringah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba-tiba di luar terdengar anak-anak SMP mulai upacara bendera. Letak sekolah itu tepat di belakang kantor Shanker. Seorang anak terdengar membacakan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Saat anak itu akan sampai pada kalimat: “&lt;em&gt;untuk mencerdaskan kehidupan bangsa&lt;/em&gt;,” Shanker menutup jendelanya.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;I&lt;/em&gt; tidak suka kalimat itu, Bro. Bayangkan kalau orang Indonesia cerdas, kita susah cari duit, Broder.” kata Shanker.&lt;br /&gt;Koya hanya mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;“Ok lah. Ge cabut dulu, Bro. Persiapan suting,” Koya beranjak.&lt;br /&gt;“Ok, Broder. Jangan lupa perjanjian kita,” kata Shanker.&lt;br /&gt;“Don’t worry, Bro,” Koya keluar. Keduanya lupa untuk mencari cerita untuk film Malam Jumat Kliwon, tapi rupanya itu bukan masalah buat keduanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak lama kemudian, Malam Jumat Kliwon mulai ditayangkan di bioskop. Cerita ecek-eceknya tentang lima orang anak muda yang diteror setan-setan di sebuah bangunan bekas rumah sakit. Lucunya, tak ada satupun yang punya niat untuk keluar dari situ. Editingnya juga paling ancur yang pernah dilihat di film bioskop, dengan musik-musik yang masih curian. Tapi memang filmnya tetap laku. Pembukaan UUD 45 ternyata tidak jalan. Dan saat premiere, Koya duduk di sebelah Shanker. Tak ada satupun yang tahu, dari mana asal suara “OUCH!” setiap kali setan muncul di layar. Tapi kami tahu…&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-7881607304799155912?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/7881607304799155912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=7881607304799155912' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/7881607304799155912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/7881607304799155912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/06/sekadar-mengisi-kekosongan.html' title='SEKADAR MENGISI KEKOSONGAN'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SFoHYzSwxmI/AAAAAAAAAJM/KN2pxP6p10g/s72-c/malamjumatkliwon1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-1278064079516931825</id><published>2008-05-10T01:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-12T01:13:42.913-07:00</updated><title type='text'>ASRUL SANI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SMkuJPGPjoI/AAAAAAAAAPg/2pvs99agtuk/s1600-h/sani_5066.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SMkuJPGPjoI/AAAAAAAAAPg/2pvs99agtuk/s200/sani_5066.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244773977256070786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1 style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;/h1&gt;&lt;p class="western" style="font-family: arial;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Sketsa Perjalanan Kreativitas Seorang Sineas Legenda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: boraq cambuq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Siapa Asrul Sani?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="western"  align="justify" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hari itu, awal Juni 1927, tersiar kabar bahwa Permaisuri Raja &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Besar Nan Empat Belas&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; (nama sebuah kota kecil di daerah Rao Mapatunggul, bagian utara Sumatera Barat) sedang hamil tua dan tak lama lagi akan segera melahirkan. Karena kabar itu, selama sepekan rumah sang Raja disesaki oleh utusan atau wakil para petinggi adat &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Besar Nan Empat Belas &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;yang datang silih berganti. Mereka tak ingin melewatkan momen bersejarah bagi keluarga sang Raja.&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Begitulah, menurut kebiasaan yang belaku, jika permaisuri Raja akan melahirkan, maka seluruh perwakilan dari nagari mengutus wakil-wakilnya untuk menyambut kelahiran sang bayi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Pukul dua malam, tepatnya tanggal 10 Juni 1927. Kesunyian malam itu dipecahkan letupan senjata secara beruntun yang ditembakkan ke udara oleh penembak-penambak berbedil langsar. Beduk pun ditabuh meciptakan keriuhan yang tak biasa di malam hari bagi kota kecil itu. Keriuhan itu sekaligus sebagai pertanda atau semacam kabar bagi rakyat nagari bahwa keluarga sang Raja telah dianugerahi seorang anak. Dan oleh sang raja, bayi laki-laki yang baru lahir itu kemudian diberi nama: Asrul Sani.   &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Asrul tumbuh menjadi anak yang aktif dan gemar membaca. Beruntung ia memiliki ibu yang juga senang membaca. Bahkan ibunya memiliki perpustakaan pribadi yang kala itu masih berisi buku-buku terbitan Balai Pustaka. Dan menjelang tidur, Asrul selalu terlelap oleh buaian cerita-cerita rakyat yang didongengkan oleh ibunya. Mungkin saja hal itu yang menggugah bakatnya sebagai pencerita handal di kemudian hari.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Di sekolah, Asrul tergolong anak yang pintar. Ia dikenal lihai dalam hitung-menghitung dan selalu memperoleh nilai tertinggi dalam pelajaran itu. Karena bakatnya itu, setamat HIS, keluarganya mengusulkan agar ia melanjutkan pendidikan ke sekolah Koningin Wilhelmina School (KWS), semacam sekolah teknik di Batavia (Jakarta). Sebelum berangkat ke Jakarta ayah Asrul meninggal dunia. Benar dugaan ayahnya, Asrul lulus di KWS dengan nilai yang cemerlang. Namun itu tidak berlangsung lama sebab Asrul merasa tidak memiliki bakat dibidang teknik. Asrul memutuskan berhenti dan bersama ibunya ia kembali ke Rao.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Selama di Sumatera, Asrul mengisi hari-harinya dengan membaca buku-buku sastra dan sejarah kesusasteraan Yunani dalam bahasa Belanda. Ia mulai jatuh cinta pada sastra sejak membaca sebuah puisi karya penyair wanita Sappho (penyair abad ke-7 SM).  Ibu Asrul kemudian tak ingin melihat anaknya itu menganggur lama. Maka, ibunya menyarankan agar dirinya kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Akhirnya, Asrul yang baru berusia enam belas tahun ketika itu menyusul abangnya, Chairul Basri, ke Jakarta. Ibunya hanya berpesan agar di perantauan ia rajin shalat dan tak lupa berpuasa.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Seniman Yang Disegani&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Setibanya di Jakarta, Asrul memilih besekolah di Taman Siswa. Di kelas ia duduk sebangku dengan Pramoedya Ananta Toer. Dan di luar sekolah ia bergaul dengan beberapa seniman ternama seperti; Chairil Anwar, Rivai Apin, Cornel Simandjuntak, dan beberapa lagi lainnya. Masa itu revolusi sedang bergejolak. Asrul bahkan sempat ikut Lasykar Rakyat Jakarta, dan masuk tentara. Ia bergabung dengan Pasukan 001 sampai pada puncak revolusi ketika dicetuskannya proklamasi PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia).&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Usai Revolusi, tentara Jepang masuk ke tanan air dan menutup semua sekolah kecuali beberapa perguruan tinggi. Asrul Sani memilih melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Dokter Hewan di Bogor (sekarang Institut Pertanian Bogor). Satu-satunya sekolah yang luput dari kebijakan tentara Jepang menutup sarana pendidikan saat itu. Asrul rupanya tak betah berkutat dengan kuda dan jenis hewan lainnya. Ia justru tekun mempelajari berbagai jenis alat musik. Dalam tempo yang singkat, ia berhasil menguasai berbagai instrumen musik seperti biola dan klarinet. Selain itu, ia juga pandai bernyanyi. Asrul memang dikenal sebagai anak yang serba bisa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Pada akhir pendudukan Jepang, Asrul Sani mulai dikenal sebagai sastrawan. Diawali dengan menulis puisi yang kemudian dipublikasikan pada harian-harian di Jakarta yang terbit di masa itu. Karir Asrur Sani di dunia kesenian semakin menanjak. Bukan hanya puisi yang ditulisnya, cerpen dan esainya kemudian bertebaran di media-media cetak. Ia berhasil membawa namanya menjadi salah satu sastrawan yang disegani. Berikut penggalan salah satu puisi, “Surat Dari Ibu” karya Asrul Sani:&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Pergi ke laut lepas, anakku sayang&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Pergi ke alam bebas!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Selama hari belum petang&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;dan warna senja belum kemerah-merahan&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;menutup pintu waktu lampau.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Jika bayang telah pudar&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Dan elang laut pulang ke sarang&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Angin bertiup ke benua&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Tiang-tiang akan kering sendiri&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Dan nahkoda sudah tahu pedoman,&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 2.54cm; font-family: arial;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;i&gt;Boleh engkau datang padaku!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan para seniman yang sering berkumpul di kawasan Senen, Asrul dikenal berwawasan luas, cerdas, juga selalu berbicara tegas dengan bahasa yang elegan dan bersahaja. Pada setiap debat dalam komunitasnya atau di forum-forum, Asrul selalu tampil memukau dan membuat orang yang mendengarnya terkagum-kagum akan kecerdasannya. Bahkan tak jarang orang-orang sekitarnya terpingkal-pingkal mendengar kritiknya yang pedas dan kadang jenaka hingga membuat lawan debatnya tak mampu bersuara.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Pada suatu waktu, Ajip Rosidi menderita gout yang membuat tulang ruas jempol kaki kanannya terasa ngilu. Ajip datang dengan berjalan tertatih-tatih ke ruangan Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Ajip disapa oleh Asrul Sani, “Mengapa kaki kau, Jip?” Ajip Rosidi menjelaskan sesuai diagnosa dokter bahwa produksi asam urat dalam tubuhnya berlebihan hingga menyebabkan rasa sakit di tulang jempol kaki kananya. Asrul memberi saran dengan mimik wajah yang serius, “Coba kau periksakan gigimu, barangkali ada yang tak beres di situ.” Ajip mengikuti saran Asrul dengan mendatangi dokter gigi. Benar rupanya, setelah diteliti, dokter itu mengatakan bahwa gigi susuh bawah tumbuh miring, sehingga menumbuk gigi di sebelahnya. Harus di cabut. Pada kesempatan lain, Ajip beretemu lagi dengan Asrul di ruangan Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Kali ini Ajip yang menyapa Asrul denga pertanyaan, “Bagaimana kau tahu ada yang tidak beres dengan gigiku?”  Asrul menjawabnya dengan tenang, “ Karena hal seperti itu terjadi juga pada kuda.” Ajip baru sadar, Asrul memang dokter hewan!     &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Beberapa kali nama Asrul Sani tercatat sebagai redaktur atau jajaran redaksi di berbagai majalah ternama, seperti; Gema Suasana, Gelanggang, Siasat, Pudjangga Baru, Majalah Indonesia, dan Zenith yang dipimpin oleh H.B Jassin. Bersama dua sahabatnya Chairil Anwar dan Rivai Apin, Asrul menerbitkan buku kumpulan sajak yang berjudul: Tiga Menguak Takdir (1950). Dan disusul kemudian buku kumpulan cerpennya yang berjudul Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat. Masa itu pula Asrul sangat menaruh minat pada dunia teater.   &lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold; font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;Bukan Sineas Karbitan&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Tahun 1952 Asrul Sani diundang oleh Sticusa (Yayasan Kerjasama Kebudayaan Belanda) untuk tinggal di Eropa. Kesempatan itu digunakan Asrul untuk mendalami dunia teater di Akademi Senidrama Amsterdam. Di sana ia pun belajar tentang bloking pentas dan teori akting Stanilavsky. Berawal dari situ ketertarikannya pada dunia film mulai tumbuh. Ia pun mendalami dunia film secara serius. Karena sebelumnya ia pernah membantu Usmar Ismail menulis skenario film bejudul Long March. Sekembalinya dari Belanda ia kembali aktif dalam kegiatan sandiwara.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Asrul Sani berangkat lagi ke Amerika pada tahun 1956. Selama setahun di sana ia mendapat kesempatan mempelajari dramaturgi dan sinematografi di University of southern California. Sepulang dari Amerika ia bergabung dengan PERSARI (Persatuan Artis Republik Indonesia) yang dipimpin oleh Djamaluddin Malik. Perusahaan film yang tergolong besar ini dikenal sebagai perusahaan yang mengutamakan film-film komersial. Berbeda dengan PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) di bawah pimpinan Usmar Ismail dikenal beranggotakan seniman yang idealis. Asrul kemudian mempersatukan kedua lembaga ini lewat film berjudul Lewat Jam Malam. Asrul Sani menulis skenario, Usamar Ismail sutradara, dan Djamaluddin Malik sebagai produser.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Titian Serambut Dibelah Tujuh adalah film pertama yang disutradarai oleh Asrul Sani pada tahun 1961. Sebelumnya Asrul hanya menulis cerita dan skenario, antara lain; Terimalah Laguku (1952), Lewat Jam Malam (1954), Pegawai Tinggi (1954), Lagak Internasional (1955). Lantas ia kemudian menulis skenario dan menyutradarai film Di Belakang Pagar Kawat Berduri yang diadaptasi dari cerita pendek Trisnoyuwono. Film ini mengalami pengcekalan pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), yang dilakukan oleh orang-orang yang beraliran kiri yang tergabung dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Organisasi PKI itu juga menyerang organisasi KFT (Karyawan Film dan Televisi) karena menganggap organisasi tersebut pro kapitalis-imperialis yang ditunggangi Amerika Serikat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Asrul Sani bersama Usmar Ismail melakukan perlawanan dengan membentuk LESBUMI (Lembaga Seniman dan Buyawan Muslim Indonesia). Organisasi ini memberikan perlindungan kepada para seniman kreatif dan menjelaskan kepada masyarakat pentingnya fungsi berkesenian dalam kehidupan bangsa dan negara. Lewat Djamaluddin Malik, LESBUMI berhasil mendapat dukungan dari para kiai NU. Kehidupan kembali normal setelah PKI berhasil ditumpas pada akhir 1965, dan LESBUMI yang sempat aktif dengan menerbitkan majalah kebudayaan Gelanggang (1966) yang dipimpin Asrul Sani tak lagi terdengar gaungnya. Sejak saat itu, Asrul Sani total melibatkan diri dalam dunia perfilman. Ia bahkan ikut menggodok pembentukan peraturan yang mengharuskan importir film agar menyumbang untuk produksi film nasional. Peraturan itu berhasil meningkatkan gairah para produser serta mendongkrak produksi film dalam negeri.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Tahun 1970 Asrul kembali menyutradarai  sekaligus merangkap sebagai penulis skenario film, Apa Yang kaucari, Palupi? Dan film ini berhasil meraih pengharagaan pada Festival Film Asia. Sekaligus memecahkan rekor sebagai film Indonesia pertama yang mendapat penghargaan Festival Film di tingkat Asia. Tidak hanya itu, beberapa film yang skenarionya ditulis oleh Asrul juga mendapat piala Citra, antara lain; Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Al-Kautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh. Tahun 1972 Asrul secara berturut-turut membuat film lagi dengan memotret situasi masyarakat pada zaman itu yang masih dalam tahap pencarian jati diri. Film-film itu diantaranya; Salah Asuhan (1972), Bulan di Atas Kuburan (1973), Jembatan Merah (1973), Kemelut Hidup (1977). Untuk filmnya yang berjudul Para Perintis Kemerdekaan (1977), Asrul diganjar penghargaan khusus (special award) untuk cerita terbaik dalam FFI 1981.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Asrul Sani menjabat sebagai Ketua Dewan Film Nasional setelah ditunjuk oleh Menteri Penerangan Ali Murtopo di tahun 1979. Salah satu hasil penting dari Dewan Film ini adalah diterbitkannya buku Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Perfilman Nasional (P4-N). Asrul menjabat Ketua Harian Dewan Film sampai beberapa periode. Sejak saat itu ia mundur dari kegiatannya sebagai sutradara. Kreativitasnya ia fokuskan pada penulisan cerita dan skenario. Sepanjang itu Asrul berhasil meraih tujuh piala Citra untuk penulisan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Lewat film Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), nama Asrul kembali berkibar sebagai penulis cerita dan skenario yang mumpuni. Dan yang paling fenomenal adalah Nagabonar (1986) yang berhasil menarik perhatian berbagai kalangan untuk kembali menaruh perhatian pada film Indonesia. Kedua film itu menggegerkan jagad perfilman dalam negeri hingga menjadi perbincangan di mana-mana. Bahkan konon Menteri Depdikbud saat itu, Fuad Hasan, penggemar berat Nagabonar. Tidak sampai di situ, kiprahnya sebagai penulis dilanjutkan dengan menulis skenario film televisi yang tak kalah bobotnya. Pertama kali ia menulis cerita film televisi berjudul Mahkamah.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Karya Asrul kembali menjadi buah bibir setelah melakukan lompatan besar melalui skenarionya Siti Nurbaya sebagai film serial televisi. Cerita yang diadaptasi dari novel klasik karya Marah Roesli ini berhasil mencuri perhatian penonton. Itulah pertama kalinya film televisi yang kemunculannya amat ditunggu-tunggu penonton sekaligus sebagai karya sinematografi yang bermutu.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;Asrul telah membuka lembaran baru bagi industri televisi sebagai tempat yang dapat menampung karya kreatif yang serius dan membuka pintu bagi mereka yang ingin berkarya secara sungguh-sungguh. Setelah itu Asrul Sani menghibur penonton dengan menulis skenario Sengsara Membawa Nikmat. Tentu film mini seri ini masih melekat diingatan kita bagaimana ceritanya berhasil menggugah perasaan tanpa harus dibumbui dengan mimpi-mimpi semu belaka seperti yang kita temui pada banya Sinetron di kekinian. Tak bisa disangkali, bakat yang dimiliki Asrul Sani sulit ditemukan tandingannya. Selama berkecimpung di dunia film, ia dikenal sebagai sineas yang idealis tanpa pernah ikut terbawa arus.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Daftar Karya Film Asrul Sani:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Terimalah Laguku (1952)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Lewat Jam Malam ( 1954)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Pegawai Tinggi (1954)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Lagak Internasional (1955)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Buruh Bengkel (1956)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Titian Serambut Dibelah Tujuh  (1959)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Pagar Kawat Berduri (1961)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Ballada Kota Besar (1963)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Tauhid (1964)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Fajar Masih Menyinsing di  Permukaan Laut (1966)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Apa Yang Kaucari, Palupi? (1969)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Malin Kundang (1971)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Desa di Kaki Bukit (1972)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Mutiara Dalam Lumpur (1972)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Salah Asuhan (1972)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Bulan di Atas Kuburan ( 1973)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Jembatan Merah (1973)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Segenggam Harapan (1973)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Raja Jin Penjaga Pintu Kereta  (1974)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Ateng Mata Keranjang (1975)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Chica (1976)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Al-Kautsar (1977)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Pembunuh di Tengah Kita /  Gara-Gara Istri Muda (1977)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Istriku Sayang, Istriku Malang  (1977)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Kemelut Hidup (1977)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Para perintis Kemerdekaan (1977)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Dr. Siti Pertiwi Turun ke Desa  (1979)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Bawalah Aku Pergi (1981)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Titian Serambut Dibelah Tujuh  (1982)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Ke Ujung Dunia (1983)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Kejarlah Daku Kau Kutangkap  (1985)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Sebening Kaca (1985)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Bintang Kejora (1986)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Keluarga Markum (1989)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Nagabonar (1986)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Gema Kampus 66 (1988)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Istana Kecantikan (1988)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Nusa Penida (1988)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Nanti, Kapan-kapan, Sayang  (1990)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Nada dan Dakwah (1991)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Kuberikan Segalanya (1992)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Pelangi di Nusa Laut (1992)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Sorta (1982)&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Cerita &amp;amp; skenario Televisi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Gersang&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Ratna&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Monumen&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Mahkamah&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Arus Bawa&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Jaring Laba-Laba&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Siti Nurbaya (mini seri – 6  episode)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Sengsara Membawa Nikmat (mini  seri – 6 episode)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Gerhana Terpanjang&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Apa Yang Kaucari, Adinda?&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Kejatuhan&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Derai-Derai Cemara&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Naga Bonar (serial – 30  episode)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Pohon Kecil Mencari Matahari  (mini seri – 3 episode)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Rembulan Dalam Selubung   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Sripanggung&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Daerah Tak Bertuan (serial –  13 episode)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Si Bakhil   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Daerah Persinggahan&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Antara Kemarin dan Hari Ini   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Karinah&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;Balada Seorang Guru      &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="western"  align="right" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;(Tulisan ini ringkasan dari buku: Asrul Sani 70 Tahun, terbitan Pustaka Jaya)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;     &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h1 style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="font-family: arial;" class="western" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-1278064079516931825?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/1278064079516931825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=1278064079516931825' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/1278064079516931825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/1278064079516931825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/05/naga-bonar-apa-kata-asrul-sani.html' title='ASRUL SANI'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SMkuJPGPjoI/AAAAAAAAAPg/2pvs99agtuk/s72-c/sani_5066.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-3921458976359871897</id><published>2008-05-07T05:12:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:24.644-08:00</updated><title type='text'>In The Name of Love: seharusnya "Roma and Juminten"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SCGeNEvMc7I/AAAAAAAAAHc/ek8t53czrcc/s1600-h/In+The+Name+of+Love.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SCGeNEvMc7I/AAAAAAAAAHc/ek8t53czrcc/s200/In+The+Name+of+Love.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197609392409441202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, cerita film ini sangat menarik andai kata kita lebih dulu lahir dari William Shakespeare. Atau, akan lebih menarik lagi jika sutradaranya bukan Rudy Soedjarwo. In The Name Of Love serupa film yang kehabisan ide cerita. Ceritanya ‘disadur’ dari kisah cinta tragis Romeo and Juliet. Hanya saja, Rudy dan Titin Wattimena sebagai penulis skenario mungkin rada malu meniru total kisah klasik itu, maka endingnya dibelokkan sedikit di mana (katanya sih belum selesai alias bersambung seperti sinetron atau iklan Ponds) pemeran utamanya tidak jadi mampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudy Soedjarwo yang dulu mengawali karirnya dengan membuat film amatiran; Bintang Jatuh, Tragedi, sebaiknya gantung kamera saja dari dunia perfilman tanah air sejak ia menggarap film komersial dan berkualitas, Ada Apa Dengan Cinta? Agar dunia perfilman Indonesia selalu mengenangnya sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Saat itu, aku berharap besar perfilman Indonesia akan melaju kencang di tangan sutradara berbakat seperti Rudy. Namun pada kenyataanya, beberapa film berikutnya yang dibuat Rudy, seperti: Rumah Ketujuh, 9 Naga, Pocong 2, Mendadak Dangdut, dan Cintapucino, tidak membuahkan apa-apa yang patut dibanggakan lagi. Meskipun demikian, Rudy masih memiliki kelebihan yang jarang dimiliki sutradara film Indonesia lainnya, yaitu mengarahkan pemain dengan baik. Itu saja yang tersisa pada sosok Rudy Soedjarwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film In The Name Of Love disesaki bintang tua dan muda yang beradu akting antargenerasi. Bagaimanapun Rudy berupaya menghadirkan aktor dan aktris yang lumayan hebat (kecuali Luna Maya), untuk menutupi lemahnya cerita, tetap saja hasilnya adalah film kotor nan miskin emosi. Tampil mega bintang seperti; Roy Marten, Cok Simbara, Christine Hakim, Tutie Kirana, Lukman Sardi, dan beberapa bintang muda lainnya. Tak ketinggalan Acha Septriasa yang belakangan bermain apik di beberapa layar lebar. Sayang, akting Acha masih bisa dikatakan stereotype dengan mengandalkan air mata dan bibir yang digetar-getarkan demi penggambaran seseorang yang tengah menahan emosi tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini bertutur tentang Roma (Vino Bastian) yang menjalin hubungan cinta dengan Juminten (Acha Septriasa). Cinta mereka bermula di kantin kampus, ketika Roma menegur pakaian Juminten yang dianggapnya terlalu seksi dan bisa memancing lidah kaum pria menjulur-julur dengan liur menetes-netes layaknya anjing melihat tulang. “Pakaian lo itu nggak pantes,” begitu bunyi teguran Roma. Dan sejak itu mereka ingin mati karena cinta. “Cinta harus diperjuangkan!” pekik Roma pada suatu adegan yang dibuat agar memilukan. Itulah kalimat andalan sekaligus pesan film ini. Sebuah pesan yang pernah juga diteriakkan superstar kebanggaan kita, yang sepanjang hidupnya telah mematangkan niat menjadi penumpas segala kemaksiatan di muka bumi ini: Rhoma Irama, dalan film PERJUANGAN DAN DOA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya keluarga Romeo dan Juliet, Keluarga Roma dan Juminten juga telah lama berselisih dan menyimpan dendam lama yang terus membara. Perselisihan dua keluarga besar dan kaya raya itu menjadikan cinta Roma dan Juminten sebagai tumbal. Sepasang sejoli yang rela mati demi cinta yang tumbuh dari ‘teguran pakaian seksi’ itu akhirnya harus memperjuangkan cinta mereka dengan cara ‘berdarah-darah’ lari dari rumah dan hendak kawin lari. Apakah Anda (pembaca) juga tipe lelaki atau wanita seperti Roma dan Juminten? Yang rela membangkang nasehat orangtua, bahkan mempertaruhkan nyawa demi pasangan yang Anda kenal tiga hari lalu? Oh My God… hindarkanlah hamba dari anak-anak sedurhaka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ada yang menarik dari cerita film ini dan pada akhirnya nanti membuat aku terpingkal-pingkal dan spontanitas memaksa aku mengacungkan jari tengah ke layar bioskop. Menurutku ini adalah suspense atau semacam kejutan yang sungguh kurang ajar. Sepertinya Rudy sengaja melecehkan selera penontonnya. Begini, dalam kisah Romeo dan Juliet, Shakespears menciptakan pertarungan antara keluarga Capulet dan Montague berselisih karena persaingan bisnis. Dan film In The Name Of Love juga ingin menyuguhkan perselisihan antara dua keluarga yang dikemas misterius agar penonton penasaran untuk mengetahui apa gerangan yang membuat mereka saling membenci. Rudy berhasil membuat kita penasaran. Dan mau tahu alasannya dua keluarga Roma dan Juminten berselisih? Orangtua mereka ternyata pernah bersaing memperebutkan CINTA! Sebuah konflik yang sungguh cemen dan berhamburan di layar kaca (sinetron) setiap hari. Konflik ala sinetron yang kerap membuat penyakit maag-ku kambuh dan selalu mau muntah menahan mual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duuuh….capek menulis review film murahan macam ini. Sudahlah….sampai jumpa….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;In The Name of Love &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara: Rudy Soedjarwo&lt;br /&gt;Skenario: Rudy Soedjarwo, Titin Wattimena, Fahmi Rizal&lt;br /&gt;Produksi: Variant Circle Production&lt;br /&gt;Pemain: Vino G Bastian, Acha Septriasa, Christine Hakim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-3921458976359871897?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/3921458976359871897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=3921458976359871897' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/3921458976359871897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/3921458976359871897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/05/in-name-of-love-seharusnya-roma-and.html' title='In The Name of Love: seharusnya &quot;Roma and Juminten&quot;'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SCGeNEvMc7I/AAAAAAAAAHc/ek8t53czrcc/s72-c/In+The+Name+of+Love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-856413442822831945</id><published>2008-04-22T06:53:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:24.869-08:00</updated><title type='text'>KEKASIH “THE ROMAN PICISAN”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SA3uua4k4wI/AAAAAAAAAHM/8Ji7cReau8Q/s1600-h/Kekasih.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SA3uua4k4wI/AAAAAAAAAHM/8Ji7cReau8Q/s200/Kekasih.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192068426686063362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi cerita cinta usang digulirkan filmaker negeri ini. Sebuah film yang multi kotor di segala sektor terutama plot dan akting. Cerita adalah napas sebuah film, jika sejak awal mulai berembus sesak, akhirnya tinggal menunggu mati. Dari posternya, film Kekasih akan menggiring ingatan kita pada zona 80-an di mana masa itu Roy Marten belum mengenal sabu-sabu. Ya, film ini mengingatkan aku zaman di mana Roy Marten, Herman Felani, dan Rano Karno masih menguasai arena perfilman Indonesia sebagai bintang pujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis film ini bisa dikatakan sebagai tambalan-tambalan cerita film tempo doloe berlatar roman picisan: dikisahkan sepasang bocah dipertemukan Tuhan melalui kecelakaan mobil yang kelak menumbuhkan rasa cinta hingga mereka dewasa. Tak indah rasanya cinta jika tak ada tembok penghalang. Dan kedua orangtua Maria menjadi temboknya. Mereka tak ikhlas putrinya menjalin kasih dengan pemuda yang dianggapnya gembel. Akhirnya mereka dipisahkan selama delapan tahun. Maria kembali ke Yogya dan menemui Jiwo yang masih bermuram durja lantaran gelora cinta yang terpendam. Jiwo tumbuh menjadi pemuda yang pemurung bahkan nyaris bisu. Saking pendiamnya, ia tak perlu berkata-kata sedikitpun saat hendak melumat bibir Maria. Selalu begitu. Beruntung ia sebagai laki-laki bisa mendapatkan kekasih cantik dan setolol Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku curiga, skenario film ini sebetulnya ditulis di era 80-an oleh ayah Wisnu Adi, sang sutradara, dan belum sempat divisualkan sampai akhirnya industri perfilman kita jatuh pingsan. Suatu malam, Wisnu Adi mengutak-atik arsip ayahnya di dalam kamar dan ia menemukan bundelan kertas telah menguning dan lapuk dimakan rayap. Ternyata sebuah skenario yang belum tuntas. Wisnu tersenyum girang. Mimpinya membuat film akan segera terwujud. Segera ia bergegas menemui Bebi Hasibuan untuk menuntaskannya dan merncoba meramunya sedemikian rupa agar terasa lebih modern. Lantas ia menemui Chandra W untuk ia hasut agar bersedia memproduseri film yang akan dibuatnya berdasarkan skenario temuannya itu. Dan perbincangannya bersama sang calon produser malam itu berakhir dengan kata: deal! “Cerita yang sangat mengharukan….” Ujar Chandra lirih sembari mengusap air matanya usai membaca skenario di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharukan? Pada kenyataannya, adegan-adegan yang berupaya menguras air mata penonton justru menuai tawa yang bermakna melecehkan. Tengoklah adegan dimana Jiwo Samudro (Angga Dwisaputra) baru saja “memangsa” tubuh Maria (Vonny Kristianda), tanpa ada sebab mendadak lelaki kerempeng itu berteriak dengan kalimat cemen seperti ini: “Sepertinya kita tidak cocok, Maria!” beruntung kekasihnya itu tidak menjawab: “Apa gerangan maksudmu, Rudolfo?” Dan kelucuan itu diperparah lagi oleh suara Jiwo yang berteriak dengan suara cempreng bak kaleng susu yang diseret di atas jalan beraspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, dialog-dialog yang ada dalam film ini sebagian dikutip dari lirik-lirik lagu ciptaan Leo Waldy, Imam S Arifin, atau juga Deddy Dores. Puitik nan syahdu. Seperti kalimat: Apalah arti diriku ini….kita mau kemana sih?…kemana waktu akan berjalan….bukankah cinta adalah kematian? Begitulah, kutipan kalimat-kalimat menggelikan diatas hanyalah separoh dari banyaknya ungkapan konyol dalam film ini. Sungguh, tak ada suspense sedikitpun dalam bangunan plot yang akan mengantar penonton mencapai klimaks. Bahkan untuk menciptakan konflik film ini terlihat gagap dan akhirnya berujung gagal. Lihat saja adegan ketika Jiwo murka di warung lesehan hanya karena Maria tak berselera menyantap makanannya. Dan dilanjutkan dengan adegan Maria yang tanpa alasan jelas tiba-tiba mampir berkhotbah tentang kekejaman Hitler sambil mencaci-maki sekelompok anak punk yang tengah mabuk di tepi jalan. Tak urung Maria mendapat perlawanan dari mereka. Dalam kekacauan yang dibuat-buat itu datanglah Jiwo sebagai pahlawan yang hendak membebaskan kekasihnya dari marabahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini juga dibanjiri pengadeganan klasik alias basi yang banyak ditemukan di film-film romantis, misalnya; mengisap jari kekasih kita yang berdarah teriris pisau, membuka jaket kita lalu menyelimuti sang kekasih meski ia sebetulnya tak kedinginan, mengusap darah di bibir kekasih yang baru saja menjadi pahlawan kesiangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi pemain sungguh amburadul. Performance mereka berada dititik nadir. Akting Si Unyil dan kawan-kawan di TVRI dulu, jauh lebih baik daripada akting para pemain film ini. Denting piano Pongky “JIKUSTIK” sebagai music score yang mengalun mendayu-dayu tak mampu menggetarkan hati pendengarnya lantaran di segala sektor tak ada yang mendukung. Kehadiran Iwan Fals sepersekian menit membawakan salah satu lagu yang menjadi soundtrack film Kekasih lumayan menghidupkan suasana. Sayang, semua itu hanyalah semacam usaha yang sia-sia belaka tanpa mampu memberi power pada film ini. Siapapun penyanyi legenda yang akan hadir bernyanyi di film sekotor ini, hanya akan membuang-buang waktu saja. Percayalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kekasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara: Wisnu Adi&lt;br /&gt;Skenario: Bebi Hasibuan&lt;br /&gt;Produksi: Grandiz Media Productions&lt;br /&gt;Pemain: Vonny Kristianda, Angga Dwi Saputra, Farah Diana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-856413442822831945?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/856413442822831945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=856413442822831945' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/856413442822831945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/856413442822831945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/04/kekasih-roman-picisan.html' title='KEKASIH “THE ROMAN PICISAN”'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SA3uua4k4wI/AAAAAAAAAHM/8Ji7cReau8Q/s72-c/Kekasih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-1861725864762333046</id><published>2008-04-16T20:59:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:25.021-08:00</updated><title type='text'>PLANET MARS: Entah, Selembar Handuk?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SAbPm_IIcpI/AAAAAAAAAHA/M5H2oVJZq7w/s1600-h/planet+mars.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SAbPm_IIcpI/AAAAAAAAAHA/M5H2oVJZq7w/s200/planet+mars.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190063889278595730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western" lang="id-ID"&gt;Planet Mars yang konon katanya hanya menampakkan batang hidungnya 800 tahun sekali tak ada hubungannya sama sekali dengan cerita film ini, dan film yang sungguh tidak menarik ini tak ada hubungangannya dengan Planet Mars. Bahkan di film ini, aku melihat Planet Mars seperti sebuah handuk berwarna oranye milik ibu dari Kapal (Yogi Finada) dan Donat (Ariyo Wahab), yang senantiasa setia bertengger di pundak wanita tua itu. (Tunggu sampai anda melihat adegan putaran planet berpindah ke gambar sebuah handuk yang menggantung di jemuran. &lt;i&gt;Lho, kok aku jadi ngawur sih…? Maklum lagi teler habis menenggak tujuh gelas Ballo) &lt;/i&gt;Planet Mars hanyalah akal bulus Reka Wijaya untuk menimbulkan kesan bombastis atau mungkin sebuah usaha untuk menutupi kebingungannya mendapatkan judul yang tepat bagi cerita garingnya itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western" lang="id-ID"&gt;Terlalu sederhana premis dan plot yang terbangun di film ini. Dituturkan satu keluarga kecil nan bahagia yang hidup dalam kompleks perumahan. Mereka dikitari aneka jenis tetangga yang memiliki keganjilan riwayat hidup masing-masing. Adalah Kapal anak muda yang bawel berkenalan dengan gadis bernama Jasmine (Artika Sari Devi) di salah satu stasiun radio swasta di Kota Jakarta. Tanpa diminta, Kapal langsung meramal atau lebih tepatnya mengutuk kenalan barunya itu bahwa kelak si gadis akan mengalami kebotakan, ditabrak motor, dipecat dari kerjaan sampai perawan tua. Jasmine tersugesti dengan ocehan Kapal lantaran menemukan rambutnya rontok ketika bersisir, atasannya suka mengomel di kantor, dan sampai hari itu belum juga mendapat cowok. Jasmine menemui Kapal di rumahnya agar segera menarik kutukannya itu mesti ia ditawari berbagai persyaratan. Di rumah inilah, Jasmine mengenal cowok bernama Donat yang tak lain adalah kakak Kapal, dan akhirnya mereka menjalin hubungan asmara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;esuatu yang sederhana tidak selalu harus berakhir buruk. Ada juga kesederhanaan yang membuahkan kisah yang gemilang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Seperti beberapa film Steven Soderbergh yang  membuat film-film realis, tema sederhana, namun berisi. Sayangnya, &lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;film ini memaparkan kesederhanaan yang tidak penting untuk diceritakan. Tak ada klimaks yang membikin pantat kita betah merapat di kursi bioskop. Berikut akting para bintang yang tidak bisa dikatakan baru lagi: Artika Sari Devi, Ar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;i&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;yo Wahab, dan Yogi Finanda, tampil kurang maksimal mengurangi kredibilitas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Akting mereka sungguh &lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;buruk. Di departemen sinematografi &amp;amp; artistik juga ikut hancur-hancuran serupa film yang kekurangan budget.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Scoring yang digawangi Baim tak membuahkan melodi yang enak di telinga, bahkan mengganggu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western" lang="id-ID"&gt;Diusung sebagai film bergenre komedi, film ini sama sekali tak lucu. Dialog-dialog yang dilontarkan para tokohnya pun terkesan garing bagai kacang tanah yang baru dijemur. Nggak enak dan bikin perut mules. Ah, Tidak perlu membodohi diri dengan berpanjang-panjang menulis review film yang tergolong kotor seperti ini. Buang-buang kalori saja. Kalau mau tertawa, mendingan nonton Tom &amp;amp; Jery aja di televisi. Lebih bagusan film kartun itu dibandingkan film anak negeri satu ini. Akhir kata: Planet Mars? Jangan gila dooong….!  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Planet Mars&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="western" lang="id-ID"&gt;Sutradara: Reka Wijaya&lt;br /&gt;Skenario: Reka Wijaya&lt;br /&gt;Produksi: Ganesa Perkasa Films&lt;br /&gt;Pemain: Artika Sari Devi, Yogi Finanda, Ariyo Wahab, Adhitya Putri, Eka “THE BRANDALS”  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-1861725864762333046?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/1861725864762333046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=1861725864762333046' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/1861725864762333046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/1861725864762333046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/04/planet-mars-entah-selembar-handuk.html' title='PLANET MARS: Entah, Selembar Handuk?'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SAbPm_IIcpI/AAAAAAAAAHA/M5H2oVJZq7w/s72-c/planet+mars.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-5881646720823136059</id><published>2008-04-15T02:44:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:25.144-08:00</updated><title type='text'>Kesurupan: Penghianatan Seorang Hero [Rizal Mantovani]</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SAR5e_IIcoI/AAAAAAAAAG0/a-o15qtqhHY/s1600-h/Kesurupan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SAR5e_IIcoI/AAAAAAAAAG0/a-o15qtqhHY/s200/Kesurupan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189406243886232194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita film ini ibarat bentangan rel kereta api yang besinya telah tua dan berkarat. Meskipun alurnya lempeng tanpa kelokan, namun sangat membahayakan jiwa penonton film Indonesia. Film ini sempurna mengulang kegagalan film horor negeri ini dengan penyajian premis yang itu melulu dan berpotensi men-jungkirbalik-kan perfilman kita ke jurang kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, otak penebar bencana itu adalah seorang filmmaker handal yang sudah cukup lama melanglang buana dan di jagad sinema Indonesia: Rizal Manthovani. Sosok yang satu ini bahkan cukup disegani oleh “sebangsanya” para penggiat film. Bahkan sejarah kebangkitan film kontemporer di negeri mencatat namanya sebagai salah satu hero yang ikut menyadarkan perfilman Indonesia dari kondisi pingsan bersama tiga rekannya; Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T Achnas dengan sebuah film kolaboratif berjudul Kuldesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Rizal tengah kesurupan ketika terbersit ide membuat film terbarunya ini. Hingga ia tak peduli lagi denga tinta emas yang memahat namanya ketika berhasil meneror penonton dengan film Jelangkung. Tak disangkali duet mautnya bersama Jose Poernomo ketika itu patut diacungi jempol. Terbukti film garapannya itu tercatat sebagai salah satu Film Indonesia yang menghasilkan laba terbanyak sebelum film Ayat-Ayat Cinta yang belakangan laris dengan alasan tidak jelas. Seperti yang kita tahu, Jelangkung adalah film horor yang menjadi pelopor bangkitnya segala jenis hantu di negeri ini yang hingga kini terus bergentayangan tiada henti menakut-nakuti penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesurupan adalah film horor ke-lima Rizal setelah Jelangkung, Kuntilanak 1, Kuntilanak 2, Kuntilanak 3 setelah gagal dalam film bergenre komedi romantis Jatuh Cinta Lagi. Aku pikir, trauma kegagalan “sutradara muda berbahaya” kita yang satu ini terletak pada karyanya yang terakhir disebutkan. Jika ditelisik dengan kalkulasi jumlah penonton, jelas film yang dibintangi Krisdayanti dan Gary Iskak si Cambang Sabu itu mendulang rugi. Makanya Rizal menjatuhkan pilihan bergelut dengan hantu-hantu saja. Lantaran sekotor apapun sebuah film horor, konon memiliki jumlah penonton yang cukup lumayan untuk digerogoti isi kantongnya. Buktinya, sampai saat ini poster Kesurupan masih berkibar di beberapa bioskop Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa film sekotor Kesurupan bisa laku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran penonton jenis film ini biasanya didominasi laki-laki buaya lapar yang kebetulan mandapat mangsa baru. Coba perhatikan mereka yang memilih nonton film horor, dipastikan mereka adalah muda-mudi yang datang berpasang-pasangan dan berebut memilih kursi bioskop paling pojok. Dan strategi “kesempatan dalam kegelapan” para penonton buaya lapar itu terbukti jitu. Ketiak mereka selalu laris sebagai tempat berlindung oleh para calon mangsanya yang ketakutan melihat penampakan hantu menjijikkan di layar lebar. Sementara si buaya lapar itu tidak konsentrasi lagi pada alur cerita film di depan mata, melainkan pikiran mereka terfokus di samping mata pada dua gundukan daging di balik baju pasangannya. Lutut mereka gemetar bukan karena ketakutan, melainkan bergetar karena terbakar nafsu birahi. Maka berhati-hatilah kalian wahai para wanita yang doyan film horor. Tanpa kalian sadari, sebenarnya Setan paling berbahaya berada di samping Anda. Ingat, kejahatan tidak hanya terjadi di kegelapan jalan, tetapi bisa juga terjadi di kegelapan bioskop. Waspadalah! Waspadalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Kesurupan adalah kisah klasik film horor Indonesia yang sudah sangat basi hingga membuat kita ingin muntah setelah menontonnya. Dikisahkan seorang mahasiswi baru benama Alin (Shareefa Daanish) yang menemukan sebuah boneka berkepala mirip Ki Joko Bodo di belantara hutan saat sedang mengikuti ospek yang dipimpin oleh Marik, diperankan aktor muda berbahya, Nicholas Sapulidi/Andhika Pratama. Iseng, Alin mengantongi Ki Joko Bodo ke perkemahan. Maka dimulailah aksi kesurupan itu. Meskipun Alin telah dipulangkan ke rumahnya, hantu bersuara robot itu terus merasuki tubuhnya. Tak tanggung-tanggung, ia kerap melompati jendela kamarnya yang terletak di lantai dua tanpa sekalipun mengalami cedera patah kaki. Dan film horor kita selalu tak asyik tanpa kehadiran seorang dukun, yang kemudian menyarankan pada keluarga dan teman-teman Alin agar boneka Ki Joko Bodo dikembalikan ke asalnya jika ingin aman dari teror roh Ki Sarwana Atmadirga. Begitulah, cerita yang sangat busuk telah dihidangkan seorang Rizal Manthovani kepada kita semua. Sebuah penghianatan kepada “sebangsanya” sekaligus penghinaan bagi penonton Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir lupa, di film ini kita juga dapat menikmati akting Nia Ramadhani yang sangat sinetronistik, bahkan abstrak sejak pertama kali nongol sebagai aktris. Di sini ia berperan sebagai Fely, sahabat Aline. Kupikir ia tak perlu repot-repot mengikuti casting untuk ikut meramaikan film sekotor ini, sebab ia cukup dikenal sebagai titisan Suzanna yang lihai bermain film horor. Selain itu, film Kesurupan memang sangat membutuhkan karakter di mana hanya Nia yang bisa memerankannya: seorang gadis yang mau merelakan bibirnya dikunyah lawan mainnya pada adegan yang tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, semula aku (dalam kondisi teler setelah menenggak lima gelas Ballo) tidak percaya film yang diproduseri duet Punjabi: Dhamoo &amp;amp; Manoj ini lahir dari tangan dingin Rizal Mantovani. Aku pikir film ini hanyalah sebuah karya seni bertema mistik hasil garapan tangan kutu-kutu busuk seperti si kembar siam; Koya Pagayo, Nayato Fionuala, Pinkan Utari. Dan dengan berat hati, aku akan menulis dengan tinta merah nama Koya Pagayo sebagai sutradara handal film hantu sejengkal di atas deretan nama Rizal Mantovani. Sebuah penghormatan? Rizal, ada baiknya Ente back to basic membuat video klip dan memulai kembali membangun nama Ente yang rusak itu dengan menyutradari video klip Kangen Band!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Kritikus Mabuk dari Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesurupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara: Rizal Mantovani&lt;br /&gt;Skenario: Aviv Elham&lt;br /&gt;Produksi: MD Pictures&lt;br /&gt;Bintang: Nia Ramadhani, Andhika Pratama, Shareefa Daanish&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-5881646720823136059?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/5881646720823136059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=5881646720823136059' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5881646720823136059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5881646720823136059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/04/kesurupan-penghianatan-seorang-hero.html' title='Kesurupan: Penghianatan Seorang Hero [Rizal Mantovani]'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SAR5e_IIcoI/AAAAAAAAAG0/a-o15qtqhHY/s72-c/Kesurupan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-6132891727405591850</id><published>2008-03-27T21:31:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:25.342-08:00</updated><title type='text'>DO = Doyan Onani</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R-x3MO-rLPI/AAAAAAAAAGs/XGOll1XMgOE/s1600-h/poster_do_preview.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R-x3MO-rLPI/AAAAAAAAAGs/XGOll1XMgOE/s200/poster_do_preview.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182648323259706610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Tersebutlah seorang mahasiswa bernama Jemi (Ben Joshua) yang mahatolol dan sangat doyan onani. Ia kuliah di sebuah kampus yang lebih meyakinkan disebut museum, tempat bersemayam fosil-fosil mahluk purbakala. Jemi tak kunjung lulus lantaran kerjanya; malam onani, siang sibuk mempersentasekan kitab sex yang ditulisnya berdasarkan pengalaman yang sama sekali tak pernah ia alami. Karena nantinya si Jemi ini diketahui ternyata masih perjaka. Di dalam museum itu tersebut pula seorang juru kunci bernama Dr. Marjoko (Dr. Boyke) yang tidak pernah memuaskan sex istrinya sehingga tiap hari mendapat makian dari sang istri (Donna Harun). Pada akhirnya datanglah Sang Dewi Penolong ke museum itu untuk menyelamatkan si Jemi dari ketololannya. Sang Dewi Penolong bernama Lea yang diperankan oleh Titi Kamal. Dikisahkan Ibu Lea bersedia menjadi dosen pembimbing Jemi dengan syarat mau barter ilmu sex. Akhir kisah, si Jemi lulus menjadi sarjana sex.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Inilah film komedi yang sangat mengharukan. Semakin pemain-pemainnya melontarkan kalimat- kalimat lucu, semakin pilu hati ini. Betapa pun pemainnya bersusah payah menciptakan gerakan untuk memancing tawa penonton justru semakin penonton ingin menangis dibuatnya. Entah apa yang ada di dalam tempurung kepala VE Handojo ketika menulis skenario film ini. Barangkali ia tengah sakit gigi atau perutnya lagi keroncongan saat menulis ceritanya sehingga maksud hati ingin menulis cerita komedi tapi berbuah cerita yang membuat penonton menangis sedih. Ya, menangis lantaran menyesal telah membuang-buang duit dan waktu hanya untuk nonton film sebusuk ini. Saran buat VE Handojo, lebih baik anda &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;back to basic &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;menulis skenario horor, lanjutkan Kuntilanak 4 meskipun ceritanya sudah tuntas di Kuntilanak 3.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Aku curiga, skenario film DO mulanya ditulis hanya untuk memproduksi sebuah FTV. Namun berhubung MVP PICTURES tak menemukan script yang layak, maka “Tak Ada Akar Raam Punjabi”. Sang produser akhirnya menyerahkan naskah keramat ini pada Winaldha E. Melalatoa untuk diramu menjadi sebuah film yang mengharukan. Untung film ini tak begitu laris. Kondisi ini kembali menyadarkan aku bahwa penonton film Indonesia tak selalu bodoh menjatuhkan pilihan dalam menentukan selera tontonan. Aku membayangkan, seandainya film ini laku terjual, mungkin saja Asrul Sani akan meloncat dari liang kuburnya dan gentayangan mencari Raam Punjabi untuk ia cekik sampai mati lantaran telah mengotori perfilman Indonesia yang baru saja sadar dari pingsan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Alur cerita film DO sama sekali tak memikat bahkan hancur lebur sebagai sebuah karya seni. Seperti lirik lagu Peterpan: “Kaki di kepala, kepala di kaki”. Tak ada reaksi kimiawi antara karakter yang dihidupkan. Walaupun tokoh Lea atau Dr. Marjoko ditiadakan, tidak ada pengaruhnya sama sekali pada bangunan cerita. Ditambah kehadiran cameo-cameo yang juga sama sekali tak penting. Antara lain kehadiran Sarah Sechan berperan sebagai Ibu Kos yang pelit dan haus sex &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;(mungkin artis kita yang satu ini telah ditakdirkan oleh Yang Kuasa untuk selalu mendapat peran yang sama: perempuan perokok dengan tingkat libido yang luar biasa).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Tanpa itu semua, film ini akan sama saja: busuk. Bagaimana pun, aku harus belajar menghargai usaha keras VE Handojo dan Winaldha E. untuk menciptakan kelucuan-kelucuan dalam filmnya. Mereka berusaha memulai humor garing itu dengan pemilihan nama-nama tokoh, antara lain; Banci, Ketek, dan Germo. Huahahaha, mari kita menertawai nama-nama itu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;Semula, kehadiran Titi Kamal menumbuhkan setitik harapan film ini bisa selamat dari kehancurannya sebelum cerita berakhir. Namun sayang, penampilannya kali ini ikut hancur berkeping-keping. Di film inilah akting Titi Kamal kutemui paling amburadul selain akting-nya di beberapa sinetron yang ia bintangi di layar kaca. Sekaligus membuktikan kurang kreatifnya seorang sutradara yang bernama Winaldha E. dalam mengarahkan pemain-pemainnya. Lihat saja ketika adegan dimana Titi kamal pertama kali muncul: berjalan menyusuri lorong kampus dengan gerakan slow, gadis ini membiarkan rambut panjangnya tergerai ditiup blower disertai sorot mata yang binal….suit…suit…persis iklan shampoo atau mungkin iklan permen murahan. Framing basi! Atau keindahan seorang Titi Kamal memang hanya dapat ditemukan pada sudut pandang yang serupa itu? Seingatku, gerakan semacam itu telah berkali-kali ia ulangi dalam film, iklan, maupun sinetron. Kok mau nurut aja sih? Itukan penghinaan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Meskipun dalam keadaan mabuk &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;(beberapa gelas Ballo aku tenggak hingga tandas sebelum ke bioskop),&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;aku ingin mengajak para pembaca untuk memanjatkan doa: “Ya Tuhan kami, hindarkanlah kami pada film-film sebusuk ini. Film yang hanya akan merusak generasi bangsa ini dengan pesan-pesan yang sangat buruk nan menyesatkan: sex education, yang artinya, belajarlah tentang sex untuk dapat meraih gelar sarjana….masyaallah…..dan bebaskanlah kami dari cengkraman aktor-aktor tak berkualitas seperti Ben Joshua yang hanya mengandalkan lesung pipitnya….Ya Allah ya Tuhan kami, selamatkanlah calon-calon sarjana negeri ini dari kebiasaan onani…amin.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;DO&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Drop Out&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sutradara: Winaldha E. Melalatoa&lt;br /&gt;Skenario: VE Handojo&lt;br /&gt;Produksi: MVP Pictures&lt;br /&gt;Bintang: Titi Kamal, Ben Joshua, Dimas Aditya, Dr. Boyke&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-6132891727405591850?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/6132891727405591850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=6132891727405591850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/6132891727405591850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/6132891727405591850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/03/do-doyan-onani.html' title='DO = Doyan Onani'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R-x3MO-rLPI/AAAAAAAAAGs/XGOll1XMgOE/s72-c/poster_do_preview.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-5755188746490488888</id><published>2008-03-27T21:14:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:25.454-08:00</updated><title type='text'>AYAT-AYAT CINTA = LIRIK-LIRIK DANGDUT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R-x0Iu-rLOI/AAAAAAAAAGk/zgIjvi76eCk/s1600-h/ayat_ayat_cinta_poster_preview.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182644964595281122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R-x0Iu-rLOI/AAAAAAAAAGk/zgIjvi76eCk/s200/ayat_ayat_cinta_poster_preview.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hari ini antrian penonton Ayat-Ayat Cinta tak lagi panjang layaknya kereta api yang mogok. Tetapi film ‘Roman ala Bombay’ racitan Hanung Bramantyo ini masih mendominasi pengunjung bioskop. Sebelum berangkat dari rumah, tak lupa aku menenggak lima gelas &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Ballo (sejenis arak asal Makassar yang merupakan minuman favoritku sejak mulai keranjingan keluar masuk bioskop nonton Film Indonesia). &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Entah kenapa aku&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;suka nonton film Indonesia dalam kondisi teler.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Antara pesawat dan film Ayat-Ayat Cinta&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;…&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.dan usai nonton AAC, orang pertama yang ingin aku kutuk jadi Pangeran Kodok adalah: BJ Habibie. Karena beliaulah aku terpengaruh datang untuk ikut antri mendapatkan selembar tiket. Kalimat yang terlontar dari bibir BJ Habibie masih mendengung di liang telingaku. Begini kata kakek itu di depan kamera infotainment dengan bola mata&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;berputar-putar layaknya dua butir kelereng berpusing-pusing dalam cawan: &lt;/span&gt;“&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Filmnya scangat bhagus, en scaya menetskan air mata ketika pherempuan itcu tcerbaring csakit….” (kuduga Pak Habibie ada hubungan darah dengan artis muda Cinta Laura),&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;kalimat yang bermakna promosi bagi sebagian besar penonton Indonesia. Kek, ini bukan acara peluncuran pesawat baru…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Penyesalan yang mungkin akan terus membuntutiku hingga keliang kubur adalah mengapa aku mesti percaya pada kata-kata tokoh seperti; BJ Habibie, Hidayat Nurwahid, dan AM Fatwa yang mungkin masa remaja mereka diisi dengan hiburan bersama pacar nonton film-film India di bioskop-bioskop tua zaman dulu. Terang saja beliau-beliau ini kegirangan nonton AAC. Aku malah membayangkan di dalam bioskop mereka tak henti-henti bertepuk tangan sembari menyeka air mata. Sungguh aku menyesal. Mengapa aku tidak mendengar hasil analisa Eric Sasono, Yan Wijaya, atau Garin Nugroho yang mengatakan film ini biasa-biasa saja untuk ukuran film Indonesia. Bagaimana jika disandingkan dengan film Hollywood? Terlalu bodoh memang. Sangat jauh…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Tak bisa disangkali kebanyakan dari penonton film negeri ini didewasakan film-film Bollywood yang khas dengan cerita cinta merah jambu, mengharu biru, mandayu-dayu, melankolis, puitik dengan lirik-lirik yang cengeng, dan selalu memaksa penonton untuk menitikkan ‘air mata Bombay’. Sejak perfilman Indonesia mengalami “pingsan”, kita tak bisa menghindari serbuan film-film India yang nyaris 24 jam menari-nari di layar TV. Mungkin itulah yang menyebabkan kata MENGHARUKAN mengandung energi Hypnosis untuk digunakan menggiring penonton ke bioskop. Percayalah, film-film mengharu biru miskin logika ala Kejamnya Ibu Tiri akan selalu ampuh menyedot jutaan penonton di negeri ini. Oh, betapa mengharukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pertanyaan yang kemudian timbul adalah benarkah cerita film AAC mengharukan? Bagi aku, tidak sama sekali. Bahkan keluar dari ruang bioskop tak satupun kutemui sepasang bola mata penonton yang sembap. Ada sih seorang ibu paroh baya yang duduk disampingku menangis sesunggukan. Ketika kutanya mengapa seharu itu? Ia menjawab, teringat akan anak lelakinya yang kuliah di india, dan anaknya itu bernam Rahul. Ibu itu takut kisah cinta yang tragis serupa AAC akan menyertai perjalanan hidup anaknya di perantauan nun jauh di sana, India. Ironis memang, seorang penonton terharu menonton sebuah film dengan suspense yang&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;terkesan tidak terjaga bahkan kocar-kacir. Dengan mudah kita bisa menebak ketegangan-ketegangan yang bakal terjadi pada setiap adegannya. Seperti mudahnya menebak hitungan matematika: 1+1+2 =4. Bukankah kelemahan film-film Hanung Bramantyo selalu terpuruk pada kesalahan yang sama? Suspense yang tak tertajaga. Sungguh, Hanung bukanlah pendongeng yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Nonton AAC ibarat mendengar lirik-lirik Rhoma Irama yang syahdu. Sangat dangdut! Nonton AAC laksana menyaksikan nukilan film-film India langganan TPI di awal tahun 90-an. Sebuah kisah cinta yang benar-benar fiksi dan hanya akan terjadi di dunia novel. Over dramatis! Coba lihat closing AAC saat pemeran Fahri (Fedi Nuril) dan Aisha (Rianti Cartwright) berpegangan menyusuri gurun pasir yang didominasi warna kuning keemasan mengingatkan kita pada film Rhoma Irama yang berjudul “Perjuangan dan Doa” di mana endingnya sang Raja Dangdut terlihat menggendong mayat Rika di atas puncak bukit dengan latar senja yang sungguh dibuat-buat. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Cabe deh……&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Jika tulisan ini dituding sadis, aku akan menjawab film AAC sebetulnya lebih sadis lagi. Mengapa? Isu poligami terselip di dalam bangunan plot seolah ingin berteriak bahwa wanita muslim yang baik adalah wanita yang SABAR DAN IKHLAS membagi cinta suaminya pada wanita lain yang tengah dirundung kemalangan. Meskipun beberapa adegan di penghujung film, Habiburrahman atau Hanung terkesan gamang dengan memperlihatkan situasi-situai sulit beristri dua namun tetap saja pesan pro poligami jauh lebih mengental dalam cerita film ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Entah karena nonton dalam keadaan mabuk, pesan dakwah yang berhasil aku tanggap lewat film AAC ialah: DALAM POLIGAMI TERDAPAT KEBAHAGIAAN. Aku pikir, AA Gym pun akan sependapat denganku jika saja beliau sempat nonton AAC. Dan mungkin AA Gym akan lebih menyesal lagi mengapa ia begitu cepat berpoligami. Kalau saja ia menunggu dulu film AAC rilis di Indonesia mungkin keputusannya beristri ganda tak akan menuai kritik serumit sekarang. Mungkin saja……bukankah film merupakan media yang ampuh untuk menebar propaganda? Wajar saja AAC pro poligami lantaran penulis novelnya Habiburrahman EL Shirazy seorang lelaki. Bagaimana pun ia akan berpihak pada kaumnya. Sebagai lelaki yang egois, aku sih setuju-setuju saja. Hidup poligami… &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Mengapa film Ayat-Ayat Cinta Laris bak minyak tanah eceran?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;seperti yang aku katakan sejak awal sebagian besar penonton film Indonesaia suka baget film-film gaya Bollywood. Dengan satu kata kunci: &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;mengharukan banget…huhuhuhu…&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;pilihan judul yang bombastis. Tak dipungkiri judul AAC memiliki daya tarik tersendiri (meski tak semenarik isinya) bagi ummat muslim yang notabene mendominasi negeri ini. Setidaknya mengingatkan mereka pada sebuah judul novel yang nyaris serupa: Ayat-Ayat Setan karya Shalman Rusdi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Promosi media yang berlebihan. Bahkan jauh-jauh hari sebelum AAC beredar di bioskop, Tabloid Bintang tak jenuh mengulas proses produksinya. Belakangan ini sudah tiga edisi Bintang menjadikan AAC sebagai sampul. Biasalah, mungkin ada U dibalik B = ada Uang dibalik Berita. Malah pada salah satu ulasannya, aku curiga tabloid ini juga menulis dalam keadaan mabuk hingga dengan polos Bintang menulis harapannya agar AAC diikutsertakan dalam festival film Cannes. Hah, sadar lo? Apa kata dunia? Berhenti ah langganan Bintang. Ulasan-ulasannya kurang cergas! Lebih baik baca Kompas atau Tempo yang sampai hari ini belum tertarik membahas film yang tidak bermutu serupa AAC.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Kecenderungan orang Indonesia menyukai film cinta remaja selain dua genre berikut;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Komedi sex: karena orang-orang indonesia terkenal memiliki penis yang kecil. Mereka berharap Mak Erot akan tampil untuk memberikan solusi memperbesar penis dari salah satu film sex yang ditawarkan para produser itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Horor: lantaran orang-orang Indonesia dikenal doyan bersekutu dengan mahluk halus sejak kupon undian kode buntut merebak menebar mimpi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam wawancara di berbagai media Hanung Bramantyo selaku sutradara AAC bercoletah bahwa karyanya yang ajaib (lantaran busuk tapi laku) ini sebagai pembuktian bahwa bukan hanya film abg, komedi sex, dan horor yang laku di Indonesia. Lho, AAC kan juga film cinta/roman? Bertema agama? Kebetulan aja settingnya di Kairo dan dialog-dialognya diisi dengan ucapan; Assalamu Alaikum, Alhamdulillah, Astagfirullah, MasyaAllah, InsyaAllah, serta sedikit dibumbui kutipan ayat-ayat Al Quar’an. Sementara penggalian cerita Isalami-nya hambar nyaris tanpa rasa. Yah gitu deh, kurang lebih menyerupai wajah sinetron-sinetron di bulan ramadhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Maju terus perfilman Indonesia……ihuuuu……!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sutradara: Hanung Bramatyo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Skenario: Salman Aristo, Ginatri S. Noer&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Produksi: MD Pictures&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="id-ID" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Bintang: Fedi Nuril, Rianti R. Cartwright, Carrisa Puteri, Melanie Putria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: right"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 class="western" lang="id-ID" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-5755188746490488888?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/5755188746490488888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=5755188746490488888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5755188746490488888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5755188746490488888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-cinta-lirik-lirik-dangdut.html' title='AYAT-AYAT CINTA = LIRIK-LIRIK DANGDUT'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R-x0Iu-rLOI/AAAAAAAAAGk/zgIjvi76eCk/s72-c/ayat_ayat_cinta_poster_preview.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-7832971053698869265</id><published>2007-11-19T03:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T02:33:25.604-08:00</updated><title type='text'>Dermaga Sunyi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R0Fy19PspFI/AAAAAAAAAF8/33xnh9qgGWA/s1600-h/foto+ibe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R0Fy19PspFI/AAAAAAAAAF8/33xnh9qgGWA/s200/foto+ibe.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134511321478112338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prosa Duka Seorang Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar sunyi sekali malam itu. Jarum jam menunjuk pukul 23.45 ketika petugas dermaga – seorang wanita muda berpakaian serba putih- menemui kami: aku, ibu, kakak, dan adikku yang sudah lima malam menunggu di Ruang Tunggu itu. Ia menyampaikan kabar bahwa sebentar lagi kapal yang akan membawa Ayah ke sebuah negeri yang jauh akan segera merapat di dermaga. Kali ini ia mengijingkan kami menemui Ayah untuk yang terakhir kali dan mengucapkan: “Selamat tinggal, Ayah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah seorang pengembara. Lebih banyak hidupnya ia habiskan di tanah rantau. Aku tidak mungkin lupa bagaimana perpisahan di dermaga selalu menguras air mataku semasa kecil dulu. Ketika kapal besar yang mengangkut ayah bersama perantau lainnya perlahan bergerak meninggalkan tepian dermaga. Kala itu seperti ada bagian tubuhku yang hilang dan ikut bersama kapal besar itu. Aku selalu tak bisa menahan sakit yang disebabkan lambaian tangan ayah dari kaca jendela kapal yang bergerak semakin menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah adalah sebuah rindu yang menggumpal serupa bisul yang menyimpan nyeri yang sangat. Dan ayah selalu tahu kapan nyeri itu mesti diredam. Saat itu ayah akan pulang mengusir rindu setelah sekian tahun pergi meninggalkan kami. Kata ibu, siklus datang dan pergi itu berputar selama tiga puluh tahun. Aku tak begitu suka dengan segala jenis mainan yang ayah tawarkan sebagai oleh-oleh untukku. Bagiku, oleh-oleh paling indah adalah senyum ayah. Dari mulut ayah, aku akan mendengar seribu satu kisah dari negeri dongeng yang baru saja ia datangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku harus sekolah, kata ayah, ia mesti merelakan tubuhnya terendam selama 24 jam di laut Kalimantan –bekerja mengikat kayu-kayu raksasa milik perusahaan yang kemudian dihanyutkan ke sebuah tempat penampungan. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Karena aku harus sekolah, kata ayah, ia dengan sisa-sisa tenaganya senantiasa bertarung melawan kematian yang ditebar oleh ganasnya nyamuk malaria di belantara hutan Negeri Jiran. Bahkan ia tak pernah ciut menghadapi begisnya mafia-mafia Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah dongeng yang mengerikan tak pernah lepas dari mulut ayah setiap ia pulang dari perantauan. Bagaimana ia hidup berlama-lama di tengah hutan bersama pekerja lainnya. Bagaimana perantau-perantau itu setiap saat mati satu-satu terserang penyakit atau tubuh mereka hancur tertindih pohon besar yang tumbang oleh gergaji mesin. Dan ayah selalu mengajarkan aku berdoa agar ia tak mati di sana lantaran jasad seorang perantau kadang terkuburkan tanpa ada tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur hidup ayah layaknya cerita film komedi satir. Ia lucu dan kerap membuat kami dan para tetangga terpingkal-pingkal menahan geli. Cerita konyol ayah selalu berakhir dengan air mata dan menyisakan pesan yang menggelisahkan. Ayah tak butuh guru sekolah untuk pintar dan ia berhasil menjadi guru bagi anak-anaknya. Ayah tak butuh kiyai untuk menjadi bijak. Ia manusia paling bijaksana yang pernah kutemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah memperkenalkan Tuhan padaku dengan cara yang lain, “Tuhan sedang tidur dalam dirimu, maka bangunkanlah…!” katanya. Ayah juga mengajarkan agama dengan ajaran yang berbeda, “Jangan percaya kitab yang menghasutmu memusuhi lawanmu…!” katanya. Ketika usiaku beranjak dewasa, ayah menantangku untuk pergi merantau. “Jika kau telah jenuh belajar di sekolah, maka pergilah ke kampung seberang. Di sana ilmu tak ada habisnya. Rahasianya, perbanyak kawan dan jujur. Lantaran kepercayaan tak bisa dibeli dengan uang….!” Terakhir, “Perempuan itu indah, maka pelihara dan jagalah….!” begitu pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sosok ayah dulu, pada masa itu berdiri gagah sebagai petarung sejati. Kini, tepatnya hari Jumat tanggal 19 oktober 2007, di usianya yang ke-58 tahun, ia telah kehabisan tenaga. Tak ada lagi lelucon yang segar, tak ada lagi pesan bijak yang tersisa dimulutnya. Di ruang keberangkatan itu ia hanya diam –bermeditasi— di ujung keberangkatannya dan kami tak ingin mengganggu. Dalam diamnya itu, kami; istri dan anak-anaknya  --mengitari tubuh beliau sambil melafal doa agar perjalanannya senatiasa tak ada hambatan sampai ke tempat yang hendak ia tuju. Entah ke mana ayah akan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suara serine kapal mendengung, aku melihat di pojok ruang sekelompok keluarga saling berpelukan, menjerit melepas tangis begitu menyadari salah seorang anggota keluarganya telah naik ke atas kapal. Tak banyak penumpang di dermaga sunyi ini. Hanya ada dia dan ayah yang akan segera berangkat. Begitu ayah bangkit berjalan menuju tangga kapal, kami tak bisa menahan tangis. Kesedihan paling akut menyerangku seketika. Aku tak kuasa melihat ayah berjalan meninggalkan kami. Segera aku berlari keluar dari ruang keberangkatan itu dan memilih sendiri bersandar di pojok luar :menangis sekuat-kuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi keinginan melihat ayah pergi begitu kuat. Aku kembali bangkit dan masuk menemui ayah yang telah berdiri di tepi dermaga. Sebentar lagi ia akan menginjakkan kaki di tangga kapal. Aku berlari mengejarnya lantas bersimpuh mencium kakinya. Penghormatan terakhir seorang anak pada ayahnya. “Maafkan aku, Ayah. Hanya ini yang aku bisa menjelang kau pergi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama dan terakhir kulihat ayah menitikkan air mata. Air mata itu adalah uraian kata hatinya. Seperti pesan terakhir untukku: “Air mata bukan hanya jelamaan kesedihan, tetapi juga cinta sejati, anakku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lantas ayah pergi……Tak akan kembali……&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;RS. Grestelina, 19 Oktober 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-7832971053698869265?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/7832971053698869265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=7832971053698869265' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/7832971053698869265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/7832971053698869265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2007/11/dermaga-sunyi.html' title='Dermaga Sunyi'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/R0Fy19PspFI/AAAAAAAAAF8/33xnh9qgGWA/s72-c/foto+ibe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-5303247925658581251</id><published>2007-11-11T09:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T02:33:25.731-08:00</updated><title type='text'>CHIKA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SNd3bNR0rFI/AAAAAAAAATk/t_4ZX1DiO1Q/s1600-h/chika2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SNd3bNR0rFI/AAAAAAAAATk/t_4ZX1DiO1Q/s200/chika2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248795200028191826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Siapa &lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/RzgaHOMMpjI/AAAAAAAAAFU/TYLXD9Q0_is/s1600-h/CIKA-4.jpg"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chika?&lt;/span&gt; Nama itu tentu tidak asing lagi di telinga sebagian peselancar dunia maya di Indonesia, khususnya yang tergabung dalam situs-situs pertemanan. Foto-foto bugil gadis itu beredar luas di internet sejak satu tahun terakhir. Sebenarnya, foto-foto ‘panas’ semacam itu bukan fenomena baru yang dilakoni gadis-gadis Indonesia di internet. Namun, wajah cantik, kulit putih mulus, usia yang tergolong belia, menjadi modal untuk Chika tampil dengan tebaran sensasi yang berbeda. Pose bugilnya dijamin membuat jantung kaum Adam yang melihatnya berdegub tak biasa. Berbagai “spekulasi” pun menyebar dari mulut ke mulut tentang siapa Chika dan bagaimana foto-fotonya itu bisa muncul di internet. Ada yang mengatakan itu ulah mantan pacarnya yang sakit hati lalu mengunduh foto-foto bugil Chika ke internet. Ada pula yang mengatakan bahwa Chika adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Kembang dan ‘berprofesi’ sebagai wanita panggilan.&lt;br /&gt;Hal itu pula yang membuat aku tertarik untuk melakukan investigasi mengenai siapa Chika sesungguhnya. Dengan modal pas-pasan ‘proyek sinting’ ini dimulai pertengahan September 2007. Suatu malam aku bertemu seorang kawan lama di sebuah THM yang terletak di kawasan jalan Darmawangsa. Erwin namanya. Dia bisa dikatakan ‘dugemmers stadium akut’. Menurut pengakuannya, tak ada malam tanpa wanita! Kupikir dia orang yang tepat untuk membantuku memulai investigasi ini. Saat kuutaran rencana ini, ia menyambutnya dengan antusias. Rupanya dia termasuk salah satu ‘korban’ teror sensasi foto-foto syur gadis bernama Chika. Bahkan, Erwin rela menjual komputer tua miliknya demi mendanai proyek kami. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Thank’s kawan, aku tahu obsesimu bertemu Chika. Huehehe)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 07.15. Jakarta mulai bising oleh suara kendaraan yang terperangkap macet. Raung knalpot dan jeritan klakson dari jalan Pangeran Antasari, kawasan Cilandak, menyusup masuk ke dalam kamarku. Membangunkan aku dari sisa-sisa kepenatan hari kemarin. Beberapa menit kemudian, Handphone yang tergeletak di samping kiri bantalku, berdering menusuk telinga. Suara Erwin, sahabatku, terdengar di seberang sana:&lt;br /&gt;“Halo, ada info mengenai Chika, bos,” katanya.&lt;br /&gt;“Oya? Kamu dapat dari mana, Win? Tanyaku.&lt;br /&gt;“Ada deh. Aku ke tempatmu ya. Jangan kemana-mana dulu, oke?”&lt;br /&gt;“Oke. Cepetan Win, aku sudah tidak sabar mendengarnya.”&lt;br /&gt;“Sip sip!”&lt;br /&gt;Tak lama berselang, Erwin muncul dari balik pintu kamarku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(raut wajahnya menyiratkan suasana hati yang riang).&lt;/span&gt; Tanpa tunggu dipersilakan ia langsung menyeduh secangkir kopi yang baru saja kuletakkan di atas meja.&lt;br /&gt;“Kita harus berangkat ke Bandung hari ini, sob,” ucap Erwin sembari membakar ujung kretek yang terselip di bibirnya.&lt;br /&gt;“Kamu yakin dia orang Bandung?” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;“Bagamana tidak yakin, baru saja aku ngobrol dengan dia lewat telpon.”&lt;br /&gt;“Dapat dari mana nomornya?”&lt;br /&gt;“Dari salah satu anak Makassar yang kebetulan kuliah di Bandung. Kawan lama juga. Sekarang dia lagi pulang ke Makassar. Pokoknya kamu juga harus bicara dengan dia. Ternyata namanya bukan Chika. Tapi…..” Erwin menyebut sebuah nama. Demi menjaga kode etik, di sini saya tetap menggunkan nama: Chika.&lt;br /&gt;Erwin kemudian memencet tombol HP-nya untuk menghubungi Chika. Dia sengaja menggunaka loudspeaker untuk memperdengarkan suara gadis itu.&lt;br /&gt;“Halo Chika, aku Erwin yang tadi nelpon kamu, ” sapa Erwin.&lt;br /&gt;“Hai Erwin, ada apa?” suara lembut seorang gadis terdengar jelas dari speaker HP milik Erwin. Tiba-tiba debar yang aneh menyerang jantungku. Sementara Erwin tetap terlihat santai sambil sesekali mengedipkan mata ke arahku.&lt;br /&gt;“Kamu lagi ngapain?”&lt;br /&gt;“Nggak ngapa-ngapain kok. Masih di kamar nih, lagi males.”&lt;br /&gt;“Hari ini kamu ada acara nggak? Aku dan temanku mau ke Bandung hari ini. Pengennya sih di sana kita ditemani Chika jalan-jalan.”&lt;br /&gt;“Oh gitu. Boleh kok. Tapi sekarang kamu masih di Jakarta kan?”&lt;br /&gt;“Iya, aku masih di Jakarta. Berangkatnya sekitar jam sebelas.”&lt;br /&gt;“Oke deh. Aku tunggu ya. Telpon aja kalo udah nyampe…”&lt;br /&gt;“Siap. Thanks. Sampai jumpa di Bandung, Chika. Bye…” Erwin menutup perbincangan jarak jauh itu dengan senyum khasnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(senyum kucing melongok tulang).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Bandung sejuk namun sesak. Saban Sabtu dan Minggu, Bandung seolah-olah menjadi tujuan akhir para warga Jakarta untuk melepas penat setelah lima hari bertarung dengan berbagai rutinitas yang membosankan. Aku dan Erwin tiba sekitat pukul 03.05. Kami memilih beristirahat pada sebuah penginapan di jalan Sangkuriang.&lt;br /&gt;Tanpa menunggu persetujuan saya terlebih dahulu, Erwin langsung menghubungi Chika lewat ponsel-nya. Beruntung ia tidak pelit membagi suara gadis itu dengan menggunakan speaker ponsel.&lt;br /&gt;“Halo, Chika, aku udah di Bandung sekarang,” sapa Erwin.&lt;br /&gt;“Terus kamu di mana sekarang?” suara Chika terdengar dari seberang.&lt;br /&gt;“Aku lagi istirahat di penginapan….jalan Sangkuriang. Kamu bisa ke sini nggak?”&lt;br /&gt;“Boleh. Tunggu dua puluh menit, ya.”&lt;br /&gt;“Makasih, Chika. Bye…”&lt;br /&gt;“Bye…”&lt;br /&gt;Kebahagiaan yang ganjil terpancar dari mata Erwin usai menelpon Chika. Ia langsung masuk ke kamar mandi. Aku memilih melentangkan tubuhku di atas kasur yang lumayan empuk. Mengusir lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh menit kemudian, dari luar terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Erwin lebih dulu melompat dari tempat tidur dan segera membuka pintu. Wow….! Seraut wajah cantik muncul dari balik pintu. Wajah yang sangat akrab di mataku meski baru kali ini bertemu. Ya, dialah Chika. Sosok gadis yang mengganggu pikiranku beberapa hari terakhir. Kini ia nyata hadir di hadapanku. Mengenakan Tshirt ketat berwarna putih berpadu rok mini biru muda. Di pundaknya menggelantung sebuah tas kulit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(sekilas imitasi)&lt;/span&gt; berukuran sedang. Kususuri tabuhnya dari kaki hingga kepala; kulitnya kuning langsat –mulus nyaris tanpa cacat, pahanya terlihat padat berisi, dada montok –membusung kencang seolah ingin menembus kaos yang menutupinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(kuduga, ukuran BH-nya tak jauh di bawah size XL)&lt;/span&gt;, rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chika membagi senyumnya yang manis kepada kami seraya berkata, “Hai, selamat datang di Bandung.” Ia mengulurkan tangannya ke Erwin lantas pindah ke aku. Kurasakan jejarinya sangat halus dan dingin. (dingin itu menjalari tubuhku). Tetapi aku berusaha melawan kegagauan-ku. Di sini aku harus berlaku profesional dan konsisten dengan janjiku pada Erwin. Aku hanya bertugas menguak sisi hidup gadis itu dan Erwin yang berperan sebagai “umpan” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(lebih tepatnya disebut: kucing garong).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena di kamar itu tak disiapkan kursi, Chika memilih duduk di bibir ranjang.&lt;br /&gt;“Udah sering ke Bandung?” Tanya gadis itu.&lt;br /&gt;“Lumayan. Kalo ada urusan bisnis….” Jawab Erwin. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Mantap!!! Bisnis apa, sob? Bisnis minyak tanah Bapakmu di kampung?)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pertemuan kami dengan Chika sore itu. Perkenalan yang singkat untuk mengawali keinginanku menguak fakta di balik wajahnya yang teduh. Saat itulah kuungkapkan keinginanku menulis: Siapa Chika? Dan mengapa foto-foto bugilnya bisa beredar di internet? Gadis itu tak keberatan. Ia bersedia mengungkap jati dirinya yang sebenarnya. Sebelum meninggalkan kamar penginapan, Chika berjanji akan menemui kami di Ciwalk nanti malam. Selepas Isya, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Minggu, Ciwalk ramai pengunjung yang ingin menikmati suasana indah, dan sajian menu dari beragam kafe yang memadati kawasan itu. Aku dan Erwin memilih duduk di sebuah kafe yang tak begitu sesak. Menunggu Chika datang. Beberapa lama kemudian, Chika telah bergabung bersama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut nukilan dialog antara aku dan Chika:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU : Kamu kuliah di mana?&lt;br /&gt;CHIKA : Sebenarnya tahun 2005 kemaren aku mau kuliah, tapi tertunda&lt;br /&gt;karena satu hal… &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ia membakar ujung kreteknya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;AKU : Terus apa kegiatan kamu sehar-hari?&lt;br /&gt;CHIKA : Nggak ada. Paling di rumah aja. Keluar kalo ada ‘tamu’…..&lt;br /&gt;AKU : Kok, foto kamu bisa beredar di internet? Ulah siapa?&lt;br /&gt;CHIKA : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Chika tak langsung menjawab. Ia menghisap rokoknya lantas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menghembuskan asapnya disertai hembusan nafas yang berat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itu ulah salah satu tamuku. Padahal kami sudah cukup lama&lt;br /&gt;berhubungan. Sejak foto-foto itu beredar, ia tidak pernah datang&lt;br /&gt;lagi. Laki-laki itu sudah punya istri di sini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Bandung).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;AKU : Mungkin kalian ada masalah?&lt;br /&gt;CHIKA : Iya sih. Mugkin dia marah karena aku tidak mau lagi menuruti&lt;br /&gt;setiap dia ingin ketemu. Aku jenuh sama dia. Lagian aku takut&lt;br /&gt;istrinya tahu hubungan kami.&lt;br /&gt;AKU : Orang tuamu tahu soal foto-foto itu?&lt;br /&gt;CHIKA : Iya. Tapi mereka nggak pernah liat. Mereka nggak mau. Mereka&lt;br /&gt;mendengar tentang foto itu dari tetangga. Ibuku sempat sakit&lt;br /&gt;mendengar kabar itu. Tapi mereka sudah melupakan masalah ini.&lt;br /&gt;AKU : Kenapa tidak lapor polisi?&lt;br /&gt;CHIKA : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ia tersenyum)&lt;/span&gt; Gila! Melapor berarti mempermalukan diri&lt;br /&gt;sendiri. Biarlah, nanti akan reda sendiri kok. Itu jadi pelajaran&lt;br /&gt;buat aku supaya nggak gampang percaya sama orang.&lt;br /&gt;AKU : Bagaimana tanggapan teman-temanmu yang pernah liat foto-foto&lt;br /&gt;itu?&lt;br /&gt;CHIKA : Sejauh ini nggak ada teman cowok aku yang berani menyinggung&lt;br /&gt;foto itu, kecuali teman-teman cewekku. Mereka marah sama aku.&lt;br /&gt;Kasihan juga sama aku. Cuman, kalo cowok sih, paling mata&lt;br /&gt;mereka aja yang bicara. Kalo liat aku matanya melotot seperti liat&lt;br /&gt;selebritis lewat gitu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ia tertawa renyah, seperti tak ada beban di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;benaknya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;AKU : Kesannya kamu gampang percaya sama orang. Termasuk&lt;br /&gt;sama kami. Kenapa?&lt;br /&gt;CHIKA : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(lagi-lagi ia tersenyum)&lt;/span&gt; Tampang kalian nggak kriminal kok.&lt;br /&gt;Tapi, kamu nggak bawa kamera, kan?! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(sambil menudingkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;telunjuknya ke arahku).&lt;/span&gt; Mendingan rekam pake mata aja. Mau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurauan terkahirnya itu cukup membuat aku gelagapan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Aduuuh, cari bahan becanda yang lain dong, Chik. Migran gue kambuh nih).&lt;/span&gt; Chika, sosok gadis yang ramah, periang dan cukup cerdas. Dia adalah narasumber yang mungkin tak akan pernah aku lupakan hingga ke gerbang surga. Malam itu kami bersama-sama berselimutkan dingin malam Kota Kembang. Ditemani tiga botol bir dan semangkuk kentang goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelanjutan kisah pertemuan kami dengan Chika tak bisa aku lanjutkan lagi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(maafkan daku ya, pembaca…aku punya nomor HP-nya dia kok. Tapi, ceppe’ dulu...Bagi cewek yang mau kenalan sama Erwin, boleh kirim email. Dia cukup loyal kok buat ngejual barang-barangnya yang belum lunas credit sekali pun, demi kencan semalam. huakakaka) &lt;/span&gt;Tugasku telah selesai di larut malam. Selanjutnya giliran Erwin menemani gadis Bandung itu menunggu pagi, di satu tempat yang dingin. RAHASIA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-indent: 1cm;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-indent: 1cm;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-5303247925658581251?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/5303247925658581251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=5303247925658581251' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5303247925658581251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/5303247925658581251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2007/11/siapa-chika.html' title='CHIKA'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/SNd3bNR0rFI/AAAAAAAAATk/t_4ZX1DiO1Q/s72-c/chika2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-2611557201431125710</id><published>2007-11-11T08:50:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T02:33:25.947-08:00</updated><title type='text'>Cinta Suruh Hera Datang Jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzc8y-MMpiI/AAAAAAAAAFA/e9U5TM7czEY/s1600-h/hera+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzc8y-MMpiI/AAAAAAAAAFA/e9U5TM7czEY/s200/hera+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131637146797254178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Kisah cinta yang tragis mengantar Hera, 23 tahun, datang ke Jakarta. Peristiwa yang berujung kesedihan itu terjadi pertengahan tahun 2002 di Makassar. Kala itu Hera baru saja tamat SMU, dan tak mampu melanjutkan ke tingkat berikutnya karena ayahnya keburu meninggal dunia pada waktu bersamaan. “Beliau meninggal akibat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;terserang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;stroke&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;,”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;ujar Hera.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Semasa hidup, ayahnya bekerja sebagai supir mobil&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt; box&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt; di sebuah perusahaan rokok. Sementara sang ibu bekerja sebagai tukang jahit di rumahnya di jalan Sultan Alauddin. Hera masih punya adik dua orang yang masih kecil. Saat-saat sulit itulah sang kekasih mendadak memutuskan hubungan mereka. “Dia pindah ke lain hati. Padahal, hubungan kami sudah sangat dalam. Kami pacaran sudah tiga tahun waktu itu,” kenang Hera.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hingga suatu hari, Hera kedantangan seorang teman perempuannya yang bekerja di Jakarta dan mengajak ia ikut bekerja di Jakarta. Si teman yang sudah dua tahun menetap di Jakarta itu berhasil meyakinkan Hera bahwa di sana lebih mudah mencari pekerjaan daripada di Makassar. Akhirnya, Hera meminta izin pada ibunya untuk ikut temannya bekerja di Jakarta. “Selain keinginan mencari pekerjaan di Jakarta, gue juga ingin melupakan semua kenangan pahit ketika masih bersama dia di Makassar,” kata Hera lagi. Maka berangkatlah gadis lugu berperawakan manis dan bertubuh montok ini ke kota sejuta impian: Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahun 1997. Sudah empat tahun lebih Hera bekerja di Jakarta. Ia tinggal satu kos dengan temannya yang mengajak dirinya dari Makassar. Gadis yang pernah becita-cita menjadi guru ini termasuk orang yang beruntung datang ke ibu kota. Ia mengaku tak sekalipun pernah menganggur semenjak tinggal di Jakarta. Tahun pertama ia bekerja di sebuah pabrik sepatu. Tahun kedua ia beralih profesi sebagai pelayan kafe di kawasan Jakarta pusat. Tahun ketiga ia bekerja lagi sebagai karyawan supermarket. Dan kini Hera bekerja sebagai karyawan klub papan atas yang terletak di pojokan jalan strategis selatan Jakarta. Menurutnya, sudah hampir dua tahun ia melakoni pekerjaan terakhirnya ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Hera, kelahiran Makassar, 12 Juni 1984. Gadis yatim ini memiliki kisah hidup yang terdengar klasik di antara denyut nadi orang-orang Jakarta. Jauh-jauh menyeberangi lautan untuk mengadu nasib di kampung orang, dan akhirnya bekerja di malam hari saat di mana sebagian orang telah tertidur melepas penat. Menurut penuturan Hera, bekerja sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;server &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;klub malam bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain cekatan, dibutuhkan juga kesabaran yang tinggi dalam melayani para tamu yang terkadang menyebalkan. “Tiap malam kita berinteraksi dengan orang mabuk. Bisa dibayangkan bukan bagaimana repotnya?” tuturnya. Meski demikian, ia mengaku tetap antusias dan mencintai pekerjaannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Tak jarang Hera mengalami berbagai bentuk pelecehan, penghinaan, dan makian  pengunjung klub itu. “Biasanya si tamu itu marah-marah karena menganggap pelayananan kami sangat lambat. Misalnya, pesanan bir yang biasa telat kami antar ke meja mereka,” ungkapnya. Memang, terkadang kita atau pengunjung THM menganggap mereka yang bekerja di klub-klub malam tak ubahnya robot yang dapat dikendalikan sesuka hati. Seakan kita lupa, Hera dan teman-temannya adalah manusia biasa yang punya hati dan isi pikiran sendiri-sendiri. “Pernah juga ada tamu yang mencolek bokong gue, dan berkata: “Aduh, montok banget. Mau enggak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;jadi pembantu di rumah gue?…sekalian jadi istri kedua,” lanjut Hera menirukan ejekan seorang pengunjung. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Masih menurut penuturan Hera, beberapa tamu pernah mengajaknya “kencan” secara terang-terangan dengan menawarkan sejumlah uang jika ia bersedia “melayani” si tamu. “Yang ngajak kencan sih banyak. Biasanya gue tolak secara halus dengan senyum kecut yang gue paksain manis. Ditambah mata gue yang sedikit melotot, biasanya si tamu langsung mengerti kalo gue enggak sudi. Hehehe,” ucapnya seraya tertawa. Katanya lagi, pelecehan seksual semacam ini tidak tiap malam dialaminya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Awalnya, ia mengaku risih menjalani profesinya itu. Bagaimana tidak, sebelumnya Hera terbilang orang yang jarang mengunjungi klub-klub malam. Wajar saja jika ia merasa aneh melihat tingkah laku para pengunjung tempatnya bekerja. Lambat laun ia mulai menikmati bahkan kadang ikut larut dalam hingar-bingar para &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;clubbers&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt; yang bergoyang mengikuti hentakkan musik &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;progressive&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;. Bagi Hera, bekerja di sebuah klub memiliki keistimewaan tersendiri. Gadis berdarah Bugis ini sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter orang. “Dulu ada tamu yang memberikan uang tip separuh dari gaji gue sebulan. Tanpa menuntut macam-macam, ditemani ngobrol, doang!” kata gadis berambut panjang ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Beragam kejadian aneh yang pernah terekam mata Hera selama bekerja di klub itu. Misalnya, ia kerap melihat sepasang muda-mudi berciuman bibir di sofa yang terletak di pojok ruangan. Seolah tak peduli dengan orang sekitar, tangan sepasang anak muda itu menyelusup masuk ke dalam celana &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;jeans&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt; masing-masing. “Kejadian semacam itu hampir tiap malam kita lihat. Dan biasanya adegan ‘hot’ seperti itu berakhir di tangan sekuriti,” cerita pengagum Andi Alfian Mallarangeng ini.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Sudah pasti, kejadian-kejadian yang lebih ekstrim dan cenderung anarkis tentu sulit terhindarkan di tempat semacam itu. Namanya saja klub, ulah para pengunjungnya terkadang diluar kontrol kesadaran normal akibat pengaruh alkohol atau obat-obatan yang bisa bikin &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;fly&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;. Menurut kesaksian Hera, beberapa kali ia melihat kejadian: laki-laki menampar perempuan dan perempuan menampar laki-laki. Atau, seorang perempuan menjambak rambut perempuan lainnya dan dua laki-laki saling bertukar bogem mentah ke wajah masing-masing. “Apalagi yang membuat mereka ribut kalau bukan masalah perselingkuhan. Kalo laki-laki sih kadang pemicunya hal sepele, ada yang marah karena tak sengaja tersenggol pengunjung lain, atau ceweknya mengadu dicolek laki-laki lain,” papar Hera. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Ketika ditanya, kejadian apa saja yang paling membuatnya sebal? “Gue pernah tersembur muntahan salah seorang tamu yang minta ditemani ngobrol. Bayangkan, muntahan itu mengotori hampir seluruh baju gue &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;bo!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt; Gue langsung ikut muntah di tempat kerena jijik. Sadis enggak, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;i&gt;tuh&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;?” tukasnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pernah juga pada malam yang lain, seorang lelaki setengah baya meminta Hera menemaninya duduk di sofa. Lelaki itu menenggak habis 5 botol bir tanpa dibantu oleh siapapun. Dalam keadaan teler berat, lelaki itu terus berceracau tentang istrinya yang bermain serong dengan lelaki lain. Menjelang klub tutup pukul 03.00, si tamu itu merogoh isi dompetnya dan bermaksud memberikan uang tip pada Hera. “Bukannya duit yang diambil dari dompetnya, malah sebungkus kondom yang masih baru. Langsung aja gue omelin: Mas, liat-liat dulu dong kalo mau memberi sama orang. Itu bukan duit, tapi kondom! Akhirnya ia menukar lagi kondom itu dengan selembar duit 50.000-an sebelum berjalan keluar dengan langkah gontai,” tutur gadis lajang ini sambil tersenyum.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tak jarang pula Hera menemui pengunjung klub yang berprilaku kurang ajar. Ada yang berpura-pura baik hati memberikan selembar uang tip 20.000-an, tahu-tahunya, setiba di rumah kos Hera melihat lembaran uang itu ternyata sobekan uang 20.000-an dan sobekan uang 10.000-an yang telah disatukan dengan lem. “Sampai sekarang gue masih inget wajah penipu berbau ‘naga’ itu,” katanya lagi dengan wajah geram. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pahit manisnya bekerja di dunia gemerlap (dugem) sudah pernah ia rasakan. Hera sadar betul, bekerja di malam hari lebih berisiko dibanding bekerja siang hari. Apa lagi di kota besar seperti Jakarta. Segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi pada dirinya. Ia mengisahkan, pernah suatu kali ia pulang tanpa mobil antar-jemput milik perusahaan yang biasa di pakai mengantar para karyawan pulang ke tempat tinggal masing-masing. “Kebetulan malam itu mobil perusahaan lagi masuk bengkel. Gue pulang sendiri menumpangi taxi. Dan di tengah perjalanan, supir taxi itu tiba-tiba menghentikan mobil. Supir bejat itu rupanya berniat buruk sama gue. Beruntung gue bisa menyelamatkan diri,” aku Hera. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagaimana dengan komentar tetangga tentang pekerjaan Hera yang jam kerjanya tak lazim seperti pekerja lain? “Rata-rata tetangga kos tau kok pekerjaan gue apa. Kalaupun ada nada-nada miring, paling dari segilintir orang yang sirik aja. Biarin deh, asal mereka enggak nyenggol gue aja,” katanya dengan nada cuek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagimanapun pahitnya profesi yang ia jalani saat ini, Hera tetap bergeming. Ia justru bangga dengan pekerjaan yang dijalaninya itu selama masih menghasilkan uang yang halal. Ia tak pernah peduli dengan jarak antara dirinya dengan sejumlah gadis remaja seusianya di luar sana. Saat ia larut dalam pekerjaan yang membosankan, kebanyakan anak-anak seusianya mungkin sedang asyik jalan-jalan di mal, nongkrong di kafe, atau nonton film di bioskop.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hera merasa telah berhasil membuktikan bahwa dirinya seorang anak yang berguna bagi keluarga. Tak ada yang bisa ia banggakan, kecuali kemampuannya menghidupi Ibu dan kedua adiknya di kampung halaman. “Alhamdulillah, gue bisa membantu Ibu menyekolahkan kedua adikku di Makassar,” Ucapnya. Hampir empat tahun tinggal di Jakarta, Hera mengaku baru dua kali pulang ke Makassar. “Insya Allah gue mudik lagi ramadhan nanti, gue rindu sama Ibu dan adik-adikku,” ucap Hera menutup obrolan kami.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span lang=""&gt;Alur hidup Hera adalah secuil kisah para pekerja dunia gemerlap malam di Jakarta. Mereka baru bernapas lega ketika beduk masjid mulai ditabuh. Pulang paling cepat, pukul 04.30. Mereka pulang paling lambat, biasa hingga pukul 06.00. Orang seperti Hera baru terlelap ketika sebagian pekerja lainnya hendak memulai aktivitas. Dan ia bersiap-siap berangkat kerja lagi saat senja telah tenggelam di tepi kota.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-2611557201431125710?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/2611557201431125710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=2611557201431125710' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/2611557201431125710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/2611557201431125710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2007/11/by-boraq-cambuq-kisah-cinta-yang-tragis.html' title='Cinta Suruh Hera Datang Jakarta'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzc8y-MMpiI/AAAAAAAAAFA/e9U5TM7czEY/s72-c/hera+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-8808104824805991456</id><published>2007-10-10T23:34:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:26.053-08:00</updated><title type='text'>Kisah si Uceng Dibalik Rekor MURI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzcd9OMMpaI/AAAAAAAAAD8/gn5inB9KXyQ/s1600-h/transtv.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzcd9OMMpaI/AAAAAAAAAD8/gn5inB9KXyQ/s200/transtv.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131603238030452130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah banyak peristiwa aneh, langka, unik, terbanyak, tercepat, dan ter- lainnya yang tertoreh di Museum Rekor Indonesia (MURI), termasuk salah satunya beberapa bulan lalu di Jakarta, tepatnya pada hari Minggu tanggal 21 Januari 2007. Di hari itu, sekitar pukul 15.30 WIB, MURI kembali mencatat peristiwa seleksi penerimaan pegawai terbanyak di Stadion Gelora Bung Karno. MURI menganugerahkan piagam rekor kepada Trans Corp Company yang telah berhasil mengumpulkan kurang lebih 110.000 orang sebagai Peserta Rekruitmen dan Seleksi Broadcaster Development Program Batch 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah itu terhitung untuk peserta yang akan mengikuti tes di Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan Semarang pada minggu berikutnya. Fantastis memang, sekaligus menjadi cerminan betapa banyaknya sarjana di negeri ini yang menjadi pengangguran. Hari itu, di Jakarta 65.000 manusia sedang berhadapan dengan kenyataan; tertawa bahagia dan lulus seleksi atau sedih dan pulang dengan tangan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran TRANS Corp Company hanya akan meloloskan 500 peserta tes menjadi karyawan atau karyawati. Jika demikian sudah bisa ditebak hanya 500 manusia yang akan tertawa bahagia dan selebihnya akan menangis. Mungkin ini sebuah kalkulasi yang tak lazim dan menyiratkan sebuah pertanyaan yang tak lazim pula: berapa tetes air mata tercatat di MURI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membagi penuturan kisah seorang peserta rekruitmen dan seleksi Broadcaster Development Program Batch 7, asal Makassar yang ikut berpartisipasi sehingga Trans Corp Company mendapatkan rekor MURI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Kota Makassar diguyur hujan. Waktu menunjukkan pukul 22.30 ketika seorang anak muda di dalam kamar kos mencoba mengatupkan mata di atas kasur yang tak lagi empuk. Si anak muda mengaku beberapa hari terakhir ia selalu gelisah menjelang tidur. Bayangan wajah sang ayah, ibu, dan adik-adiknya di kampung halaman terus berkelindan di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak meraih gelar sarjana tahun lalu di STIKOM Fajar Makassar ia belum mendapat pekerjaan hingga kini. Dan sejak itu pula rasa bersalah pada keluarga terus menghantuinya. Dulu, semasa kuliah si anak muda yang bernama Zaif Al Kadir atau akrab dipanggil Uceng, 26 tahun, ini mengaku pernah bekerja sebagai loper koran selama sepuluh bulan. Ia mengundurkan diri lantaran gajinya pernah dipotong akibat tak sengaja koran jualannya jatuh ke selokan pada saat hujan turun begitu derasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia beralih profesi sebagai pramusaji di sebuah restoran cepat saji selama dua tahun. Setelah lulus sebagai sarjana komunikasi, kini Uceng berkeinginan bekerja sebagai jurnalis.&lt;br /&gt;Anak muda itu bangkit dari kasur dan menyalakan televisi 14 inci yang tergelatak di pojok kamarnya. Tak berapa lama kemudian dari kotak ajaib itu muncul iklan membawa setitik harapan: “ikuti seleksi dan rekruitmen TRANS TV…” Begitu penggalan kalimat iklan yang tertera di layar kaca televisi dan di sudut kanan atas terlihat logo: TRANS TV. Seketika Uceng tersenyum girang membaca kalimat itu. Saat itu ia mengaku sangat senang ketika pertama kali melihat iklan itu di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Uceng membuka laci lemari pakaian untuk mencari ijazah yang ia simpan diantara tumpukan lembaran sertifikat pelatihan dan workshop jurnalistik. Setelah itu ia mengemasi pakaiannya. Semangat untuk mengikuti tes perekrutan karyawan Trans Corp Company di Jakarta kini tak terbendung lagi. Esok pagi ia berencana pulang kampung di Kabupaten Soppeng yang berjarak kurang lebih 200 km dari Kota Makassar untuk menyampaikan niatnya itu pada kedua orangtuanya. “Sebagai anak yang baik, sudah sepatutnya saya meminta doa restu orangtua sekaligus meminta uang sebagai bekal ke Jakarta,” ujar Uceng mengenang persiapannya berangkat ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 14 Januari 2007. Sore itu langit Jakarta mendung ketika Uceng menuruni tangga pesawat yang menerbangkankan dirinya dari Makassar. Seorang teman asal Makassar yang sudah lama menetap di Jakarta telah menunggunya di lobi bandara. Si teman lantas membawa Uceng menuju kawasan Cilandak Barat tempat di mana ia mengontrak sebuah rumah.&lt;br /&gt;Malam pertama di Jakarata Uceng mengajak temannya mencari warnet untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang tes yang akan ia ikuti. Uceng tak sabar lagi ingin mendapatkan nomor registrasi peserta melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang hari pelaksanaan tes, Uceng melewati hari-harinya di Jakarta dengan suasana suka dan duka. “Lebih banyak duka-nya sih. Saya pikir nasib saya di Jakarta tak jauh beda di Makassar, tiap hari makan terigu,” kata Uceng membahasakan mie instan sebagai terigu. Ia mengaku betah tinggal di Jakarta meski harus menghadapi resiko makan tidak teratur. “Ah, biasa itu. Dulu kalau kiriman beras terlambat, saya gunakan momen itu untuk puasa sunnah. Makanya sekarang saya terserang penyakit maag,” kata Uceng lagi dengan suara datar.&lt;br /&gt;Sepintas nasib Uceng terdengar membanggakan, menggelikan, juga mengharukan. Betapa tidak, meski ia menyadari peluangnya sangat kecil untuk bisa lulus tes, namun ia tetap bersemangat untuk ikut. “Hidup ini pilihan!” ucapnya menirukan kalimat dalam iklan salah satu produk pasta gigi. “Sekali layar terkembang pantang biduk ke tepian! Kecuali layarnya robek, saribattang,” sambungnya disertai gurau canda. Tentu Uceng tidak sendirian. Entah berapa banyak anak muda seusianya yang datang dari berbagai daerah ke Jakarta, dengan cita-cita yang sama: jadi karyawan TRANS TV atau TRANS 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu tanggal 21 Januari 2007. Siang itu sinar matahari menyengat kulit saat kawasan Gelora Bung Karno terlihat sesak oleh puluhan ribu manusia. Tak berapa lama kemudian mereka duduk berderet di bangku stadion serupa penonton pertandingan bola yang sebentar lagi digelar. Jam menunjukkan pukul 14:45 tetapi tes belum juga dimulai. Tak sedikit peserta mulai merasa gerah dan kepanasan menunggu lembaran ujian yang tak kunjung dibagikan. Mereka harus bersabar menunggu lantaran acara seremonial yang diisi dengan penganugerahan rekor MURI kepada Trans Corp Company lebih didahulukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uceng duduk di deretan bangku tengah stadion Gelora Bung Karno. Di dadanya menggelantung kartu peserta yang bertuliskan identitas diri dan nomor registrasi: JKT - 15740. “Bambang na. Mandi keringat ki’ menunggu. Panjangnya lagi pidatonya Pak Chaerul Tanjung. Bayangkan, banyak sekali peserta yang datang ke stadion dari jam delapan pagi, sementara tes baru dilaksanakan pada jam empat lewat. Untung banyak cewek cantik di dekatku,” kata Uceng bergurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng ia bertanya pada beberapa orang peserta asal daerah lain yang duduk di dekatnya tentang berapa umur, tinggi, dan sarjana apa? Dan jawaban-jawaban yang terlontar dari mulut mereka justru mengusik pikiran Uceng. Ia mulai mempertanyakan keseriusan Trans Corp Company mengadakan perekrutan calon karyawan karena ternyata tak sedikit peserta yang ikut tes tidak memenuhi syarat seperti yang telah ditentukan. Misalnya, ada peserta yang mengaku belum sarjana, tinggi di bawah 170 cm dan berumur 28 tahun. Sementara syarat untuk mengikuti tes, peserta harus memiliki ijasah minimal D3, tinggi minimal 170 cm dan umur maksimal 27 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya pihak Trans menerapkan aturan itu pada tahap seleksi administrasi agar calon peserta tes yang tidak memenuhi persyaratan tidak diikutkan. Sebab bagaimana pun nantinya, mereka yang dinyatakan lolos tes pertama akan “jatuh” juga pada tahap berikutnya, kasihan kan?” kata Uceng menuturkan keheranannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Uceng benar, kalau saja peraturan di perketat pada tahap seleksi administrasi, tentu mereka yang tidak memenuhi persyaratan tidak perlu jauh-jauh datang dari penjuru negeri ini untuk mengadu nasib di Jakarta. Adakah aturan ini segaja diabaikan agar berhasil mengumpulkan orang banyak dan mendapat rekor MURI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Januari 2007 sekitar pukul 22:30 Uceng mengakses internet untuk melihat pengumuman peserta yang lulus tes. Bertepatan dengan itu, ayah dan ibu Uceng yang berada di Soppeng menelpon anaknya di Jakarta untuk mengetahui kelulusan si anak. Tubuh Uceng lunglai di kursi saat ia tak menemukan namanya tertulis di antara nama-nama peserta yang dinyatakan lulus tes tahap awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu ia mengaku sulit berdamai dengan kenyataan yang sedang dihadapinya. Sesaat Uceng merasa frustrasi akan keadaan yang seolah membuat dirinya tak punya kuasa lagi terhadap tubuh dan nasibnya. “Loyoka waktu saya liat tidak ada namaku. Langsung saya ingat orangtuaku di kampung. Kayak mimpi rasanya,” kata Uceng dengan wajah nelangsa. Ia berusaha meredam tangisnya ketika mengabari orangtuanya lewat handphone bahwa dirinya tidak lulus. “Suaraku bergetar waktu saya bilang sama Amboku tidak lulus ka’, beliau tahu kalau saya menangis. Amboku bilang, Jangan menangis, Nak. Sabar saja. Jangan putus asa,” tutur Uceng menirukan pesan orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan terakhir pada kisah itu setidaknya dapat menggugah empati kita. Akhirnya tersirat lagi sebuah pertanyaan: apakah sebenarnya mekanisme penganugerahan sebuah peristiwa untuk mendapat rekor MURI? Jika menilik kembali peristiwa yang berhasil mendapatkan penghargaan rekor MURI selama ini, tentu dengan mudah kita dapat mengetahui bahwa peristiwa itu biasanya disebut dengan awalan “ter”. Misalnya; terbanyak, terpanjang, terbesar, tertinggi, terkuat, tercepat atau mungkin sebaliknya. Atau peristiwa lainnya yang dinilai unik, aneh, dan ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, tak keliru MURI menganugerahkan penghargaan pada Trans Corp Company karena prestasinya sebagai perusahaan pertama yang berhasil mengumpulkan peserta calon karyawan “terbanyak”. Teman saya, Uceng, menjadi bagian kecil dari catatan rekor ini. Tapi ia tampaknya tak begitu peduli pada rekor itu, pun pada "partisipasi" kecilnya. Sekarang, ia sibuk mencari kerja yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-8808104824805991456?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/8808104824805991456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=8808104824805991456' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/8808104824805991456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/8808104824805991456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2007/10/kisah-si-uceng-dibalik-rekor-muri.html' title='Kisah si Uceng Dibalik Rekor MURI'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzcd9OMMpaI/AAAAAAAAAD8/gn5inB9KXyQ/s72-c/transtv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-2138567726367572924</id><published>2007-10-10T23:29:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:26.146-08:00</updated><title type='text'>Sepotong Cerita Deviasi Anak Kampus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzcm--MMpcI/AAAAAAAAAEQ/XndBDqA_eBw/s1600-h/64975_smu_08_123_469lo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzcm--MMpcI/AAAAAAAAAEQ/XndBDqA_eBw/s200/64975_smu_08_123_469lo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131613163699873218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namanya Lulu. Tentu bukan nama sebenarnya. Karena ia bersedia diwawancarai dengan perjanjian, jati dirinya tak diungkap. Ia datang dari sebuah desa di Kabupaten Pinrang. Ayahnya seorang imam masjid di desanya, ibunya biasa berjualan sayuran dan buah-buahan di kawasan pasar sentral Pinrang. Ketika Lulu menamatkan sekolah menengah di kampungnya, ia melanjutkan ke tingkat berikutnya di Makassar. “Saya memilih jurusan manajemen, biar nanti jadi sekretaris,” ungkap Lulu. Kini Lulu sudah semester enam di kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulu tinggal sendiri di sebuah kamar kos berukuran 4x3 yang terletak di jalan Urip Sumohardjo. Saat pertama kali mengorek cerita tentang pekerjaan sampingan yang dilakukannya, saya mesti menelaah beberapa istilah. Yang pertama adalah “omset”. Lulu berkata bahwa ia telah punya “omset tetap". Nah, omset adalah sebutan bagi Om-Om yang menjadi langganannya. “Usianya hampir seperti bapakku, seorang pengusaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menawarkan jasa melayani pelanggan yang disebutnya “omset” itu, Lulu juga mulai melebarkan sayap sebagai “penghubung”, untuk membantu teman-temannya yang berkeinginan menjadi ayam kampus. Ia lebih senang menyebut dirinya "agen".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami sedang asyik berbincang, mendadak ponsel Nokia seri N73 milik Lulu bernyanyi. Lamat-lamat saya mendengar suara perempuan dari ponsel di tangan gadis manis ini. Usai ia menutup percakapan jarak jauh itu, Lulu berkata, “Model-modelku sudah dalam perjalanan ke sini. Cantik-cantik. Nanti lihat sendiri deh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini istilah kedua: “model”. Model yang dimaksud Lulu bukan sosok pegawati yang biasa berjalan di atas catwalk dalam acara fashion show, melainkan istilah bagi teman-temannya yang berprofesi sebagai “ayam kampus”. Soal istilah “ayam kampus” yang sering digunakan untuk membahas dunia kelam mahasiswi ini, juga kurang diterima Lulu. Ia lebih senang dengan istilah “model” untuk menyebut teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menunggu para model itu datang, Lulu terus bercerita bagaimana siklus terbentuknya komunitas kecilnya itu. “Awalnya saya cuma ikut-ikutan sama seorang sepupu yang kuliah di sini. Dia itu cantik dan lincah sekali cari “omset”. Dia bisa menemani om-om tiga orang dalam sehari. Karena dia cantik, dia biasa memperoleh satu juta rupiah untuk satu kali jalan. Waktu masih kuliah, malah dia yang sering mengirimkan uang pada orangtuanya di kampung. Ia mengaku bahwa di Makassar dia kerja di bank, padahal dia kuliah di sebuah akademi perawat, itu pun tidak selesai. Dasar Malin Kundang millenium!” ujar Lulu sambil tawa. Saya menerka-nerka, istilah “Malin Kundang millenium” mungkin maksudnya anak durhaka abad ke-21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut penuturan Lulu, suatu hari, ketika sedang menemani sepupunya menemui tamunya di hotel, ia ditawari Rp500 ribu oleh tamu itu jika bersedia menemani salah seorang temannya yang juga berada di lobi hotel. Semula ia tidak mengerti mengapa ada tarif sejumlah itu kalau sekedar menemani duduk saja. “Gratis juga boleh kalau cuma ditemani duduk, pikir saya waktu itu,” kata Lulu mengenang keluguannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulu ragu, curiga, lantas menolak tawaran itu. Akan tetapi, ia termakan bujuk rayu sepupunya yang meminta agar ia mau ikut menemani tamu-tamunya berkaraoke di dalam ruangan yang telah dipesan. “Hanya setengah jam kami berkaraoke, tiba-tiba kami ditawari pil ekstasi oleh kedua laki-laki tua itu. Sepupuku ikut membujuk dan akhirnya saya menenggak sebutir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian kami larut dalam irama house music. Saya mulai tak terkendali. Saya seperti orang kesurupan di bawah kendali dentuman musik itu.” kenang Lulu.&lt;br /&gt;“Itu kali pertama saya jual diri dan menghianati pacar saya,” ujarnya sambil membakar ujung kretek yang terselip di bibirnya. Ia terus mengepulkan asap rokok saat wawancara berlangsung.&lt;br /&gt;Lulu hanya satu dari sejumlah mahasiswi yang saya kenal, yang memilih mengisi waktu dengan pekerjaan sampingan seperti ini. Latar belakangnya selalu seragam dan terkesan melodramatis mirip kisah sinetron: tergiur godaan kota besar dan mencari jalan pintas untuk hidup nyaman.&lt;br /&gt;Rata-rata di satu kampus, saya mengenal lima orang yang membentuk komunitas tertutup seperti yang dilakukan Lulu dengan teman-temannya. Tentu mereka tidak terbuka pada banyak orang tentang profesi sampingan mereka, selain tercatat sebagai mahasiswi.&lt;br /&gt;Para model yang disebut Lulu akhirnya tiba di kamar kos Lulu. Namanya Dewi, Rara, Ati, dan Uji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya ketahui gadis-gadis berpenampilan modis ini masih berstatus mahasiswi pada perguruan tinggi yang berbeda. Dari penampilan mereka, sekilas tentu mereka tak ada bedanya dengan mahasiswa pada umumnya. Saya baru menangkap perbedaan nyata itu dari bahan obrolan mereka, tentang tempat hiburan malam yang dikunjungi, tentang pelanggan yang dilayani dalam beberapa hari terakhir, tentang cerita lucu dan vulgar saat menjalankan profesi ini, dan tentu saja tentang tarif dan apa yang mereka sebut sebagai hasil jerih payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian mengikuti kelima mahasiswi ini ke sebuah tempat bermain billiar di pusat kota. Kata Lulu, tempat seperti ini hanyalah salah satu lokasi yang lazim untuk menembak sasaran. “Si ulat buas dan si daun muda bisa berkenalan melalui teman, atau berkenalan langsung di tempat-tempat seperti, kafe, mall, THM, atau acara lain,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi di daerah lokalisasi, mahasiswi-mahasiswi ini sangat selektif memilih teman kencan. Mereka bebas menentukan apakah si tamu layak ditemani atau tidak. Dalam hal tarif pun mereka tidak punya harga pasti. Biasanya mereka akan melontarkan basa-basi yang cerdik dengan mengatakan bahwa dalam waktu dekat mereka membutuhkan sejumlah uang untuk suatu keperluan: membayar uang kuliah atau rumah kos yang sudah mendesak. Si tamu yang memiliki penciuman tajam layaknya anjing pelacak, dengan cepat akan memahami maksud lawan kencannya. Segera ia membantu memberikan uang dengan berpura-pura prihatin dan bermurah hati. “Ibarat pepatah, penipu saling menipu,” bisik Lulu menahan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian mahasiswi seperti Lulu dan teman-temannya, tentunya mendapatkan satu juta rupiah untuk sekali beroperasi, perbandingannya bagai langit dan bumi dengan kiriman orang tua yang hanya berkisar Rp300.000 per bulan. Godaan memang dari segala arah. Bagi yang tak kuat iman seperti Lulu dan empat orang mahasiswi yang saya temui ini, salah jalan memang selalu menjadi niscaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah penyesalan atau setidaknya keinginan untuk keluar dari dunia kelam ini? Bagi Lulu, bukan sekarang saatnya untuk memberi jawaban. “Siapa yang tak mau hidup enak? Coba lihat cewek yang duduk di sudut sana. Namanya Angel. Dia pemain lama, dan dengar-dengar kabarnya sudah punya rumah di Panakukkang Mas dan punya mobil. Tarifnya sudah bisa hingga dua juta.” Lulu terus tertawa dan mengepulkan asap rokoknya. Tentu, hanya ia yang tahu suara hatinya yang paling dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-2138567726367572924?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/2138567726367572924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=2138567726367572924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/2138567726367572924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/2138567726367572924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2007/10/sepotong-cerita-deviasi-anak-kampus.html' title='Sepotong Cerita Deviasi Anak Kampus'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/Rzcm--MMpcI/AAAAAAAAAEQ/XndBDqA_eBw/s72-c/64975_smu_08_123_469lo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7207348515516725174.post-4438129636225168056</id><published>2007-10-10T23:15:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:33:26.327-08:00</updated><title type='text'>Film Ditolak LSF, Angga Tak Putus Asa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/RzcfSeMMpbI/AAAAAAAAAEE/_RNx4-NzfuY/s1600-h/6april07.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/RzcfSeMMpbI/AAAAAAAAAEE/_RNx4-NzfuY/s200/6april07.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131604702614300082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada suatu pagi di awal Maret tahun 2006, tidak seperti hari-hari biasanya, Rumah Susun Tanah Abang terlihat ramai. Puluhan warga sekitar mengerubungi lokasi itu. Dua ruangan ala rumah susun telah diset menjadi lebih menarik secara visual. Di dalam ruangan itu, beberapa kru tampak sibuk mempersiapkan peralatan shooting. Hari itu merupakan hari pertama shooting film berjudul Foto, Kotak &amp;amp; Jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pojok ruang, seorang anak muda berusia dua puluhan sedang tergolek lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat dan matanya menyorot redup. Tubuh lemah itu dikitari beberapa artis, dan seorang gadis muda yang tak lain adalah kekasihnya. Ini bukanlah bagian dari adegan film, melainkan kisah nyata yang terjadi di balik layar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok anak muda yang terbaring sakit itu adalah sang sutradara. Ia mendadak roboh ketika shooting sedang berlangsung. Tak berapa lama kemudian, ayah dan ibunya datang bersama seorang dokter. Kehadiran orangtuanya seperti membawa energi ke tubuhnya. Dengan bersemangat ia memutuskan shooting tetap dilanjutkan hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angga Dwimas Sasongko. Tak berlebihan jika anak muda berusia 22 tahun ini disebut harta karun yang dimiliki dunia perfilman Indonesia saat ini. Di usianya yang masih sangat muda ia telah menyutradarai sebuah film panjang yang diperankan aktor dan aktris ternama; Jajang C Noor, Christian Sugiono, dan Vino G Bastian. Kini ia sedang menggarap film layar lebar bergenre horor yang akan diputar di bioskop di penghujung tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Angga, begitu pemuda ini biasa disapa, cita-citanya menjadi sutradara berawal ketika ia melihat kakaknya membuat film pendek. “Waktu itu saya masih kelas 2 SMA, saya melihat kakak saya bikin film pendek hanya menggunakan kamera handycam,” kata Angga. Sejak saat itu, berbekal handycam pinjaman, ia pun membuat film pendek dengan biaya sendiri. “Sebagian uang jajan dari orangtua saya sisihkan untuk bikin film pendek,” lanjut Angga. Akhirnya, pada tahun 2002, salah satu film pendeknya yang berjudul: Maya berhasil menjadi pemenang Silver Prize Ziphort Movie Competition 2002. Disusul tahun berikutnya, film Alter Ego mendapat penghargaan Grand Prize Ziphort Movie Competition 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angga bukan tipe orang yang cepat puas. Ia tidak berhenti berkarya sampai di situ saja. Meski terbentur biaya yang minim serta peralatan seadanya, ia terus membuat film pendek dengan mengajak teman sekelas sebagai aktor dan adiknya menjadi pemegang lampu. “Paling biaya produksi itu hanya kita gunakan membeli kaset mini DV dan untuk makan,” ujar Angga. Untuk melakukan editing gambar, ia dibantu teman-temannya dengan menggunakan komputer sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah proses kreatif anak muda ini berlangsung dalam menghasilkan karya. Ia mengaku tak mau kreatifitasnya terkungkung hanya karena keterbatasan modal dan peralatan. Tahun 2004, film pendek besutannya yang berjudul: Ladies Room kembali memenangkan Close-Up Planet Movie Competition 2004 kategori Second Best Movie, dan diputar di Common Ground Short Film Festival di Washington.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi yang diraih Angga pada ajang itu menerbangkan dirinya ke sebuah negara yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya: Australia. Ia bersama temannya, Ginatri S Noer yang menulis skenario Ladies Room mendapat beasiswa Summer School 35 mm Production di Melbourne University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam di awal tahun 2005, menjelang hari ulang tahun kekasihnya, Angga menyendiri di dalam kamar. Ia sedang memikirkan hadiah ulang tahun yang akan ia berikan pada gadis itu. Akhirnya, ia memutuskan membuat film pendek sebagai hadiah ulang tahun. “Film itu berjudul Strangely Beautiful. Jika para penyair mengungkapkan perasaan mereka lewat puisi, saya memilih menuturkan perasaan melalui visual…,” kenang Angga seraya tersenyum. Dan film indie ini kemudian mendapat penghargaan Best Film and Best Film Technique Sulastri Film Festival 2005, dan diputar di World Woman Confrence 2005 di Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi demi prestasi yang ia raih kian memacu semangatnya untuk mewujudkan cita-cintanya menjadi sutradara film panjang. Bersama teman-temannya ia mengumpulkan modal untuk membuat film panjang dengan memakai video digital. “Segaja kami menggunakan video digital supaya ongkos produksinya lebih murah,” kata pemuda bekulit putih ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Angga menunjukkan kreativitasnya membuat film. Meski dengan dana terbatas, ia masih mampu menggaet beberapa pekerja film profesional ikut dalam produksi film panjang perdananya itu. Termasuk melibatkan aktris kawakan, Jajang C Noor sebagai salah satu pemeran Foto, Kotak &amp;amp; Jendela. “Beruntung kami bertemu orang-orang profesional yang bersedia dibayar ‘harga teman’,” papar Angga. Film itu selesai dengan meninggalkan utang yang tak sedikit. Mimpinya –film hasil karyanya bisa ditonton orang banyak– sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, menonton film dengan format digital saat ini bukan hanya mimpi belaka. Sebab, sebuah jaringan bioskop baru telah dibuka, dan memiliki proyektor digital untuk memutar film. Hal itu yang membuat Angga semakin optimis dan berharap filmnya mendapat apresiasi penonton yang luas. Ia yakin filmnya yang ber-format digital tentu bisa diputar di bioskop tanpa harus dipindahkan lagi ke pita seluloid yang dapat menelayan biaya hingga milyaran rupiah.&lt;br /&gt;Selangkah lagi mimpi Angga akan menjadi kenyataan. Segera ia mengirim salinan filmnya ke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Sensor Film (LSF), guna mendapatkan surat tanda lulus sensor dari lembaga itu. Namun, perjuangan Angga tak semulus kisah dalam filmnya. Obsesi anak muda ini tersandung di meja LSF. Ternyata produksi film di negeri ini tak semudah yang dibayangkan. Lembaga itu menolak film Angga dengan mengacu pada PP No. 6 tahun 1994 tentang Usaha Perfilman. Dalam pasal 1 mengenai definisi, disebutkan: pertunjukan film adalah pemutaran seluloid yang dilakukan melalui proyektor mekanik. Tentu aturan ini tidak berlaku untuk format dan proyektor digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angga, kelahiran Jakarta, 11 Januari 1985, tidak menyerah sampai di situ. Bersama teman-temannya ia terus mengusahakan filmnya bisa sampai pada penonton. “Terakhir kami berencana memutar film itu dengan cara ‘bergerilya’ dari kampus ke kampus sambil menunggu peluang itu datang. Kami juga sedang mendekati seorang investor yang mulai tertarik pada film itu,” ungkapnya dengan nada optimis. Menurut Angga, pada bulan Agustus tahun lalu, film ini mendapat apresiasi penonton di ajang festival bertaraf internasional Jogja Netpac Asian Film Festival 2006. “Ketika film itu selesai diputar, para penonton melakukan standing ovation. Satu bentuk penghargaan yang membuat kami terharu waktu itu,” lanjut Angga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Angga adalah kisah insan kreatif yang ingin ikut meramaikan dinamika berkesenian di negeri ini tapi diperhadapkan dengan persoalan birokrasi yang menjemukan. Tetapi anak-anak muda seperti Angga yang memiliki semangat dan keterampilan selalu gelisah untuk mewujudkan kreativitasnya. Mereka akan terus menggeliat dan berjuang sekuat tenaga untuk mencari jalan sendiri. Mari kita tunggu film terbaru Angga akhir tahun ini.  Sebuah film horor berjudul Jelangkung 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7207348515516725174-4438129636225168056?l=matapisau.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matapisau.blogspot.com/feeds/4438129636225168056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7207348515516725174&amp;postID=4438129636225168056' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/4438129636225168056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7207348515516725174/posts/default/4438129636225168056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matapisau.blogspot.com/2007/10/film-ditolak-lsf-angga-tak-putus-asa.html' title='Film Ditolak LSF, Angga Tak Putus Asa'/><author><name>AKU</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dWZSpBeli-4/RzcfSeMMpbI/AAAAAAAAAEE/_RNx4-NzfuY/s72-c/6april07.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
