
Bulan puasa telah tiba. Negeri ini mendadak menjelma dunia kecil yang seolah-olah hanya dihuni mahluk yang beragama Islam. Untuk sementara waktu agama lain ‘diam dulu’. Mulai stasiun televisi, radio, industri rekaman, operator telepon selular, majalah dan tabloid berlomba-lomba menyuguhkan paket bernuansa Ramadhan. Bahkan artis-artis kita yang kemarin doyan pamer paha, belahan dada, dan tato sikut-sikutan ingin tampil di hadapan public mengenakan busana Muslimah layaknya bidadari berkerudung dari surga. Kasihan. Bahkan saya sangat penasaran menuggu tampilan Julia Perez dan Dewi Persik yang selalu tak biasa di layar beling. Kupikir, anda pun menyimpan rasa penasaran yang sama dengan saya.
Karena ‘serbuan’ acara Islam ini, mau tak mau penganut agama lain ikut menikmati nuansa Ramadan. Tak punya pilihan lain, dari kokok pertama ayam jago hingga jarum jam kembali menunjuk titik nol, 80% saluran televisi menyuguhkan siaran yang dikemas dengan tema Islami. Di SCTV ada program spesial Ramadhan Untuk Semua, TV One menyuguhkan banyak materi acara serupa; Bintang Ramadhan, Santri Riders, Gado-Gado Sahur, Debat Spesial Ramadhan, Kabar Petang Spesial Ramadhan, dan masih banyak lagi. Tabloid Bintang juga tak mau kalah berebut kue Ramadan. Pada edisi khusus puasa (Agustus-September) buru-buru mereka memasang Cinta Laura dan Alyssa Soebandono) mengenakan busana Muslim di bagian cover.
Sementata Trans TV dan Trans 7 entah punya acara Ramadan seperti apa –dua televisi ini mendapat julukan dari sahabat saya, La Jenggo, sebagai televisi Kuliner, Ular, dan Kambing. Ketika kutanyakan padanya, mengapa? La Jenggo menjelaskan tanpa teori akademik bahwa televisi ini dipenuhi informasi tentang makanan, berita ular, dan kambing berkaki lima misalnya. Ternyata sahabat saya itu tidak sedang berkelakar. Program berita kedua televisi ini memang kerap kutemukan memberitakan hal-hal yang mereka anggap unik, –sesungguhnya murahan dan tidak mencerdaskan bangsa– terutama disegment berita ringan, kerap ada berita yang itu-itu saja; kuliner dari berbagai daerah, makanan dari daging ular, minuman dari darah ular Cobra, penduduk yang menangkap ular, kambing berkaki lima, Kambing berkepala mirip manusia (padahal cacat) atau pohon kelapa bercabang dua. Hehehe. Wajar saja La Jenggo menamai Trans TV dan Trans 7 sebagai televisi Kuliner, Ular, dan Kambing.
Padahal menurut La Jenggo, ia ingat betul, di awal berdirinya pada tahun 2001, Ishadi SK sebagai orang nomor satu di Trans TV pernah berkata kepada PANTAU soal pemberitaan Trans TV akan lebih banyak memilih pola investigative reporting dengan analisis berita yang mendalam. “Seperti Tempo-lah!” tegasnya, menyebut nama sebuah majalah Jakarta. “Mungkin investigasi kambing dan selebritis maksud Ishadi kala itu,” celetuk La Jenggo sembari terbahak.
Sinetron ‘konon’ Islami juga menjejali televisi swasta negeri ini. Sebenarnya, jika ditelisik lebih jauh, luarnya saja yang Islam tetapi cerita yang dipaparkan sama saja yang sudah-sudah. Hanya para pelakonnya yang didandani agar tampil berkerudung atau berpeci sembari mengalungkan sehelai sajadah dan menggenggam tasbih. Dalam dialog sengaja diperbanyak ucapan; Assalamu Alaikum (adegan sapaan), Bismillahi Rohmani Rahim (adegan mulai makan) Alhamdulillah (adegan selesai makan), Astagfirullah (adegan saat kaget). Sementara isi kisahnya masih tetap cinta segi tiga atau mungkin segi empat. Ini hanya akal bulus para produser untuk mendulang fulus di bulan tak biasa ini.
Bagaimana dengan band-band tanah air? Aha, bahkan ST12 tak mau ketinggalan membuat lagu religius. Ada pula Ungu, Gigi, Vagetos, dan Radja ikut meramaikan pasar Ramadhan lewat jalur musik tentunya. Anak-anak muda ini yang biasa berjingkrat-jingkrat di atas pentas dengan gaya khas generasi kini mendadak ingin ber-Qasidah. Judul-judul lagu yang mereka tawarkan sudah beraroma Islam dimulai dari kata pertama. Antara lain; Jalan Kebenaran-Mu (gigi) Surgamu, Para Pencarimu (Ungu).
Saat berjalan-jalan ke ruang public, pertokoan, mall, kafe, atau ke tolilet, telinga kita akan disusupi tembang-tembang religius dari sudut-sudutnya. Hidup kita seakan dibuntuti oleh penyanyi-penyanyi yang berkidung nafas Islami. Suka atau tidak suka, 30 hari kedepan telinga kita akan akrab oleh suara Pasha Ungu, Bimbo, Opick, Sulis, dan lainnya.
Fenomena lagu relegius ini membuahkan pertanyaan, apa perbedaan ketika kita mendengar lagu religi yang dilantunkan Bimbo, Emha Ainun Najib (Kyai Kanjeng), dibanding Pasha Ungu dan kawan-kawan? Jujur, ketika saya mendengar lagu Bimbo, Emha Ainun Najib, dan menonton film rekaman konser Kantata Takwa, dimana Iwan Fals (gondrong, telanjang dada tanpa jubah atau sorban putih) memuji-muji Sang Pemilik Alam dengan lirik-lirik yang memikat hingga membuat bulu kuduk ini meremang. Ada sensasi berbeda yang terasa menjalari tubuh ini ketika mendengar lagu-lagu mereka menyebut nama Tuhan.
Ketimbang mendengar lagu religius Radja, Ungu, dan Vagetos, apa yang kita rasakan? Lirik tanpa kekuatan kata dan sempit makna. Yang tersisa hanya kepalsuan! “Menjual” nama Tuhan di pasaran sekadar memperkaya diri? Entahlah.
11 komentar:
artikel keren brur !!
salam kenal
halo mas erick...terima ksih kunjungannya....salam kenal... sy juga mau mencicipi tulisan anda ;) tabik!
Buat saya fenomena ini mesti kita syukuri bahwa masih ada saat dimana kita bisa jeda dari paparan pengumbaran birahi dan aurat meski sejenak.
hahahah...., negara ini emang latah buanget!!!
akan sangat terlihat, orang2 yang benar2 berdedikasi dan orang2 yang cuma pake topeng doang...
to rmnfamily dan somet, makasih kunjungannya....senang dapat kunjungan dari anda... mari kita sama-sama memandang dunia kecil kita "Indonesia" dengan mata yang lebih tajam. Tabik!
blog ini menarik lho... coba di share aja di situs social bookmarking ini>>> www.lintasberita.com mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini.. ok deyh.. keep up the great job ok.. thanks..
lagian masih banyak aja sih yang suka menilai orang dari tampilannya. buru-buru menganggap seseorang baik karena sering ngendon dan bolak balik mesjid, misalnya.
kayak hukum pasar deh..hahaha..salam kenal ya!
to edayangedan....terima kasih sudah berkunjung.....mau tong menyamar ine...baru kutauji...salam kenal bede, kalo saya tau saya kasih bayarko dulu waktu saya ojekko pulang rumahmu. hehe
"apa perbedaan ketika kita mendengar lagu religi yang dilantunkan Bimbo, Emha Ainun Najib (Kyai Kanjeng), dibanding Pasha Ungu dan kawan-kawan?"
Tiga yang pertama dari hati, yang sekarang menjamur entah dari mana...
Permisi, Pak. Numpang bersuara.
*kangen Kyai Kanjeng dan Cak Nun...*
NEW POST ( RELATED POST )
TERBARU !! Foto Syur Maia Estianti dengan Petinju Chris John
TERBARU !! Download Video Bokep Dhea Imut
TERBARU !! Foto Telanjang ABG SMP & SMU Bandung
TERBARU !! Nikmati Koleksi Foto Telanjang Gadis Uzbekistan
TERBARU !! Video Syaiful Jamil Di damprat Kiki Fatmala
TERBARU !! Download Video Mesra di Bali Indra L Brugman dan Ferry si Homo Pembunuh
TERBARU !! Kumpulan Cerita Dewasa Terbaru 2009
TERBARU !! Cewek2 Grahadi Bali Karaoke
Post a Comment