Prosa Duka Seorang AnakMakassar sunyi sekali malam itu. Jarum jam menunjuk pukul 23.45 ketika petugas dermaga – seorang wanita muda berpakaian serba putih- menemui kami: aku, ibu, kakak, dan adikku yang sudah lima malam menunggu di Ruang Tunggu itu. Ia menyampaikan kabar bahwa sebentar lagi kapal yang akan membawa Ayah ke sebuah negeri yang jauh akan segera merapat di dermaga. Kali ini ia mengijingkan kami menemui Ayah untuk yang terakhir kali dan mengucapkan: “Selamat tinggal, Ayah…”
Ayah seorang pengembara. Lebih banyak hidupnya ia habiskan di tanah rantau. Aku tidak mungkin lupa bagaimana perpisahan di dermaga selalu menguras air mataku semasa kecil dulu. Ketika kapal besar yang mengangkut ayah bersama perantau lainnya perlahan bergerak meninggalkan tepian dermaga. Kala itu seperti ada bagian tubuhku yang hilang dan ikut bersama kapal besar itu. Aku selalu tak bisa menahan sakit yang disebabkan lambaian tangan ayah dari kaca jendela kapal yang bergerak semakin menjauh.
Ayah adalah sebuah rindu yang menggumpal serupa bisul yang menyimpan nyeri yang sangat. Dan ayah selalu tahu kapan nyeri itu mesti diredam. Saat itu ayah akan pulang mengusir rindu setelah sekian tahun pergi meninggalkan kami. Kata ibu, siklus datang dan pergi itu berputar selama tiga puluh tahun. Aku tak begitu suka dengan segala jenis mainan yang ayah tawarkan sebagai oleh-oleh untukku. Bagiku, oleh-oleh paling indah adalah senyum ayah. Dari mulut ayah, aku akan mendengar seribu satu kisah dari negeri dongeng yang baru saja ia datangi.
Karena aku harus sekolah, kata ayah, ia mesti merelakan tubuhnya terendam selama 24 jam di laut Kalimantan –bekerja mengikat kayu-kayu raksasa milik perusahaan yang kemudian dihanyutkan ke sebuah tempat penampungan. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Karena aku harus sekolah, kata ayah, ia dengan sisa-sisa tenaganya senantiasa bertarung melawan kematian yang ditebar oleh ganasnya nyamuk malaria di belantara hutan Negeri Jiran. Bahkan ia tak pernah ciut menghadapi begisnya mafia-mafia Filipina.
Sebuah dongeng yang mengerikan tak pernah lepas dari mulut ayah setiap ia pulang dari perantauan. Bagaimana ia hidup berlama-lama di tengah hutan bersama pekerja lainnya. Bagaimana perantau-perantau itu setiap saat mati satu-satu terserang penyakit atau tubuh mereka hancur tertindih pohon besar yang tumbang oleh gergaji mesin. Dan ayah selalu mengajarkan aku berdoa agar ia tak mati di sana lantaran jasad seorang perantau kadang terkuburkan tanpa ada tanda.
Alur hidup ayah layaknya cerita film komedi satir. Ia lucu dan kerap membuat kami dan para tetangga terpingkal-pingkal menahan geli. Cerita konyol ayah selalu berakhir dengan air mata dan menyisakan pesan yang menggelisahkan. Ayah tak butuh guru sekolah untuk pintar dan ia berhasil menjadi guru bagi anak-anaknya. Ayah tak butuh kiyai untuk menjadi bijak. Ia manusia paling bijaksana yang pernah kutemui.
Ayah memperkenalkan Tuhan padaku dengan cara yang lain, “Tuhan sedang tidur dalam dirimu, maka bangunkanlah…!” katanya. Ayah juga mengajarkan agama dengan ajaran yang berbeda, “Jangan percaya kitab yang menghasutmu memusuhi lawanmu…!” katanya. Ketika usiaku beranjak dewasa, ayah menantangku untuk pergi merantau. “Jika kau telah jenuh belajar di sekolah, maka pergilah ke kampung seberang. Di sana ilmu tak ada habisnya. Rahasianya, perbanyak kawan dan jujur. Lantaran kepercayaan tak bisa dibeli dengan uang….!” Terakhir, “Perempuan itu indah, maka pelihara dan jagalah….!” begitu pesannya.
Begitulah sosok ayah dulu, pada masa itu berdiri gagah sebagai petarung sejati. Kini, tepatnya hari Jumat tanggal 19 oktober 2007, di usianya yang ke-58 tahun, ia telah kehabisan tenaga. Tak ada lagi lelucon yang segar, tak ada lagi pesan bijak yang tersisa dimulutnya. Di ruang keberangkatan itu ia hanya diam –bermeditasi— di ujung keberangkatannya dan kami tak ingin mengganggu. Dalam diamnya itu, kami; istri dan anak-anaknya --mengitari tubuh beliau sambil melafal doa agar perjalanannya senatiasa tak ada hambatan sampai ke tempat yang hendak ia tuju. Entah ke mana ayah akan pergi.
Ketika suara serine kapal mendengung, aku melihat di pojok ruang sekelompok keluarga saling berpelukan, menjerit melepas tangis begitu menyadari salah seorang anggota keluarganya telah naik ke atas kapal. Tak banyak penumpang di dermaga sunyi ini. Hanya ada dia dan ayah yang akan segera berangkat. Begitu ayah bangkit berjalan menuju tangga kapal, kami tak bisa menahan tangis. Kesedihan paling akut menyerangku seketika. Aku tak kuasa melihat ayah berjalan meninggalkan kami. Segera aku berlari keluar dari ruang keberangkatan itu dan memilih sendiri bersandar di pojok luar :menangis sekuat-kuatnya.
Tetapi keinginan melihat ayah pergi begitu kuat. Aku kembali bangkit dan masuk menemui ayah yang telah berdiri di tepi dermaga. Sebentar lagi ia akan menginjakkan kaki di tangga kapal. Aku berlari mengejarnya lantas bersimpuh mencium kakinya. Penghormatan terakhir seorang anak pada ayahnya. “Maafkan aku, Ayah. Hanya ini yang aku bisa menjelang kau pergi…”
Pertama dan terakhir kulihat ayah menitikkan air mata. Air mata itu adalah uraian kata hatinya. Seperti pesan terakhir untukku: “Air mata bukan hanya jelamaan kesedihan, tetapi juga cinta sejati, anakku…”
Lantas ayah pergi……Tak akan kembali……

