Thursday, June 19, 2008

SEKADAR MENGISI KEKOSONGAN

Melihat fenomena perfilman Indonesia belakangan ini, dimana hantu-hantu menggelikan kembali gentayangan dan mengerubungi bioskop-bioskop tanah air, maka dengan sengaja dan dalam keadaan sesadar-sadarnya, tanpa ada tekanan oleh siapapun, saya menayangkan kembali "best review" Sinema Indonesia. Selamat membaca....


SUATU HARI DI KANTOR SEORANG PRODUSER “KORROR”

Shanker Rs. berdiri memandangi sebuah plakat yang baru saja digantungnya di dinding, tepat di atas kursinya. Tertulis:

“BEST PRODUCER OF HORROR
SHANKER Rs.”

Plakat itu ditandatangani oleh seseorang dengan nama “KHRESNA Sr.”. Shanker telah belajar dari seseorang yang telah jadi long-time collaborator-nya bahwa you can be as many people as you wanna be. Dan, kalau tidak ada yang mau memberi pujian atas film-filmnya, “your other self” selalu bisa diandalkan untuk untuk membuatnya kembali ceria.

Dia kembali duduk dan membolak-balik tumpukan skenario siap bikin yang berserakan di atas mejanya. Beberapa judul terbaca: “Setan Tuyul“, “Nini Towok“, “Nenek Gerondong“, “Kolor Ijo“. Dia terlihat kesal dan menelpon sekretarisnya.
“Ya, Pak?” jawab sekretarisnya.
You janji bawa skrip yang judulnya nama tempat. Mana?” hardik Shanker.
“Nama tempat-tempat yang berhantu udah habis, Pak. Terakhir Terowongan Casablanca.”
“AHH..! Bukannya ada satu lagi tuh. Di dekat Menteng, ada jembatan. I sering liat hantu-hantu di situ.” kata Shanker.
“Itu Taman Lawang, Pak. Dan itu bukan hantu,” kata sekretarisnya.
“AH, I tidak mau tau. You cari nama tempat yang berhantu.” Shanker menutup telpon.

Pintu dibuka dan seseorang melongokkan kepalanya ke dalam sambil tersenyum lebar.
“KOYA MY BRODEEERRR…” seru Shanker. Koya Pagayo masuk dan memeluk Shanker. Keduanya semakin lama semakin akrab, terlebih-lebih setelah peristiwa FFI 2006 yang membuat keduanya dicemooh secara nasional. Untung masih ada Kompas yang memuat kisah hidup Koya di halaman satu dengan dramatis dan membuatnya terlihat sebagai korban, ketimbang penjahat hak cipta.
You got something for me, Broder?” tanya Shanker.
Yes. Gue punya ide brilian, Bro. Ceritanya…” Belum selesai Koya berbicara, Shanker memotongnya.
“Judul, judul, Broder. You tau I tidak peduli soal cerita. Title! Title!
“Malam Jumat Kliwon.” Koya tersenyum.
“Malam… Jumat… Kliwon.” Shanker manggut-manggut. “JENIUS! JENIUS, Broder!”
Keduanya tertawa dan berpelukan. Shanker mencengkeram pantat Koya dengan gemas.
Ouch. I love when you do that, Bro,” kata Koya.
I’ll give you another one later. Tell me… setan-setan apa aja yang bisa kita masukin di sini?” tanya Shanker.
“Semua, Broder! Malam Jumat Kliwon itu malam setan-setan pada gentayangan!” Senyum Koya tersenyum lebar. Shanker tertawa dan kembali memeluknya.
“JENIUS! JENIUS, BRODER!” Shanker kembali meremas pantat Koya.
“Ouch. I love when you do that, Bro,” kata Koya.
I’ll give you another one later. Now tell me… tiap berapa menit sekali kita bisa menampilkan setan-setannya?” tanya Shanker.
“Setiap menit, Broder! Malam Jumat Kliwon itu malam setan-setan pada gentayangan sepanjang malam! Dan sebagai bonus, gue bakal masukin satu adegan dari Silent Hill!” Senyum Koya semakin lebar. Shanker kembali memeluk Koya.
“JENIUS! JENIUS, BRODER!” Shanker kembali meremas pantat Koya.
Ouch. I love it when you do that, Bro.”
I’ll give you one squeeze at the premiere setiap kali hantunya muncul, Broder,” kata Shanker.
Koya tersenyum sumringah.

Tiba-tiba di luar terdengar anak-anak SMP mulai upacara bendera. Letak sekolah itu tepat di belakang kantor Shanker. Seorang anak terdengar membacakan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Saat anak itu akan sampai pada kalimat: “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” Shanker menutup jendelanya.
I tidak suka kalimat itu, Bro. Bayangkan kalau orang Indonesia cerdas, kita susah cari duit, Broder.” kata Shanker.
Koya hanya mengangguk-angguk.
“Ok lah. Ge cabut dulu, Bro. Persiapan suting,” Koya beranjak.
“Ok, Broder. Jangan lupa perjanjian kita,” kata Shanker.
“Don’t worry, Bro,” Koya keluar. Keduanya lupa untuk mencari cerita untuk film Malam Jumat Kliwon, tapi rupanya itu bukan masalah buat keduanya.

Tak lama kemudian, Malam Jumat Kliwon mulai ditayangkan di bioskop. Cerita ecek-eceknya tentang lima orang anak muda yang diteror setan-setan di sebuah bangunan bekas rumah sakit. Lucunya, tak ada satupun yang punya niat untuk keluar dari situ. Editingnya juga paling ancur yang pernah dilihat di film bioskop, dengan musik-musik yang masih curian. Tapi memang filmnya tetap laku. Pembukaan UUD 45 ternyata tidak jalan. Dan saat premiere, Koya duduk di sebelah Shanker. Tak ada satupun yang tahu, dari mana asal suara “OUCH!” setiap kali setan muncul di layar. Tapi kami tahu…

4 komentar:

ekorusdianto said...

jangan lupa Milan Kundera ya...

Boraq Cambuq said...

huahahaha. itu terus...dimanako ini? sy kira dari makassarko bede?

endang alari dendang mapa dendang said...

setuju bro dari pada nntn "mlm jumat kliwon mendingan nntn perempuan d hutan angker yang ada endang alaridendang mapa dendang nya

LABORA said...

buat: endang...huakakakakaka....masih naingatnya namanya ine...saya saja sudah lupa...