
Tiga Jam Paling Mendebarkan
Siang itu awan hitam berarak di langit kota Pare-Pare. Pukul 11.30 wita, aku sedang sibuk menyiapkan naskah untuk live Kabar Siang tvOne. Seperti biasa.. Pastinya aku berkoordinasi dengan sejumlah kontributor di lapangan, dan juga salah satu teman di biro Makassar yang sedang piket, kebetulan hari itu adalah jadwal ka Budi. Sambil koordinasi mengenai content laporan dan up date terbaru informasi KM. Teratai Prima, ka Budi menyinggung mengenai salah satu kontributor “ajaib” kami, Pak Gusni, hehehehe...
“Duhhh Ve.. Gawat nih! Pak Gusni!”
“Pak Gusni kenapa Kak Bud?”
“Sudah dua hari HPnya tidak aktif. Terakhir dia ikut KRI. Kakap melakukan penyisiran di laut Makassar bersama Tim SAR gabungan. Pak Gusni hanya berbekal sebungkus rokok. Duh, jangan-jangan…”
Ah, kalimat terakhir Ka Budi membuat aku ikutan risau. Bagaimana tidak, selain dikenal ramah, Pak Gusni salah satu aset berharga yang dimiliki Biro Makassar. Ia adalah kontributor tvOne untuk wilayah kabupaten Gowa. Usianya berkisar 40 tahun. Wajahnya jenaka namun tangkas. Kemanapun ia pergi, tas berukuran kecil selalu setia menggelayut di pingganggnya. Tas pinggang khas pendaki gunung itu memiliki kantung depan model jaring transparan. Disitulah Pak Gusni selalu menyelipkan ‘Rexona Power Man’ miliknya, seolah-olah benda ajaib pengusir bau badan itu memiliki nilai eksotis untuk dipamerkan.
Satu hal yang menarik dan selalu aku ingat tentang Pak Gusni Kardi adalah motor bututnya. Kurang jelas mereknya apa dan diproduksi tahun berapa. Jika analoginya manusia, motor berkarat itu berwujud kakek-kakek berumur 80-an yang tinggal tunggu waktu malaikat maut datang menjemputnya. Ketika berjalan, motor tua itu seolah membawa kawanan anak tikus yang ribut kelaparan: cit…cit…cit…cit. Begitulah, konon satu-satunya perkakas motor itu yang tak mengeluarkan suara adalah klakson. Sungguh, motor antik itu bagai besi rongsokan yang diberi mesin serta dua roda.
Dilihat dari rangkanya yang ringkih, maka bisa dipastikan sudah banyak bautnya yang menjanda bertahun-tahun lantaran mornya tanggal satu persatu, tercecer di jalanan dan hilang tak ketahuan rimbanya. Kadang kala kami sulit membedakan mana warna tanah mana warna asli motor itu. Saking tebalnya tanah yang menempel pada setiap sisinya, kalau ditaburi biji jagung akan berpotensi tumbuh subur di sana. Perkara kebersihan motor itu, agaknya sang tuan telah menyerahkan kuasa sepenuhnya pada alam dengan air hujan yang tercurah dari langit. Apabila musim kemarau tiba, percayalah motor itu tidak akan pernah bertemu dengan air. Motor yang malang.
Untuk menyalakan mesinnya saja diperlukan kaki berkekuatan super ekstra yang tak akan cukup jika hanya tujuh atau sembilan kali hentakan. Brum…brum…brum… Ketika mesin menyala, suara motor itu bising bukan main menyerupai mesin parut yang keselek tempurung kelapa. Suaranya itu menghambur dari liang knalpot bersama percikan oil pekat. Meskipun sepintas terdengar garang, tetapi aku yakin kecepatan larinya hanya bisa diandalkan juara jika diadu pacu dengan bendi yang mengangkut lima orang. Karenanya, teman-teman di Biro selalu mengeluh dan mengusulkan Pak Gusni berangkat dari rumahnya dua jam lebih awal sebelum narasumber keburu kabur.
Siapapun yang menderita gusi bengkak akan ngeri membayangkan dirinya dibonceng oleh Pak Gusni menuju klinik gigi paling terdekat sekalipun. Getaran yang ditimbulkan oleh mesin kuda besi itu memang luar biasa. Tak jarang kuseng jendela kantor kami ikut bergetar bagai dilanda gempa berkekuatan rendah jika motor Pak Gusni merayap masuk halaman. Demikianlah sosok Pak Gusni yang selalu mengunjungi kami dengan senyum khasnya yang senantiasa ia lontarkan sebelum membuka helm di kepalanya. Helm dengan model tak biasa yang menyerupai topi baja para tentara di medan perang.
“Jadi selanjutnya bagaimana Ka Bud?” tanyaku.
“Kalau tidak ada kabarnya dalam tempo empat hari maka kami akan melaksanakan tahlilan di kantor Biro,” jawab Ka Budi dengan nada menahan tawa.
Tiga jam berselang, Rusli, kontributor tvOne untuk Kotamadya Pare-pare datang membawa kabar gembira. Ia mengaku baru saja menerima telepon dari Pak Gusni yang meminta dijemput di pelabuhan Pare-Pare. Kabar itu kami sambut dengan suka cita. Aku langsung menghubungi Ka Budi melalui HP.
“Halo, anak buah Ka Budi terdampar di pelabuhan Pare-Pare…”
“Siapa? Pak Gusni? Alhamdulillah, cepat perintahkan teman-teman segera menjemput beliau. Tolong Ve jamu dia baik-baik, kasih makanan yang lembek, seperti bubur, kasih minum susu atau teh hangat. Pasti kondisinya lemah, tiga hari di laut hanya berbekal kamera dan sebungkus rokok.”
Beberapa jam kemudian, Pak Gusni muncul di lantai empat Perpustakaan Daerah Kotamadya Pare-Pare yang menjadi basecamp tim liputan tvOne. Ia diantar seorang angkatan laut menggunakan motor. Tampilan Pak Gusni sungguh jauh dari bayangan kami. Ia terlihat bugar penuh semangat. Tak sedikitpun kesan terbelit derita lantaran melawan lapar yang terpancar dari wajahnya. Di tangannya ada kantung plastik berisi lima bungkus biskuit. Pada sisi kemasan biskuit itu tertera: TIDAK UNTUK DIPERJUAL BELIKAN (MAKANAN KHUSUS TNI ANGKATAN LAUT). Salah seorang kontributor bernama Idul yang sudah sangat mengetahui rasa dan manfaat dari biskuit itu, memaparkan bahwa inilah rahasia kebugaran Pak Gusni meski tiga hari tiga malam terombang-ambing di tengah laut tanpa bekal makanan. Bekal sederhana dengan komposisi bahan GANDUM, TELUR, SUSU, TANPA PENGAWET.
“Wah, pantasan Pak Gusni tidak kelaparan, komposisinya komplit. Jangan-jangan biskut ini juga mengandung sate kambing,” celetuk Idul. Yap sedikit mengenai Idul, dia punya cita-cita menjadi salah satu anggota TNI, namun sayangnya postur tubuh yang dia miliki membuat dia hanya bisa foto bareng dengan anggota TNI, ikut dalam kegiatan mereka dengan status sebagai wartawan, atau bisa juga dengan mengetahui pasti makanan khas yang menjadi bekal para TNI saat terombang-ambing di perairan.
Pak Gusni tak acuh pada kami, di sudut ruang ia tampak asyik ngobrol dengan Angkatan Laut itu, kawan seperjuangannya di laut. Mereka terkesan sangat akrab. Dari percakapan itulah kami kemudian mengetahui bahwa Pak Gusni ternyata sama sekali tak menyangka KRI Kakap yang berangkat dari pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar akan meneruskan penyisiran sampai tiga hari lamanya lalu merapat di pelabuhan Pare-Pare, karenanya ia tak sempat mempesiapkan bekal apapun selain sebungkus rokok kretek dan kamera.
“Ve, jangan-jangan kemarin Pak Gusni sudah dilantik juga jadi TNI Angkatan Laut. Lihat, dia cuma peduli sama teman barunya….” Bisik Idul sembari menggasak biskuit berwarna biru itu, oleh-oleh dari Pak Gusni. Selamat datang di kota Pare-Pare, Pak Gusni. I’m glad to see you in a healthy day!
0 komentar:
Post a Comment