
Nyanyian Duka Si Anak Rantau
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Lailaha illallahu, Allahu Akbar…
Allahu Akbar, Walillahilhamd…
Apa kabar Ibu di sana? Malam ini aku melukis wajahmu ketika gema takbir membahana di merata waktu dan ruang. Orang-orang melantunkan nyanyian kemenangan yang mengandung kebahagiaan. Adakah frasa itu mewakili jiwamu seperti yang mereka rasa saat ini? Kutahu Ibu tak menginginkan apa-apa selain merindukan aku segera pulang. Tapi aku tak jua datang dan hanya mengirim nyanyian duka untukmu. Aku tak mau Ibu tahu, di tepian dermaga sunyi ini, aku duduk sendirian bertarung melawan rindu pada Ibu dan Ayah.
Di atas kanvas aku telah menyempurnakan wujud Ibu lengkap dengan warna-warni penderitaan. Kulihat usiamu semakin susut, tubuh renta, dan sisa kecantikanmu yang dipenuhi keriput. Bola matamu seperti cahanya lilin di sunyi malam yang diamuk badai topan. Di dalam dadamu kudengar erang ombak yang menggulung deras merajam karang. Suaramu masih berpusaran di telingaku lirih menyanyikan kidung lama “Ininnawa Sara Nyawa” yang selalu melenakan tidur masa kanakku.
Tubuhku bergetar membayangkan esok akan ada dua sungai kecil mengalir di pipimu yang tak lagi halus. Sungai kesedihan yang mengalirkan air yang memendam kerinduan yang sangat pada aku, anak lelakimu. Dan aku tahu apa di dalam hatimu: Ibu ingin aku pulang. Itu saja. Bila saat itu datang, Ibu akan tersenyum dan berlari kecil, dengan langkah terseok lelah menyambutku dengan dua tangan terbuka hendak mendekapku dalam pelukanmu yang hangat. Dekapan Ibu oase yang menenangkan, serupa malam yang basah oleh hujan.
Kesedihan ini menggigil bisu dalam keperihan hati membayangkan esok, Ibu duduk sendirian di beranda, menatap cakrawala di jauh sana yang dilintasi para tetangga berbondong-bondong bersama anak-anak mereka yang baru pulang dari perantauan. Anak-anak itu datang menemui Ibu dan Ayahnya untuk merayakan bersama hari lebaran tahun ini, dan berziarah ke makam keluarga mereka. Sementara Ibu bergeming di beranda itu dengan mata yang sembap berkawan sunyi. Menunggu dan terus menunggu. Aku rindu melihat rambut perak Ibu yang tergerai panjang disisir angin sore yang datang dari pegunungan dekat rumah kita. Doakan agar Tuhan membuka jalan untuk aku pulang mengusir rindumu.
Apa kabar Ayah di sana? Lihatlah, kulukis juga wajahmu dan akan kusandingkan dengan Ibu. Aku tahu Ayah sangat mencintai Ibu, dan Ibu pun begitu. Lantaran itu, kudekatkan Ayah dan Ibu dalam lukisan. Sungguh, aku tidak pernah lupa cerita-cerita Ayah tentang masa kecilku yang melelahkan. Kata Ayah dulu, aku pernah mengencingi mulut Ayah ketika terlelap di tepi malam, aku pernah menyemplungkan kunci motor Ayah di kloset rumah itu, aku pernah melukai jari kiri ayah dengan sebilah pisau dapur, aku senang menampar dan mencakar wajah Ayah. Dan Ayah hanya tersenyum menahan amarah sebab tak tega melihat aku yang masih dalam usaha belajar berjalan. Kata Ayah lagi, saat itu sebetulnya aku belum lahir. Benarkah?
Sungguh Ayah, kau kerap membingungkan aku dengan kalimat filosofi yang mungkin kau karang sendiri. Aku masih ingat, Ayah pernah mengatakan bahwa sesungguhnya aku dua kali lahir ke dunia. Pertama lahir dari kandunga ibu, dan kedua lahir dari rahim alam. Masa ketika kelakuanku masih sangat melahkan itu, Ayah bilang aku belum lahir untuk yang kedua kalinya sebab aku sama sekali tak menyadari apapun yang kuperbuat saat itu. Aku hanya bergerak mengikuti naluriku: mengencingi Ayah, membuang kunci motor, juga melukai kulit Ayah. Benarkah manusia sebenar-benarnya telah lahir ketika hari pertama ia mulai mengingat apa yang telah ia lakukan? Beranjak dewasa kutemukan jawaban teka-teki Ayah itu. Pada sebuah halaman buku yang menulis: AKU ADA KARENA AKU BERPIKIR. Seperti itukah yang ingin Ayah katakan?
Dari dermaga sunyi ini kukirim salam maaf lewat desau angin buat Ayah. Betapa dulu aku suka keliru memahami bahasa cinta yang sering kau tuturkan dengan caramu yang ganjil. Setiap kali mendengar bentakan kemarahan Ayah, aku seolah mendengar gelegar suara yang keluar dari mulut seorang lawan. Kau kuanggap musuh yang senantiasa berdiri angkuh di hadapanku setiap kali menebar nasehat, dulu. Maaf Ayah. Saat ini aku benar-benar berharap lagi akan mendengar nasehat-nasehatmu meski tak disertai senyuman.
Ibu, sampaikan salam rinduku pada Ayah, katakan berkali kali padanya, suatu hari nanti aku akan datang membasahi tanah makamnya denga air mata…..
dermaga semakin sunyi saja malam ini
setahun sudah Ayah wafat: Jakarta, 30 Oktober 2008