
Tersebutlah seorang mahasiswa bernama Jemi (Ben Joshua) yang mahatolol dan sangat doyan onani. Ia kuliah di sebuah kampus yang lebih meyakinkan disebut museum, tempat bersemayam fosil-fosil mahluk purbakala. Jemi tak kunjung lulus lantaran kerjanya; malam onani, siang sibuk mempersentasekan kitab sex yang ditulisnya berdasarkan pengalaman yang sama sekali tak pernah ia alami. Karena nantinya si Jemi ini diketahui ternyata masih perjaka. Di dalam museum itu tersebut pula seorang juru kunci bernama Dr. Marjoko (Dr. Boyke) yang tidak pernah memuaskan sex istrinya sehingga tiap hari mendapat makian dari sang istri (Donna Harun). Pada akhirnya datanglah Sang Dewi Penolong ke museum itu untuk menyelamatkan si Jemi dari ketololannya. Sang Dewi Penolong bernama Lea yang diperankan oleh Titi Kamal. Dikisahkan Ibu Lea bersedia menjadi dosen pembimbing Jemi dengan syarat mau barter ilmu sex. Akhir kisah, si Jemi lulus menjadi sarjana sex.
Inilah film komedi yang sangat mengharukan. Semakin pemain-pemainnya melontarkan kalimat- kalimat lucu, semakin pilu hati ini. Betapa pun pemainnya bersusah payah menciptakan gerakan untuk memancing tawa penonton justru semakin penonton ingin menangis dibuatnya. Entah apa yang ada di dalam tempurung kepala VE Handojo ketika menulis skenario film ini. Barangkali ia tengah sakit gigi atau perutnya lagi keroncongan saat menulis ceritanya sehingga maksud hati ingin menulis cerita komedi tapi berbuah cerita yang membuat penonton menangis sedih. Ya, menangis lantaran menyesal telah membuang-buang duit dan waktu hanya untuk nonton film sebusuk ini. Saran buat VE Handojo, lebih baik anda back to basic menulis skenario horor, lanjutkan Kuntilanak 4 meskipun ceritanya sudah tuntas di Kuntilanak 3.
Aku curiga, skenario film DO mulanya ditulis hanya untuk memproduksi sebuah FTV. Namun berhubung MVP PICTURES tak menemukan script yang layak, maka “Tak Ada Akar Raam Punjabi”. Sang produser akhirnya menyerahkan naskah keramat ini pada Winaldha E. Melalatoa untuk diramu menjadi sebuah film yang mengharukan. Untung film ini tak begitu laris. Kondisi ini kembali menyadarkan aku bahwa penonton film Indonesia tak selalu bodoh menjatuhkan pilihan dalam menentukan selera tontonan. Aku membayangkan, seandainya film ini laku terjual, mungkin saja Asrul Sani akan meloncat dari liang kuburnya dan gentayangan mencari Raam Punjabi untuk ia cekik sampai mati lantaran telah mengotori perfilman Indonesia yang baru saja sadar dari pingsan.
Alur cerita film DO sama sekali tak memikat bahkan hancur lebur sebagai sebuah karya seni. Seperti lirik lagu Peterpan: “Kaki di kepala, kepala di kaki”. Tak ada reaksi kimiawi antara karakter yang dihidupkan. Walaupun tokoh Lea atau Dr. Marjoko ditiadakan, tidak ada pengaruhnya sama sekali pada bangunan cerita. Ditambah kehadiran cameo-cameo yang juga sama sekali tak penting. Antara lain kehadiran Sarah Sechan berperan sebagai Ibu Kos yang pelit dan haus sex (mungkin artis kita yang satu ini telah ditakdirkan oleh Yang Kuasa untuk selalu mendapat peran yang sama: perempuan perokok dengan tingkat libido yang luar biasa). Tanpa itu semua, film ini akan sama saja: busuk. Bagaimana pun, aku harus belajar menghargai usaha keras VE Handojo dan Winaldha E. untuk menciptakan kelucuan-kelucuan dalam filmnya. Mereka berusaha memulai humor garing itu dengan pemilihan nama-nama tokoh, antara lain; Banci, Ketek, dan Germo. Huahahaha, mari kita menertawai nama-nama itu!
Semula, kehadiran Titi Kamal menumbuhkan setitik harapan film ini bisa selamat dari kehancurannya sebelum cerita berakhir. Namun sayang, penampilannya kali ini ikut hancur berkeping-keping. Di film inilah akting Titi Kamal kutemui paling amburadul selain akting-nya di beberapa sinetron yang ia bintangi di layar kaca. Sekaligus membuktikan kurang kreatifnya seorang sutradara yang bernama Winaldha E. dalam mengarahkan pemain-pemainnya. Lihat saja ketika adegan dimana Titi kamal pertama kali muncul: berjalan menyusuri lorong kampus dengan gerakan slow, gadis ini membiarkan rambut panjangnya tergerai ditiup blower disertai sorot mata yang binal….suit…suit…persis iklan shampoo atau mungkin iklan permen murahan. Framing basi! Atau keindahan seorang Titi Kamal memang hanya dapat ditemukan pada sudut pandang yang serupa itu? Seingatku, gerakan semacam itu telah berkali-kali ia ulangi dalam film, iklan, maupun sinetron. Kok mau nurut aja sih? Itukan penghinaan.
Meskipun dalam keadaan mabuk (beberapa gelas Ballo aku tenggak hingga tandas sebelum ke bioskop), aku ingin mengajak para pembaca untuk memanjatkan doa: “Ya Tuhan kami, hindarkanlah kami pada film-film sebusuk ini. Film yang hanya akan merusak generasi bangsa ini dengan pesan-pesan yang sangat buruk nan menyesatkan: sex education, yang artinya, belajarlah tentang sex untuk dapat meraih gelar sarjana….masyaallah…..dan bebaskanlah kami dari cengkraman aktor-aktor tak berkualitas seperti Ben Joshua yang hanya mengandalkan lesung pipitnya….Ya Allah ya Tuhan kami, selamatkanlah calon-calon sarjana negeri ini dari kebiasaan onani…amin.”
DO
Drop Out
Sutradara: Winaldha E. Melalatoa
Skenario: VE Handojo
Produksi: MVP Pictures
Bintang: Titi Kamal, Ben Joshua, Dimas Aditya, Dr. Boyke
