Thursday, March 27, 2008

DO = Doyan Onani


Tersebutlah seorang mahasiswa bernama Jemi (Ben Joshua) yang mahatolol dan sangat doyan onani. Ia kuliah di sebuah kampus yang lebih meyakinkan disebut museum, tempat bersemayam fosil-fosil mahluk purbakala. Jemi tak kunjung lulus lantaran kerjanya; malam onani, siang sibuk mempersentasekan kitab sex yang ditulisnya berdasarkan pengalaman yang sama sekali tak pernah ia alami. Karena nantinya si Jemi ini diketahui ternyata masih perjaka. Di dalam museum itu tersebut pula seorang juru kunci bernama Dr. Marjoko (Dr. Boyke) yang tidak pernah memuaskan sex istrinya sehingga tiap hari mendapat makian dari sang istri (Donna Harun). Pada akhirnya datanglah Sang Dewi Penolong ke museum itu untuk menyelamatkan si Jemi dari ketololannya. Sang Dewi Penolong bernama Lea yang diperankan oleh Titi Kamal. Dikisahkan Ibu Lea bersedia menjadi dosen pembimbing Jemi dengan syarat mau barter ilmu sex. Akhir kisah, si Jemi lulus menjadi sarjana sex.

Inilah film komedi yang sangat mengharukan. Semakin pemain-pemainnya melontarkan kalimat- kalimat lucu, semakin pilu hati ini. Betapa pun pemainnya bersusah payah menciptakan gerakan untuk memancing tawa penonton justru semakin penonton ingin menangis dibuatnya. Entah apa yang ada di dalam tempurung kepala VE Handojo ketika menulis skenario film ini. Barangkali ia tengah sakit gigi atau perutnya lagi keroncongan saat menulis ceritanya sehingga maksud hati ingin menulis cerita komedi tapi berbuah cerita yang membuat penonton menangis sedih. Ya, menangis lantaran menyesal telah membuang-buang duit dan waktu hanya untuk nonton film sebusuk ini. Saran buat VE Handojo, lebih baik anda back to basic menulis skenario horor, lanjutkan Kuntilanak 4 meskipun ceritanya sudah tuntas di Kuntilanak 3.

Aku curiga, skenario film DO mulanya ditulis hanya untuk memproduksi sebuah FTV. Namun berhubung MVP PICTURES tak menemukan script yang layak, maka “Tak Ada Akar Raam Punjabi”. Sang produser akhirnya menyerahkan naskah keramat ini pada Winaldha E. Melalatoa untuk diramu menjadi sebuah film yang mengharukan. Untung film ini tak begitu laris. Kondisi ini kembali menyadarkan aku bahwa penonton film Indonesia tak selalu bodoh menjatuhkan pilihan dalam menentukan selera tontonan. Aku membayangkan, seandainya film ini laku terjual, mungkin saja Asrul Sani akan meloncat dari liang kuburnya dan gentayangan mencari Raam Punjabi untuk ia cekik sampai mati lantaran telah mengotori perfilman Indonesia yang baru saja sadar dari pingsan.

Alur cerita film DO sama sekali tak memikat bahkan hancur lebur sebagai sebuah karya seni. Seperti lirik lagu Peterpan: “Kaki di kepala, kepala di kaki”. Tak ada reaksi kimiawi antara karakter yang dihidupkan. Walaupun tokoh Lea atau Dr. Marjoko ditiadakan, tidak ada pengaruhnya sama sekali pada bangunan cerita. Ditambah kehadiran cameo-cameo yang juga sama sekali tak penting. Antara lain kehadiran Sarah Sechan berperan sebagai Ibu Kos yang pelit dan haus sex (mungkin artis kita yang satu ini telah ditakdirkan oleh Yang Kuasa untuk selalu mendapat peran yang sama: perempuan perokok dengan tingkat libido yang luar biasa). Tanpa itu semua, film ini akan sama saja: busuk. Bagaimana pun, aku harus belajar menghargai usaha keras VE Handojo dan Winaldha E. untuk menciptakan kelucuan-kelucuan dalam filmnya. Mereka berusaha memulai humor garing itu dengan pemilihan nama-nama tokoh, antara lain; Banci, Ketek, dan Germo. Huahahaha, mari kita menertawai nama-nama itu!

Semula, kehadiran Titi Kamal menumbuhkan setitik harapan film ini bisa selamat dari kehancurannya sebelum cerita berakhir. Namun sayang, penampilannya kali ini ikut hancur berkeping-keping. Di film inilah akting Titi Kamal kutemui paling amburadul selain akting-nya di beberapa sinetron yang ia bintangi di layar kaca. Sekaligus membuktikan kurang kreatifnya seorang sutradara yang bernama Winaldha E. dalam mengarahkan pemain-pemainnya. Lihat saja ketika adegan dimana Titi kamal pertama kali muncul: berjalan menyusuri lorong kampus dengan gerakan slow, gadis ini membiarkan rambut panjangnya tergerai ditiup blower disertai sorot mata yang binal….suit…suit…persis iklan shampoo atau mungkin iklan permen murahan. Framing basi! Atau keindahan seorang Titi Kamal memang hanya dapat ditemukan pada sudut pandang yang serupa itu? Seingatku, gerakan semacam itu telah berkali-kali ia ulangi dalam film, iklan, maupun sinetron. Kok mau nurut aja sih? Itukan penghinaan.

Meskipun dalam keadaan mabuk (beberapa gelas Ballo aku tenggak hingga tandas sebelum ke bioskop), aku ingin mengajak para pembaca untuk memanjatkan doa: “Ya Tuhan kami, hindarkanlah kami pada film-film sebusuk ini. Film yang hanya akan merusak generasi bangsa ini dengan pesan-pesan yang sangat buruk nan menyesatkan: sex education, yang artinya, belajarlah tentang sex untuk dapat meraih gelar sarjana….masyaallah…..dan bebaskanlah kami dari cengkraman aktor-aktor tak berkualitas seperti Ben Joshua yang hanya mengandalkan lesung pipitnya….Ya Allah ya Tuhan kami, selamatkanlah calon-calon sarjana negeri ini dari kebiasaan onani…amin.”

DO
Drop Out
Sutradara: Winaldha E. Melalatoa
Skenario: VE Handojo
Produksi: MVP Pictures
Bintang: Titi Kamal, Ben Joshua, Dimas Aditya, Dr. Boyke


AYAT-AYAT CINTA = LIRIK-LIRIK DANGDUT


Hari ini antrian penonton Ayat-Ayat Cinta tak lagi panjang layaknya kereta api yang mogok. Tetapi film ‘Roman ala Bombay’ racitan Hanung Bramantyo ini masih mendominasi pengunjung bioskop. Sebelum berangkat dari rumah, tak lupa aku menenggak lima gelas Ballo (sejenis arak asal Makassar yang merupakan minuman favoritku sejak mulai keranjingan keluar masuk bioskop nonton Film Indonesia). Entah kenapa aku suka nonton film Indonesia dalam kondisi teler.

Antara pesawat dan film Ayat-Ayat Cinta

.dan usai nonton AAC, orang pertama yang ingin aku kutuk jadi Pangeran Kodok adalah: BJ Habibie. Karena beliaulah aku terpengaruh datang untuk ikut antri mendapatkan selembar tiket. Kalimat yang terlontar dari bibir BJ Habibie masih mendengung di liang telingaku. Begini kata kakek itu di depan kamera infotainment dengan bola mata berputar-putar layaknya dua butir kelereng berpusing-pusing dalam cawan: Filmnya scangat bhagus, en scaya menetskan air mata ketika pherempuan itcu tcerbaring csakit….” (kuduga Pak Habibie ada hubungan darah dengan artis muda Cinta Laura), kalimat yang bermakna promosi bagi sebagian besar penonton Indonesia. Kek, ini bukan acara peluncuran pesawat baru…

Penyesalan yang mungkin akan terus membuntutiku hingga keliang kubur adalah mengapa aku mesti percaya pada kata-kata tokoh seperti; BJ Habibie, Hidayat Nurwahid, dan AM Fatwa yang mungkin masa remaja mereka diisi dengan hiburan bersama pacar nonton film-film India di bioskop-bioskop tua zaman dulu. Terang saja beliau-beliau ini kegirangan nonton AAC. Aku malah membayangkan di dalam bioskop mereka tak henti-henti bertepuk tangan sembari menyeka air mata. Sungguh aku menyesal. Mengapa aku tidak mendengar hasil analisa Eric Sasono, Yan Wijaya, atau Garin Nugroho yang mengatakan film ini biasa-biasa saja untuk ukuran film Indonesia. Bagaimana jika disandingkan dengan film Hollywood? Terlalu bodoh memang. Sangat jauh…

Tak bisa disangkali kebanyakan dari penonton film negeri ini didewasakan film-film Bollywood yang khas dengan cerita cinta merah jambu, mengharu biru, mandayu-dayu, melankolis, puitik dengan lirik-lirik yang cengeng, dan selalu memaksa penonton untuk menitikkan ‘air mata Bombay’. Sejak perfilman Indonesia mengalami “pingsan”, kita tak bisa menghindari serbuan film-film India yang nyaris 24 jam menari-nari di layar TV. Mungkin itulah yang menyebabkan kata MENGHARUKAN mengandung energi Hypnosis untuk digunakan menggiring penonton ke bioskop. Percayalah, film-film mengharu biru miskin logika ala Kejamnya Ibu Tiri akan selalu ampuh menyedot jutaan penonton di negeri ini. Oh, betapa mengharukan.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah benarkah cerita film AAC mengharukan? Bagi aku, tidak sama sekali. Bahkan keluar dari ruang bioskop tak satupun kutemui sepasang bola mata penonton yang sembap. Ada sih seorang ibu paroh baya yang duduk disampingku menangis sesunggukan. Ketika kutanya mengapa seharu itu? Ia menjawab, teringat akan anak lelakinya yang kuliah di india, dan anaknya itu bernam Rahul. Ibu itu takut kisah cinta yang tragis serupa AAC akan menyertai perjalanan hidup anaknya di perantauan nun jauh di sana, India. Ironis memang, seorang penonton terharu menonton sebuah film dengan suspense yang terkesan tidak terjaga bahkan kocar-kacir. Dengan mudah kita bisa menebak ketegangan-ketegangan yang bakal terjadi pada setiap adegannya. Seperti mudahnya menebak hitungan matematika: 1+1+2 =4. Bukankah kelemahan film-film Hanung Bramantyo selalu terpuruk pada kesalahan yang sama? Suspense yang tak tertajaga. Sungguh, Hanung bukanlah pendongeng yang baik.

Nonton AAC ibarat mendengar lirik-lirik Rhoma Irama yang syahdu. Sangat dangdut! Nonton AAC laksana menyaksikan nukilan film-film India langganan TPI di awal tahun 90-an. Sebuah kisah cinta yang benar-benar fiksi dan hanya akan terjadi di dunia novel. Over dramatis! Coba lihat closing AAC saat pemeran Fahri (Fedi Nuril) dan Aisha (Rianti Cartwright) berpegangan menyusuri gurun pasir yang didominasi warna kuning keemasan mengingatkan kita pada film Rhoma Irama yang berjudul “Perjuangan dan Doa” di mana endingnya sang Raja Dangdut terlihat menggendong mayat Rika di atas puncak bukit dengan latar senja yang sungguh dibuat-buat. Cabe deh……

Jika tulisan ini dituding sadis, aku akan menjawab film AAC sebetulnya lebih sadis lagi. Mengapa? Isu poligami terselip di dalam bangunan plot seolah ingin berteriak bahwa wanita muslim yang baik adalah wanita yang SABAR DAN IKHLAS membagi cinta suaminya pada wanita lain yang tengah dirundung kemalangan. Meskipun beberapa adegan di penghujung film, Habiburrahman atau Hanung terkesan gamang dengan memperlihatkan situasi-situai sulit beristri dua namun tetap saja pesan pro poligami jauh lebih mengental dalam cerita film ini.

Entah karena nonton dalam keadaan mabuk, pesan dakwah yang berhasil aku tanggap lewat film AAC ialah: DALAM POLIGAMI TERDAPAT KEBAHAGIAAN. Aku pikir, AA Gym pun akan sependapat denganku jika saja beliau sempat nonton AAC. Dan mungkin AA Gym akan lebih menyesal lagi mengapa ia begitu cepat berpoligami. Kalau saja ia menunggu dulu film AAC rilis di Indonesia mungkin keputusannya beristri ganda tak akan menuai kritik serumit sekarang. Mungkin saja……bukankah film merupakan media yang ampuh untuk menebar propaganda? Wajar saja AAC pro poligami lantaran penulis novelnya Habiburrahman EL Shirazy seorang lelaki. Bagaimana pun ia akan berpihak pada kaumnya. Sebagai lelaki yang egois, aku sih setuju-setuju saja. Hidup poligami…

    Mengapa film Ayat-Ayat Cinta Laris bak minyak tanah eceran?

  1. seperti yang aku katakan sejak awal sebagian besar penonton film Indonesaia suka baget film-film gaya Bollywood. Dengan satu kata kunci: mengharukan banget…huhuhuhu…

  2. pilihan judul yang bombastis. Tak dipungkiri judul AAC memiliki daya tarik tersendiri (meski tak semenarik isinya) bagi ummat muslim yang notabene mendominasi negeri ini. Setidaknya mengingatkan mereka pada sebuah judul novel yang nyaris serupa: Ayat-Ayat Setan karya Shalman Rusdi.

  3. Promosi media yang berlebihan. Bahkan jauh-jauh hari sebelum AAC beredar di bioskop, Tabloid Bintang tak jenuh mengulas proses produksinya. Belakangan ini sudah tiga edisi Bintang menjadikan AAC sebagai sampul. Biasalah, mungkin ada U dibalik B = ada Uang dibalik Berita. Malah pada salah satu ulasannya, aku curiga tabloid ini juga menulis dalam keadaan mabuk hingga dengan polos Bintang menulis harapannya agar AAC diikutsertakan dalam festival film Cannes. Hah, sadar lo? Apa kata dunia? Berhenti ah langganan Bintang. Ulasan-ulasannya kurang cergas! Lebih baik baca Kompas atau Tempo yang sampai hari ini belum tertarik membahas film yang tidak bermutu serupa AAC.

  4. Kecenderungan orang Indonesia menyukai film cinta remaja selain dua genre berikut;

  • Komedi sex: karena orang-orang indonesia terkenal memiliki penis yang kecil. Mereka berharap Mak Erot akan tampil untuk memberikan solusi memperbesar penis dari salah satu film sex yang ditawarkan para produser itu.

  • Horor: lantaran orang-orang Indonesia dikenal doyan bersekutu dengan mahluk halus sejak kupon undian kode buntut merebak menebar mimpi.

Dalam wawancara di berbagai media Hanung Bramantyo selaku sutradara AAC bercoletah bahwa karyanya yang ajaib (lantaran busuk tapi laku) ini sebagai pembuktian bahwa bukan hanya film abg, komedi sex, dan horor yang laku di Indonesia. Lho, AAC kan juga film cinta/roman? Bertema agama? Kebetulan aja settingnya di Kairo dan dialog-dialognya diisi dengan ucapan; Assalamu Alaikum, Alhamdulillah, Astagfirullah, MasyaAllah, InsyaAllah, serta sedikit dibumbui kutipan ayat-ayat Al Quar’an. Sementara penggalian cerita Isalami-nya hambar nyaris tanpa rasa. Yah gitu deh, kurang lebih menyerupai wajah sinetron-sinetron di bulan ramadhan.

Maju terus perfilman Indonesia……ihuuuu……!

Ayat-Ayat Cinta

Sutradara: Hanung Bramatyo

Skenario: Salman Aristo, Ginatri S. Noer

Produksi: MD Pictures

Bintang: Fedi Nuril, Rianti R. Cartwright, Carrisa Puteri, Melanie Putria.