Thursday, March 27, 2008

AYAT-AYAT CINTA = LIRIK-LIRIK DANGDUT


Hari ini antrian penonton Ayat-Ayat Cinta tak lagi panjang layaknya kereta api yang mogok. Tetapi film ‘Roman ala Bombay’ racitan Hanung Bramantyo ini masih mendominasi pengunjung bioskop. Sebelum berangkat dari rumah, tak lupa aku menenggak lima gelas Ballo (sejenis arak asal Makassar yang merupakan minuman favoritku sejak mulai keranjingan keluar masuk bioskop nonton Film Indonesia). Entah kenapa aku suka nonton film Indonesia dalam kondisi teler.

Antara pesawat dan film Ayat-Ayat Cinta

.dan usai nonton AAC, orang pertama yang ingin aku kutuk jadi Pangeran Kodok adalah: BJ Habibie. Karena beliaulah aku terpengaruh datang untuk ikut antri mendapatkan selembar tiket. Kalimat yang terlontar dari bibir BJ Habibie masih mendengung di liang telingaku. Begini kata kakek itu di depan kamera infotainment dengan bola mata berputar-putar layaknya dua butir kelereng berpusing-pusing dalam cawan: Filmnya scangat bhagus, en scaya menetskan air mata ketika pherempuan itcu tcerbaring csakit….” (kuduga Pak Habibie ada hubungan darah dengan artis muda Cinta Laura), kalimat yang bermakna promosi bagi sebagian besar penonton Indonesia. Kek, ini bukan acara peluncuran pesawat baru…

Penyesalan yang mungkin akan terus membuntutiku hingga keliang kubur adalah mengapa aku mesti percaya pada kata-kata tokoh seperti; BJ Habibie, Hidayat Nurwahid, dan AM Fatwa yang mungkin masa remaja mereka diisi dengan hiburan bersama pacar nonton film-film India di bioskop-bioskop tua zaman dulu. Terang saja beliau-beliau ini kegirangan nonton AAC. Aku malah membayangkan di dalam bioskop mereka tak henti-henti bertepuk tangan sembari menyeka air mata. Sungguh aku menyesal. Mengapa aku tidak mendengar hasil analisa Eric Sasono, Yan Wijaya, atau Garin Nugroho yang mengatakan film ini biasa-biasa saja untuk ukuran film Indonesia. Bagaimana jika disandingkan dengan film Hollywood? Terlalu bodoh memang. Sangat jauh…

Tak bisa disangkali kebanyakan dari penonton film negeri ini didewasakan film-film Bollywood yang khas dengan cerita cinta merah jambu, mengharu biru, mandayu-dayu, melankolis, puitik dengan lirik-lirik yang cengeng, dan selalu memaksa penonton untuk menitikkan ‘air mata Bombay’. Sejak perfilman Indonesia mengalami “pingsan”, kita tak bisa menghindari serbuan film-film India yang nyaris 24 jam menari-nari di layar TV. Mungkin itulah yang menyebabkan kata MENGHARUKAN mengandung energi Hypnosis untuk digunakan menggiring penonton ke bioskop. Percayalah, film-film mengharu biru miskin logika ala Kejamnya Ibu Tiri akan selalu ampuh menyedot jutaan penonton di negeri ini. Oh, betapa mengharukan.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah benarkah cerita film AAC mengharukan? Bagi aku, tidak sama sekali. Bahkan keluar dari ruang bioskop tak satupun kutemui sepasang bola mata penonton yang sembap. Ada sih seorang ibu paroh baya yang duduk disampingku menangis sesunggukan. Ketika kutanya mengapa seharu itu? Ia menjawab, teringat akan anak lelakinya yang kuliah di india, dan anaknya itu bernam Rahul. Ibu itu takut kisah cinta yang tragis serupa AAC akan menyertai perjalanan hidup anaknya di perantauan nun jauh di sana, India. Ironis memang, seorang penonton terharu menonton sebuah film dengan suspense yang terkesan tidak terjaga bahkan kocar-kacir. Dengan mudah kita bisa menebak ketegangan-ketegangan yang bakal terjadi pada setiap adegannya. Seperti mudahnya menebak hitungan matematika: 1+1+2 =4. Bukankah kelemahan film-film Hanung Bramantyo selalu terpuruk pada kesalahan yang sama? Suspense yang tak tertajaga. Sungguh, Hanung bukanlah pendongeng yang baik.

Nonton AAC ibarat mendengar lirik-lirik Rhoma Irama yang syahdu. Sangat dangdut! Nonton AAC laksana menyaksikan nukilan film-film India langganan TPI di awal tahun 90-an. Sebuah kisah cinta yang benar-benar fiksi dan hanya akan terjadi di dunia novel. Over dramatis! Coba lihat closing AAC saat pemeran Fahri (Fedi Nuril) dan Aisha (Rianti Cartwright) berpegangan menyusuri gurun pasir yang didominasi warna kuning keemasan mengingatkan kita pada film Rhoma Irama yang berjudul “Perjuangan dan Doa” di mana endingnya sang Raja Dangdut terlihat menggendong mayat Rika di atas puncak bukit dengan latar senja yang sungguh dibuat-buat. Cabe deh……

Jika tulisan ini dituding sadis, aku akan menjawab film AAC sebetulnya lebih sadis lagi. Mengapa? Isu poligami terselip di dalam bangunan plot seolah ingin berteriak bahwa wanita muslim yang baik adalah wanita yang SABAR DAN IKHLAS membagi cinta suaminya pada wanita lain yang tengah dirundung kemalangan. Meskipun beberapa adegan di penghujung film, Habiburrahman atau Hanung terkesan gamang dengan memperlihatkan situasi-situai sulit beristri dua namun tetap saja pesan pro poligami jauh lebih mengental dalam cerita film ini.

Entah karena nonton dalam keadaan mabuk, pesan dakwah yang berhasil aku tanggap lewat film AAC ialah: DALAM POLIGAMI TERDAPAT KEBAHAGIAAN. Aku pikir, AA Gym pun akan sependapat denganku jika saja beliau sempat nonton AAC. Dan mungkin AA Gym akan lebih menyesal lagi mengapa ia begitu cepat berpoligami. Kalau saja ia menunggu dulu film AAC rilis di Indonesia mungkin keputusannya beristri ganda tak akan menuai kritik serumit sekarang. Mungkin saja……bukankah film merupakan media yang ampuh untuk menebar propaganda? Wajar saja AAC pro poligami lantaran penulis novelnya Habiburrahman EL Shirazy seorang lelaki. Bagaimana pun ia akan berpihak pada kaumnya. Sebagai lelaki yang egois, aku sih setuju-setuju saja. Hidup poligami…

    Mengapa film Ayat-Ayat Cinta Laris bak minyak tanah eceran?

  1. seperti yang aku katakan sejak awal sebagian besar penonton film Indonesaia suka baget film-film gaya Bollywood. Dengan satu kata kunci: mengharukan banget…huhuhuhu…

  2. pilihan judul yang bombastis. Tak dipungkiri judul AAC memiliki daya tarik tersendiri (meski tak semenarik isinya) bagi ummat muslim yang notabene mendominasi negeri ini. Setidaknya mengingatkan mereka pada sebuah judul novel yang nyaris serupa: Ayat-Ayat Setan karya Shalman Rusdi.

  3. Promosi media yang berlebihan. Bahkan jauh-jauh hari sebelum AAC beredar di bioskop, Tabloid Bintang tak jenuh mengulas proses produksinya. Belakangan ini sudah tiga edisi Bintang menjadikan AAC sebagai sampul. Biasalah, mungkin ada U dibalik B = ada Uang dibalik Berita. Malah pada salah satu ulasannya, aku curiga tabloid ini juga menulis dalam keadaan mabuk hingga dengan polos Bintang menulis harapannya agar AAC diikutsertakan dalam festival film Cannes. Hah, sadar lo? Apa kata dunia? Berhenti ah langganan Bintang. Ulasan-ulasannya kurang cergas! Lebih baik baca Kompas atau Tempo yang sampai hari ini belum tertarik membahas film yang tidak bermutu serupa AAC.

  4. Kecenderungan orang Indonesia menyukai film cinta remaja selain dua genre berikut;

  • Komedi sex: karena orang-orang indonesia terkenal memiliki penis yang kecil. Mereka berharap Mak Erot akan tampil untuk memberikan solusi memperbesar penis dari salah satu film sex yang ditawarkan para produser itu.

  • Horor: lantaran orang-orang Indonesia dikenal doyan bersekutu dengan mahluk halus sejak kupon undian kode buntut merebak menebar mimpi.

Dalam wawancara di berbagai media Hanung Bramantyo selaku sutradara AAC bercoletah bahwa karyanya yang ajaib (lantaran busuk tapi laku) ini sebagai pembuktian bahwa bukan hanya film abg, komedi sex, dan horor yang laku di Indonesia. Lho, AAC kan juga film cinta/roman? Bertema agama? Kebetulan aja settingnya di Kairo dan dialog-dialognya diisi dengan ucapan; Assalamu Alaikum, Alhamdulillah, Astagfirullah, MasyaAllah, InsyaAllah, serta sedikit dibumbui kutipan ayat-ayat Al Quar’an. Sementara penggalian cerita Isalami-nya hambar nyaris tanpa rasa. Yah gitu deh, kurang lebih menyerupai wajah sinetron-sinetron di bulan ramadhan.

Maju terus perfilman Indonesia……ihuuuu……!

Ayat-Ayat Cinta

Sutradara: Hanung Bramatyo

Skenario: Salman Aristo, Ginatri S. Noer

Produksi: MD Pictures

Bintang: Fedi Nuril, Rianti R. Cartwright, Carrisa Puteri, Melanie Putria.




0 komentar: