Namanya Lulu. Tentu bukan nama sebenarnya. Karena ia bersedia diwawancarai dengan perjanjian, jati dirinya tak diungkap. Ia datang dari sebuah desa di Kabupaten Pinrang. Ayahnya seorang imam masjid di desanya, ibunya biasa berjualan sayuran dan buah-buahan di kawasan pasar sentral Pinrang. Ketika Lulu menamatkan sekolah menengah di kampungnya, ia melanjutkan ke tingkat berikutnya di Makassar. “Saya memilih jurusan manajemen, biar nanti jadi sekretaris,” ungkap Lulu. Kini Lulu sudah semester enam di kampusnya.Lulu tinggal sendiri di sebuah kamar kos berukuran 4x3 yang terletak di jalan Urip Sumohardjo. Saat pertama kali mengorek cerita tentang pekerjaan sampingan yang dilakukannya, saya mesti menelaah beberapa istilah. Yang pertama adalah “omset”. Lulu berkata bahwa ia telah punya “omset tetap". Nah, omset adalah sebutan bagi Om-Om yang menjadi langganannya. “Usianya hampir seperti bapakku, seorang pengusaha.”
Selain menawarkan jasa melayani pelanggan yang disebutnya “omset” itu, Lulu juga mulai melebarkan sayap sebagai “penghubung”, untuk membantu teman-temannya yang berkeinginan menjadi ayam kampus. Ia lebih senang menyebut dirinya "agen".
Ketika kami sedang asyik berbincang, mendadak ponsel Nokia seri N73 milik Lulu bernyanyi. Lamat-lamat saya mendengar suara perempuan dari ponsel di tangan gadis manis ini. Usai ia menutup percakapan jarak jauh itu, Lulu berkata, “Model-modelku sudah dalam perjalanan ke sini. Cantik-cantik. Nanti lihat sendiri deh..”
Nah, ini istilah kedua: “model”. Model yang dimaksud Lulu bukan sosok pegawati yang biasa berjalan di atas catwalk dalam acara fashion show, melainkan istilah bagi teman-temannya yang berprofesi sebagai “ayam kampus”. Soal istilah “ayam kampus” yang sering digunakan untuk membahas dunia kelam mahasiswi ini, juga kurang diterima Lulu. Ia lebih senang dengan istilah “model” untuk menyebut teman-temannya.
Sembari menunggu para model itu datang, Lulu terus bercerita bagaimana siklus terbentuknya komunitas kecilnya itu. “Awalnya saya cuma ikut-ikutan sama seorang sepupu yang kuliah di sini. Dia itu cantik dan lincah sekali cari “omset”. Dia bisa menemani om-om tiga orang dalam sehari. Karena dia cantik, dia biasa memperoleh satu juta rupiah untuk satu kali jalan. Waktu masih kuliah, malah dia yang sering mengirimkan uang pada orangtuanya di kampung. Ia mengaku bahwa di Makassar dia kerja di bank, padahal dia kuliah di sebuah akademi perawat, itu pun tidak selesai. Dasar Malin Kundang millenium!” ujar Lulu sambil tawa. Saya menerka-nerka, istilah “Malin Kundang millenium” mungkin maksudnya anak durhaka abad ke-21.
Masih menurut penuturan Lulu, suatu hari, ketika sedang menemani sepupunya menemui tamunya di hotel, ia ditawari Rp500 ribu oleh tamu itu jika bersedia menemani salah seorang temannya yang juga berada di lobi hotel. Semula ia tidak mengerti mengapa ada tarif sejumlah itu kalau sekedar menemani duduk saja. “Gratis juga boleh kalau cuma ditemani duduk, pikir saya waktu itu,” kata Lulu mengenang keluguannya.
Lulu ragu, curiga, lantas menolak tawaran itu. Akan tetapi, ia termakan bujuk rayu sepupunya yang meminta agar ia mau ikut menemani tamu-tamunya berkaraoke di dalam ruangan yang telah dipesan. “Hanya setengah jam kami berkaraoke, tiba-tiba kami ditawari pil ekstasi oleh kedua laki-laki tua itu. Sepupuku ikut membujuk dan akhirnya saya menenggak sebutir.
Beberapa menit kemudian kami larut dalam irama house music. Saya mulai tak terkendali. Saya seperti orang kesurupan di bawah kendali dentuman musik itu.” kenang Lulu.
“Itu kali pertama saya jual diri dan menghianati pacar saya,” ujarnya sambil membakar ujung kretek yang terselip di bibirnya. Ia terus mengepulkan asap rokok saat wawancara berlangsung.
Lulu hanya satu dari sejumlah mahasiswi yang saya kenal, yang memilih mengisi waktu dengan pekerjaan sampingan seperti ini. Latar belakangnya selalu seragam dan terkesan melodramatis mirip kisah sinetron: tergiur godaan kota besar dan mencari jalan pintas untuk hidup nyaman.
Rata-rata di satu kampus, saya mengenal lima orang yang membentuk komunitas tertutup seperti yang dilakukan Lulu dengan teman-temannya. Tentu mereka tidak terbuka pada banyak orang tentang profesi sampingan mereka, selain tercatat sebagai mahasiswi.
Para model yang disebut Lulu akhirnya tiba di kamar kos Lulu. Namanya Dewi, Rara, Ati, dan Uji.
Belakangan saya ketahui gadis-gadis berpenampilan modis ini masih berstatus mahasiswi pada perguruan tinggi yang berbeda. Dari penampilan mereka, sekilas tentu mereka tak ada bedanya dengan mahasiswa pada umumnya. Saya baru menangkap perbedaan nyata itu dari bahan obrolan mereka, tentang tempat hiburan malam yang dikunjungi, tentang pelanggan yang dilayani dalam beberapa hari terakhir, tentang cerita lucu dan vulgar saat menjalankan profesi ini, dan tentu saja tentang tarif dan apa yang mereka sebut sebagai hasil jerih payah.
Saya kemudian mengikuti kelima mahasiswi ini ke sebuah tempat bermain billiar di pusat kota. Kata Lulu, tempat seperti ini hanyalah salah satu lokasi yang lazim untuk menembak sasaran. “Si ulat buas dan si daun muda bisa berkenalan melalui teman, atau berkenalan langsung di tempat-tempat seperti, kafe, mall, THM, atau acara lain,” katanya.
Berbeda dengan pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi di daerah lokalisasi, mahasiswi-mahasiswi ini sangat selektif memilih teman kencan. Mereka bebas menentukan apakah si tamu layak ditemani atau tidak. Dalam hal tarif pun mereka tidak punya harga pasti. Biasanya mereka akan melontarkan basa-basi yang cerdik dengan mengatakan bahwa dalam waktu dekat mereka membutuhkan sejumlah uang untuk suatu keperluan: membayar uang kuliah atau rumah kos yang sudah mendesak. Si tamu yang memiliki penciuman tajam layaknya anjing pelacak, dengan cepat akan memahami maksud lawan kencannya. Segera ia membantu memberikan uang dengan berpura-pura prihatin dan bermurah hati. “Ibarat pepatah, penipu saling menipu,” bisik Lulu menahan tawa.
Bagi sebagian mahasiswi seperti Lulu dan teman-temannya, tentunya mendapatkan satu juta rupiah untuk sekali beroperasi, perbandingannya bagai langit dan bumi dengan kiriman orang tua yang hanya berkisar Rp300.000 per bulan. Godaan memang dari segala arah. Bagi yang tak kuat iman seperti Lulu dan empat orang mahasiswi yang saya temui ini, salah jalan memang selalu menjadi niscaya.
Adakah penyesalan atau setidaknya keinginan untuk keluar dari dunia kelam ini? Bagi Lulu, bukan sekarang saatnya untuk memberi jawaban. “Siapa yang tak mau hidup enak? Coba lihat cewek yang duduk di sudut sana. Namanya Angel. Dia pemain lama, dan dengar-dengar kabarnya sudah punya rumah di Panakukkang Mas dan punya mobil. Tarifnya sudah bisa hingga dua juta.” Lulu terus tertawa dan mengepulkan asap rokoknya. Tentu, hanya ia yang tahu suara hatinya yang paling dalam.
Makassar, 2006
0 komentar:
Post a Comment