Monday, November 19, 2007

Dermaga Sunyi

Prosa Duka Seorang Anak

Makassar sunyi sekali malam itu. Jarum jam menunjuk pukul 23.45 ketika petugas dermaga – seorang wanita muda berpakaian serba putih- menemui kami: aku, ibu, kakak, dan adikku yang sudah lima malam menunggu di Ruang Tunggu itu. Ia menyampaikan kabar bahwa sebentar lagi kapal yang akan membawa Ayah ke sebuah negeri yang jauh akan segera merapat di dermaga. Kali ini ia mengijingkan kami menemui Ayah untuk yang terakhir kali dan mengucapkan: “Selamat tinggal, Ayah…”

Ayah seorang pengembara. Lebih banyak hidupnya ia habiskan di tanah rantau. Aku tidak mungkin lupa bagaimana perpisahan di dermaga selalu menguras air mataku semasa kecil dulu. Ketika kapal besar yang mengangkut ayah bersama perantau lainnya perlahan bergerak meninggalkan tepian dermaga. Kala itu seperti ada bagian tubuhku yang hilang dan ikut bersama kapal besar itu. Aku selalu tak bisa menahan sakit yang disebabkan lambaian tangan ayah dari kaca jendela kapal yang bergerak semakin menjauh.

Ayah adalah sebuah rindu yang menggumpal serupa bisul yang menyimpan nyeri yang sangat. Dan ayah selalu tahu kapan nyeri itu mesti diredam. Saat itu ayah akan pulang mengusir rindu setelah sekian tahun pergi meninggalkan kami. Kata ibu, siklus datang dan pergi itu berputar selama tiga puluh tahun. Aku tak begitu suka dengan segala jenis mainan yang ayah tawarkan sebagai oleh-oleh untukku. Bagiku, oleh-oleh paling indah adalah senyum ayah. Dari mulut ayah, aku akan mendengar seribu satu kisah dari negeri dongeng yang baru saja ia datangi.

Karena aku harus sekolah, kata ayah, ia mesti merelakan tubuhnya terendam selama 24 jam di laut Kalimantan –bekerja mengikat kayu-kayu raksasa milik perusahaan yang kemudian dihanyutkan ke sebuah tempat penampungan. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Karena aku harus sekolah, kata ayah, ia dengan sisa-sisa tenaganya senantiasa bertarung melawan kematian yang ditebar oleh ganasnya nyamuk malaria di belantara hutan Negeri Jiran. Bahkan ia tak pernah ciut menghadapi begisnya mafia-mafia Filipina.

Sebuah dongeng yang mengerikan tak pernah lepas dari mulut ayah setiap ia pulang dari perantauan. Bagaimana ia hidup berlama-lama di tengah hutan bersama pekerja lainnya. Bagaimana perantau-perantau itu setiap saat mati satu-satu terserang penyakit atau tubuh mereka hancur tertindih pohon besar yang tumbang oleh gergaji mesin. Dan ayah selalu mengajarkan aku berdoa agar ia tak mati di sana lantaran jasad seorang perantau kadang terkuburkan tanpa ada tanda.

Alur hidup ayah layaknya cerita film komedi satir. Ia lucu dan kerap membuat kami dan para tetangga terpingkal-pingkal menahan geli. Cerita konyol ayah selalu berakhir dengan air mata dan menyisakan pesan yang menggelisahkan. Ayah tak butuh guru sekolah untuk pintar dan ia berhasil menjadi guru bagi anak-anaknya. Ayah tak butuh kiyai untuk menjadi bijak. Ia manusia paling bijaksana yang pernah kutemui.

Ayah memperkenalkan Tuhan padaku dengan cara yang lain, “Tuhan sedang tidur dalam dirimu, maka bangunkanlah…!” katanya. Ayah juga mengajarkan agama dengan ajaran yang berbeda, “Jangan percaya kitab yang menghasutmu memusuhi lawanmu…!” katanya. Ketika usiaku beranjak dewasa, ayah menantangku untuk pergi merantau. “Jika kau telah jenuh belajar di sekolah, maka pergilah ke kampung seberang. Di sana ilmu tak ada habisnya. Rahasianya, perbanyak kawan dan jujur. Lantaran kepercayaan tak bisa dibeli dengan uang….!” Terakhir, “Perempuan itu indah, maka pelihara dan jagalah….!” begitu pesannya.

Begitulah sosok ayah dulu, pada masa itu berdiri gagah sebagai petarung sejati. Kini, tepatnya hari Jumat tanggal 19 oktober 2007, di usianya yang ke-58 tahun, ia telah kehabisan tenaga. Tak ada lagi lelucon yang segar, tak ada lagi pesan bijak yang tersisa dimulutnya. Di ruang keberangkatan itu ia hanya diam –bermeditasi— di ujung keberangkatannya dan kami tak ingin mengganggu. Dalam diamnya itu, kami; istri dan anak-anaknya --mengitari tubuh beliau sambil melafal doa agar perjalanannya senatiasa tak ada hambatan sampai ke tempat yang hendak ia tuju. Entah ke mana ayah akan pergi.

Ketika suara serine kapal mendengung, aku melihat di pojok ruang sekelompok keluarga saling berpelukan, menjerit melepas tangis begitu menyadari salah seorang anggota keluarganya telah naik ke atas kapal. Tak banyak penumpang di dermaga sunyi ini. Hanya ada dia dan ayah yang akan segera berangkat. Begitu ayah bangkit berjalan menuju tangga kapal, kami tak bisa menahan tangis. Kesedihan paling akut menyerangku seketika. Aku tak kuasa melihat ayah berjalan meninggalkan kami. Segera aku berlari keluar dari ruang keberangkatan itu dan memilih sendiri bersandar di pojok luar :menangis sekuat-kuatnya.

Tetapi keinginan melihat ayah pergi begitu kuat. Aku kembali bangkit dan masuk menemui ayah yang telah berdiri di tepi dermaga. Sebentar lagi ia akan menginjakkan kaki di tangga kapal. Aku berlari mengejarnya lantas bersimpuh mencium kakinya. Penghormatan terakhir seorang anak pada ayahnya. “Maafkan aku, Ayah. Hanya ini yang aku bisa menjelang kau pergi…”

Pertama dan terakhir kulihat ayah menitikkan air mata. Air mata itu adalah uraian kata hatinya. Seperti pesan terakhir untukku: “Air mata bukan hanya jelamaan kesedihan, tetapi juga cinta sejati, anakku…”

Lantas ayah pergi……Tak akan kembali……

RS. Grestelina, 19 Oktober 2007

Sunday, November 11, 2007

CHIKA



Siapa Chika? Nama itu tentu tidak asing lagi di telinga sebagian peselancar dunia maya di Indonesia, khususnya yang tergabung dalam situs-situs pertemanan. Foto-foto bugil gadis itu beredar luas di internet sejak satu tahun terakhir. Sebenarnya, foto-foto ‘panas’ semacam itu bukan fenomena baru yang dilakoni gadis-gadis Indonesia di internet. Namun, wajah cantik, kulit putih mulus, usia yang tergolong belia, menjadi modal untuk Chika tampil dengan tebaran sensasi yang berbeda. Pose bugilnya dijamin membuat jantung kaum Adam yang melihatnya berdegub tak biasa. Berbagai “spekulasi” pun menyebar dari mulut ke mulut tentang siapa Chika dan bagaimana foto-fotonya itu bisa muncul di internet. Ada yang mengatakan itu ulah mantan pacarnya yang sakit hati lalu mengunduh foto-foto bugil Chika ke internet. Ada pula yang mengatakan bahwa Chika adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Kembang dan ‘berprofesi’ sebagai wanita panggilan.
Hal itu pula yang membuat aku tertarik untuk melakukan investigasi mengenai siapa Chika sesungguhnya. Dengan modal pas-pasan ‘proyek sinting’ ini dimulai pertengahan September 2007. Suatu malam aku bertemu seorang kawan lama di sebuah THM yang terletak di kawasan jalan Darmawangsa. Erwin namanya. Dia bisa dikatakan ‘dugemmers stadium akut’. Menurut pengakuannya, tak ada malam tanpa wanita! Kupikir dia orang yang tepat untuk membantuku memulai investigasi ini. Saat kuutaran rencana ini, ia menyambutnya dengan antusias. Rupanya dia termasuk salah satu ‘korban’ teror sensasi foto-foto syur gadis bernama Chika. Bahkan, Erwin rela menjual komputer tua miliknya demi mendanai proyek kami. (Thank’s kawan, aku tahu obsesimu bertemu Chika. Huehehe)

Pukul 07.15. Jakarta mulai bising oleh suara kendaraan yang terperangkap macet. Raung knalpot dan jeritan klakson dari jalan Pangeran Antasari, kawasan Cilandak, menyusup masuk ke dalam kamarku. Membangunkan aku dari sisa-sisa kepenatan hari kemarin. Beberapa menit kemudian, Handphone yang tergeletak di samping kiri bantalku, berdering menusuk telinga. Suara Erwin, sahabatku, terdengar di seberang sana:
“Halo, ada info mengenai Chika, bos,” katanya.
“Oya? Kamu dapat dari mana, Win? Tanyaku.
“Ada deh. Aku ke tempatmu ya. Jangan kemana-mana dulu, oke?”
“Oke. Cepetan Win, aku sudah tidak sabar mendengarnya.”
“Sip sip!”
Tak lama berselang, Erwin muncul dari balik pintu kamarku (raut wajahnya menyiratkan suasana hati yang riang). Tanpa tunggu dipersilakan ia langsung menyeduh secangkir kopi yang baru saja kuletakkan di atas meja.
“Kita harus berangkat ke Bandung hari ini, sob,” ucap Erwin sembari membakar ujung kretek yang terselip di bibirnya.
“Kamu yakin dia orang Bandung?” tanyaku penasaran.
“Bagamana tidak yakin, baru saja aku ngobrol dengan dia lewat telpon.”
“Dapat dari mana nomornya?”
“Dari salah satu anak Makassar yang kebetulan kuliah di Bandung. Kawan lama juga. Sekarang dia lagi pulang ke Makassar. Pokoknya kamu juga harus bicara dengan dia. Ternyata namanya bukan Chika. Tapi…..” Erwin menyebut sebuah nama. Demi menjaga kode etik, di sini saya tetap menggunkan nama: Chika.
Erwin kemudian memencet tombol HP-nya untuk menghubungi Chika. Dia sengaja menggunaka loudspeaker untuk memperdengarkan suara gadis itu.
“Halo Chika, aku Erwin yang tadi nelpon kamu, ” sapa Erwin.
“Hai Erwin, ada apa?” suara lembut seorang gadis terdengar jelas dari speaker HP milik Erwin. Tiba-tiba debar yang aneh menyerang jantungku. Sementara Erwin tetap terlihat santai sambil sesekali mengedipkan mata ke arahku.
“Kamu lagi ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain kok. Masih di kamar nih, lagi males.”
“Hari ini kamu ada acara nggak? Aku dan temanku mau ke Bandung hari ini. Pengennya sih di sana kita ditemani Chika jalan-jalan.”
“Oh gitu. Boleh kok. Tapi sekarang kamu masih di Jakarta kan?”
“Iya, aku masih di Jakarta. Berangkatnya sekitar jam sebelas.”
“Oke deh. Aku tunggu ya. Telpon aja kalo udah nyampe…”
“Siap. Thanks. Sampai jumpa di Bandung, Chika. Bye…” Erwin menutup perbincangan jarak jauh itu dengan senyum khasnya (senyum kucing melongok tulang).

Kota Bandung sejuk namun sesak. Saban Sabtu dan Minggu, Bandung seolah-olah menjadi tujuan akhir para warga Jakarta untuk melepas penat setelah lima hari bertarung dengan berbagai rutinitas yang membosankan. Aku dan Erwin tiba sekitat pukul 03.05. Kami memilih beristirahat pada sebuah penginapan di jalan Sangkuriang.
Tanpa menunggu persetujuan saya terlebih dahulu, Erwin langsung menghubungi Chika lewat ponsel-nya. Beruntung ia tidak pelit membagi suara gadis itu dengan menggunakan speaker ponsel.
“Halo, Chika, aku udah di Bandung sekarang,” sapa Erwin.
“Terus kamu di mana sekarang?” suara Chika terdengar dari seberang.
“Aku lagi istirahat di penginapan….jalan Sangkuriang. Kamu bisa ke sini nggak?”
“Boleh. Tunggu dua puluh menit, ya.”
“Makasih, Chika. Bye…”
“Bye…”
Kebahagiaan yang ganjil terpancar dari mata Erwin usai menelpon Chika. Ia langsung masuk ke kamar mandi. Aku memilih melentangkan tubuhku di atas kasur yang lumayan empuk. Mengusir lelah.

Tiga puluh menit kemudian, dari luar terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Erwin lebih dulu melompat dari tempat tidur dan segera membuka pintu. Wow….! Seraut wajah cantik muncul dari balik pintu. Wajah yang sangat akrab di mataku meski baru kali ini bertemu. Ya, dialah Chika. Sosok gadis yang mengganggu pikiranku beberapa hari terakhir. Kini ia nyata hadir di hadapanku. Mengenakan Tshirt ketat berwarna putih berpadu rok mini biru muda. Di pundaknya menggelantung sebuah tas kulit (sekilas imitasi) berukuran sedang. Kususuri tabuhnya dari kaki hingga kepala; kulitnya kuning langsat –mulus nyaris tanpa cacat, pahanya terlihat padat berisi, dada montok –membusung kencang seolah ingin menembus kaos yang menutupinya (kuduga, ukuran BH-nya tak jauh di bawah size XL), rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai.

Chika membagi senyumnya yang manis kepada kami seraya berkata, “Hai, selamat datang di Bandung.” Ia mengulurkan tangannya ke Erwin lantas pindah ke aku. Kurasakan jejarinya sangat halus dan dingin. (dingin itu menjalari tubuhku). Tetapi aku berusaha melawan kegagauan-ku. Di sini aku harus berlaku profesional dan konsisten dengan janjiku pada Erwin. Aku hanya bertugas menguak sisi hidup gadis itu dan Erwin yang berperan sebagai “umpan” (lebih tepatnya disebut: kucing garong).
Karena di kamar itu tak disiapkan kursi, Chika memilih duduk di bibir ranjang.
“Udah sering ke Bandung?” Tanya gadis itu.
“Lumayan. Kalo ada urusan bisnis….” Jawab Erwin. (Mantap!!! Bisnis apa, sob? Bisnis minyak tanah Bapakmu di kampung?)
Demikianlah pertemuan kami dengan Chika sore itu. Perkenalan yang singkat untuk mengawali keinginanku menguak fakta di balik wajahnya yang teduh. Saat itulah kuungkapkan keinginanku menulis: Siapa Chika? Dan mengapa foto-foto bugilnya bisa beredar di internet? Gadis itu tak keberatan. Ia bersedia mengungkap jati dirinya yang sebenarnya. Sebelum meninggalkan kamar penginapan, Chika berjanji akan menemui kami di Ciwalk nanti malam. Selepas Isya, katanya.

Malam Minggu, Ciwalk ramai pengunjung yang ingin menikmati suasana indah, dan sajian menu dari beragam kafe yang memadati kawasan itu. Aku dan Erwin memilih duduk di sebuah kafe yang tak begitu sesak. Menunggu Chika datang. Beberapa lama kemudian, Chika telah bergabung bersama kami.

Berikut nukilan dialog antara aku dan Chika:

AKU : Kamu kuliah di mana?
CHIKA : Sebenarnya tahun 2005 kemaren aku mau kuliah, tapi tertunda
karena satu hal… (ia membakar ujung kreteknya)
AKU : Terus apa kegiatan kamu sehar-hari?
CHIKA : Nggak ada. Paling di rumah aja. Keluar kalo ada ‘tamu’…..
AKU : Kok, foto kamu bisa beredar di internet? Ulah siapa?
CHIKA : (Chika tak langsung menjawab. Ia menghisap rokoknya lantas
menghembuskan asapnya disertai hembusan nafas yang berat)
Itu ulah salah satu tamuku. Padahal kami sudah cukup lama
berhubungan. Sejak foto-foto itu beredar, ia tidak pernah datang
lagi. Laki-laki itu sudah punya istri di sini (Bandung).
AKU : Mungkin kalian ada masalah?
CHIKA : Iya sih. Mugkin dia marah karena aku tidak mau lagi menuruti
setiap dia ingin ketemu. Aku jenuh sama dia. Lagian aku takut
istrinya tahu hubungan kami.
AKU : Orang tuamu tahu soal foto-foto itu?
CHIKA : Iya. Tapi mereka nggak pernah liat. Mereka nggak mau. Mereka
mendengar tentang foto itu dari tetangga. Ibuku sempat sakit
mendengar kabar itu. Tapi mereka sudah melupakan masalah ini.
AKU : Kenapa tidak lapor polisi?
CHIKA : (ia tersenyum) Gila! Melapor berarti mempermalukan diri
sendiri. Biarlah, nanti akan reda sendiri kok. Itu jadi pelajaran
buat aku supaya nggak gampang percaya sama orang.
AKU : Bagaimana tanggapan teman-temanmu yang pernah liat foto-foto
itu?
CHIKA : Sejauh ini nggak ada teman cowok aku yang berani menyinggung
foto itu, kecuali teman-teman cewekku. Mereka marah sama aku.
Kasihan juga sama aku. Cuman, kalo cowok sih, paling mata
mereka aja yang bicara. Kalo liat aku matanya melotot seperti liat
selebritis lewat gitu. (ia tertawa renyah, seperti tak ada beban di
benaknya)
AKU : Kesannya kamu gampang percaya sama orang. Termasuk
sama kami. Kenapa?
CHIKA : (lagi-lagi ia tersenyum) Tampang kalian nggak kriminal kok.
Tapi, kamu nggak bawa kamera, kan?! (sambil menudingkan
telunjuknya ke arahku). Mendingan rekam pake mata aja. Mau?

Gurauan terkahirnya itu cukup membuat aku gelagapan. (Aduuuh, cari bahan becanda yang lain dong, Chik. Migran gue kambuh nih). Chika, sosok gadis yang ramah, periang dan cukup cerdas. Dia adalah narasumber yang mungkin tak akan pernah aku lupakan hingga ke gerbang surga. Malam itu kami bersama-sama berselimutkan dingin malam Kota Kembang. Ditemani tiga botol bir dan semangkuk kentang goreng.

Kelanjutan kisah pertemuan kami dengan Chika tak bisa aku lanjutkan lagi. (maafkan daku ya, pembaca…aku punya nomor HP-nya dia kok. Tapi, ceppe’ dulu...Bagi cewek yang mau kenalan sama Erwin, boleh kirim email. Dia cukup loyal kok buat ngejual barang-barangnya yang belum lunas credit sekali pun, demi kencan semalam. huakakaka) Tugasku telah selesai di larut malam. Selanjutnya giliran Erwin menemani gadis Bandung itu menunggu pagi, di satu tempat yang dingin. RAHASIA!



Cinta Suruh Hera Datang Jakarta

Kisah cinta yang tragis mengantar Hera, 23 tahun, datang ke Jakarta. Peristiwa yang berujung kesedihan itu terjadi pertengahan tahun 2002 di Makassar. Kala itu Hera baru saja tamat SMU, dan tak mampu melanjutkan ke tingkat berikutnya karena ayahnya keburu meninggal dunia pada waktu bersamaan. “Beliau meninggal akibat terserang stroke,” ujar Hera.

Semasa hidup, ayahnya bekerja sebagai supir mobil box di sebuah perusahaan rokok. Sementara sang ibu bekerja sebagai tukang jahit di rumahnya di jalan Sultan Alauddin. Hera masih punya adik dua orang yang masih kecil. Saat-saat sulit itulah sang kekasih mendadak memutuskan hubungan mereka. “Dia pindah ke lain hati. Padahal, hubungan kami sudah sangat dalam. Kami pacaran sudah tiga tahun waktu itu,” kenang Hera.

Hingga suatu hari, Hera kedantangan seorang teman perempuannya yang bekerja di Jakarta dan mengajak ia ikut bekerja di Jakarta. Si teman yang sudah dua tahun menetap di Jakarta itu berhasil meyakinkan Hera bahwa di sana lebih mudah mencari pekerjaan daripada di Makassar. Akhirnya, Hera meminta izin pada ibunya untuk ikut temannya bekerja di Jakarta. “Selain keinginan mencari pekerjaan di Jakarta, gue juga ingin melupakan semua kenangan pahit ketika masih bersama dia di Makassar,” kata Hera lagi. Maka berangkatlah gadis lugu berperawakan manis dan bertubuh montok ini ke kota sejuta impian: Jakarta.

Tahun 1997. Sudah empat tahun lebih Hera bekerja di Jakarta. Ia tinggal satu kos dengan temannya yang mengajak dirinya dari Makassar. Gadis yang pernah becita-cita menjadi guru ini termasuk orang yang beruntung datang ke ibu kota. Ia mengaku tak sekalipun pernah menganggur semenjak tinggal di Jakarta. Tahun pertama ia bekerja di sebuah pabrik sepatu. Tahun kedua ia beralih profesi sebagai pelayan kafe di kawasan Jakarta pusat. Tahun ketiga ia bekerja lagi sebagai karyawan supermarket. Dan kini Hera bekerja sebagai karyawan klub papan atas yang terletak di pojokan jalan strategis selatan Jakarta. Menurutnya, sudah hampir dua tahun ia melakoni pekerjaan terakhirnya ini.

Hera, kelahiran Makassar, 12 Juni 1984. Gadis yatim ini memiliki kisah hidup yang terdengar klasik di antara denyut nadi orang-orang Jakarta. Jauh-jauh menyeberangi lautan untuk mengadu nasib di kampung orang, dan akhirnya bekerja di malam hari saat di mana sebagian orang telah tertidur melepas penat. Menurut penuturan Hera, bekerja sebagai server klub malam bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain cekatan, dibutuhkan juga kesabaran yang tinggi dalam melayani para tamu yang terkadang menyebalkan. “Tiap malam kita berinteraksi dengan orang mabuk. Bisa dibayangkan bukan bagaimana repotnya?” tuturnya. Meski demikian, ia mengaku tetap antusias dan mencintai pekerjaannya.

Tak jarang Hera mengalami berbagai bentuk pelecehan, penghinaan, dan makian pengunjung klub itu. “Biasanya si tamu itu marah-marah karena menganggap pelayananan kami sangat lambat. Misalnya, pesanan bir yang biasa telat kami antar ke meja mereka,” ungkapnya. Memang, terkadang kita atau pengunjung THM menganggap mereka yang bekerja di klub-klub malam tak ubahnya robot yang dapat dikendalikan sesuka hati. Seakan kita lupa, Hera dan teman-temannya adalah manusia biasa yang punya hati dan isi pikiran sendiri-sendiri. “Pernah juga ada tamu yang mencolek bokong gue, dan berkata: “Aduh, montok banget. Mau enggak jadi pembantu di rumah gue?…sekalian jadi istri kedua,” lanjut Hera menirukan ejekan seorang pengunjung.

Masih menurut penuturan Hera, beberapa tamu pernah mengajaknya “kencan” secara terang-terangan dengan menawarkan sejumlah uang jika ia bersedia “melayani” si tamu. “Yang ngajak kencan sih banyak. Biasanya gue tolak secara halus dengan senyum kecut yang gue paksain manis. Ditambah mata gue yang sedikit melotot, biasanya si tamu langsung mengerti kalo gue enggak sudi. Hehehe,” ucapnya seraya tertawa. Katanya lagi, pelecehan seksual semacam ini tidak tiap malam dialaminya.

Awalnya, ia mengaku risih menjalani profesinya itu. Bagaimana tidak, sebelumnya Hera terbilang orang yang jarang mengunjungi klub-klub malam. Wajar saja jika ia merasa aneh melihat tingkah laku para pengunjung tempatnya bekerja. Lambat laun ia mulai menikmati bahkan kadang ikut larut dalam hingar-bingar para clubbers yang bergoyang mengikuti hentakkan musik progressive. Bagi Hera, bekerja di sebuah klub memiliki keistimewaan tersendiri. Gadis berdarah Bugis ini sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter orang. “Dulu ada tamu yang memberikan uang tip separuh dari gaji gue sebulan. Tanpa menuntut macam-macam, ditemani ngobrol, doang!” kata gadis berambut panjang ini.

Beragam kejadian aneh yang pernah terekam mata Hera selama bekerja di klub itu. Misalnya, ia kerap melihat sepasang muda-mudi berciuman bibir di sofa yang terletak di pojok ruangan. Seolah tak peduli dengan orang sekitar, tangan sepasang anak muda itu menyelusup masuk ke dalam celana jeans masing-masing. “Kejadian semacam itu hampir tiap malam kita lihat. Dan biasanya adegan ‘hot’ seperti itu berakhir di tangan sekuriti,” cerita pengagum Andi Alfian Mallarangeng ini.

Sudah pasti, kejadian-kejadian yang lebih ekstrim dan cenderung anarkis tentu sulit terhindarkan di tempat semacam itu. Namanya saja klub, ulah para pengunjungnya terkadang diluar kontrol kesadaran normal akibat pengaruh alkohol atau obat-obatan yang bisa bikin fly. Menurut kesaksian Hera, beberapa kali ia melihat kejadian: laki-laki menampar perempuan dan perempuan menampar laki-laki. Atau, seorang perempuan menjambak rambut perempuan lainnya dan dua laki-laki saling bertukar bogem mentah ke wajah masing-masing. “Apalagi yang membuat mereka ribut kalau bukan masalah perselingkuhan. Kalo laki-laki sih kadang pemicunya hal sepele, ada yang marah karena tak sengaja tersenggol pengunjung lain, atau ceweknya mengadu dicolek laki-laki lain,” papar Hera.

Ketika ditanya, kejadian apa saja yang paling membuatnya sebal? “Gue pernah tersembur muntahan salah seorang tamu yang minta ditemani ngobrol. Bayangkan, muntahan itu mengotori hampir seluruh baju gue bo! Gue langsung ikut muntah di tempat kerena jijik. Sadis enggak, tuh?” tukasnya.

Pernah juga pada malam yang lain, seorang lelaki setengah baya meminta Hera menemaninya duduk di sofa. Lelaki itu menenggak habis 5 botol bir tanpa dibantu oleh siapapun. Dalam keadaan teler berat, lelaki itu terus berceracau tentang istrinya yang bermain serong dengan lelaki lain. Menjelang klub tutup pukul 03.00, si tamu itu merogoh isi dompetnya dan bermaksud memberikan uang tip pada Hera. “Bukannya duit yang diambil dari dompetnya, malah sebungkus kondom yang masih baru. Langsung aja gue omelin: Mas, liat-liat dulu dong kalo mau memberi sama orang. Itu bukan duit, tapi kondom! Akhirnya ia menukar lagi kondom itu dengan selembar duit 50.000-an sebelum berjalan keluar dengan langkah gontai,” tutur gadis lajang ini sambil tersenyum.

Tak jarang pula Hera menemui pengunjung klub yang berprilaku kurang ajar. Ada yang berpura-pura baik hati memberikan selembar uang tip 20.000-an, tahu-tahunya, setiba di rumah kos Hera melihat lembaran uang itu ternyata sobekan uang 20.000-an dan sobekan uang 10.000-an yang telah disatukan dengan lem. “Sampai sekarang gue masih inget wajah penipu berbau ‘naga’ itu,” katanya lagi dengan wajah geram.

Pahit manisnya bekerja di dunia gemerlap (dugem) sudah pernah ia rasakan. Hera sadar betul, bekerja di malam hari lebih berisiko dibanding bekerja siang hari. Apa lagi di kota besar seperti Jakarta. Segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi pada dirinya. Ia mengisahkan, pernah suatu kali ia pulang tanpa mobil antar-jemput milik perusahaan yang biasa di pakai mengantar para karyawan pulang ke tempat tinggal masing-masing. “Kebetulan malam itu mobil perusahaan lagi masuk bengkel. Gue pulang sendiri menumpangi taxi. Dan di tengah perjalanan, supir taxi itu tiba-tiba menghentikan mobil. Supir bejat itu rupanya berniat buruk sama gue. Beruntung gue bisa menyelamatkan diri,” aku Hera.

Bagaimana dengan komentar tetangga tentang pekerjaan Hera yang jam kerjanya tak lazim seperti pekerja lain? “Rata-rata tetangga kos tau kok pekerjaan gue apa. Kalaupun ada nada-nada miring, paling dari segilintir orang yang sirik aja. Biarin deh, asal mereka enggak nyenggol gue aja,” katanya dengan nada cuek.

Bagimanapun pahitnya profesi yang ia jalani saat ini, Hera tetap bergeming. Ia justru bangga dengan pekerjaan yang dijalaninya itu selama masih menghasilkan uang yang halal. Ia tak pernah peduli dengan jarak antara dirinya dengan sejumlah gadis remaja seusianya di luar sana. Saat ia larut dalam pekerjaan yang membosankan, kebanyakan anak-anak seusianya mungkin sedang asyik jalan-jalan di mal, nongkrong di kafe, atau nonton film di bioskop.

Hera merasa telah berhasil membuktikan bahwa dirinya seorang anak yang berguna bagi keluarga. Tak ada yang bisa ia banggakan, kecuali kemampuannya menghidupi Ibu dan kedua adiknya di kampung halaman. “Alhamdulillah, gue bisa membantu Ibu menyekolahkan kedua adikku di Makassar,” Ucapnya. Hampir empat tahun tinggal di Jakarta, Hera mengaku baru dua kali pulang ke Makassar. “Insya Allah gue mudik lagi ramadhan nanti, gue rindu sama Ibu dan adik-adikku,” ucap Hera menutup obrolan kami.

Alur hidup Hera adalah secuil kisah para pekerja dunia gemerlap malam di Jakarta. Mereka baru bernapas lega ketika beduk masjid mulai ditabuh. Pulang paling cepat, pukul 04.30. Mereka pulang paling lambat, biasa hingga pukul 06.00. Orang seperti Hera baru terlelap ketika sebagian pekerja lainnya hendak memulai aktivitas. Dan ia bersiap-siap berangkat kerja lagi saat senja telah tenggelam di tepi kota.