
Anda pecandu film India? Kangen pada acting idola anda: Shahrukh Khan dan Rani Mukherjee? Nah, bertandanglah ke bioskop terdekat dari rumah anda jika sekedar pengen membunuh kangen pada bintang-bintang Bollywood itu. Saat ini, di dalam salah satu studio bioskop jaringan 21, Rahul Sugiono dan Anjali Kamal menunggu anda di sana dengan film teranyar mereka bertajuk Tipu Kamal Tipu (K)hristian, eh salah, yang benar: Tipu Kanan Tipu Kiri. Maaf ya pembaca, aku salah ketik, soalnya mataku tak mau stop kelilipan setelah menonton film itu. Padahal, sesuai anjuran Mpok Lena, tukang cuci langgananku, aku sudah menetesi kedua bolanya dengan Insto satu botol tapi tetep aja kelilipan. Dan parahnya, ini pinggul juga selalu bergerak sendiri ke kiri dan ke kanan seperti hendak berlenggak-lenggok. “Wah, jangan-jangan Mas kesenggol Kolor Ijo penunggu bioskop,” celetuk Mpok Lena dengan nada prihatin.
Film ini hasil kreatif Tarantella Pictures, sebuah Production House asal Negeri Jiran. Digarap dengan nuansa khas Bollywood yang dimix dengan dua budaya Negara serumpun namun berbedza bahasa: Malaysia dan Indonesia. Produksi Malaysia, pelakonnya dari Indonesia, kreatornya orang-orang India. Nah, bagaimana jadinya? Umpamanya makanan, maka terhidanglah gado-gado rasa coklat. Gimana rasanya? Enak kagak? Menurut Mpok Lena, “Wah, mana ada gado-gado dicampur coklat. Bisa-bisa Lu mencret 7 hari 7 malam, Mas,” katanya dengan nada heran.
Tipu Kanan Tipu Kiri adalah film kedua Sharad Sharan setelah tahun lalu sukses meluncurkan film bertitle Diva atau lebih beken dengan sebutan Cumi (red- versi sinemaindonesia) yang hanya sanggup bertengger di bioskop tanah air selama kurang lebih 3 hari. Jangan salah, sutradara berdarah India ini pernah menggegerkan dunia persinetronan Indonesia dengan karya fenomenalnya: Tersanjung. Sinetron tujuh turunan dengan prestasi langka saban malam mampu menguras air mata ibu-ibu arisan tetanggaku di kampung.
Bergenre komedi garing tiada tara, film yang skenarionya ditulis oleh Vikram Sood ini berkisah tentang Wulan (Titi Kamal), seorang Diva yang terikat kontrak sebuah perusahaan rekaman di Malaysia. Dan Wulan dilarang menikah selama kontrak dengan label itu terjalin. Sementara kenyataan yang ada, Wulan sudah sejak lama mengikat tali pernikahan dengan Rudi Effendi (Christian Sugiono). Dua pasutri muda ini berhasil menjaga rahasia itu selama bertahun-tahun. Sampai tiba waktunya Rudi diminta bos di kantor tempatnya bekerja untuk datang ke sebuah pesta penyambutan dirinya di kota Kuala Lumpur. Rudi diharuskan membawa istri.
Di sinilah konflik dimulai, lantaran Rudi tak mungkin mengajak istrinya demi menjaga karir Wulan yang lagi gemilang. Rudi kelimpungan mencari solusi. Akhirnya ia mengakali permintaan si bos dengan cara menyewa seorang gadis bernama Sarah (Natasha Hudson) untuk menemaninya. Sekuat tenaga Rudi menyembunyikan triknya itu agar tak tercium oleh sang istri yang kebetulan pecemburu kelas kakap. Ditambah lagi, diam-diam Sarah jatuh hati pada Rudi.
Lahir dari dalam tempurung kepala orang India, film ini berhasil muncul sebagai produk gagal dari Bollywood. Meski susah payah Sharad menghadirkan artistik yang penuh rumbai di sana sini ala karnaval panggung dangdutan khas Bombay, akting kocak bodoh ala India, lenggak lenggok tak karuan, dramatisasi berlebihan, serta iringan musik disco remix ala Yopie Latul (si pelantun lagu: poco-poco), namun film ini hanya mampu hadir seperti sebuah usaha berkarya yang mubadzir. Padahal, konon sinematografer Tipu Kanan Tipu Kiri adalah penggarap film Kuch Kuch Hotta Hai yang pernah menggetarkan Mpok Lena dan sekutu-sekutunya (ini pengakuan jujur dari Mpok Lena lho), "Saya dan Juminten nggak bisa menahan air mata waktu ngeliat selendang itu melayang di atas rel kereta api, pokone so sweet..." tutur Mpok Lena dengan mata menyala. Makanya, di dalam film ini sudah ada foto copy Rahul dan Anjali, siapa yang mau jadi Dkajol? Hayooo angkat tangan, dan maju ke depan!
Tiba saatnya membahas sektor akting. Titi Kamal berakting berlebihan seperti film-filmya yang lalu, meskipun ada juga beberapa yang lumayan saat memerankan karakter gadis kampung misalnya. Tapi akting gadis anggun ini selalu memukau jika dirinya duduk di depan mangkuk berisi mie goreng. Entah kenapa. Christian Sugiono? Kupikir akting aktor kita yang satu ini tak perlu dijelaskan panjang lebar. Sejak kapan ia berhasil berakting dengan baik, bahkan aktingnya dalam beberapa iklan sekalipun kadang terlihat fals. Maaf!
Usai menonton film ini, aku berpapasan dengan segerombolan ibu-ibu berkerudung di gerbang bioskop. Salah satunya berkata: ”Penat awak berpusing-pusing nak tengok pelakon wayang di Tawau tetapi tak adepun yang kalah kacak tuh si Christian, macam dialah tuh suami awak sebelum jadi Askar Tak Bergune (pensiunan tentara Malaysia.)” Poin lebih buat Rahul Sugiono, eh salah lagi, Christian maksudku. Bravo Film India(ne)sia!
Film ini hasil kreatif Tarantella Pictures, sebuah Production House asal Negeri Jiran. Digarap dengan nuansa khas Bollywood yang dimix dengan dua budaya Negara serumpun namun berbedza bahasa: Malaysia dan Indonesia. Produksi Malaysia, pelakonnya dari Indonesia, kreatornya orang-orang India. Nah, bagaimana jadinya? Umpamanya makanan, maka terhidanglah gado-gado rasa coklat. Gimana rasanya? Enak kagak? Menurut Mpok Lena, “Wah, mana ada gado-gado dicampur coklat. Bisa-bisa Lu mencret 7 hari 7 malam, Mas,” katanya dengan nada heran.
Tipu Kanan Tipu Kiri adalah film kedua Sharad Sharan setelah tahun lalu sukses meluncurkan film bertitle Diva atau lebih beken dengan sebutan Cumi (red- versi sinemaindonesia) yang hanya sanggup bertengger di bioskop tanah air selama kurang lebih 3 hari. Jangan salah, sutradara berdarah India ini pernah menggegerkan dunia persinetronan Indonesia dengan karya fenomenalnya: Tersanjung. Sinetron tujuh turunan dengan prestasi langka saban malam mampu menguras air mata ibu-ibu arisan tetanggaku di kampung.
Bergenre komedi garing tiada tara, film yang skenarionya ditulis oleh Vikram Sood ini berkisah tentang Wulan (Titi Kamal), seorang Diva yang terikat kontrak sebuah perusahaan rekaman di Malaysia. Dan Wulan dilarang menikah selama kontrak dengan label itu terjalin. Sementara kenyataan yang ada, Wulan sudah sejak lama mengikat tali pernikahan dengan Rudi Effendi (Christian Sugiono). Dua pasutri muda ini berhasil menjaga rahasia itu selama bertahun-tahun. Sampai tiba waktunya Rudi diminta bos di kantor tempatnya bekerja untuk datang ke sebuah pesta penyambutan dirinya di kota Kuala Lumpur. Rudi diharuskan membawa istri.
Di sinilah konflik dimulai, lantaran Rudi tak mungkin mengajak istrinya demi menjaga karir Wulan yang lagi gemilang. Rudi kelimpungan mencari solusi. Akhirnya ia mengakali permintaan si bos dengan cara menyewa seorang gadis bernama Sarah (Natasha Hudson) untuk menemaninya. Sekuat tenaga Rudi menyembunyikan triknya itu agar tak tercium oleh sang istri yang kebetulan pecemburu kelas kakap. Ditambah lagi, diam-diam Sarah jatuh hati pada Rudi.
Lahir dari dalam tempurung kepala orang India, film ini berhasil muncul sebagai produk gagal dari Bollywood. Meski susah payah Sharad menghadirkan artistik yang penuh rumbai di sana sini ala karnaval panggung dangdutan khas Bombay, akting kocak bodoh ala India, lenggak lenggok tak karuan, dramatisasi berlebihan, serta iringan musik disco remix ala Yopie Latul (si pelantun lagu: poco-poco), namun film ini hanya mampu hadir seperti sebuah usaha berkarya yang mubadzir. Padahal, konon sinematografer Tipu Kanan Tipu Kiri adalah penggarap film Kuch Kuch Hotta Hai yang pernah menggetarkan Mpok Lena dan sekutu-sekutunya (ini pengakuan jujur dari Mpok Lena lho), "Saya dan Juminten nggak bisa menahan air mata waktu ngeliat selendang itu melayang di atas rel kereta api, pokone so sweet..." tutur Mpok Lena dengan mata menyala. Makanya, di dalam film ini sudah ada foto copy Rahul dan Anjali, siapa yang mau jadi Dkajol? Hayooo angkat tangan, dan maju ke depan!
Tiba saatnya membahas sektor akting. Titi Kamal berakting berlebihan seperti film-filmya yang lalu, meskipun ada juga beberapa yang lumayan saat memerankan karakter gadis kampung misalnya. Tapi akting gadis anggun ini selalu memukau jika dirinya duduk di depan mangkuk berisi mie goreng. Entah kenapa. Christian Sugiono? Kupikir akting aktor kita yang satu ini tak perlu dijelaskan panjang lebar. Sejak kapan ia berhasil berakting dengan baik, bahkan aktingnya dalam beberapa iklan sekalipun kadang terlihat fals. Maaf!
Usai menonton film ini, aku berpapasan dengan segerombolan ibu-ibu berkerudung di gerbang bioskop. Salah satunya berkata: ”Penat awak berpusing-pusing nak tengok pelakon wayang di Tawau tetapi tak adepun yang kalah kacak tuh si Christian, macam dialah tuh suami awak sebelum jadi Askar Tak Bergune (pensiunan tentara Malaysia.)” Poin lebih buat Rahul Sugiono, eh salah lagi, Christian maksudku. Bravo Film India(ne)sia!
0 komentar:
Post a Comment