Thursday, August 21, 2008

Diary La Jenggo For Dian Sastro


Kali ini aku ingin berkisah tentang catatan harian La Jenggo, sahabat seperjuangan yang hidupnya tak kalah melarat di Jakarta. Saking miskinnya, celana dalamnya yang ia bawa dari kampung kini bolong-bolong layaknya habis digerogoti kucing namun tak kuasa ia ganti dengan celana yang layak pakai. Yang membuatku salut padanya, meski hidupnya tergolong KDL (kasihan deh Lo), ia punya cita-cita mempersunting Dian Sastro.


Di bawah ini tulisan La Jenggo yang kucuri dari koper miliknya:


Tujuh hari sudah kulewati bekerja sebagai tukang sapu di Rumah Produksi itu. Ini adalah saran sahabatku, Ibe. Katanya, lama kelamaan nanti aku bakal naik pangkat jadi crew seperti dia. Jika beruntung, jalan nasib ini bisa saja merubahku jadi bintang film laga Saur Sepuh misalnya. Karena Ibe yakin, setahun jadi tukang sapu akan membuat otot-otot lenganku bertambah kekar. Kupikir-pikir ada betulnya juga. Dan masih menurut Ibe, banyak bintang top di jagad ini yang diawali dari nasib payah seperti aku.

Di hari kedelapan, saat sedang membersihkan kaca jendela kantor, mataku terbelalak melihat seorang wanita cantik layaknya bidadari turun dari sedan kelabu dan melangkah anggun masuk ke dalam kantor. Ia melintasiku tanpa ada sapa. Hanya melempar senyum tipis sebagai ganti basa-basi. Aku mengenali bidadari itu. Aku pernah melihat ia menangis dan marah-marah di televisi. Ya, kalau tidak salah namanya Dian Sastro. Mendadak lututku serasa terkunci dan jantungku seperti dipukul palu. Bagai mimpi rasanya menyaksikan Dian Sastro nyata hadir di hadapanku. Kuperhatikan ia berjalan ke ruang tengah. Duduk sendiri di sofa sambil membuka majalah. Seperti sedang menanti seseorang. Lekas aku ke belakang menemui Ibe untuk meminjam ponselnya.

Aku mau berfoto bersama Dian Sastro dan mengirimnya buat ayah. Tetapi Ibe malu menolongku. Ibe berpikir sebentar, sebelum menemukan siasat yang gemilang. Ia menyuruhku berpura-pura menyapu di belakang sofa tempat Dian Sastro duduk lantas ia memotret kami diam-diam. Berhasil. Aku menyatu dengan Dian Sastro dalam foto. Aku terlihat berdiri di balik punggung wanita cantik itu sambil tersenyum ke arah Ibe dengan gaya menjulangkan jejari kananku membentuk simbol metal. Sementara Dian tetap fokus pada bacaannya tanpa menyadari dirinya sedang diintai paparazzi gadungan. Dalam foto, kami hampir mirip sepasang pengantin yang tengah berselisih. Tak apalah. Sungguh aku tak sabar mencetaknya lima lembar lalu mengirim foto itu ke kampung.

Memang benar kata Ibe, berfoto bareng artis bisa membuat orang-orang di kampung menganggap kita sebagai perantau yang beruntung. Satu minggu setelah fotoku bersama Dian Sastro beredar di kampung, ponselku yang sudah layak jadi barang antik kebanjiran SMS dari keluarga dan teman-temanku. Semua SMS yang masuk dimulai dengan kalimat: Selamat untukmu! Sukses buatmu! Kami bangga Padamu! Menurut kakakku, kampung kami geger membicarakan aku dan foto itu. Saking girangnya, konon ayahku menjual beberapa liter kakao yang belum kering untuk membeli bingkai foto di pasar Pincara. Rata-rata kiriman pesan pendek itu berakhir dengan titipan salam buat Dian Sastro dan sebuah tanda tanya. Mereka meminta aku menceritakan pengalaman langka di dalam foto itu.

Berbohong demi kebaikan, supaya ayah bahagia, terpaksa aku mengarang cerita bahwa aku dan Dian Sastro pernah makan bersama di restoran mahal. Ayah membalas SMS dengan pertanyaan: apakah kau sudah bisa makan pakai bambu (red-sumpit) seperti orang kota? Perihal sumpit, aku dan ayah pernah berdebat tentang bagaimana menggunakannya untuk menyantap masakan berkuah. Dan dengan percaya diri ayah menerangkan padaku bahwa batang sumpit itu berlubang menyerupai sedotan untuk menyeruput kuah masakan. Aku percaya saja waktu itu.

Ayah juga mengirim cerita buat Dian Sastro tetang kebun kelapa kami yang tengah berbuah banyak. Siapa tahu Dian Sastro mau ikut berlibur bersamamu ke kampung makan kelapa muda dicampur gula merah atau sirup Pisang Ambon, harap ayah dalam pesannya. Aku senang membaca surat-surat elektronik dari jauh itu sekaligus gelisah telah melakukan perbuatan yang mengundang dosa.

Tibalah aku di penghujung bulan pertama bekerja sebagai tukang sapu. Hari itu aku menerima gaji yang jumlahnya senilai tiga karung padi: enam ratus ribu rupiah. Tapi sayang, aku tidak bisa menikamati hasil kerja kerasku itu. Baru saja Ibe menerima kabar Ayahnya sedang sakit keras dikampung. Ia diminta pulang dan uangnya kurang sebagai bekal. Ikhlas kuserahkan seperdua gajiku bulan ini pada sahabatku yang malang itu. Bagaimanapun, Ibe manusia terbaik yang pernah kutemui di kota ini. Tiba saatnya belajar membalas budi.

Dan sore itu Ibe terbang ke Makassar menggunakan pesawat bertiket murah menemui ayahnya yang mungkin sudah sangat merindukan dirinya. Kini aku tinggal sendiri berjuang di belantara Ibu Kota dengan uang pas-pasan. Beruntung kantor tempatku bekerja bisa ditempuh jalan kaki. Jaraknya kurang lebih satu kilo meter. Lumayan bikin pantat berkeringat. Dan yang paling penting, teteh Nining, pemilik warung Sunda di belakang kos kami masih bermurah hati mau mengutangkan nasi dan lauk-pauknya. Seperti kemarin-kemarin.


Malam harinya, kutulis puisi sederhana untuk Dian Sastro:


kelak, kalau kau menjadi istriku. Tak akan kubiarkan zat kimia melunturkan kecantikan alami yang melekat pada tubuhmu. Di halaman rumah kita, segera kutanam pohon lidah buaya untuk kau jadikan shampoo supaya rambutmu yang hitam tumbuh subur dan berkilau indah. Juga kunyit dan bengkoang sebagai bedak agar wajahmu tetap halus memesona. Serta kubuatkan hand body dari minyak kelapa buat mengkilapkan kulit tangan dan betismu. Menjaga senyummu biar tetap cemerlang, aku akan selalu siaga setiap saat menumbuk halus batu merah seperti masa kakek dulu. Tidak lupa kusiapkan batu tawas yang ajaib menghilangkan bau badanmu kala berkeringat. Kurasa semua itu cukup sayang, bahkan lebih dari cukup. Demi cintaku padamu…


0 komentar: