Saturday, May 10, 2008

ASRUL SANI



Sketsa Perjalanan Kreativitas Seorang Sineas Legenda

Oleh: boraq cambuq

Siapa Asrul Sani?

Hari itu, awal Juni 1927, tersiar kabar bahwa Permaisuri Raja Besar Nan Empat Belas (nama sebuah kota kecil di daerah Rao Mapatunggul, bagian utara Sumatera Barat) sedang hamil tua dan tak lama lagi akan segera melahirkan. Karena kabar itu, selama sepekan rumah sang Raja disesaki oleh utusan atau wakil para petinggi adat Besar Nan Empat Belas yang datang silih berganti. Mereka tak ingin melewatkan momen bersejarah bagi keluarga sang Raja. Begitulah, menurut kebiasaan yang belaku, jika permaisuri Raja akan melahirkan, maka seluruh perwakilan dari nagari mengutus wakil-wakilnya untuk menyambut kelahiran sang bayi.

Pukul dua malam, tepatnya tanggal 10 Juni 1927. Kesunyian malam itu dipecahkan letupan senjata secara beruntun yang ditembakkan ke udara oleh penembak-penambak berbedil langsar. Beduk pun ditabuh meciptakan keriuhan yang tak biasa di malam hari bagi kota kecil itu. Keriuhan itu sekaligus sebagai pertanda atau semacam kabar bagi rakyat nagari bahwa keluarga sang Raja telah dianugerahi seorang anak. Dan oleh sang raja, bayi laki-laki yang baru lahir itu kemudian diberi nama: Asrul Sani.

Asrul tumbuh menjadi anak yang aktif dan gemar membaca. Beruntung ia memiliki ibu yang juga senang membaca. Bahkan ibunya memiliki perpustakaan pribadi yang kala itu masih berisi buku-buku terbitan Balai Pustaka. Dan menjelang tidur, Asrul selalu terlelap oleh buaian cerita-cerita rakyat yang didongengkan oleh ibunya. Mungkin saja hal itu yang menggugah bakatnya sebagai pencerita handal di kemudian hari.

Di sekolah, Asrul tergolong anak yang pintar. Ia dikenal lihai dalam hitung-menghitung dan selalu memperoleh nilai tertinggi dalam pelajaran itu. Karena bakatnya itu, setamat HIS, keluarganya mengusulkan agar ia melanjutkan pendidikan ke sekolah Koningin Wilhelmina School (KWS), semacam sekolah teknik di Batavia (Jakarta). Sebelum berangkat ke Jakarta ayah Asrul meninggal dunia. Benar dugaan ayahnya, Asrul lulus di KWS dengan nilai yang cemerlang. Namun itu tidak berlangsung lama sebab Asrul merasa tidak memiliki bakat dibidang teknik. Asrul memutuskan berhenti dan bersama ibunya ia kembali ke Rao.

Selama di Sumatera, Asrul mengisi hari-harinya dengan membaca buku-buku sastra dan sejarah kesusasteraan Yunani dalam bahasa Belanda. Ia mulai jatuh cinta pada sastra sejak membaca sebuah puisi karya penyair wanita Sappho (penyair abad ke-7 SM). Ibu Asrul kemudian tak ingin melihat anaknya itu menganggur lama. Maka, ibunya menyarankan agar dirinya kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Akhirnya, Asrul yang baru berusia enam belas tahun ketika itu menyusul abangnya, Chairul Basri, ke Jakarta. Ibunya hanya berpesan agar di perantauan ia rajin shalat dan tak lupa berpuasa.

Seniman Yang Disegani

Setibanya di Jakarta, Asrul memilih besekolah di Taman Siswa. Di kelas ia duduk sebangku dengan Pramoedya Ananta Toer. Dan di luar sekolah ia bergaul dengan beberapa seniman ternama seperti; Chairil Anwar, Rivai Apin, Cornel Simandjuntak, dan beberapa lagi lainnya. Masa itu revolusi sedang bergejolak. Asrul bahkan sempat ikut Lasykar Rakyat Jakarta, dan masuk tentara. Ia bergabung dengan Pasukan 001 sampai pada puncak revolusi ketika dicetuskannya proklamasi PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia).

Usai Revolusi, tentara Jepang masuk ke tanan air dan menutup semua sekolah kecuali beberapa perguruan tinggi. Asrul Sani memilih melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Dokter Hewan di Bogor (sekarang Institut Pertanian Bogor). Satu-satunya sekolah yang luput dari kebijakan tentara Jepang menutup sarana pendidikan saat itu. Asrul rupanya tak betah berkutat dengan kuda dan jenis hewan lainnya. Ia justru tekun mempelajari berbagai jenis alat musik. Dalam tempo yang singkat, ia berhasil menguasai berbagai instrumen musik seperti biola dan klarinet. Selain itu, ia juga pandai bernyanyi. Asrul memang dikenal sebagai anak yang serba bisa.

Pada akhir pendudukan Jepang, Asrul Sani mulai dikenal sebagai sastrawan. Diawali dengan menulis puisi yang kemudian dipublikasikan pada harian-harian di Jakarta yang terbit di masa itu. Karir Asrur Sani di dunia kesenian semakin menanjak. Bukan hanya puisi yang ditulisnya, cerpen dan esainya kemudian bertebaran di media-media cetak. Ia berhasil membawa namanya menjadi salah satu sastrawan yang disegani. Berikut penggalan salah satu puisi, “Surat Dari Ibu” karya Asrul Sani:


Pergi ke laut lepas, anakku sayang

Pergi ke alam bebas!

Selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau.



Jika bayang telah pudar

Dan elang laut pulang ke sarang

Angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri

Dan nahkoda sudah tahu pedoman,

Boleh engkau datang padaku!


Di kalangan para seniman yang sering berkumpul di kawasan Senen, Asrul dikenal berwawasan luas, cerdas, juga selalu berbicara tegas dengan bahasa yang elegan dan bersahaja. Pada setiap debat dalam komunitasnya atau di forum-forum, Asrul selalu tampil memukau dan membuat orang yang mendengarnya terkagum-kagum akan kecerdasannya. Bahkan tak jarang orang-orang sekitarnya terpingkal-pingkal mendengar kritiknya yang pedas dan kadang jenaka hingga membuat lawan debatnya tak mampu bersuara.

Pada suatu waktu, Ajip Rosidi menderita gout yang membuat tulang ruas jempol kaki kanannya terasa ngilu. Ajip datang dengan berjalan tertatih-tatih ke ruangan Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Ajip disapa oleh Asrul Sani, “Mengapa kaki kau, Jip?” Ajip Rosidi menjelaskan sesuai diagnosa dokter bahwa produksi asam urat dalam tubuhnya berlebihan hingga menyebabkan rasa sakit di tulang jempol kaki kananya. Asrul memberi saran dengan mimik wajah yang serius, “Coba kau periksakan gigimu, barangkali ada yang tak beres di situ.” Ajip mengikuti saran Asrul dengan mendatangi dokter gigi. Benar rupanya, setelah diteliti, dokter itu mengatakan bahwa gigi susuh bawah tumbuh miring, sehingga menumbuk gigi di sebelahnya. Harus di cabut. Pada kesempatan lain, Ajip beretemu lagi dengan Asrul di ruangan Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Kali ini Ajip yang menyapa Asrul denga pertanyaan, “Bagaimana kau tahu ada yang tidak beres dengan gigiku?” Asrul menjawabnya dengan tenang, “ Karena hal seperti itu terjadi juga pada kuda.” Ajip baru sadar, Asrul memang dokter hewan!

Beberapa kali nama Asrul Sani tercatat sebagai redaktur atau jajaran redaksi di berbagai majalah ternama, seperti; Gema Suasana, Gelanggang, Siasat, Pudjangga Baru, Majalah Indonesia, dan Zenith yang dipimpin oleh H.B Jassin. Bersama dua sahabatnya Chairil Anwar dan Rivai Apin, Asrul menerbitkan buku kumpulan sajak yang berjudul: Tiga Menguak Takdir (1950). Dan disusul kemudian buku kumpulan cerpennya yang berjudul Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat. Masa itu pula Asrul sangat menaruh minat pada dunia teater.

Bukan Sineas Karbitan

Tahun 1952 Asrul Sani diundang oleh Sticusa (Yayasan Kerjasama Kebudayaan Belanda) untuk tinggal di Eropa. Kesempatan itu digunakan Asrul untuk mendalami dunia teater di Akademi Senidrama Amsterdam. Di sana ia pun belajar tentang bloking pentas dan teori akting Stanilavsky. Berawal dari situ ketertarikannya pada dunia film mulai tumbuh. Ia pun mendalami dunia film secara serius. Karena sebelumnya ia pernah membantu Usmar Ismail menulis skenario film bejudul Long March. Sekembalinya dari Belanda ia kembali aktif dalam kegiatan sandiwara.

Asrul Sani berangkat lagi ke Amerika pada tahun 1956. Selama setahun di sana ia mendapat kesempatan mempelajari dramaturgi dan sinematografi di University of southern California. Sepulang dari Amerika ia bergabung dengan PERSARI (Persatuan Artis Republik Indonesia) yang dipimpin oleh Djamaluddin Malik. Perusahaan film yang tergolong besar ini dikenal sebagai perusahaan yang mengutamakan film-film komersial. Berbeda dengan PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) di bawah pimpinan Usmar Ismail dikenal beranggotakan seniman yang idealis. Asrul kemudian mempersatukan kedua lembaga ini lewat film berjudul Lewat Jam Malam. Asrul Sani menulis skenario, Usamar Ismail sutradara, dan Djamaluddin Malik sebagai produser.

Titian Serambut Dibelah Tujuh adalah film pertama yang disutradarai oleh Asrul Sani pada tahun 1961. Sebelumnya Asrul hanya menulis cerita dan skenario, antara lain; Terimalah Laguku (1952), Lewat Jam Malam (1954), Pegawai Tinggi (1954), Lagak Internasional (1955). Lantas ia kemudian menulis skenario dan menyutradarai film Di Belakang Pagar Kawat Berduri yang diadaptasi dari cerita pendek Trisnoyuwono. Film ini mengalami pengcekalan pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), yang dilakukan oleh orang-orang yang beraliran kiri yang tergabung dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Organisasi PKI itu juga menyerang organisasi KFT (Karyawan Film dan Televisi) karena menganggap organisasi tersebut pro kapitalis-imperialis yang ditunggangi Amerika Serikat.

Asrul Sani bersama Usmar Ismail melakukan perlawanan dengan membentuk LESBUMI (Lembaga Seniman dan Buyawan Muslim Indonesia). Organisasi ini memberikan perlindungan kepada para seniman kreatif dan menjelaskan kepada masyarakat pentingnya fungsi berkesenian dalam kehidupan bangsa dan negara. Lewat Djamaluddin Malik, LESBUMI berhasil mendapat dukungan dari para kiai NU. Kehidupan kembali normal setelah PKI berhasil ditumpas pada akhir 1965, dan LESBUMI yang sempat aktif dengan menerbitkan majalah kebudayaan Gelanggang (1966) yang dipimpin Asrul Sani tak lagi terdengar gaungnya. Sejak saat itu, Asrul Sani total melibatkan diri dalam dunia perfilman. Ia bahkan ikut menggodok pembentukan peraturan yang mengharuskan importir film agar menyumbang untuk produksi film nasional. Peraturan itu berhasil meningkatkan gairah para produser serta mendongkrak produksi film dalam negeri.

Tahun 1970 Asrul kembali menyutradarai sekaligus merangkap sebagai penulis skenario film, Apa Yang kaucari, Palupi? Dan film ini berhasil meraih pengharagaan pada Festival Film Asia. Sekaligus memecahkan rekor sebagai film Indonesia pertama yang mendapat penghargaan Festival Film di tingkat Asia. Tidak hanya itu, beberapa film yang skenarionya ditulis oleh Asrul juga mendapat piala Citra, antara lain; Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Al-Kautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh. Tahun 1972 Asrul secara berturut-turut membuat film lagi dengan memotret situasi masyarakat pada zaman itu yang masih dalam tahap pencarian jati diri. Film-film itu diantaranya; Salah Asuhan (1972), Bulan di Atas Kuburan (1973), Jembatan Merah (1973), Kemelut Hidup (1977). Untuk filmnya yang berjudul Para Perintis Kemerdekaan (1977), Asrul diganjar penghargaan khusus (special award) untuk cerita terbaik dalam FFI 1981.

Asrul Sani menjabat sebagai Ketua Dewan Film Nasional setelah ditunjuk oleh Menteri Penerangan Ali Murtopo di tahun 1979. Salah satu hasil penting dari Dewan Film ini adalah diterbitkannya buku Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Perfilman Nasional (P4-N). Asrul menjabat Ketua Harian Dewan Film sampai beberapa periode. Sejak saat itu ia mundur dari kegiatannya sebagai sutradara. Kreativitasnya ia fokuskan pada penulisan cerita dan skenario. Sepanjang itu Asrul berhasil meraih tujuh piala Citra untuk penulisan.

Lewat film Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), nama Asrul kembali berkibar sebagai penulis cerita dan skenario yang mumpuni. Dan yang paling fenomenal adalah Nagabonar (1986) yang berhasil menarik perhatian berbagai kalangan untuk kembali menaruh perhatian pada film Indonesia. Kedua film itu menggegerkan jagad perfilman dalam negeri hingga menjadi perbincangan di mana-mana. Bahkan konon Menteri Depdikbud saat itu, Fuad Hasan, penggemar berat Nagabonar. Tidak sampai di situ, kiprahnya sebagai penulis dilanjutkan dengan menulis skenario film televisi yang tak kalah bobotnya. Pertama kali ia menulis cerita film televisi berjudul Mahkamah.

Karya Asrul kembali menjadi buah bibir setelah melakukan lompatan besar melalui skenarionya Siti Nurbaya sebagai film serial televisi. Cerita yang diadaptasi dari novel klasik karya Marah Roesli ini berhasil mencuri perhatian penonton. Itulah pertama kalinya film televisi yang kemunculannya amat ditunggu-tunggu penonton sekaligus sebagai karya sinematografi yang bermutu.

Asrul telah membuka lembaran baru bagi industri televisi sebagai tempat yang dapat menampung karya kreatif yang serius dan membuka pintu bagi mereka yang ingin berkarya secara sungguh-sungguh. Setelah itu Asrul Sani menghibur penonton dengan menulis skenario Sengsara Membawa Nikmat. Tentu film mini seri ini masih melekat diingatan kita bagaimana ceritanya berhasil menggugah perasaan tanpa harus dibumbui dengan mimpi-mimpi semu belaka seperti yang kita temui pada banya Sinetron di kekinian. Tak bisa disangkali, bakat yang dimiliki Asrul Sani sulit ditemukan tandingannya. Selama berkecimpung di dunia film, ia dikenal sebagai sineas yang idealis tanpa pernah ikut terbawa arus.

Daftar Karya Film Asrul Sani:


  1. Terimalah Laguku (1952)

  2. Lewat Jam Malam ( 1954)

  3. Pegawai Tinggi (1954)

  4. Lagak Internasional (1955)

  5. Buruh Bengkel (1956)

  6. Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959)

  7. Pagar Kawat Berduri (1961)

  8. Ballada Kota Besar (1963)

  9. Tauhid (1964)

  10. Fajar Masih Menyinsing di Permukaan Laut (1966)

  11. Apa Yang Kaucari, Palupi? (1969)

  12. Malin Kundang (1971)

  13. Desa di Kaki Bukit (1972)

  14. Mutiara Dalam Lumpur (1972)

  15. Salah Asuhan (1972)

  16. Bulan di Atas Kuburan ( 1973)

  17. Jembatan Merah (1973)

  18. Segenggam Harapan (1973)

  19. Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974)

  20. Ateng Mata Keranjang (1975)

  21. Chica (1976)

  22. Al-Kautsar (1977)

  23. Pembunuh di Tengah Kita / Gara-Gara Istri Muda (1977)

  24. Istriku Sayang, Istriku Malang (1977)

  25. Kemelut Hidup (1977)

  26. Para perintis Kemerdekaan (1977)

  27. Dr. Siti Pertiwi Turun ke Desa (1979)

  28. Bawalah Aku Pergi (1981)

  29. Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)

  30. Ke Ujung Dunia (1983)

  31. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985)

  32. Sebening Kaca (1985)

  33. Bintang Kejora (1986)

  34. Keluarga Markum (1989)

  35. Nagabonar (1986)

  36. Gema Kampus 66 (1988)

  37. Istana Kecantikan (1988)

  38. Nusa Penida (1988)

  39. Nanti, Kapan-kapan, Sayang (1990)

  40. Nada dan Dakwah (1991)

  41. Kuberikan Segalanya (1992)

  42. Pelangi di Nusa Laut (1992)

  43. Sorta (1982)


Cerita & skenario Televisi


  1. Gersang

  2. Ratna

  3. Monumen

  4. Mahkamah

  5. Arus Bawa

  6. Jaring Laba-Laba

  7. Siti Nurbaya (mini seri – 6 episode)

  8. Sengsara Membawa Nikmat (mini seri – 6 episode)

  9. Gerhana Terpanjang

  10. Apa Yang Kaucari, Adinda?

  11. Kejatuhan

  12. Derai-Derai Cemara

  13. Naga Bonar (serial – 30 episode)

  14. Pohon Kecil Mencari Matahari (mini seri – 3 episode)

  15. Rembulan Dalam Selubung

  16. Sripanggung

  17. Daerah Tak Bertuan (serial – 13 episode)

  18. Si Bakhil

  19. Daerah Persinggahan

  20. Antara Kemarin dan Hari Ini

  21. Karinah

  22. Balada Seorang Guru


(Tulisan ini ringkasan dari buku: Asrul Sani 70 Tahun, terbitan Pustaka Jaya)


















Wednesday, May 07, 2008

In The Name of Love: seharusnya "Roma and Juminten"


Sungguh, cerita film ini sangat menarik andai kata kita lebih dulu lahir dari William Shakespeare. Atau, akan lebih menarik lagi jika sutradaranya bukan Rudy Soedjarwo. In The Name Of Love serupa film yang kehabisan ide cerita. Ceritanya ‘disadur’ dari kisah cinta tragis Romeo and Juliet. Hanya saja, Rudy dan Titin Wattimena sebagai penulis skenario mungkin rada malu meniru total kisah klasik itu, maka endingnya dibelokkan sedikit di mana (katanya sih belum selesai alias bersambung seperti sinetron atau iklan Ponds) pemeran utamanya tidak jadi mampus.

Rudy Soedjarwo yang dulu mengawali karirnya dengan membuat film amatiran; Bintang Jatuh, Tragedi, sebaiknya gantung kamera saja dari dunia perfilman tanah air sejak ia menggarap film komersial dan berkualitas, Ada Apa Dengan Cinta? Agar dunia perfilman Indonesia selalu mengenangnya sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Saat itu, aku berharap besar perfilman Indonesia akan melaju kencang di tangan sutradara berbakat seperti Rudy. Namun pada kenyataanya, beberapa film berikutnya yang dibuat Rudy, seperti: Rumah Ketujuh, 9 Naga, Pocong 2, Mendadak Dangdut, dan Cintapucino, tidak membuahkan apa-apa yang patut dibanggakan lagi. Meskipun demikian, Rudy masih memiliki kelebihan yang jarang dimiliki sutradara film Indonesia lainnya, yaitu mengarahkan pemain dengan baik. Itu saja yang tersisa pada sosok Rudy Soedjarwo.

Film In The Name Of Love disesaki bintang tua dan muda yang beradu akting antargenerasi. Bagaimanapun Rudy berupaya menghadirkan aktor dan aktris yang lumayan hebat (kecuali Luna Maya), untuk menutupi lemahnya cerita, tetap saja hasilnya adalah film kotor nan miskin emosi. Tampil mega bintang seperti; Roy Marten, Cok Simbara, Christine Hakim, Tutie Kirana, Lukman Sardi, dan beberapa bintang muda lainnya. Tak ketinggalan Acha Septriasa yang belakangan bermain apik di beberapa layar lebar. Sayang, akting Acha masih bisa dikatakan stereotype dengan mengandalkan air mata dan bibir yang digetar-getarkan demi penggambaran seseorang yang tengah menahan emosi tak terkendali.

Film ini bertutur tentang Roma (Vino Bastian) yang menjalin hubungan cinta dengan Juminten (Acha Septriasa). Cinta mereka bermula di kantin kampus, ketika Roma menegur pakaian Juminten yang dianggapnya terlalu seksi dan bisa memancing lidah kaum pria menjulur-julur dengan liur menetes-netes layaknya anjing melihat tulang. “Pakaian lo itu nggak pantes,” begitu bunyi teguran Roma. Dan sejak itu mereka ingin mati karena cinta. “Cinta harus diperjuangkan!” pekik Roma pada suatu adegan yang dibuat agar memilukan. Itulah kalimat andalan sekaligus pesan film ini. Sebuah pesan yang pernah juga diteriakkan superstar kebanggaan kita, yang sepanjang hidupnya telah mematangkan niat menjadi penumpas segala kemaksiatan di muka bumi ini: Rhoma Irama, dalan film PERJUANGAN DAN DOA!

Seperti halnya keluarga Romeo dan Juliet, Keluarga Roma dan Juminten juga telah lama berselisih dan menyimpan dendam lama yang terus membara. Perselisihan dua keluarga besar dan kaya raya itu menjadikan cinta Roma dan Juminten sebagai tumbal. Sepasang sejoli yang rela mati demi cinta yang tumbuh dari ‘teguran pakaian seksi’ itu akhirnya harus memperjuangkan cinta mereka dengan cara ‘berdarah-darah’ lari dari rumah dan hendak kawin lari. Apakah Anda (pembaca) juga tipe lelaki atau wanita seperti Roma dan Juminten? Yang rela membangkang nasehat orangtua, bahkan mempertaruhkan nyawa demi pasangan yang Anda kenal tiga hari lalu? Oh My God… hindarkanlah hamba dari anak-anak sedurhaka ini.

Tetapi, ada yang menarik dari cerita film ini dan pada akhirnya nanti membuat aku terpingkal-pingkal dan spontanitas memaksa aku mengacungkan jari tengah ke layar bioskop. Menurutku ini adalah suspense atau semacam kejutan yang sungguh kurang ajar. Sepertinya Rudy sengaja melecehkan selera penontonnya. Begini, dalam kisah Romeo dan Juliet, Shakespears menciptakan pertarungan antara keluarga Capulet dan Montague berselisih karena persaingan bisnis. Dan film In The Name Of Love juga ingin menyuguhkan perselisihan antara dua keluarga yang dikemas misterius agar penonton penasaran untuk mengetahui apa gerangan yang membuat mereka saling membenci. Rudy berhasil membuat kita penasaran. Dan mau tahu alasannya dua keluarga Roma dan Juminten berselisih? Orangtua mereka ternyata pernah bersaing memperebutkan CINTA! Sebuah konflik yang sungguh cemen dan berhamburan di layar kaca (sinetron) setiap hari. Konflik ala sinetron yang kerap membuat penyakit maag-ku kambuh dan selalu mau muntah menahan mual.

Duuuh….capek menulis review film murahan macam ini. Sudahlah….sampai jumpa….!

In The Name of Love

Sutradara: Rudy Soedjarwo
Skenario: Rudy Soedjarwo, Titin Wattimena, Fahmi Rizal
Produksi: Variant Circle Production
Pemain: Vino G Bastian, Acha Septriasa, Christine Hakim