
Laskar Pelangi mulanya adalah sebuah novel yang diadaptasi menjadi film. Novel memiliki pembaca dan film memiliki penonton. Roh keduanya dihidupkan oleh unsur yang berbeda, novel membangun dunia melalui rangkaian kata-kata sementara film membangun dunia dengan rangakaian gambar-gambar bergerak. Imaji linguistik vs imaji visual.
Seorang sutradara yang mengadaptasi novel menjadi film ibarat Dokter Mata yang melakukan operasi kornea mata pada seorang pasien yang bertahun-tahun mengalami kebutaan. Tentu setelah operasi dilakukan, si pasien yang selama ini hanya meraba-raba dunia sekitarnya dengan menggunakan imajinasi kini dapat menyaksikan dunia dengan penglihatan yang dimilikinya. Tentu apa yang ia saksikan kini tak semua sama dengan apa yang ia pikirkan selama ini. Begitu juga dengan pembaca yang kemudian datang ke bioskop untuk menonton sebuah film yang pernah ia baca dalam bentuk novel.
Ada baiknya kita mencoba memahami bahwa film dan novel mempunyai bahasa, aturan, ukuran, gaya, dan nilai tersendiri. Film mempunyai keterbatasan teknis, ruang gerak, dan waktu putar yang sangat terbatas, sementara novel memiliki kebebasan yang dengan leluasa dapat pengarang paparkan dengan kata-kata. Sebab itu, tidak mungkin memindahkan baris demi baris novel secara utuh ke dalam film. Adaptasi memungkinkan perubahan unsur-unsur cerita, plot, karakter, latar, suasana, gaya, dan tema novel di dalam film. Karena demikian, maka tidak tepat jika para penonton datang ke bioskop untuk menyeragamkan film adaptasi dengan novelnya.
Lho, kok tumben aku serius berteori tentang film Indonesia? Masih ada Leila S. Chudory dan Ekky Imanjaya yang lebih intelek, pun Eric Sasono masih bugar, dan Bapak Yan Wijaya juga masih kuat. Mereka masih eksis bercuap-cuap tentang film dalam negeri sebagai kritikus film yang handal. Sementara aku? Hanya satu diantara penggemar film Indonesia yang bawel....
Baiklah, seperti biasa aku akan memulai ceramah hari ini dengan metodeku sendiri, dari sudut pandang mata pisau, tanpa disertai teori akademik, kode etik apapun, dan bahasa sopan santun bergaya anggun:
Berhilir Pada Andrea Hirata
Satu alasan yang membuat saya bertahan membaca novel Laskar Pelangi sebelum saya memutuskan berhenti pada halaman tengah –halaman selanjutnya sudah sangat menjemukan— karena Andrea Hirata pandai meramu tragedi menjadi situasi yang jenaka. Padahal novel ini masuk dalam kategori cerita dengan gaya penulisan: Plot Hole, alur cerita penuh lubang. Andrea gagal meyakinkan pembaca, darimana gerangan murid-murid sekolah “kelas kambing” itu belajar tentang peradaban moderen seperti; nama taksonomi tumbuhan, tontonan eksotis ala afrika, nama penyanyi dan dan ilmuan abad ke-17. Bagaimana Lintang belajar tentang; implikasi, biimplikasi, filosofi Pascal, binomial Newton, limit, integral, dan segudang lagi ilmu pengetahuan langka bagi “sekolah pinggiran” seperti tempat ia menimbah ilmu. Begitulah novel Laskar Pelangi menghina daya nalar pembacanya. Dan pada akhir paragraf ini aku hanya ingin mengatatakan: Andrea Hirata mungkin satu-satunya penulis novel paling hiperbolik di jagad raya ini!
Berhulu Pada Riri Riza
Mira Lesmana selaku produser film Laskar Pelangi kepada majalah Tempo (edisi 22-28 September 2008) mengungkapkan keresahaannya pembaca fanatik novel Laskar Pelangi akan datang ke bioskop untuk membandingkan novel dengan filmnya. Padahal, menurutku pembaca sebuah novel yang diadaptasi menjadi film sah-sah saja datang ke bioskop untuk membandingkan novel dengan filmnya. Mengapa? Sebab novel dan film memiliki hakekat yang sama: menghibur. Publik berhak melakukan perbandingan (bukan penyeragaman) bagus mana atau menghibur mana novel atau filmnya. Lantaran, untuk menikmati sebuah novel dan film, publik harus mengeluarkan duit. Karena ada transaksi produsen dan konsumen maka hak membandingkan itu layak. Semacam hukum pasar. Wajar dong kita ngomel-ngomel kalo secangkir teh hangat yang kita beli di warung ternyata lupa dicampur gula oleh pembuatnya. Betul tidak? Hehehe, ini hanya manuver kata-kata.
Sudah 45 menit film Laskar Pelangi berputar, yang terasa datar-datar saja serupa nene-nenek renta berjalan lamban di lajur penyeberangan, membuat kita gemes untuk segera menggendongnya melintas segegas mungkin. Sampai pada menit itu, tak ada letupan-letupan kecil yang membuat aku berkeinginan mengikuti scene-scene berikutnya. Jujur, hanya rasa penasaran yang membuat aku betah. Semua serba tanggung; termasuk lelucon-leluconnya. Tak ada kelakar yang membuat aku terbahak lepas. Tetapi ini bisa disanggah: film Laskar Pelangi memang bukan genre komedi. Lalu film ini genre apa? Ini juga terkesan tanggung. Film anak-anak? 50% plot tersita untuk menggambarkan perjuangan sejumlah anak yang berjuluk Laskar Pelangi dalam menggali ilmu, dan 50% plot digunakan untuk menceritakan seorang guru bernama Muslimah berjuang mempertahankan sebuah sekolah yang lebih layak jadi kandang kambing itu.
Mengejar Mimpi Berbingkai Pelangi
Dalam film Laskar Pelangi ada dua jenis mimpi yang dibingkai pelangi: mimpi para laskarnya menjadi siswa yang pintar dan mimpi ibu gurunya mempertahankan sekolah yang didirikan oleh ayahnya. Ada dua premis berjalan pararel. Makanya, kita akan merasakan editing yang melaju cepat untuk penggambaran suasana; pagi, siang, malam, dan Riri Riza direpotkan untuk memperkanalkan karakter-karakter yang lumayan banyak. Saking banyaknya, tak ada satu karakter sentral yang betul-betul berhasil menyita emosi penonton. Terlihat Riri terlalu bernafsu menyelipkan beberapa hal yang dianggapnya menarik dari novel hingga menyebabkan durasi 125 menit tak cukup untuk dibagi-bagi. Akhirnya banyak hal yang hanya disampaikan secara verbal. Maka hambar jadinya.
Lihat kemunculan si Pawang Buaya yang sebetulnya tak begitu penting, terkesan Riri sengaja menghindari kekecewaan pembaca novel itu yang terlanjur mengenal sosok sang pawang. Tengok juga sosok Flo yang hanya hadir sebagai tempelan belaka tanpa basic story yang kuat agar kita tak harus kembali membuka novelnya demi memahami perannya dalam film, begitupun ketika adegan ke pulau untuk bertemu dukun, sama sekali menjadi plot yang sia-sia, dipotong pun tak ada pengaruhnya pada alur cerita film.
Bagi penonton film yang tidak pernah mengenal Andrea Hirata sebagai penulis novel, mengikuti film ini dari awal akan terasa seperti orang yang dibimbing menyusuri lorong goa yang gulita dan ia tak tahu akan berujung kemana pada akhirnya. Tak ada tujuan yang dijanjikan dengan jelas akan ke mana dan hendak apa para laskar ini nantinya. Kecuali berharap-harap cemas akankah sekolah itu runtuh diseruduk kambing yang hendak kawin.
Bagian akting? Duet handal Riri dan Mira kali ini sepertinya tak mau menyepelekan pasar. Kupikir kehadiran aktor Alex Komang dan Tora Sudiro adalah pilihan yang tak begitu penting. Mungkin akan lebih hidup jika yang memerankan ayah Lintang bukan sosok yang begitu terkenal, jika perlu diambil juga dari penduduk Belitong. Kehadiran Tora yang sudah akrab dengan tampilannya yang genit dan ganjen (sepertinya sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa menjadi bintang komedi sex) di film ini tampil tak maksimal, bukan dari sisi kekonyolan Tora (karena disini Riri Riza jenius melebur karakter Tora yang sudah terlanjur terbentuk sebagai komedian). Riri tak mau latah dengan gaya lelucon murahan film-film kita belakangan, makanya Tora ditampilkan jenaka secukupnya saja. Riri memang tak pernah betah bermain-main dengan scene yang melodrama, meskipun ia sadar telah melawan arus selera penonton film Indonesia. Lihat saja ketika Ikal berlari mengejar Lintang yang pergi meninggalkan teman-temannya (padahal adegan ini berpotensi menguras air mata kita) tetapi, tanpa mau berlama-lama Riri menutup film ini dengan editing yang tegas. Akting duet aktor lawas Slamet Rahardjo dan Ikranagara tak perlu diragukan lagi. Sementara Cut Mini tampil payah. Akting kesemua anak-anak itu terlihat biasa, kecuali Verrys Yamarno yang berperan sebagai Mahar. Dua anak wanita yang berperan sebagai siswa sekolah miskin itu tampil buruk.
Riri Riza sukses mengikis penyakit Andrea Hirata yang doyan pada Hiperbolisme. Kecerdasan Lintang yang maha dahsyat disulap menjadi wajar. Hanya saja kesan hiperbolik itu masih tersisa ketika Riri memunculkan sosok Flo, anak sekolah SD Timah yang rela pindah ke sekolah SD Muhammadiyah hanya karena sekolah miskin itu menang karnaval? Kalo aku jadi ayah, sangat berat memilih memindahkan anakku ke sebuah sekolah yang tak jelas hanya karena siswanya pernah menang lomba tari-tarian dalam parade karnaval. Salman Aristo selaku penulis skenario mencoba menutupi keganjalan itu dengan dialog yang intinya seperti ini: “aku suka tarian kalian karena terlihat eksotis,” oya???? Semoga tidak hanya itu.
Segala kekurangan film ini ditutupi oleh penggarapan teknis yang rapi. Yadi Sugandhi sukses menghadirkan gambar-gambar indah, seakan melukis lanskap Belitong lengkap dengan pelanginya.
Sesungguhnya, untuk membahas film teranyar Miles Films ini tak cukup waktu yang singkat. Tapi sudahlah, blog ini terlalu sempit untuk bercuap-cuap panjang lebar. Di penghujung tulisan ini, aku ingin mengajak kalian menonton film Laskar Pelangi setelah sekian lama paranoid datang ke bioskop untuk menonton film karya anak negeri. Film ini aku sematkan empat bintang dari lima bintang yang kucopot dari langit. Dan akhir kalimat: kalau saja ada sepuluh Riri Riza di negeri ini....
3 komentar:
wah baca novelnya memang cuma separuh ya, pantas saja penilaiannya juga cuma separuh tepatnya.
Tokoh flo memang ada di novel, dan di situ juga dijelaskan kok betapa sangat berat buat ayah Flo untuk memenuhi keinginan Flo pindah ke SD Muhammadiah. Di novel juga dijelaskan dengan gamblang kenapa Flo memutuskan untuk pindah dari SD PN Timah yg elit ke sekolah reyot SD Muhammadiah, bukan sekedar karena Laskar Pelangi menang Karnaval. Tapi memang sulit untuk memindahkan kisah pertentangan batin Flo dan ayah Flo ini ke layar lebar, bisa bikin satu film sendiri kalau begitu.
BTW, saya juga sempat berpikir Andrea Hirata terlalu hiperbolis dalam banyak hal, terutama soal kecerdasan Lintang yang digambarkannya superjenius di tengah keterbatasan sumber daya.
Lalu saya ingat ayah saya. Kebetulan dalam banyak hal sosok Lintang itu mirip dengan ayah saya. Semangat belajarnya luar biasa tinggi. Selalu ranking satu di kelas dari kelas 1 SD tapi terpaksa putus sekolah di SMP karena sebagai anak lelaki tertua harus membantu ayahnya menghidupi keluarga dengan adik banyak.
Sampai sekarang ayah saya masih sering berdiskusi dan bisa menyelesaikan soal2 Fisika, Kimia dan Matematika dengan anak2nya (adik2 saya) yang kuliah di Fak. Teknik dan MIPA UI. Ayah saya itu dari generasi yang lebih tua dari Andrea dan Lintang, jadi kemungkinan aksesnya terhadap ilmu juga sama minimnya atau bahkan lebih minim daripada Lintang.
Hiperbolisme Andrea dalam mengisahkan Lintang jadi hilang di mata saya setiap saya ingat ayah saya. Saya yakin banyak orang yang jauh lebih cerdas dari ayah saya dengan nasib yang lebih menyedihkan, mungkin tokoh Lintang salah satunya.
To Indira:
trima kasih atas kunjugan dan koreksi anda...
anda benar, sosok Flo memang ada dalam Novel, tapi yang saya tekankan di sini, kehadiran sosok Flo dalam film. Haruskah saya (yang tak tuntas membaca novel) usai nonton harus kembali membuka halaman novel demi mengetahui pergolakan (seperti kata anda) antara Flo dan ayahnya, hingga ia bersikeras pindah ke sekolah SD Muhammadiyah? bagaimana dengan penonton yang tak pernah/tak mau mengenal novel Laskar Pelangi?
Tentang kecerdasan Ayahanda Indira, saya salut dan ikut bangga. Sayang anda tak menjelaskan basic pendidikan beliau sampai jenjang apa hingga bisa berdebat, berdiskusi dan bisa menyelesaikan soal2 Fisika, Kimia dan Matematika dengan anak2nya (adik2 anda) yang kuliah di Fak. Teknik dan MIPA UI.
Sungguh, saya kurang yakin jika beliau hanya tamatan SD seperti Lintang.
salam,
seperti yang saya sudah bilang sebelumnya, pasti akan sangat sulit menceritakan apa dan kenapa Flo sampai pindah ke sekolah yg lebih reyot dalam film Laskar Pelangi karena durasi film yg sangat singkat.
Saya yakin Salman Aristo sendiri kebingungan untuk mewujudkan episode ini ke dalam skenarionya tanpa harus menjadikan ceritanya bertele-tele. Yang terjadi adalah dia berupaya menyederhanakan ceritanya, tapi hasilnya ya seperti yg anda lihat di film itu, terkesan kurang nyambung.
Hal itu ditambah lagi dengan fakta terjadi kesalahan casting pemeran Flo. Flo yang asli sangat tomboy dan merasa menemukan soulmate kebandelan, sifat flamboyant dan minat terhadap kleniknya pada diri Mahar. Itu yang mungkin tidak tertangkap di film.
Soal ayah saya, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, beliau seperti Lintang, sekolah sampai SMP. Laskar Pelangi itu kan cerita Ikal di masa SD dan SMP, tapi di film ceritanya diubah hanya sampai SD saja. Kecerdasan Lintang juga dibikin wajar2 saja di film, tidak sebrilyan di novel.
Post a Comment