Wednesday, October 10, 2007

Kisah si Uceng Dibalik Rekor MURI

Sudah banyak peristiwa aneh, langka, unik, terbanyak, tercepat, dan ter- lainnya yang tertoreh di Museum Rekor Indonesia (MURI), termasuk salah satunya beberapa bulan lalu di Jakarta, tepatnya pada hari Minggu tanggal 21 Januari 2007. Di hari itu, sekitar pukul 15.30 WIB, MURI kembali mencatat peristiwa seleksi penerimaan pegawai terbanyak di Stadion Gelora Bung Karno. MURI menganugerahkan piagam rekor kepada Trans Corp Company yang telah berhasil mengumpulkan kurang lebih 110.000 orang sebagai Peserta Rekruitmen dan Seleksi Broadcaster Development Program Batch 7.

Jumlah itu terhitung untuk peserta yang akan mengikuti tes di Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan Semarang pada minggu berikutnya. Fantastis memang, sekaligus menjadi cerminan betapa banyaknya sarjana di negeri ini yang menjadi pengangguran. Hari itu, di Jakarta 65.000 manusia sedang berhadapan dengan kenyataan; tertawa bahagia dan lulus seleksi atau sedih dan pulang dengan tangan hampa.

Lantaran TRANS Corp Company hanya akan meloloskan 500 peserta tes menjadi karyawan atau karyawati. Jika demikian sudah bisa ditebak hanya 500 manusia yang akan tertawa bahagia dan selebihnya akan menangis. Mungkin ini sebuah kalkulasi yang tak lazim dan menyiratkan sebuah pertanyaan yang tak lazim pula: berapa tetes air mata tercatat di MURI?

Saya membagi penuturan kisah seorang peserta rekruitmen dan seleksi Broadcaster Development Program Batch 7, asal Makassar yang ikut berpartisipasi sehingga Trans Corp Company mendapatkan rekor MURI.

Malam itu Kota Makassar diguyur hujan. Waktu menunjukkan pukul 22.30 ketika seorang anak muda di dalam kamar kos mencoba mengatupkan mata di atas kasur yang tak lagi empuk. Si anak muda mengaku beberapa hari terakhir ia selalu gelisah menjelang tidur. Bayangan wajah sang ayah, ibu, dan adik-adiknya di kampung halaman terus berkelindan di benaknya.

Sejak meraih gelar sarjana tahun lalu di STIKOM Fajar Makassar ia belum mendapat pekerjaan hingga kini. Dan sejak itu pula rasa bersalah pada keluarga terus menghantuinya. Dulu, semasa kuliah si anak muda yang bernama Zaif Al Kadir atau akrab dipanggil Uceng, 26 tahun, ini mengaku pernah bekerja sebagai loper koran selama sepuluh bulan. Ia mengundurkan diri lantaran gajinya pernah dipotong akibat tak sengaja koran jualannya jatuh ke selokan pada saat hujan turun begitu derasnya.

Kemudian ia beralih profesi sebagai pramusaji di sebuah restoran cepat saji selama dua tahun. Setelah lulus sebagai sarjana komunikasi, kini Uceng berkeinginan bekerja sebagai jurnalis.
Anak muda itu bangkit dari kasur dan menyalakan televisi 14 inci yang tergelatak di pojok kamarnya. Tak berapa lama kemudian dari kotak ajaib itu muncul iklan membawa setitik harapan: “ikuti seleksi dan rekruitmen TRANS TV…” Begitu penggalan kalimat iklan yang tertera di layar kaca televisi dan di sudut kanan atas terlihat logo: TRANS TV. Seketika Uceng tersenyum girang membaca kalimat itu. Saat itu ia mengaku sangat senang ketika pertama kali melihat iklan itu di televisi.

Segera Uceng membuka laci lemari pakaian untuk mencari ijazah yang ia simpan diantara tumpukan lembaran sertifikat pelatihan dan workshop jurnalistik. Setelah itu ia mengemasi pakaiannya. Semangat untuk mengikuti tes perekrutan karyawan Trans Corp Company di Jakarta kini tak terbendung lagi. Esok pagi ia berencana pulang kampung di Kabupaten Soppeng yang berjarak kurang lebih 200 km dari Kota Makassar untuk menyampaikan niatnya itu pada kedua orangtuanya. “Sebagai anak yang baik, sudah sepatutnya saya meminta doa restu orangtua sekaligus meminta uang sebagai bekal ke Jakarta,” ujar Uceng mengenang persiapannya berangkat ke Jakarta.

Tanggal 14 Januari 2007. Sore itu langit Jakarta mendung ketika Uceng menuruni tangga pesawat yang menerbangkankan dirinya dari Makassar. Seorang teman asal Makassar yang sudah lama menetap di Jakarta telah menunggunya di lobi bandara. Si teman lantas membawa Uceng menuju kawasan Cilandak Barat tempat di mana ia mengontrak sebuah rumah.
Malam pertama di Jakarata Uceng mengajak temannya mencari warnet untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang tes yang akan ia ikuti. Uceng tak sabar lagi ingin mendapatkan nomor registrasi peserta melalui internet.

Menjelang hari pelaksanaan tes, Uceng melewati hari-harinya di Jakarta dengan suasana suka dan duka. “Lebih banyak duka-nya sih. Saya pikir nasib saya di Jakarta tak jauh beda di Makassar, tiap hari makan terigu,” kata Uceng membahasakan mie instan sebagai terigu. Ia mengaku betah tinggal di Jakarta meski harus menghadapi resiko makan tidak teratur. “Ah, biasa itu. Dulu kalau kiriman beras terlambat, saya gunakan momen itu untuk puasa sunnah. Makanya sekarang saya terserang penyakit maag,” kata Uceng lagi dengan suara datar.
Sepintas nasib Uceng terdengar membanggakan, menggelikan, juga mengharukan. Betapa tidak, meski ia menyadari peluangnya sangat kecil untuk bisa lulus tes, namun ia tetap bersemangat untuk ikut. “Hidup ini pilihan!” ucapnya menirukan kalimat dalam iklan salah satu produk pasta gigi. “Sekali layar terkembang pantang biduk ke tepian! Kecuali layarnya robek, saribattang,” sambungnya disertai gurau canda. Tentu Uceng tidak sendirian. Entah berapa banyak anak muda seusianya yang datang dari berbagai daerah ke Jakarta, dengan cita-cita yang sama: jadi karyawan TRANS TV atau TRANS 7.

Minggu tanggal 21 Januari 2007. Siang itu sinar matahari menyengat kulit saat kawasan Gelora Bung Karno terlihat sesak oleh puluhan ribu manusia. Tak berapa lama kemudian mereka duduk berderet di bangku stadion serupa penonton pertandingan bola yang sebentar lagi digelar. Jam menunjukkan pukul 14:45 tetapi tes belum juga dimulai. Tak sedikit peserta mulai merasa gerah dan kepanasan menunggu lembaran ujian yang tak kunjung dibagikan. Mereka harus bersabar menunggu lantaran acara seremonial yang diisi dengan penganugerahan rekor MURI kepada Trans Corp Company lebih didahulukan.

Uceng duduk di deretan bangku tengah stadion Gelora Bung Karno. Di dadanya menggelantung kartu peserta yang bertuliskan identitas diri dan nomor registrasi: JKT - 15740. “Bambang na. Mandi keringat ki’ menunggu. Panjangnya lagi pidatonya Pak Chaerul Tanjung. Bayangkan, banyak sekali peserta yang datang ke stadion dari jam delapan pagi, sementara tes baru dilaksanakan pada jam empat lewat. Untung banyak cewek cantik di dekatku,” kata Uceng bergurau.

Iseng-iseng ia bertanya pada beberapa orang peserta asal daerah lain yang duduk di dekatnya tentang berapa umur, tinggi, dan sarjana apa? Dan jawaban-jawaban yang terlontar dari mulut mereka justru mengusik pikiran Uceng. Ia mulai mempertanyakan keseriusan Trans Corp Company mengadakan perekrutan calon karyawan karena ternyata tak sedikit peserta yang ikut tes tidak memenuhi syarat seperti yang telah ditentukan. Misalnya, ada peserta yang mengaku belum sarjana, tinggi di bawah 170 cm dan berumur 28 tahun. Sementara syarat untuk mengikuti tes, peserta harus memiliki ijasah minimal D3, tinggi minimal 170 cm dan umur maksimal 27 tahun.

“Seharusnya pihak Trans menerapkan aturan itu pada tahap seleksi administrasi agar calon peserta tes yang tidak memenuhi persyaratan tidak diikutkan. Sebab bagaimana pun nantinya, mereka yang dinyatakan lolos tes pertama akan “jatuh” juga pada tahap berikutnya, kasihan kan?” kata Uceng menuturkan keheranannya.

Mungkin Uceng benar, kalau saja peraturan di perketat pada tahap seleksi administrasi, tentu mereka yang tidak memenuhi persyaratan tidak perlu jauh-jauh datang dari penjuru negeri ini untuk mengadu nasib di Jakarta. Adakah aturan ini segaja diabaikan agar berhasil mengumpulkan orang banyak dan mendapat rekor MURI

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Januari 2007 sekitar pukul 22:30 Uceng mengakses internet untuk melihat pengumuman peserta yang lulus tes. Bertepatan dengan itu, ayah dan ibu Uceng yang berada di Soppeng menelpon anaknya di Jakarta untuk mengetahui kelulusan si anak. Tubuh Uceng lunglai di kursi saat ia tak menemukan namanya tertulis di antara nama-nama peserta yang dinyatakan lulus tes tahap awal.

Kala itu ia mengaku sulit berdamai dengan kenyataan yang sedang dihadapinya. Sesaat Uceng merasa frustrasi akan keadaan yang seolah membuat dirinya tak punya kuasa lagi terhadap tubuh dan nasibnya. “Loyoka waktu saya liat tidak ada namaku. Langsung saya ingat orangtuaku di kampung. Kayak mimpi rasanya,” kata Uceng dengan wajah nelangsa. Ia berusaha meredam tangisnya ketika mengabari orangtuanya lewat handphone bahwa dirinya tidak lulus. “Suaraku bergetar waktu saya bilang sama Amboku tidak lulus ka’, beliau tahu kalau saya menangis. Amboku bilang, Jangan menangis, Nak. Sabar saja. Jangan putus asa,” tutur Uceng menirukan pesan orangtuanya.

Adegan terakhir pada kisah itu setidaknya dapat menggugah empati kita. Akhirnya tersirat lagi sebuah pertanyaan: apakah sebenarnya mekanisme penganugerahan sebuah peristiwa untuk mendapat rekor MURI? Jika menilik kembali peristiwa yang berhasil mendapatkan penghargaan rekor MURI selama ini, tentu dengan mudah kita dapat mengetahui bahwa peristiwa itu biasanya disebut dengan awalan “ter”. Misalnya; terbanyak, terpanjang, terbesar, tertinggi, terkuat, tercepat atau mungkin sebaliknya. Atau peristiwa lainnya yang dinilai unik, aneh, dan ajaib.

Jika demikian, tak keliru MURI menganugerahkan penghargaan pada Trans Corp Company karena prestasinya sebagai perusahaan pertama yang berhasil mengumpulkan peserta calon karyawan “terbanyak”. Teman saya, Uceng, menjadi bagian kecil dari catatan rekor ini. Tapi ia tampaknya tak begitu peduli pada rekor itu, pun pada "partisipasi" kecilnya. Sekarang, ia sibuk mencari kerja yang lain.

Jakarta, 2007

Sepotong Cerita Deviasi Anak Kampus

Namanya Lulu. Tentu bukan nama sebenarnya. Karena ia bersedia diwawancarai dengan perjanjian, jati dirinya tak diungkap. Ia datang dari sebuah desa di Kabupaten Pinrang. Ayahnya seorang imam masjid di desanya, ibunya biasa berjualan sayuran dan buah-buahan di kawasan pasar sentral Pinrang. Ketika Lulu menamatkan sekolah menengah di kampungnya, ia melanjutkan ke tingkat berikutnya di Makassar. “Saya memilih jurusan manajemen, biar nanti jadi sekretaris,” ungkap Lulu. Kini Lulu sudah semester enam di kampusnya.

Lulu tinggal sendiri di sebuah kamar kos berukuran 4x3 yang terletak di jalan Urip Sumohardjo. Saat pertama kali mengorek cerita tentang pekerjaan sampingan yang dilakukannya, saya mesti menelaah beberapa istilah. Yang pertama adalah “omset”. Lulu berkata bahwa ia telah punya “omset tetap". Nah, omset adalah sebutan bagi Om-Om yang menjadi langganannya. “Usianya hampir seperti bapakku, seorang pengusaha.”

Selain menawarkan jasa melayani pelanggan yang disebutnya “omset” itu, Lulu juga mulai melebarkan sayap sebagai “penghubung”, untuk membantu teman-temannya yang berkeinginan menjadi ayam kampus. Ia lebih senang menyebut dirinya "agen".

Ketika kami sedang asyik berbincang, mendadak ponsel Nokia seri N73 milik Lulu bernyanyi. Lamat-lamat saya mendengar suara perempuan dari ponsel di tangan gadis manis ini. Usai ia menutup percakapan jarak jauh itu, Lulu berkata, “Model-modelku sudah dalam perjalanan ke sini. Cantik-cantik. Nanti lihat sendiri deh..”

Nah, ini istilah kedua: “model”. Model yang dimaksud Lulu bukan sosok pegawati yang biasa berjalan di atas catwalk dalam acara fashion show, melainkan istilah bagi teman-temannya yang berprofesi sebagai “ayam kampus”. Soal istilah “ayam kampus” yang sering digunakan untuk membahas dunia kelam mahasiswi ini, juga kurang diterima Lulu. Ia lebih senang dengan istilah “model” untuk menyebut teman-temannya.

Sembari menunggu para model itu datang, Lulu terus bercerita bagaimana siklus terbentuknya komunitas kecilnya itu. “Awalnya saya cuma ikut-ikutan sama seorang sepupu yang kuliah di sini. Dia itu cantik dan lincah sekali cari “omset”. Dia bisa menemani om-om tiga orang dalam sehari. Karena dia cantik, dia biasa memperoleh satu juta rupiah untuk satu kali jalan. Waktu masih kuliah, malah dia yang sering mengirimkan uang pada orangtuanya di kampung. Ia mengaku bahwa di Makassar dia kerja di bank, padahal dia kuliah di sebuah akademi perawat, itu pun tidak selesai. Dasar Malin Kundang millenium!” ujar Lulu sambil tawa. Saya menerka-nerka, istilah “Malin Kundang millenium” mungkin maksudnya anak durhaka abad ke-21.

Masih menurut penuturan Lulu, suatu hari, ketika sedang menemani sepupunya menemui tamunya di hotel, ia ditawari Rp500 ribu oleh tamu itu jika bersedia menemani salah seorang temannya yang juga berada di lobi hotel. Semula ia tidak mengerti mengapa ada tarif sejumlah itu kalau sekedar menemani duduk saja. “Gratis juga boleh kalau cuma ditemani duduk, pikir saya waktu itu,” kata Lulu mengenang keluguannya.

Lulu ragu, curiga, lantas menolak tawaran itu. Akan tetapi, ia termakan bujuk rayu sepupunya yang meminta agar ia mau ikut menemani tamu-tamunya berkaraoke di dalam ruangan yang telah dipesan. “Hanya setengah jam kami berkaraoke, tiba-tiba kami ditawari pil ekstasi oleh kedua laki-laki tua itu. Sepupuku ikut membujuk dan akhirnya saya menenggak sebutir.

Beberapa menit kemudian kami larut dalam irama house music. Saya mulai tak terkendali. Saya seperti orang kesurupan di bawah kendali dentuman musik itu.” kenang Lulu.
“Itu kali pertama saya jual diri dan menghianati pacar saya,” ujarnya sambil membakar ujung kretek yang terselip di bibirnya. Ia terus mengepulkan asap rokok saat wawancara berlangsung.
Lulu hanya satu dari sejumlah mahasiswi yang saya kenal, yang memilih mengisi waktu dengan pekerjaan sampingan seperti ini. Latar belakangnya selalu seragam dan terkesan melodramatis mirip kisah sinetron: tergiur godaan kota besar dan mencari jalan pintas untuk hidup nyaman.
Rata-rata di satu kampus, saya mengenal lima orang yang membentuk komunitas tertutup seperti yang dilakukan Lulu dengan teman-temannya. Tentu mereka tidak terbuka pada banyak orang tentang profesi sampingan mereka, selain tercatat sebagai mahasiswi.
Para model yang disebut Lulu akhirnya tiba di kamar kos Lulu. Namanya Dewi, Rara, Ati, dan Uji.

Belakangan saya ketahui gadis-gadis berpenampilan modis ini masih berstatus mahasiswi pada perguruan tinggi yang berbeda. Dari penampilan mereka, sekilas tentu mereka tak ada bedanya dengan mahasiswa pada umumnya. Saya baru menangkap perbedaan nyata itu dari bahan obrolan mereka, tentang tempat hiburan malam yang dikunjungi, tentang pelanggan yang dilayani dalam beberapa hari terakhir, tentang cerita lucu dan vulgar saat menjalankan profesi ini, dan tentu saja tentang tarif dan apa yang mereka sebut sebagai hasil jerih payah.

Saya kemudian mengikuti kelima mahasiswi ini ke sebuah tempat bermain billiar di pusat kota. Kata Lulu, tempat seperti ini hanyalah salah satu lokasi yang lazim untuk menembak sasaran. “Si ulat buas dan si daun muda bisa berkenalan melalui teman, atau berkenalan langsung di tempat-tempat seperti, kafe, mall, THM, atau acara lain,” katanya.

Berbeda dengan pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi di daerah lokalisasi, mahasiswi-mahasiswi ini sangat selektif memilih teman kencan. Mereka bebas menentukan apakah si tamu layak ditemani atau tidak. Dalam hal tarif pun mereka tidak punya harga pasti. Biasanya mereka akan melontarkan basa-basi yang cerdik dengan mengatakan bahwa dalam waktu dekat mereka membutuhkan sejumlah uang untuk suatu keperluan: membayar uang kuliah atau rumah kos yang sudah mendesak. Si tamu yang memiliki penciuman tajam layaknya anjing pelacak, dengan cepat akan memahami maksud lawan kencannya. Segera ia membantu memberikan uang dengan berpura-pura prihatin dan bermurah hati. “Ibarat pepatah, penipu saling menipu,” bisik Lulu menahan tawa.

Bagi sebagian mahasiswi seperti Lulu dan teman-temannya, tentunya mendapatkan satu juta rupiah untuk sekali beroperasi, perbandingannya bagai langit dan bumi dengan kiriman orang tua yang hanya berkisar Rp300.000 per bulan. Godaan memang dari segala arah. Bagi yang tak kuat iman seperti Lulu dan empat orang mahasiswi yang saya temui ini, salah jalan memang selalu menjadi niscaya.

Adakah penyesalan atau setidaknya keinginan untuk keluar dari dunia kelam ini? Bagi Lulu, bukan sekarang saatnya untuk memberi jawaban. “Siapa yang tak mau hidup enak? Coba lihat cewek yang duduk di sudut sana. Namanya Angel. Dia pemain lama, dan dengar-dengar kabarnya sudah punya rumah di Panakukkang Mas dan punya mobil. Tarifnya sudah bisa hingga dua juta.” Lulu terus tertawa dan mengepulkan asap rokoknya. Tentu, hanya ia yang tahu suara hatinya yang paling dalam.

Makassar, 2006

Film Ditolak LSF, Angga Tak Putus Asa

Pada suatu pagi di awal Maret tahun 2006, tidak seperti hari-hari biasanya, Rumah Susun Tanah Abang terlihat ramai. Puluhan warga sekitar mengerubungi lokasi itu. Dua ruangan ala rumah susun telah diset menjadi lebih menarik secara visual. Di dalam ruangan itu, beberapa kru tampak sibuk mempersiapkan peralatan shooting. Hari itu merupakan hari pertama shooting film berjudul Foto, Kotak & Jendela.

Di pojok ruang, seorang anak muda berusia dua puluhan sedang tergolek lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat dan matanya menyorot redup. Tubuh lemah itu dikitari beberapa artis, dan seorang gadis muda yang tak lain adalah kekasihnya. Ini bukanlah bagian dari adegan film, melainkan kisah nyata yang terjadi di balik layar.

Sosok anak muda yang terbaring sakit itu adalah sang sutradara. Ia mendadak roboh ketika shooting sedang berlangsung. Tak berapa lama kemudian, ayah dan ibunya datang bersama seorang dokter. Kehadiran orangtuanya seperti membawa energi ke tubuhnya. Dengan bersemangat ia memutuskan shooting tetap dilanjutkan hari itu.

Angga Dwimas Sasongko. Tak berlebihan jika anak muda berusia 22 tahun ini disebut harta karun yang dimiliki dunia perfilman Indonesia saat ini. Di usianya yang masih sangat muda ia telah menyutradarai sebuah film panjang yang diperankan aktor dan aktris ternama; Jajang C Noor, Christian Sugiono, dan Vino G Bastian. Kini ia sedang menggarap film layar lebar bergenre horor yang akan diputar di bioskop di penghujung tahun ini.

Menurut Angga, begitu pemuda ini biasa disapa, cita-citanya menjadi sutradara berawal ketika ia melihat kakaknya membuat film pendek. “Waktu itu saya masih kelas 2 SMA, saya melihat kakak saya bikin film pendek hanya menggunakan kamera handycam,” kata Angga. Sejak saat itu, berbekal handycam pinjaman, ia pun membuat film pendek dengan biaya sendiri. “Sebagian uang jajan dari orangtua saya sisihkan untuk bikin film pendek,” lanjut Angga. Akhirnya, pada tahun 2002, salah satu film pendeknya yang berjudul: Maya berhasil menjadi pemenang Silver Prize Ziphort Movie Competition 2002. Disusul tahun berikutnya, film Alter Ego mendapat penghargaan Grand Prize Ziphort Movie Competition 2003.

Angga bukan tipe orang yang cepat puas. Ia tidak berhenti berkarya sampai di situ saja. Meski terbentur biaya yang minim serta peralatan seadanya, ia terus membuat film pendek dengan mengajak teman sekelas sebagai aktor dan adiknya menjadi pemegang lampu. “Paling biaya produksi itu hanya kita gunakan membeli kaset mini DV dan untuk makan,” ujar Angga. Untuk melakukan editing gambar, ia dibantu teman-temannya dengan menggunakan komputer sendiri.

Begitulah proses kreatif anak muda ini berlangsung dalam menghasilkan karya. Ia mengaku tak mau kreatifitasnya terkungkung hanya karena keterbatasan modal dan peralatan. Tahun 2004, film pendek besutannya yang berjudul: Ladies Room kembali memenangkan Close-Up Planet Movie Competition 2004 kategori Second Best Movie, dan diputar di Common Ground Short Film Festival di Washington.

Prestasi yang diraih Angga pada ajang itu menerbangkan dirinya ke sebuah negara yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya: Australia. Ia bersama temannya, Ginatri S Noer yang menulis skenario Ladies Room mendapat beasiswa Summer School 35 mm Production di Melbourne University.

Suatu malam di awal tahun 2005, menjelang hari ulang tahun kekasihnya, Angga menyendiri di dalam kamar. Ia sedang memikirkan hadiah ulang tahun yang akan ia berikan pada gadis itu. Akhirnya, ia memutuskan membuat film pendek sebagai hadiah ulang tahun. “Film itu berjudul Strangely Beautiful. Jika para penyair mengungkapkan perasaan mereka lewat puisi, saya memilih menuturkan perasaan melalui visual…,” kenang Angga seraya tersenyum. Dan film indie ini kemudian mendapat penghargaan Best Film and Best Film Technique Sulastri Film Festival 2005, dan diputar di World Woman Confrence 2005 di Bangkok.

Prestasi demi prestasi yang ia raih kian memacu semangatnya untuk mewujudkan cita-cintanya menjadi sutradara film panjang. Bersama teman-temannya ia mengumpulkan modal untuk membuat film panjang dengan memakai video digital. “Segaja kami menggunakan video digital supaya ongkos produksinya lebih murah,” kata pemuda bekulit putih ini.

Sekali lagi Angga menunjukkan kreativitasnya membuat film. Meski dengan dana terbatas, ia masih mampu menggaet beberapa pekerja film profesional ikut dalam produksi film panjang perdananya itu. Termasuk melibatkan aktris kawakan, Jajang C Noor sebagai salah satu pemeran Foto, Kotak & Jendela. “Beruntung kami bertemu orang-orang profesional yang bersedia dibayar ‘harga teman’,” papar Angga. Film itu selesai dengan meninggalkan utang yang tak sedikit. Mimpinya –film hasil karyanya bisa ditonton orang banyak– sudah di depan mata.

Sebenarnya, menonton film dengan format digital saat ini bukan hanya mimpi belaka. Sebab, sebuah jaringan bioskop baru telah dibuka, dan memiliki proyektor digital untuk memutar film. Hal itu yang membuat Angga semakin optimis dan berharap filmnya mendapat apresiasi penonton yang luas. Ia yakin filmnya yang ber-format digital tentu bisa diputar di bioskop tanpa harus dipindahkan lagi ke pita seluloid yang dapat menelayan biaya hingga milyaran rupiah.
Selangkah lagi mimpi Angga akan menjadi kenyataan. Segera ia mengirim salinan filmnya ke

Lembaga Sensor Film (LSF), guna mendapatkan surat tanda lulus sensor dari lembaga itu. Namun, perjuangan Angga tak semulus kisah dalam filmnya. Obsesi anak muda ini tersandung di meja LSF. Ternyata produksi film di negeri ini tak semudah yang dibayangkan. Lembaga itu menolak film Angga dengan mengacu pada PP No. 6 tahun 1994 tentang Usaha Perfilman. Dalam pasal 1 mengenai definisi, disebutkan: pertunjukan film adalah pemutaran seluloid yang dilakukan melalui proyektor mekanik. Tentu aturan ini tidak berlaku untuk format dan proyektor digital.

Angga, kelahiran Jakarta, 11 Januari 1985, tidak menyerah sampai di situ. Bersama teman-temannya ia terus mengusahakan filmnya bisa sampai pada penonton. “Terakhir kami berencana memutar film itu dengan cara ‘bergerilya’ dari kampus ke kampus sambil menunggu peluang itu datang. Kami juga sedang mendekati seorang investor yang mulai tertarik pada film itu,” ungkapnya dengan nada optimis. Menurut Angga, pada bulan Agustus tahun lalu, film ini mendapat apresiasi penonton di ajang festival bertaraf internasional Jogja Netpac Asian Film Festival 2006. “Ketika film itu selesai diputar, para penonton melakukan standing ovation. Satu bentuk penghargaan yang membuat kami terharu waktu itu,” lanjut Angga.

Kisah Angga adalah kisah insan kreatif yang ingin ikut meramaikan dinamika berkesenian di negeri ini tapi diperhadapkan dengan persoalan birokrasi yang menjemukan. Tetapi anak-anak muda seperti Angga yang memiliki semangat dan keterampilan selalu gelisah untuk mewujudkan kreativitasnya. Mereka akan terus menggeliat dan berjuang sekuat tenaga untuk mencari jalan sendiri. Mari kita tunggu film terbaru Angga akhir tahun ini. Sebuah film horor berjudul Jelangkung 3.

Jakarta, 2007