Friday, October 31, 2008

Syamsul Bahri & Datuk Maringgih


Oleh: Sudirman JK


Selain La Jenggo, aku punya satu kawan lagi, kami sering memanggilnya dengan sebutan Ibe. Kawanku ini mengidap penyakit narsis yang lumayan akut. Dia selalu merasa terlahir sebagai cowok paling cakep dan paling pintar di jagad raya ini. Ke mana pun kami berjalan dia selalu merasa gadis-gadis yang berpapasan dengan kami senang memerhatikan dirinya. Kalau sudah begitu, dia tak sungkan-sungkan berbisik di telingaku: “Mungkin seperti inilah nasib Nabi Yusuf, ke mana-mana selalu jadi pusat perhatian gadis-gadis cantik, susah juga ya jadi cowok cakep,” ujarnya tanpa beban. Parah bukan?

Suatu siang di awal bulan September lalu, ponselku tiba-tiba menerima MMS berisi foto kawanku itu satu frame bersama HIM Damsyik, disertai teks: Syamsul Bahri dan Datuk Maringgih. Setelah kuamati dengan seksama, entah dari sudut mana ada kemiripan dirinya dengan Gusti Randa, pemeran Syamsul Bahri dalam film televisi Siti Nurbaya. Malah wajah kedua manusia dalam foto itu ada kesamaan bagai ayah dan anak. Sama-sama kurus dengan tengkorak muka yang meyakinkan seolah-olah mereka ada kaitan sel-sel DNA. Semestinya, teks yang menyertai foto itu berbunyi: Datuk Maringgih dan foto masa mudanya. Betul tidak?

Beberapa tahun yang lalu dia pergi meninggalkan kami (bukan wafat lho) tetapi dia memilih merantau ke Jakarta. Ada kegirangan sekaligus kepiluan saat dia memutuskan pergi mengais-ngais nasibnya di jauh sana. Kami senang karena merasa terbebas dari kejahilan dan kenarsisan dirinya tanpa ampun dan sedih karena dia pergi meninggalkan utang rokok + mie instant + telur + teh botol yang menumpuk di warung langganan kami di samping rumah kos. Dan tumpukan utang itu baru kami ketahui setelah dia hampir sebulan di perantauan. Aku membayangkan air mukanya membangun keceriaan lantaran berhasil membebaskan diri dari segala tagihan dengan mewariskannya pada kami –sahabat-sahabatnya. Kurang ajar!

Kawanku ini kerap menulis cerita pendek di surat kabar dan skenario FTV dengan nama pena Boraq Cambuq. Dia salah satu penulis fiksi yang pernah dimiliki negeri ini dengan prestasi yang sama sekali tak pernah gemilang. Ibe pernah menjelaskan pada kami perihal namanya yang ganjil itu dan menyerupai nama sebuah maskapai penerbangan. Katanya, Boraq adalah nama masa kecilnya di kampung. Ibunya membekali nama itu dengan harapan kelak anak laki-lakinya itu menjadi seorang pilot yang bisa keliling dunia. Namu sayang, beranjak dewasa dia malah tergolong anak muda yang takut ketinggian, memanjat pohon mangga saja dia bakalan ngeri melongok ke bawah. Maka pupuslah harapan sang Bunda. Sedangkan Cambuq diambil dari nama ayahnya. Seorang ayah yang menyesal telah melahirkan anak lelaki yang saban hari hanya menghabiskan waktu melamun di toilet. Ayah yang malang!

Soal perempuan dia termasuk penipu yang ulung. Janji sana janji sini tak satupun ditepati. Kelihaiannya mengibuli perempuan mana pun sudah teruji di mata kami. Kadangkala kami menjulukinya sebagai menteri memperdaya wanita. Entah apa yang menarik pada dirinya hingga dia begitu mudah meluluhkan hati seorang perempuan dari jarak jauh sekalipun, bahkan mampu melumpuhkan perempuan yang tidak pernah melihat wajahnya yang standar itu. Maka wajar saja ketika itu kami menyimpulkan dia telah mewarisi berbagai ilmu pelet dari sejumlah guru beraliran ilmu hitam. Semoga dia membaca tulisan ini, amin!

Friday, October 10, 2008

Kisah Bulan Puasa Yang Tertinggal



Indahnya Ramad
an Bersama Fashion TV


Lagi-lagi ini kisah jenaka
sahabat saya, La Jenggo. Bulan suci yang baru saja berlalu masih menyisakan kesedihan dan kekonyolan tiada tara bagi kami –anak-anak rantau yang tinggal di rumah kos di Jakarta. Betapa tidak, sahur menyantap mie goreng + telur rebus, buka puasa makan itu-itu juga. Lemak dan karbohidrat yang terkandung pada makanan pokok kami itu pada akhirnya sukses menyuburkan jerawat tak hanya di pipi dan jidat kami, tapi juga di pantat, jenisnya pun telah menyerupai gumpalan-gumpalan bisul yang imut. Teori pasar La Jenggo mengatakan: siklus menu meja makan kami berputar ditempat, bermuara dari dapur minim asap, dan menghasilkan puluhan miniatur bisul yang menjengkelkan. Teori ekonomi yang membingungkan bukan?

Larut malam, ketika saya tafakur mengaji dan berdoa berharap ketiban berkah Lailatul Qadar, La Jenggo malah asyik tiarap di depan tivi menikmati tayangan FTV (Fashion TV) yang dipancarkan dari negeri bidadari: Paris. Itu lho, sajian channel yang menyuguhkan berbagai rancang busana paling mutakhir dari penjuru kota mode di planet ini, dan peragaan busana mulai yang berkain tebal sampai yang paling tipis. Bagaimana malaikat sudi mampir di kamar kos kami? Wah, setelah ini saya akan menemui Pak Haji, pemilik kos kami agar tak lagi berlangganan paket standar TV satelit Indovision. Ini soal moral! Tapi apa mungkin Pak Haji mau menerima saran saya itu, paling-paling ia malah balik menagih sewa kamar kos kami yang sudah menunggak sejak tiga bulan yang lewat.

Entah apa menariknya program acara TV yang satu ini. Acaranya itu-itu melulu, selama 24 jam sepekan kita hanya disuguhi berbagai pemandangan model wanita super cantik kelas dunia dalam untaian berbagai gaun yang menawan. Dari gaun malam, gaun pesta, bahkan sampai swimwear dan lingerie. Sepanjang acara nyaris tanpa dialog, yang terdengar hanya hentakan music techno, disco remix, hip hop, dan R&B silih berganti. Kalaupun ada dialog, paling sepotong saja terlontar dari bibir seksi para model yang berteriak di moncong microfon menggunakan ragam bahasa dari belahan dunia. Misalnya: I like Fashion TV....I love Fashion TV....My name is Meling, chin chiolang from Hongkong, i like Fashion TV....Suzuki yamaha ajinomoto from Tokyo, I love Fashion TV....hanya itu!

Selain acara peragaan swimwear dan lingerie, ada dua acara lagi di FTV yang paling digemari oleh La Jenggo selama bulan puasa: Midnight Hot dan F Hot. Kedua acara ini menyajikan pemandangan model-model berkaki jenjang dengan busana super minim yang diperagakan di atas catwalk dan sesi pemotretan. Bahkan sesekali terlihat busana dengan pola yang sepertinya belum tuntas dijahit hingga dua onggok daging di dada sang model terlihat jelas menggelantung polos –Agaknya, di negeri itu buah dada wanita tak terlampau istimewa, berbeda dengan pria di negara kita yang hanya melihat belahan dada wanita, maka kedua biji matanya seakan ingin meloncat keluar dan menggelinding binal di tanah. Kalau sudah begitu, jangan coba-coba iseng memindahkan channel ke TV lokal yang lebih banyak menayangkan program sikir atau tayangan shalat tarawih langsung dari kota Mekkah, karena bisa-bisa terjadi kiamat kecil. Siapa sanggup menandingi kekuatan otot-otot La Jenggo yang mirip badan kekar H. Rhoma Irama ketika memerankan film Jaka Swara.

Tanpa memiliki rasa malu sejumput pun, La jenggo mentasbihkan diri sebagai pemirsa setia FTV sejak dahulu kala. Menurutnya, dulu setiap ada kesempatan menginap di kamar hotel manapun, maka ia akan menyempatkan diri memutar tivi kesayangannya itu sampai beduk subuh ditabuh. Ia bahkan rajin berdoa agar kelak menerima beasiswa ke kota Paris dan tak lupa ia akan mengunjungi stasiun TV favoritnya itu, berfoto bersama para model dengan tangan yang melingkar di tubuh wanita cantik. Sungguh cita-cita yang tak luhur. Suatu malam, saya bersuara menayakan mengapa tak sekalipun saya melihat FTV memperagakan busana muslim sesuai moment bulan penuh berkah ini? Dengan lantang La Jenggo menjawab, “Kalo mau lihat peragaan busana muslim, sono noh, besok sore kamu ikut pengajian ibu-ibu yang diketuai istri Pak Haji....” Huh, dasar muslim abu-abu!

Begitulah, La Jenggo saban malam melewati bulan Ramadan tahun ini. Menunggu waktu sahur dikumandangkan dari corong-corong pengeras suara di puncak menara Masjid sembari khusyuk menonton Fashion TV di dalam kamar kos kami. Tanpa sepotong pun lauk akan menjadi santapan sahur yang nikmat jika ia melahap semangkuk mie goreng sambil nonton FTV, katanya. Bahkan saat tiba waktu buka puasa, ia sanggup tak makan nasi sedikitpun dan hanya membatalkan puasa dengan menonton acara FTV. Trik berbuka puasa macam ini benar-benar tak patut ditiru. Terlalu!

Bagimana pun La jenggo berlaku anak setan, sahabat saya itu masih memiliki sisa-sisa kesadaran yang dibawahnya dari kampung. Sepersekian detik menjelang waktu Imsak, tangannya akan buru-buru memencet tombol remot tivi, berpindah ke acara reliji: Tafsir Al Misbah yang dibawakan Bapak Quraish Shihab di Metro TV. Alhamdulillah....!





Wednesday, October 01, 2008

DERMAGA SUNYI 2


Nyanyian Duka Si Anak Rantau


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Lailaha illallahu, Allahu Akbar…

Allahu Akbar, Walillahilhamd…

Apa kabar Ibu di sana? Malam ini aku melukis wajahmu ketika gema takbir membahana di merata waktu dan ruang. Orang-orang melantunkan nyanyian kemenangan yang mengandung kebahagiaan. Adakah frasa itu mewakili jiwamu seperti yang mereka rasa saat ini? Kutahu Ibu tak menginginkan apa-apa selain merindukan aku segera pulang. Tapi aku tak jua datang dan hanya mengirim nyanyian duka untukmu. Aku tak mau Ibu tahu, di tepian dermaga sunyi ini, aku duduk sendirian bertarung melawan rindu pada Ibu dan Ayah.

Di atas kanvas aku telah menyempurnakan wujud Ibu lengkap dengan warna-warni penderitaan. Kulihat usiamu semakin susut, tubuh renta, dan sisa kecantikanmu yang dipenuhi keriput. Bola matamu seperti cahanya lilin di sunyi malam yang diamuk badai topan. Di dalam dadamu kudengar erang ombak yang menggulung deras merajam karang. Suaramu masih berpusaran di telingaku lirih menyanyikan kidung lama “Ininnawa Sara Nyawa” yang selalu melenakan tidur masa kanakku.

Tubuhku bergetar membayangkan esok akan ada dua sungai kecil mengalir di pipimu yang tak lagi halus. Sungai kesedihan yang mengalirkan air yang memendam kerinduan yang sangat pada aku, anak lelakimu. Dan aku tahu apa di dalam hatimu: Ibu ingin aku pulang. Itu saja. Bila saat itu datang, Ibu akan tersenyum dan berlari kecil, dengan langkah terseok lelah menyambutku dengan dua tangan terbuka hendak mendekapku dalam pelukanmu yang hangat. Dekapan Ibu oase yang menenangkan, serupa malam yang basah oleh hujan.

Kesedihan ini menggigil bisu dalam keperihan hati membayangkan esok, Ibu duduk sendirian di beranda, menatap cakrawala di jauh sana yang dilintasi para tetangga berbondong-bondong bersama anak-anak mereka yang baru pulang dari perantauan. Anak-anak itu datang menemui Ibu dan Ayahnya untuk merayakan bersama hari lebaran tahun ini, dan berziarah ke makam keluarga mereka. Sementara Ibu bergeming di beranda itu dengan mata yang sembap berkawan sunyi. Menunggu dan terus menunggu. Aku rindu melihat rambut perak Ibu yang tergerai panjang disisir angin sore yang datang dari pegunungan dekat rumah kita. Doakan agar Tuhan membuka jalan untuk aku pulang mengusir rindumu.

Apa kabar Ayah di sana? Lihatlah, kulukis juga wajahmu dan akan kusandingkan dengan Ibu. Aku tahu Ayah sangat mencintai Ibu, dan Ibu pun begitu. Lantaran itu, kudekatkan Ayah dan Ibu dalam lukisan. Sungguh, aku tidak pernah lupa cerita-cerita Ayah tentang masa kecilku yang melelahkan. Kata Ayah dulu, aku pernah mengencingi mulut Ayah ketika terlelap di tepi malam, aku pernah menyemplungkan kunci motor Ayah di kloset rumah itu, aku pernah melukai jari kiri ayah dengan sebilah pisau dapur, aku senang menampar dan mencakar wajah Ayah. Dan Ayah hanya tersenyum menahan amarah sebab tak tega melihat aku yang masih dalam usaha belajar berjalan. Kata Ayah lagi, saat itu sebetulnya aku belum lahir. Benarkah?

Sungguh Ayah, kau kerap membingungkan aku dengan kalimat filosofi yang mungkin kau karang sendiri. Aku masih ingat, Ayah pernah mengatakan bahwa sesungguhnya aku dua kali lahir ke dunia. Pertama lahir dari kandunga ibu, dan kedua lahir dari rahim alam. Masa ketika kelakuanku masih sangat melahkan itu, Ayah bilang aku belum lahir untuk yang kedua kalinya sebab aku sama sekali tak menyadari apapun yang kuperbuat saat itu. Aku hanya bergerak mengikuti naluriku: mengencingi Ayah, membuang kunci motor, juga melukai kulit Ayah. Benarkah manusia sebenar-benarnya telah lahir ketika hari pertama ia mulai mengingat apa yang telah ia lakukan? Beranjak dewasa kutemukan jawaban teka-teki Ayah itu. Pada sebuah halaman buku yang menulis: AKU ADA KARENA AKU BERPIKIR. Seperti itukah yang ingin Ayah katakan?

Dari dermaga sunyi ini kukirim salam maaf lewat desau angin buat Ayah. Betapa dulu aku suka keliru memahami bahasa cinta yang sering kau tuturkan dengan caramu yang ganjil. Setiap kali mendengar bentakan kemarahan Ayah, aku seolah mendengar gelegar suara yang keluar dari mulut seorang lawan. Kau kuanggap musuh yang senantiasa berdiri angkuh di hadapanku setiap kali menebar nasehat, dulu. Maaf Ayah. Saat ini aku benar-benar berharap lagi akan mendengar nasehat-nasehatmu meski tak disertai senyuman.

Ibu, sampaikan salam rinduku pada Ayah, katakan berkali kali padanya, suatu hari nanti aku akan datang membasahi tanah makamnya denga air mata…..


dermaga semakin sunyi saja malam ini


setahun sudah Ayah wafat: Jakarta, 30 Oktober 2008