Monday, December 22, 2008

SURAT UNTUK CALON PRESIDEN DI HARI IBU



Kepada Yth
Bapak- Bapak calon Presiden
Jl. Dimanapun Berada no 2009
Republik Inikah

Bapak-bapak calon presiden yang terhormat:
Sebelum lebih lanjut, perkenankanlah kami mengucapkan maaf beribu maaf atas kelancangan kami menulis surat kepada Bapak. Tetapi kami sudah tidak mampu lagi menahan perih yang mengoyak-ngoyak hati kami melihat air mata Ibu kandung kami menitikkan air mata setiap kali beliau melihat wajah Bapak-Bapak tersenyum dan melambaikan tangan di dalam kotak televisi.

harap Bapak-Bapak ketahui, pidato dan janji-janji yang bapak lontarkan pada setiap kesempatan selalu membuat Ibu kami menangis tak bersuara. Pidato bapak yang terdengar lantang dan nyaring dari balik mimbar ingin membela hak-hak kami tak ubahnya gelombang samudera ganas yang berseling petir seperti hendak membunuh Ibu kami. Tahukah Bapak, Janji-janji akan mensejahterakan hidup kami jika Bapak terpilih jadi presiden nanti laksana barisan tentara yang maju menghantamkan popor senjata di ulu hati Ibu kami.

Sekali lagi kami memohon maaf sebesar-besarnya atas kedatangan surat kami ini yang mungkin mengganggu; waktu tidur Bapak, acara makan Bapak, gelak tawa Bapak di waktu bersamaan Ibu kami tengah menangis sendirian di dalam kamar, melawan rindu yang sangat. Kami tahu Bapak telah membayar sangat mahal untuk bisa tampil di televisi demi sebuah cita-cita yang luhur hendak menjadi pahlawan bagi kami orang-orang melarat negeri ini dengan memperlihatkan rangkulan yang tiba-tiba sangat akrab dengan kawanan kami itu. Maaf Bapak, saat momen-moment seperti itu muncul, kami langsung mematikan televisi di rumah kami. Betapa Ibu dan kami anak-anaknya tak membutuhkan pahlawan yang datang kala hari sudah terang tanah.

Bapak-Bapak yang kami segani, jangan menghibur hati Ibu kami dengan sogokan; seliter gula pasir, sekarung beras, sekotak mie instan, kaos bermerek partai Bapak, apa lagi bola volly. Semiskin-miskinnya kami, kami masih mampu bekerja untuk tidak menukar harga diri kami dengan barang-barang serupa itu. Sungguh, kami tidak meminta apa-apa pada Bapak kecuali berharap Bapak membantu kami mengembalikan milik kami yang pernah Bapak rampas. Tolong kembalikan saudara kami, anak kandung Ibu kami yang sudah bertahun-tahun tak pulang ke rumah. Hilang!

NB: Tak ada kado istimewa bagi seorang Ibu kecuali anaknya pulang ke pangkuannya...

Jakarta, 22 Desember 2008
Hormat kami,
ttd.
Muh. Munir

Thursday, December 11, 2008

KETIKA KAU DAN AKU JADI KITA



sebuah prosa cinta yang anarkis

Demi Tuhan aku tidak mencintaimu
tetapi aku mau Tuhan mencintai cinta kita.
Percayalah sayang, Tuhan tutup telinga mendengar sumpah atas nama cinta serupa doa doa omong kosong.
Sungguh aku meyakini Tuhan malas melibatkan diri dalam urusan cinta kita yang anarkis. Sepasang cinta yang masih lamat membedakan mana perintah Tuhan dan mana hasutan Iblis.

Aku hanya pelukis cinta yang abstrak, gelap, hitam, kelam, kelabu, buram seperti potongan kisah cintaku yang sudah sudah.
Tak ada keinginan mencipta karya besar kecuali menumpahkan rupa-rupa warna di atas kanvas tentang tubuhmu yang telanjang seperti malam, lengkap dengan eranganmu, bulir-bulir air matamu, titik-titik keringatmu, dan sisa-sisa sengal napasmu. Setelah itu tubuhmu bersandar penat di tubuhku serupa penumpang berselonjor kusut di kursi busway yang merayap laju tanpa hambatan dari Warung Buncit sampai jauh ke Pulo Mas. Malam itu.
Lukisan itu akan selalu hidup dalam pigura yang kulekatkan dalam dinding hatiku.

Maaf jika dalam perjalanan mengantarmu pulang aku hanya bisa memberimu tanda cinta dengan menitip satu tetes dua tetes air ludahku di liang tenggorokanmu, dan kepadaku kau tinggalkan separoh desau napasmu sebagai jejak pada kedua lubang hidungku. Aku akan menjaganya dan kuharap kau pun begitu. Agar kita tidak saling melupa, sayang. Betapa aku tidak ingin berharap muluk-muluk pada Tuhan, selain: Dia mencintai cinta kita. Semoga!

Sudah larut serigala pun melolong, mari kita tidur, sayang....