
sebuah prosa cinta yang anarkis
Demi Tuhan aku tidak mencintaimu
tetapi aku mau Tuhan mencintai cinta kita.
Percayalah sayang, Tuhan tutup telinga mendengar sumpah atas nama cinta serupa doa doa omong kosong.
Sungguh aku meyakini Tuhan malas melibatkan diri dalam urusan cinta kita yang anarkis. Sepasang cinta yang masih lamat membedakan mana perintah Tuhan dan mana hasutan Iblis.
Aku hanya pelukis cinta yang abstrak, gelap, hitam, kelam, kelabu, buram seperti potongan kisah cintaku yang sudah sudah.
Tak ada keinginan mencipta karya besar kecuali menumpahkan rupa-rupa warna di atas kanvas tentang tubuhmu yang telanjang seperti malam, lengkap dengan eranganmu, bulir-bulir air matamu, titik-titik keringatmu, dan sisa-sisa sengal napasmu. Setelah itu tubuhmu bersandar penat di tubuhku serupa penumpang berselonjor kusut di kursi busway yang merayap laju tanpa hambatan dari Warung Buncit sampai jauh ke Pulo Mas. Malam itu.
Lukisan itu akan selalu hidup dalam pigura yang kulekatkan dalam dinding hatiku.
Maaf jika dalam perjalanan mengantarmu pulang aku hanya bisa memberimu tanda cinta dengan menitip satu tetes dua tetes air ludahku di liang tenggorokanmu, dan kepadaku kau tinggalkan separoh desau napasmu sebagai jejak pada kedua lubang hidungku. Aku akan menjaganya dan kuharap kau pun begitu. Agar kita tidak saling melupa, sayang. Betapa aku tidak ingin berharap muluk-muluk pada Tuhan, selain: Dia mencintai cinta kita. Semoga!
Sudah larut serigala pun melolong, mari kita tidur, sayang....
0 komentar:
Post a Comment