
Menghibur, itu salah satu tujuan para sineas ketika memproduksi sebuah film. Tapi kenyataannya banyak film yang mereka suguhkan tidak cukup berkualitas dan malah membuat penonton merasa tak betah duduk di kursi bioskop. Pantat serasa tertusuk seribu jarum, konsentrasi buyar, dan mata tak fokus lagi ke layar lebar melainkan lebih tertuju pada paha pasangan nonton kita yang mungkin mengenakan rok pendek sembari sesekali menelan ludah.
Begitulah situasi yang saya alami ketika menonton film produksi kedua Oreima Films, berjudul: Oh, My God! Bagaimana tidak, disebut genre komedi satire namun tidak ada kelucuan humanis yang mengharukan di alur film ini, disebut komedi romantis tetapi tiada kekonyolan romantisme percintaan yang berkesan pada bangunan plot ceritanya. Banyak adegan yang serasa menyerupai tambalan-tambalan yang dicomot dari film-film sebelumnya.
Grafik menurun untuk prestasi Oreima setelah menelorkan film Kamulah Satu-Satunya tahun lalu. Padahal, diawal kemunculan Oreima Film di dalam peta perfilman Indonesia, saya menaruh harapan besar akan perkembangan film dalam negeri mengingat nama-nama di dalam struktur Oreima Film adalah anak-anak muda dengan semangat kreatif yang membanggakan. Mereka antara lain; Daniel Rahmad, Reza Hidayat, dan Vena Annisa selaku produser.
Premis film Oh, My God! mirip PR pelajaran Bahasa Indonesia yang sering saya tulis untuk tugas mengarang ketika masih duduk di bangku kelas enam SD. Bercerita tentang cowok miskin nan culun yang jatuh hati pada seorang cewek cantik anak orang kaya yang kebetulan bertetangga. Perjuangan si cowok miskin untuk menggaet hati si cewek dihalang-halangi kekasih si cewek yang juga berasal dari orang gedongan. Cerita klasik macam ini sering kita temui pada film lepas cerita anak-anak di TVRI pertengahan tahun 80-an, juga buku cerita anak yang banyak diobral di pasar grosiran. Bahkan La Jenggo, sahabatku yang berlangganan dengan rangking buncit di sekolah kerap mendapat nilai 8 dalam pelajaran mengarang untuk cerita serupa ini.
Separoh adegan film ini berkutat di dalam area sekolah bernama “SMU MUTIARA BANGSA”. Sebuah sekolah yang tampaknya hanya memiliki satu guru. Bahkan tak seorangpun guru yang muncul ketika ada adegan penyiksaan si tokoh utama yang diikat dan ditelanjangi di halaman sekolah. Padahal aksi anarkis itu dikerubungi puluhan siswa. Bah, sekolah macam apa ini? Murid-muridnya pun rata-rata berwajah tua dan sepantasnya sudah memiliki tiga anak. Antara lain; Desta, Ringgo Agus Rahman, Revalina S Temat, dan Edric Tjandra. Seragam sekolah ajaib ini juga didesain supaya terkesan imut tetapi jatuhnya malah mirip seragam TK di kampung kami dekat kandang kambing milik La Jenggo.
Untuk sektor cast, pilihan pemain yang amburadul entah harus dibebankan pada siapa, Casting Direct? Rako Prijanto selaku sutradara? Produser? Atau Key Mangunsong dan Raditya sebagai penulis skenario yang sukses memadukan imajinasi Jujur Prananto saat menulis Ada Apa Dengan Cinta dan Musfar Yasin saat menggarap Get Married. Lihatlah beberapa adegan film ini seperti ingin meniru formula Basic Story kedua film yang saya sebutkan tadi. Hasilnya? Jauh bung! Ada kisah perebutan kursi ketua OSIS di sekolah dan adegan si cowok mengajak si cewek ke sebuah kafe mendengar live music yang khusus dipersembahkan buat si cewek. Lalu settingnya berada di sebuah perkampungan kumuh dimana disekitar tempat itu ada keluarga kaya yang mulanya terkesan angkuh lantas melunak di akhir film. Kalian masih ingat adegan-adegan itu berasal dari film mana bukan?
Khusus penampilan Maia Estianty, mungkin ia diikutkan dalam film ini memerankan ibu Revalina S Temat lantaran dalam skenario ada dialog yang memplesetkan nama Mulan Jameela menjadi “Mulan Jaimlah...” Dan Maia E didapuk melontarkan kalimat itu. Sungguh kejam, jika hanya karena alasan dialog tadi Maia diikutkan berlakon tanpa peduli umurnya pas atau tidak berperan sebagai ibu dari Revalina yang tak lama lagi Manopause. Tapi teori ini bisa dipatahkan kalau saja dalam cerita dijelaskan sang ibu dulunya kawin muda atau mungkin di masa muda sang ibu, metode pacaran yang diterapkan adalah: MD3B (makan dulu baru baca bismillah).
Sungguh, melihat akting Maia Estianty di film ini masih jauh ketimbang jika ia berakting di depan kamera infotainment. Aktingnya sangat gemilang jika ia melenggang pada program-program gossip di TV. Hebatnya, chemistry-nya jauh lebih dapat saat bersiteru dengan Ahmad Dhani di TV ketimbang beradu akting dengan lawan mainnya di layar lebar. Hehehe.
Sekali lagi, tak ada yang menarik dalam film ini. Diusung sebagai film bergenre komedi namun nyatanya Oh, My God! tak berhasil membuahkan adegan yang menggelikan. Kalaupun ada, banyolan-banyolan yang terlontar lewat dialog masih terasa garing kurang digoreng. Dialog-dialog humornya masih tipikal komedi khas Betawi kelas FTV yang banyak bertaburan di televisi. Contoh dari penulis:
EMAK: Jenggoooo....!
ANAK: Iye....Nyaaaak.....!
EMAK: mau makan ape lu?
ANAK: Makan ape aje dah!
EMAK: Minumnye?
ANAK: Aqua gelas satu botol!
Film yang berdialog seperti contoh diatas seolah-olah dibikin hanya untuk dikonsumsi orang-orang Jakarta saja. Tanpa pernah hirau bahwa film mereka akan sampai di depan mata penonton di Kalimantan, Batak, Manado, Makassar, dll.
Agaknya, wajah bloon pembawa hoki yang di anugerahkan Tuhan YME kepada Ringgo Agus Rahman dan Desta, tak cukup menyelamatkan film ini agar bisa dikategorikan sebagai film komedi yang lucu. Ada baiknya uang 15.000 yang semula ingin kita gunakan membeli tiket di bioskop, disumbangkan saja pada kaum duafah ketimbang menonton film ini. Itung-itung sedikit bisa menghindarkan kita dari sambitan cambuk api malaikat penunggu Neraka. Amin!
0 komentar:
Post a Comment