Tuesday, April 22, 2008

KEKASIH “THE ROMAN PICISAN”


Satu lagi cerita cinta usang digulirkan filmaker negeri ini. Sebuah film yang multi kotor di segala sektor terutama plot dan akting. Cerita adalah napas sebuah film, jika sejak awal mulai berembus sesak, akhirnya tinggal menunggu mati. Dari posternya, film Kekasih akan menggiring ingatan kita pada zona 80-an di mana masa itu Roy Marten belum mengenal sabu-sabu. Ya, film ini mengingatkan aku zaman di mana Roy Marten, Herman Felani, dan Rano Karno masih menguasai arena perfilman Indonesia sebagai bintang pujaan.

Premis film ini bisa dikatakan sebagai tambalan-tambalan cerita film tempo doloe berlatar roman picisan: dikisahkan sepasang bocah dipertemukan Tuhan melalui kecelakaan mobil yang kelak menumbuhkan rasa cinta hingga mereka dewasa. Tak indah rasanya cinta jika tak ada tembok penghalang. Dan kedua orangtua Maria menjadi temboknya. Mereka tak ikhlas putrinya menjalin kasih dengan pemuda yang dianggapnya gembel. Akhirnya mereka dipisahkan selama delapan tahun. Maria kembali ke Yogya dan menemui Jiwo yang masih bermuram durja lantaran gelora cinta yang terpendam. Jiwo tumbuh menjadi pemuda yang pemurung bahkan nyaris bisu. Saking pendiamnya, ia tak perlu berkata-kata sedikitpun saat hendak melumat bibir Maria. Selalu begitu. Beruntung ia sebagai laki-laki bisa mendapatkan kekasih cantik dan setolol Maria.

Aku curiga, skenario film ini sebetulnya ditulis di era 80-an oleh ayah Wisnu Adi, sang sutradara, dan belum sempat divisualkan sampai akhirnya industri perfilman kita jatuh pingsan. Suatu malam, Wisnu Adi mengutak-atik arsip ayahnya di dalam kamar dan ia menemukan bundelan kertas telah menguning dan lapuk dimakan rayap. Ternyata sebuah skenario yang belum tuntas. Wisnu tersenyum girang. Mimpinya membuat film akan segera terwujud. Segera ia bergegas menemui Bebi Hasibuan untuk menuntaskannya dan merncoba meramunya sedemikian rupa agar terasa lebih modern. Lantas ia menemui Chandra W untuk ia hasut agar bersedia memproduseri film yang akan dibuatnya berdasarkan skenario temuannya itu. Dan perbincangannya bersama sang calon produser malam itu berakhir dengan kata: deal! “Cerita yang sangat mengharukan….” Ujar Chandra lirih sembari mengusap air matanya usai membaca skenario di tangannya.

Mengharukan? Pada kenyataannya, adegan-adegan yang berupaya menguras air mata penonton justru menuai tawa yang bermakna melecehkan. Tengoklah adegan dimana Jiwo Samudro (Angga Dwisaputra) baru saja “memangsa” tubuh Maria (Vonny Kristianda), tanpa ada sebab mendadak lelaki kerempeng itu berteriak dengan kalimat cemen seperti ini: “Sepertinya kita tidak cocok, Maria!” beruntung kekasihnya itu tidak menjawab: “Apa gerangan maksudmu, Rudolfo?” Dan kelucuan itu diperparah lagi oleh suara Jiwo yang berteriak dengan suara cempreng bak kaleng susu yang diseret di atas jalan beraspal.

Mungkin saja, dialog-dialog yang ada dalam film ini sebagian dikutip dari lirik-lirik lagu ciptaan Leo Waldy, Imam S Arifin, atau juga Deddy Dores. Puitik nan syahdu. Seperti kalimat: Apalah arti diriku ini….kita mau kemana sih?…kemana waktu akan berjalan….bukankah cinta adalah kematian? Begitulah, kutipan kalimat-kalimat menggelikan diatas hanyalah separoh dari banyaknya ungkapan konyol dalam film ini. Sungguh, tak ada suspense sedikitpun dalam bangunan plot yang akan mengantar penonton mencapai klimaks. Bahkan untuk menciptakan konflik film ini terlihat gagap dan akhirnya berujung gagal. Lihat saja adegan ketika Jiwo murka di warung lesehan hanya karena Maria tak berselera menyantap makanannya. Dan dilanjutkan dengan adegan Maria yang tanpa alasan jelas tiba-tiba mampir berkhotbah tentang kekejaman Hitler sambil mencaci-maki sekelompok anak punk yang tengah mabuk di tepi jalan. Tak urung Maria mendapat perlawanan dari mereka. Dalam kekacauan yang dibuat-buat itu datanglah Jiwo sebagai pahlawan yang hendak membebaskan kekasihnya dari marabahaya.

Film ini juga dibanjiri pengadeganan klasik alias basi yang banyak ditemukan di film-film romantis, misalnya; mengisap jari kekasih kita yang berdarah teriris pisau, membuka jaket kita lalu menyelimuti sang kekasih meski ia sebetulnya tak kedinginan, mengusap darah di bibir kekasih yang baru saja menjadi pahlawan kesiangan.

Dari sisi pemain sungguh amburadul. Performance mereka berada dititik nadir. Akting Si Unyil dan kawan-kawan di TVRI dulu, jauh lebih baik daripada akting para pemain film ini. Denting piano Pongky “JIKUSTIK” sebagai music score yang mengalun mendayu-dayu tak mampu menggetarkan hati pendengarnya lantaran di segala sektor tak ada yang mendukung. Kehadiran Iwan Fals sepersekian menit membawakan salah satu lagu yang menjadi soundtrack film Kekasih lumayan menghidupkan suasana. Sayang, semua itu hanyalah semacam usaha yang sia-sia belaka tanpa mampu memberi power pada film ini. Siapapun penyanyi legenda yang akan hadir bernyanyi di film sekotor ini, hanya akan membuang-buang waktu saja. Percayalah!


Kekasih

Sutradara: Wisnu Adi
Skenario: Bebi Hasibuan
Produksi: Grandiz Media Productions
Pemain: Vonny Kristianda, Angga Dwi Saputra, Farah Diana

Wednesday, April 16, 2008

PLANET MARS: Entah, Selembar Handuk?


Planet Mars yang konon katanya hanya menampakkan batang hidungnya 800 tahun sekali tak ada hubungannya sama sekali dengan cerita film ini, dan film yang sungguh tidak menarik ini tak ada hubungangannya dengan Planet Mars. Bahkan di film ini, aku melihat Planet Mars seperti sebuah handuk berwarna oranye milik ibu dari Kapal (Yogi Finada) dan Donat (Ariyo Wahab), yang senantiasa setia bertengger di pundak wanita tua itu. (Tunggu sampai anda melihat adegan putaran planet berpindah ke gambar sebuah handuk yang menggantung di jemuran. Lho, kok aku jadi ngawur sih…? Maklum lagi teler habis menenggak tujuh gelas Ballo) Planet Mars hanyalah akal bulus Reka Wijaya untuk menimbulkan kesan bombastis atau mungkin sebuah usaha untuk menutupi kebingungannya mendapatkan judul yang tepat bagi cerita garingnya itu.

Terlalu sederhana premis dan plot yang terbangun di film ini. Dituturkan satu keluarga kecil nan bahagia yang hidup dalam kompleks perumahan. Mereka dikitari aneka jenis tetangga yang memiliki keganjilan riwayat hidup masing-masing. Adalah Kapal anak muda yang bawel berkenalan dengan gadis bernama Jasmine (Artika Sari Devi) di salah satu stasiun radio swasta di Kota Jakarta. Tanpa diminta, Kapal langsung meramal atau lebih tepatnya mengutuk kenalan barunya itu bahwa kelak si gadis akan mengalami kebotakan, ditabrak motor, dipecat dari kerjaan sampai perawan tua. Jasmine tersugesti dengan ocehan Kapal lantaran menemukan rambutnya rontok ketika bersisir, atasannya suka mengomel di kantor, dan sampai hari itu belum juga mendapat cowok. Jasmine menemui Kapal di rumahnya agar segera menarik kutukannya itu mesti ia ditawari berbagai persyaratan. Di rumah inilah, Jasmine mengenal cowok bernama Donat yang tak lain adalah kakak Kapal, dan akhirnya mereka menjalin hubungan asmara.

Sesuatu yang sederhana tidak selalu harus berakhir buruk. Ada juga kesederhanaan yang membuahkan kisah yang gemilang. Seperti beberapa film Steven Soderbergh yang membuat film-film realis, tema sederhana, namun berisi. Sayangnya, film ini memaparkan kesederhanaan yang tidak penting untuk diceritakan. Tak ada klimaks yang membikin pantat kita betah merapat di kursi bioskop. Berikut akting para bintang yang tidak bisa dikatakan baru lagi: Artika Sari Devi, Ariyo Wahab, dan Yogi Finanda, tampil kurang maksimal mengurangi kredibilitas. Akting mereka sungguh buruk. Di departemen sinematografi & artistik juga ikut hancur-hancuran serupa film yang kekurangan budget. Scoring yang digawangi Baim tak membuahkan melodi yang enak di telinga, bahkan mengganggu.

Diusung sebagai film bergenre komedi, film ini sama sekali tak lucu. Dialog-dialog yang dilontarkan para tokohnya pun terkesan garing bagai kacang tanah yang baru dijemur. Nggak enak dan bikin perut mules. Ah, Tidak perlu membodohi diri dengan berpanjang-panjang menulis review film yang tergolong kotor seperti ini. Buang-buang kalori saja. Kalau mau tertawa, mendingan nonton Tom & Jery aja di televisi. Lebih bagusan film kartun itu dibandingkan film anak negeri satu ini. Akhir kata: Planet Mars? Jangan gila dooong….!


Planet Mars

Sutradara: Reka Wijaya
Skenario: Reka Wijaya
Produksi: Ganesa Perkasa Films
Pemain: Artika Sari Devi, Yogi Finanda, Ariyo Wahab, Adhitya Putri, Eka “THE BRANDALS”


Tuesday, April 15, 2008

Kesurupan: Penghianatan Seorang Hero [Rizal Mantovani]



Cerita film ini ibarat bentangan rel kereta api yang besinya telah tua dan berkarat. Meskipun alurnya lempeng tanpa kelokan, namun sangat membahayakan jiwa penonton film Indonesia. Film ini sempurna mengulang kegagalan film horor negeri ini dengan penyajian premis yang itu melulu dan berpotensi men-jungkirbalik-kan perfilman kita ke jurang kematian.

Ironisnya, otak penebar bencana itu adalah seorang filmmaker handal yang sudah cukup lama melanglang buana dan di jagad sinema Indonesia: Rizal Manthovani. Sosok yang satu ini bahkan cukup disegani oleh “sebangsanya” para penggiat film. Bahkan sejarah kebangkitan film kontemporer di negeri mencatat namanya sebagai salah satu hero yang ikut menyadarkan perfilman Indonesia dari kondisi pingsan bersama tiga rekannya; Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T Achnas dengan sebuah film kolaboratif berjudul Kuldesak.

Mungkin Rizal tengah kesurupan ketika terbersit ide membuat film terbarunya ini. Hingga ia tak peduli lagi denga tinta emas yang memahat namanya ketika berhasil meneror penonton dengan film Jelangkung. Tak disangkali duet mautnya bersama Jose Poernomo ketika itu patut diacungi jempol. Terbukti film garapannya itu tercatat sebagai salah satu Film Indonesia yang menghasilkan laba terbanyak sebelum film Ayat-Ayat Cinta yang belakangan laris dengan alasan tidak jelas. Seperti yang kita tahu, Jelangkung adalah film horor yang menjadi pelopor bangkitnya segala jenis hantu di negeri ini yang hingga kini terus bergentayangan tiada henti menakut-nakuti penonton.

Kesurupan adalah film horor ke-lima Rizal setelah Jelangkung, Kuntilanak 1, Kuntilanak 2, Kuntilanak 3 setelah gagal dalam film bergenre komedi romantis Jatuh Cinta Lagi. Aku pikir, trauma kegagalan “sutradara muda berbahaya” kita yang satu ini terletak pada karyanya yang terakhir disebutkan. Jika ditelisik dengan kalkulasi jumlah penonton, jelas film yang dibintangi Krisdayanti dan Gary Iskak si Cambang Sabu itu mendulang rugi. Makanya Rizal menjatuhkan pilihan bergelut dengan hantu-hantu saja. Lantaran sekotor apapun sebuah film horor, konon memiliki jumlah penonton yang cukup lumayan untuk digerogoti isi kantongnya. Buktinya, sampai saat ini poster Kesurupan masih berkibar di beberapa bioskop Tanah Air.

Mengapa film sekotor Kesurupan bisa laku?

Lantaran penonton jenis film ini biasanya didominasi laki-laki buaya lapar yang kebetulan mandapat mangsa baru. Coba perhatikan mereka yang memilih nonton film horor, dipastikan mereka adalah muda-mudi yang datang berpasang-pasangan dan berebut memilih kursi bioskop paling pojok. Dan strategi “kesempatan dalam kegelapan” para penonton buaya lapar itu terbukti jitu. Ketiak mereka selalu laris sebagai tempat berlindung oleh para calon mangsanya yang ketakutan melihat penampakan hantu menjijikkan di layar lebar. Sementara si buaya lapar itu tidak konsentrasi lagi pada alur cerita film di depan mata, melainkan pikiran mereka terfokus di samping mata pada dua gundukan daging di balik baju pasangannya. Lutut mereka gemetar bukan karena ketakutan, melainkan bergetar karena terbakar nafsu birahi. Maka berhati-hatilah kalian wahai para wanita yang doyan film horor. Tanpa kalian sadari, sebenarnya Setan paling berbahaya berada di samping Anda. Ingat, kejahatan tidak hanya terjadi di kegelapan jalan, tetapi bisa juga terjadi di kegelapan bioskop. Waspadalah! Waspadalah!

Cerita Kesurupan adalah kisah klasik film horor Indonesia yang sudah sangat basi hingga membuat kita ingin muntah setelah menontonnya. Dikisahkan seorang mahasiswi baru benama Alin (Shareefa Daanish) yang menemukan sebuah boneka berkepala mirip Ki Joko Bodo di belantara hutan saat sedang mengikuti ospek yang dipimpin oleh Marik, diperankan aktor muda berbahya, Nicholas Sapulidi/Andhika Pratama. Iseng, Alin mengantongi Ki Joko Bodo ke perkemahan. Maka dimulailah aksi kesurupan itu. Meskipun Alin telah dipulangkan ke rumahnya, hantu bersuara robot itu terus merasuki tubuhnya. Tak tanggung-tanggung, ia kerap melompati jendela kamarnya yang terletak di lantai dua tanpa sekalipun mengalami cedera patah kaki. Dan film horor kita selalu tak asyik tanpa kehadiran seorang dukun, yang kemudian menyarankan pada keluarga dan teman-teman Alin agar boneka Ki Joko Bodo dikembalikan ke asalnya jika ingin aman dari teror roh Ki Sarwana Atmadirga. Begitulah, cerita yang sangat busuk telah dihidangkan seorang Rizal Manthovani kepada kita semua. Sebuah penghianatan kepada “sebangsanya” sekaligus penghinaan bagi penonton Indonesia.

Hampir lupa, di film ini kita juga dapat menikmati akting Nia Ramadhani yang sangat sinetronistik, bahkan abstrak sejak pertama kali nongol sebagai aktris. Di sini ia berperan sebagai Fely, sahabat Aline. Kupikir ia tak perlu repot-repot mengikuti casting untuk ikut meramaikan film sekotor ini, sebab ia cukup dikenal sebagai titisan Suzanna yang lihai bermain film horor. Selain itu, film Kesurupan memang sangat membutuhkan karakter di mana hanya Nia yang bisa memerankannya: seorang gadis yang mau merelakan bibirnya dikunyah lawan mainnya pada adegan yang tidak penting.

Sungguh, semula aku (dalam kondisi teler setelah menenggak lima gelas Ballo) tidak percaya film yang diproduseri duet Punjabi: Dhamoo & Manoj ini lahir dari tangan dingin Rizal Mantovani. Aku pikir film ini hanyalah sebuah karya seni bertema mistik hasil garapan tangan kutu-kutu busuk seperti si kembar siam; Koya Pagayo, Nayato Fionuala, Pinkan Utari. Dan dengan berat hati, aku akan menulis dengan tinta merah nama Koya Pagayo sebagai sutradara handal film hantu sejengkal di atas deretan nama Rizal Mantovani. Sebuah penghormatan? Rizal, ada baiknya Ente back to basic membuat video klip dan memulai kembali membangun nama Ente yang rusak itu dengan menyutradari video klip Kangen Band!

*Kritikus Mabuk dari Timur

Kesurupan

Sutradara: Rizal Mantovani
Skenario: Aviv Elham
Produksi: MD Pictures
Bintang: Nia Ramadhani, Andhika Pratama, Shareefa Daanish