
Satu lagi cerita cinta usang digulirkan filmaker negeri ini. Sebuah film yang multi kotor di segala sektor terutama plot dan akting. Cerita adalah napas sebuah film, jika sejak awal mulai berembus sesak, akhirnya tinggal menunggu mati. Dari posternya, film Kekasih akan menggiring ingatan kita pada zona 80-an di mana masa itu Roy Marten belum mengenal sabu-sabu. Ya, film ini mengingatkan aku zaman di mana Roy Marten, Herman Felani, dan Rano Karno masih menguasai arena perfilman Indonesia sebagai bintang pujaan.
Premis film ini bisa dikatakan sebagai tambalan-tambalan cerita film tempo doloe berlatar roman picisan: dikisahkan sepasang bocah dipertemukan Tuhan melalui kecelakaan mobil yang kelak menumbuhkan rasa cinta hingga mereka dewasa. Tak indah rasanya cinta jika tak ada tembok penghalang. Dan kedua orangtua Maria menjadi temboknya. Mereka tak ikhlas putrinya menjalin kasih dengan pemuda yang dianggapnya gembel. Akhirnya mereka dipisahkan selama delapan tahun. Maria kembali ke Yogya dan menemui Jiwo yang masih bermuram durja lantaran gelora cinta yang terpendam. Jiwo tumbuh menjadi pemuda yang pemurung bahkan nyaris bisu. Saking pendiamnya, ia tak perlu berkata-kata sedikitpun saat hendak melumat bibir Maria. Selalu begitu. Beruntung ia sebagai laki-laki bisa mendapatkan kekasih cantik dan setolol Maria.
Aku curiga, skenario film ini sebetulnya ditulis di era 80-an oleh ayah Wisnu Adi, sang sutradara, dan belum sempat divisualkan sampai akhirnya industri perfilman kita jatuh pingsan. Suatu malam, Wisnu Adi mengutak-atik arsip ayahnya di dalam kamar dan ia menemukan bundelan kertas telah menguning dan lapuk dimakan rayap. Ternyata sebuah skenario yang belum tuntas. Wisnu tersenyum girang. Mimpinya membuat film akan segera terwujud. Segera ia bergegas menemui Bebi Hasibuan untuk menuntaskannya dan merncoba meramunya sedemikian rupa agar terasa lebih modern. Lantas ia menemui Chandra W untuk ia hasut agar bersedia memproduseri film yang akan dibuatnya berdasarkan skenario temuannya itu. Dan perbincangannya bersama sang calon produser malam itu berakhir dengan kata: deal! “Cerita yang sangat mengharukan….” Ujar Chandra lirih sembari mengusap air matanya usai membaca skenario di tangannya.
Mengharukan? Pada kenyataannya, adegan-adegan yang berupaya menguras air mata penonton justru menuai tawa yang bermakna melecehkan. Tengoklah adegan dimana Jiwo Samudro (Angga Dwisaputra) baru saja “memangsa” tubuh Maria (Vonny Kristianda), tanpa ada sebab mendadak lelaki kerempeng itu berteriak dengan kalimat cemen seperti ini: “Sepertinya kita tidak cocok, Maria!” beruntung kekasihnya itu tidak menjawab: “Apa gerangan maksudmu, Rudolfo?” Dan kelucuan itu diperparah lagi oleh suara Jiwo yang berteriak dengan suara cempreng bak kaleng susu yang diseret di atas jalan beraspal.
Mungkin saja, dialog-dialog yang ada dalam film ini sebagian dikutip dari lirik-lirik lagu ciptaan Leo Waldy, Imam S Arifin, atau juga Deddy Dores. Puitik nan syahdu. Seperti kalimat: Apalah arti diriku ini….kita mau kemana sih?…kemana waktu akan berjalan….bukankah cinta adalah kematian? Begitulah, kutipan kalimat-kalimat menggelikan diatas hanyalah separoh dari banyaknya ungkapan konyol dalam film ini. Sungguh, tak ada suspense sedikitpun dalam bangunan plot yang akan mengantar penonton mencapai klimaks. Bahkan untuk menciptakan konflik film ini terlihat gagap dan akhirnya berujung gagal. Lihat saja adegan ketika Jiwo murka di warung lesehan hanya karena Maria tak berselera menyantap makanannya. Dan dilanjutkan dengan adegan Maria yang tanpa alasan jelas tiba-tiba mampir berkhotbah tentang kekejaman Hitler sambil mencaci-maki sekelompok anak punk yang tengah mabuk di tepi jalan. Tak urung Maria mendapat perlawanan dari mereka. Dalam kekacauan yang dibuat-buat itu datanglah Jiwo sebagai pahlawan yang hendak membebaskan kekasihnya dari marabahaya.
Film ini juga dibanjiri pengadeganan klasik alias basi yang banyak ditemukan di film-film romantis, misalnya; mengisap jari kekasih kita yang berdarah teriris pisau, membuka jaket kita lalu menyelimuti sang kekasih meski ia sebetulnya tak kedinginan, mengusap darah di bibir kekasih yang baru saja menjadi pahlawan kesiangan.
Dari sisi pemain sungguh amburadul. Performance mereka berada dititik nadir. Akting Si Unyil dan kawan-kawan di TVRI dulu, jauh lebih baik daripada akting para pemain film ini. Denting piano Pongky “JIKUSTIK” sebagai music score yang mengalun mendayu-dayu tak mampu menggetarkan hati pendengarnya lantaran di segala sektor tak ada yang mendukung. Kehadiran Iwan Fals sepersekian menit membawakan salah satu lagu yang menjadi soundtrack film Kekasih lumayan menghidupkan suasana. Sayang, semua itu hanyalah semacam usaha yang sia-sia belaka tanpa mampu memberi power pada film ini. Siapapun penyanyi legenda yang akan hadir bernyanyi di film sekotor ini, hanya akan membuang-buang waktu saja. Percayalah!
Kekasih
Sutradara: Wisnu Adi
Skenario: Bebi Hasibuan
Produksi: Grandiz Media Productions
Pemain: Vonny Kristianda, Angga Dwi Saputra, Farah Diana

